Berita Dunia Islam Terdepan

Tipu Dayamu Memang Hebat, tapi Balasan Allah Jauh Lebih Hebat!

1.264

Support Us

(Arrahmah.com) – Diceritakan ada seorang laki-laki shalih yang mempunyai tetangga orang yahudi. Mereka sering duduk bersama.  Dari keunikan orang shalih ini dia selalu berdoa kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi setiap ingin mengerjakan sesuatu. Kalimat shalawat itu tidak pernah terpisah dari perkataan ataupun pekerjaannya hingga mengejutkan orang yahudi tetangganya sampai bertanya:

“Apa yang kau dapatkan dari banyaknya shalawat yang kau panjatkan kepada nabimu?”

“Cukup bagiku tidak ada kegelisahan yang menghampiri,” jawab lelaki shalih.

Maka orang yahudi itu berencana membuat tipu daya untuk mengolok-olok orang muslim tetangganya. Kemudian dia berkata:

“Bawalah cincin ini bersamamu sampai aku kembali dari safar/perjalananku.”

Orang shalih itu menjawab, “Baiklah, tidak ada sesuatu yang dikerjakan kecuali bersamanya shalawat (sambil bershalawat kepada Nabi).”

Beranjaklah orang Yahudi itu sambil mengintai rumah tetangga muslimnya. Hingga ketika semua orang sedang keluar, dia masuki rumah tetangganya dan mencari cincin yang ia titipkan. Dibawalah cincin itu pergi menaiki kapal dan dia buang di tengah lautan.

Beberapa hari kemudian, orang Yahudi itu kembali mendatangi rumah tetanggannya untuk meminta cincin.

“Aku ingin cincinku,” katanya.

Orang muslim itu menjawab, “Tidaklah sesuatu dikerjakan kecuali kuucapkan shalawat terlebih dahulu (sambil bershalawat.)”

“Cepat! Aku ingin cincinku sekarang!” ujar orang Yahudi itu.

Berkatalah lelaki shalih (diawali dengan shalawat), “Hari ini aku pergi ke laut untuk memancing ikan, kemudian Allah memberiku ikan yang besar. Demi Allah, aku tidak akan memberi cincinmu kecuali kau mau makan siang bersama kami.”

Setelah memberikan ikan kepada sang istri untuk dimasak, dipaksalah orang Yahudi itu oleh orang shalih  untuk memasuki rumahnya.

Ketika mereka sedang duduk dan berbincang, tiba-tiba istrinya memanggil untuk memperlihatkan apa yang ia temukan dari dalam perut ikan, ternyata dilihatnya sebuah cincin berkilau berwarna keemasan!

Maka ia berkata, “Demi Allah ini adalah cincin orang Yahudi yang dititipkan.”

Beranjaklah orang shalih itu ke tempat dimana ia menyimpan cincin orang Yahudi, dilihatnya cincin itu benar tidak ada dan dia sangat kebingungan.

Ditemuilah tetangganya, dan orang Yahudi itu berkata, “Ada apa denganmu terlihat kebingungan? Jika kau tidak memberikan cincinku maka aku akan merendahkanmu dan umat islam.”

Maka lelaki shalih itu menjawab, “Tidaklah suatu urusan terselesaikan sampai aku berdoa dan bershalawat kepada nabi (sambil bershalawat).”

Orang Yahudi membalas, “Aku tidak yakin bahwa kau masih akan tetap bershalawat kepada nabimu setelah hari ini. Jika kau tidak mengembalikan cincinku maka aku akan membuktikan kejelekan moral orang Islam dengan menjadikanmu sebagai contohnya. Kujatuhkan umat Islam dengan perbuatanmu.”

Orang shalih itu menjawab, “Demi Allah aku sama sekali tidak kebingungan soal cincinmu, tetapi ada hal lain yang membuatku bingung. Ambillah cincinmu ini,” sambil memberikan cincin.

Memerahlah wajah orang Yahudi ketika ia menerima cincinnya, sambil kebingungan ia berkata, “Ini dia cincinku, ini dia cincinku!”

Maka lelaki shalih itu terkejut, “Apa yang terjadi padamu? Tenangkan dirimu.”

Yahudi menjawab, “Aku bersumpah demi Tuhanmu, bagaimana kau dapatkan cincin ini?”

Orang shalih berkata, “Mungkinkan kau kehilangan akal? Bukankah kau sendiri yang telah mengamanahkannya padaku sampai kau kembali dari safarmu?”

Yahudi membalas, “Kembali aku bersumpah demi Tuhanmu, darimana kau dapatkan cincinnya?”

Lelaki shalih itu menjawab, “Aku dapatkan dari dalam perut ikan”

Maka orang yahudi itu terkejut dan pingsan. Setelah kesadarannya kembali, ia ceritakan apa yang telah ia lakukan.

Kemudian orang shalih itu berkata, “Dengan tipu dayamu, kamu bisa mencuri cincin itu dan melemparkannya ke laut, dan Allah dengan Qudrah/kekuatannya bisa menurunkan cincin itu di perut seekor ikan yang aku dapatkan. Bukankan telah kau saksikan sendiri tidaklah sia-sia dari doa kepada Allah dan shalawat pada nabi yang selalu aku panjatkan?”

Berkata Yahudi, “Saya percaya. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah. Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.

Bagaimanapun manusia membuat tipu daya, tetap Allah-lah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Allahu Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ

“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali ‘Imran: 54).

Tidaklah sengsara bagi orang yang selalu berdoa. Tidak akan merugi dengan bershalawat kepada Nabi. Semoga dari cerita ini kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian dipraktikkan dalam kehidupan.

Ditulis oleh Ariyani Syahniar, dan cerita ini diambil dari kisah hikmah berbahasa arab

(*/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan