Taman Dilan: Taman Apresiasi Karya Seni atau Bibit Perusak Generasi?

Kondisi Pojok Dilan di Taman Saparua, Bandung.
1,702

Oleh: Fika Apriani, Ners.

(Pembina Komunitas Remaja Islam, Smart with Islam Bandung)

(Arrahmah.com) – Dilan, sosok muda tahun 90-an kembali dihadirkan ke tengah-tengah publik dalam penayangan film “Dilan 1991” yang serempak ditayangkan di seluruh bioskop Indonesia pada 28 Februari 2019. Euforia menyambut penayangan film ini terlihat sangat luar biasa.

Tidak hanya dengan pajangan baligho berukuran besar yang nyaris kita temui di setiap sudut kota Bandung, bahkan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, pun mendukungnya dengan meresmikan Hari Dilan yang selanjutnya akan diperingati setiap tanggal 24 Februari.

Selain itu, sebagai bentuk apresiasi terhadap karya Pidi Baiq ini, Kang Emil – demikian sapaan Ridwan Kamil – juga berencana membuat Taman Dilan di sekitar GOR Saparua yang direncanakan akan selesai pada akhir tahun ini.

Rencana gubernur ini langsung menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Tentu saja, sosok Dilan yang digambarkan sebagai ‘Bad Boy’ ini sudah diamini oleh masyarakat sebagai sosok yang tidak patut dicontoh oleh generasi muda saat ini.

Maka, sangat wajar ketika banyak pihak yang menilai bahwa hadirnya “Dilan 1991” dan apresiasi yang dirasa berlebihan ini memberikan dampak buruk bagi generasi muda. Semakin bertambahnya perilaku buruk di kalangan remaja, bisa jadi merupakan hal yang tidak bisa dielakkan lagi.

Kritikan pertama terhadap film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan ini muncul dari Kakorlantas Polri Irjen Pol Refdi Andri. Beliau menilai bahwa penampilan Dilan yang tidak memakai helm saat berkendara adalah hal yang membahayakan karena tidak memberikan contoh di dalam keamanan dalam berkendara.

Begitupun dengan Kasat Lantas Polres Bandung, AKP Hasby Ristama, yang memberikan pernyataan senada bahwa sosok Dilan akan membuat masyarakat ter-“brainstroming” alias menjadi contoh buruk bagi masyarakat dalam berkendara (kumparan.com, 20/2/2019).

Lalu, bagaimana dengan perilaku Dilan lainnya yang bergabung dengan geng motor, bermesraan dengan Milea, memukul guru? Tidakkah ini juga akan menjadi contoh bagi generasi muda saat ini? Tentu saja, sebagaimana yang diungkapkan Albert Bandura, seorang psikolog dan ahli di bidang sosial, bahwa manusia belajar tentang sesuatu dengan cara meniru orang lain, maka sudah bisa dipastikan bahwa Dilan kembali akan menjadi sosok yang akan diikuti tingkah lakunya oleh generasi muda hari ini. Terlebih lagi dengan apresiasi yang diberikan oleh Gubernur Jawa Barat yang begitu berlebihan semakin menjadikan sosok Dilan sebagai “oase” bagi generasi muda yang saat ini tengah galau dalam menentukan jadi diri.

Perilaku bebas, liberal, dan hedonis, serta tidak terikat dengan pemahaman agama yang ditampilkan sosok Dilan jelas tidak bisa dibenarkan untuk dimunculkan, apalagi dengan dibuatkan taman dengan alasan apresiasi terhadap sebuah karya seni.

Ini jelas sikap yang sangat berlebihan. Efek buruk yang akan muncul di kalangan generasi muda dari kehadiran sosok pemuda Bandung tahun 90-an ini sudah bisa dibayangkan langsung oleh masyarakat.

Perilaku buruk pacaran, pergaulan bebas, geng motor, kekerasan dan sebagainya akan menjadi hal yang semakin lekat di dalam diri generasi muda yang saat ini tengah dikepung dengan berbagai kerusakan moral yang ada. Tidakkah kondisi ini mampu dibaca oleh jajaran pemimpin negeri ini?

Peng-amin-an yang dilakukan oleh orang nomor satu di Jawa Barat ini terhadap Dilan dan Milea dengan ditetapkannya 24 Februari sebagai Hari Dilan dan dibangunnya Taman Dilan telah meruntuhkan upaya penyadaran kerusakan moral akibat pergaulan bebas yang tengah gencar dilakukan oleh berbagai macam kalangan.

Penguasa gagal melindungi generasi dari pergaulan bebas dan perilaku liberal, bahkan malah menjadi pendukung tersebarnya bibit-bibit perusak generasi dengan memunculkan sosok yang berperilaku buruk dan tidak mendidik yang secara refleks akan ditiru oleh generasi muda.

Dengan maraknya kasus kerusakan moral yang membanjiri kaum muda seperti pergaulan bebas, penyimpangan kecenderungan seksual yang dilakukan “kaum pelangi”, kekerasaan fisik, geng motor, dan sebagainya, seharusnya mendorong pemerintah untuk berupaya keras menghilangkan kasus-kasus tersebut dan mencegah munculnya sosok-sosok buruk yang bisa ditiru generasi muda.

Yang seharusnya dihadirkan dan didukung adalah sosok-sosok sholeh yang bisa dijadikan sebagai panutan dalam membangun masyarakat yang beradab.

Bukankah lebih baik menjadikan Muhammad Al Fatih sebagai panutan, yang di usia mudanya penuh dengan ketaatan dan ketundukkan kepada Allah sehingga mampu menjadi sebagi-baik pemimpin dan menaklukkan Konstantinopel sehingga menjadi bagian dari wilayah Islam? Daripada Dilan yang “miskin” prestasi?

Generasi muda adalah generasi penerus bangsa dan pembangun peradaban negeri. Bagaimana mungkin hal ini bisa diwujudkan ketika generasi muda yang menjadi tumpuan peradaban ini lemah akibat kerusakan moral yang terus dilakukan bahkan disetujui oleh pihak yang berwenang?

Pemerintah, sebagai benteng bagi masyarakat seharusnya menjadi pelindung pertama di dalam menangkis hal-hal buruk yang bisa menimbulkan kerusakan moral di masyarakat. Dan menyelamatkan generasi muda dengan menghapuskan berbagai macam dampak buruk akibat budaya liberal.

Pemerintah harus berupaya memberikan penyadaran dengan melakukan pembinaan terhadap generasi muda dengan pemahaman Islam melalui kajian-kajian yang diselenggarakan di berbagai tempat dan bahkan memfasilitasi penyelenggaraannya, termasuk di taman-taman. Bukan malah memfasilitasi dan mengapresiasi bibit-bibit yang akan menyebarkan nilai-nilai liberalisme yang merusak moral generasi muda. Wallahu a’lam.[]

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.