Berita Dunia Islam Terdepan

Umar III, dari kampung ke Imarah

Mullah Umar Mujahid
5

(Arrahmah.com) – Mullah Muhammad Umar Mujahid, Amir Imarah Islam Afghanistan (IIA) yang belum lama ini meninggal dunia adalah seorang pribadi yang dikenal bertakwa, berakhlak mulia, zuhud, dan pemberani. Hal tersebut dipaparkan oleh orang-orang yang mengenalnya. Pria yang lebih dikenal dengan sebutan Mullah Umar ini adalah seorang yang dicintai oleh rakyatnya dan disegani oleh musuh-musuhnya. Keteguhannya dalam berjihad melawan musuh-musuh Islam dan menerapkan Syariah Islam di negerinya, membawa sebagian besar wilayah Afghanistan kini berada di bawah pemerintahan IIA. IIA memang tidak diakui sebagai negara oleh Dunia Internasional, tetapi sepak terjang IIA di dunia politik nampak dan diakui secara internasional. Hal itu terbukti dari delegasi-delegasi IIA yang sering diundang dalam konferensi-konferensi internasional untuk membahas Afghanistan. Sepak terjang politik IIA tidak lepas dari kecerdasan kepemimpinan Mullah Umar tanpa mengorbankan hukum-hukum Allah. Berikut adalah terjemahan pemaparan sosok seorang Mullah Umar secara singkat yang dipublikasikan oleh sayap media IIA, Shahamat, “Dari Kampung ke Imarah”:

********

Ia adalah seorang anak yang membuka matanya pada 1339 H di sebuah desa yang bernama Chah-e-Himmat di distrik Khakrez, Kandahar. Ia menjadi yatim saat usianya baru menginjak lima tahun karena ayahnya tercinta meninggal dunia. Anak kecil polos ini hidup di perkampungan Khakrez untuk menghabiskan hari-harinya dalam kesendirian. Tetapi karena kenangan tentang ayahnya membebani hatinya, ia memutuskan untuk pindah dan menetap di distrik Dand, Kandahar untuk beberapa waktu lamanya. Tak lama ia menyadari bahwa perbekalannya tidak cukup di sana. Jadi ia pindah untuk memulai hidup baru dengan pamannya Maulawi Jummuah di Rozgaan (Uruzgan) di mana ia memulai perjalannya menuju ilmu keislaman.

Di usia delapan belas tahun, karena ia saat itu berada di akhir Dora-e-Hadees (akhir tahun studi), Afghanistan berada di bawah invasi Uni Soviet dengan bantuan para boneka komunis lokal. Mujahidin Afghanistan mulai mempersiapkan perang untuk menghadapi serangan ini. Di antara Mujahidin pemberani adalah Umar III, putera dari Maulawi Ghulaam Nabi. Setelah memerangi agresi Soviet selama beberapa waktu lamanya, Umar kembali ke tanah leluhurnya, Kandahar. Ia meluncurkan serangan-serangan tak terhitung terhadap Rusia dan para boneka komunis mereka di distrik Panjwayee, Maiwand dan Zarhi di bawah kepemimpin organisasi Jihad Harakat-e-Inqilaab-e-Islami dan mendapatkan reputasi sebagai komandan Mujahidin pemberani.

Ia terluka empat kali ketika memerangi Soviet dan dalam insiden ke empat itulah, ia mengorbankan mata kanannya di jalan Allah.

Setelah lebih dari satu dekade perlawanan, Komunisme tumbang sementara Rusia membalikkan ekor mereka dan kuasa jatuh ke tangan Mujahidin. Pada momen itu Umar Mujahid pergi ke Sang-e-HIssaar (distrik Zarhi) untuk melanjutkan perjalanannya menuju ilmu agama. Tetapi pada saat itu, perbedaan pendapat timbul di antara kelompok Mujahidin dan orang-orang yang baru saja mengalahkan Rusia sekarang mengangkat senjata satu sama lain. Pertempuran dan konflik sia-sia ini menyebabkan kerusuhan dan serangkaian kerusakan dalam perbendaharaan, pencurian, perampokan dan perampasan hak asasi manusia dimulai. Ketika anarki ini mencapai batasnya, Umar kehilangan kesabarannya. Ia berkompromi dengan studi agamanya demi mengejar memberantas kejahatan ini dari akarnya. Mencari fatwa dari ulama, Umar sekali lagi mengangkat senjata melawan para panglima perang yang jahat. Dari titik ini di Kandahar, dimulailah pertempuran anatara yang Haq dan yang Bathil atas nama “Islaami Tehreek” (Gerakan Islam) dan sebuah dewan yang terdiri dari seribu lima ratus ulama memberikan Umar pangkat “Amirul Mukminin” (pemimpin orang-orang beriman).

Misi mereka adalah untuk mendirikan pemerintahan Islam. Mereka mengumumkan amnesti bagi semua orang yang menentang mereka dalam gerakan ini dan menasehati mereka untuk bertaubat. Bahkan pada saat pertempuran, mereka akan melucuti saingan mereka dan membebaskan mereka. Serangkaian penaklukkan terus berlanjut hingga 1375 H ibukota Afghanistan, Kabul, dibebaskan. Tetapi sayangnya, apa yang mereka bebaskan bukanlah Kabul yang ada sebelum Invasi Soviet – Kabul kini telah berubah jadi reruntuhan.

Namun, Imarah Islam yang baru ini mampu menerapkan Hukum Syariah di hampir seluruh bagian Afghanistan kecuali sebagian kecil daerah. Sistem Keadilan ini tak lama diruntuhkan akibat dari agresi Amerika ketika AS yang bersekutu dengan 44 negara menginvasi Afghanistan pada 15/06/1379 H. Para penjajah itu menggunakan senjata kimia yang terlarang tanpa rasa malu terhadap bangsa Afghan yang miskin. Beberapa tokoh [Muslim] ditangkap dan diserahkan kepada Amerika oleh boneka-boneka yang telah menjual diri mereka sendiri dalam perbudakan. Mereka [tawanan Muslim] kemudian dilemparkan ke dalam tahanan bawah tanah Kuba yang terkenal kekejamannya dan banyak yang dikurung dibalik jeruji di Bagram yang sepenuhnya dikontrol oleh Amerika dan tidak ada warga lokal Afghan yang diizinkan berada di dalam.

Singkatnya, Mullah Umar sekali lagi kembali mengorganisir Mujahidinnnya dalam jangka waktu dua tahun malapetaka Amerika dan memulai perang yang menentukan melawan Amerika dan pasukan sekutunya yang berlanjut selama 14 tahun dan lebih dari itu untuk mengajari mereka pelajaran yang akan diingat oleh generasi mereka.

Lahir di Khakrez, laki-laki tanpa rasa takut ini (pemberani) diberikan beberapa kualitas pribadi yang jarang dimiliki oleh orang pada umumnya, yaitu:

  • Umar, secara personal menggunakan R.P.G dalam Jihad.
  • Beliau sangat sederhana (zuhud), santun dan lembuh hatinya.
  • Beliau takut kepada Allah dan berbudi pekerti mulia.
  • Beliau menganggap pujian adalah kekurangan.
  • Beliau mengizinkan setiap orang untuk bertemu dengannya (meskipun rekan-rekannya menganggapnya itu bahaya baginya). Dan Amirul Mukminin (disarankan) jarang tampil di publik. Keputusan ini benar-benar berhasil terutama saat Barat menyediakan hadiah 10 juta dolar untuk kepala beliau. Setelah itu beliau benar-benar berhenti keluar di hadapan public tetapi tetap membimbing komando Mujahidin dari ruangan kecil di rumah tanahnya. Beliau mempertahankan kepemimpinannya dalam cahaya petunjuk ilahi yang membuka jalan perkembangan lebih cepat dalam front-front Jihad.
  • Shalat malam (tahajud) adalah ibadah favoritnya.
  • Beliau mengenakan pakaian sederhana sehingga beliau tidak bias dibedakan dengan teman-temannya (tidak terlihat seperti kepala pemerintahan, pent).
  • Beliau memakan makanan sederhana.
  • Beliau tidur di atas lantan sementara perintahnya ditaati di seluruh Afghanistan.
  • Beliau itu raja tetapi hidup sebagaimana orang biasa dan mendedikasikan hidupnya untuk Allah.
  • Mengatakan “selamat tinggal” kepada kemewahan materi duniawi, beliau tetap berjuang untuk menerapkan pemerintah Islam.
  • Beliau bukanlah seorang Sahabat (sahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alayhi wa sallam) tetapi hidup sebagaimana seorang sahabat.
  • Pada akhirnya, beliau tidak membiarkan Imarah ini untuk diwariskan. Sebuah Imarah yang fondasinya diletakkan olehnya, beliau serahkan kepemimpinannya ke wakilnya Mullah Akhtar Mansur dan tidak membiarkan puteranya Maulawi Muhammad Yaqoub untuk menjadi penggantinya.
  • Berada dalam control wilayah yang besar, beliau tidak meninggalkan harta apapun, tidak juga berbagi apapun dalam pemerintahan (kepada ahli warisnya, red), tidak juga pasar atau sebuah toko.

Akhirnya, menghancurkan harapan-harapan dan keinginan musuh; Umar III –mengikuti jejak sahabat Khalid bin Walid radhiallahu’anhu- mengabdi di medan Jihad untuk waktu yang lama hingga jiwanya kembali kepada Penciptanya di dalam sebuah rumah yang terbuat dari tanah.

انالله و انااليه راجعون

Ditulis oleh: Ameen Wardak

(siraaj/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...