Berita Dunia Islam Terdepan

Serangan syahid ulama Jabhah Nushrah tewaskan 100 tentara rezim di desa Rahjan

7

HAMAH (Arrahmah.com) – Yayasan Media Al-Manarah Al-Baidha’, sayap media mujahidin Jabhah Nushrah pada Rabu (12/2/2014) merilis lanjutan serial video “Jalannya Pertempuran”. Video berdurasi 10 menit 50 detik ini mendokumentasikan dua serangan bom syahid dan disusul serangan gencar terhadap markas-markas pasukan rezim Nushairiyah di desa Rahjan, pinggiran Hamah.

Sebelumnya dalam pernyataan resmi melalui akun twitter Jabhah Nushrah menyatakan serangan syahid itu menewaskan sekitar 100 tentara rezim. Salah satu pelaku serangan syahid tersebut adalah ulama syariat sekaligus Amir istisyhadiyyin [para pelaku serangan syahid] sendiri, Syaikh Abu Zubair Turki Al-Asy’ari rahimahullah.

Video memperlihatkan suasana mujahidin Jabhah Nushrah mempersiapan dua truk bermuatan penuh bom. Suasana keakraban dan detik-detik perpisahan para calon pelaku serangan syahid dengan anggota mujahidin lainnya sangatla menggetarkan hati.

“Demi Allah, wahai ikhwan, saya akan berbicara kepada kalian beberapa menit kemudian saya akan mengendarai mobil ini dengan izin Allah. Demi Allah ini adalah thuma’ninah (ketenangan batin). Demi Allah ini adalah thuma’ninah (ketenangan batin). Subhanallah, ” kata seorang calon pelaku serangan syahid.

Video kemudian memperlihatkan pesan-pesan terakhir dari masing-masing mujahid calon pelaku serangan syahid.

Syaikh Abu Zubair Turki Al-Asy’ari menenteng senjatanya, duduk bersebelahan dengan Abu Dujanah Al-Uzdi. “Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, wahai para pemuda dengan berangkat jihad. Jika kalian tidak mampu berjihad sendiri, maka bantulah mujahidin! Bantulah mujahidin dengan hartamu, pikiranmu, khususnya para cendekiawan dan jurnalis. Kami menyerukan kepada para cendekiawan, para pemimpin kaumnya, ahlul halli wal ‘aqdi, sampai kapan kalian akan membiarkan mujahidin sendirian?” kata Syaikh Turki Al-Asy’ari.   

Seorang calon pelaku serangan syahid, Abu Hamzah Al-Anshari, dalam wasiat terakhirnya mengatakan: “Allah Subhanu wa Ta’ala memuliakan umat Islam dengan jalan jihad. Demikian juga puncak ketinggian ajaran Islam adalah jihad. Dengan izin Allah, jihad tidak akan berhenti dengan terbebaskannya Suriah. Tidak, bahkan dengan izin Allah jihad akan berlanjut untuk membebaskan Baitul Maqdis.”

calon pelaku serangan syahid, Qaswarah Al-Muhajir, dalam wasiat terakhirnya mengatakan: “Saudara-saudaraku, saya wasiatkan kepada kalian untuk berjihad, untuk berangkat perang ke negeri Syam, dan membela penduduknya, sebab mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung untuk menjaga darah kaum muslimin agar tidak tertumpahkan lagi. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung agar ridha dan tertawa dengan operasi serangan ini. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung agar menjadikan operasi serangan ini menimpakan kerugian sebesar-besarnya [di pihak rezim], sukses dan melegakan perasaan kaum mukmin.”

Suasana haru meliputi seluruh mujahidin saat mereka saling berpelukan dan mengucapkan selamat jalan kepada keempat calon pelaku serangan syahid.

Saat keempat mujahid dengan dua truk penuh bom melaju menuju markas pasukan rezim Nushairiyah di desa Rahjan, mujahidin lainnya menyiapkan roket-roket Grad untuk mendukung serangan. Regu mujahidin lainnya juga menyiapkan mortar-mortar untuk membombardir markas musuh dan melindungi perjalanan kedua bom mobil.

Perencanaan operasi

Serangan yang sangat heroik dan cemerlang tersebut merupakan operasi gabungan antara mujahidin kelompok Jabhah Nushrah dan Ajnad Asy-Syam. Planning operasi gabungan tersebut adalah melakukan serangan dengan dua mobil, setiap mobil dikendarai oleh seorang pelaku serangan bom syahid dan disampingnya seorang mujahid pelaku serangan berani mati. Pelaku serangan berani mati akan menyerbu dan melakukan baku tembak dengan pasukan Nushairiyah, guna membuka jalan bagi pelaku serangan bom syahid agar bom mobil bisa mencapai tepat di tengah markas pasukan Nushairiyah. Pada saat yang bersamaan markas-markas pasukan Nushairiyah di desa Rahjan dibombardir oleh mujahidin dengan roket Grad dan tembakan meriam. Setelah itu regu-regu penyerbu mujahidin akan menyerang masuk ke dalam desa dan membersihkannya dengan daya upaya dan kekuatan Allah semata.

Pelaksanaan operasi

Mobil bom syahid pertama melaju pada pukul 16.00 hari Senin sore, 26 Rabi’ul Awwal 1435 H/27 Januari 2014 M, disetir oleh Abu Hamzah Al-Anshari dan didampingi oleh Abu Zubair Al-Asy’ari [Turki Al-Asy’ari] semoga Allah menerima keduanya. Begitu tiba di sasaran, Abu Zubair Al-Asy’ari langsung melakukan penyerbuan berani mati dan melepaskan tembakan gencar sampai ia gugur, setelah menewaskan beberapa tentara Nushairiyah dan membukakan jalan bagi Abu Hamzah Al-Anshari yang menyetir truk bermuatan 15 ton bom.

Kemudian Abu Hamzah Al-Anshari meledakkannya di tengah markas pasukan Nushairiyah, sehingga menguncangkan tanah yang mereka pijak, menewaskan dan mencederai puluhan tentara Nushairiyah dalam posko militer, di antaranya seorang perwira berpangkat mayor. Serangan bom syahid itu mengguncangkan hati sisa-sisa pasukan Nushairiyah, juga menghancurkan kantor pos di desa tersebut yang telah dialih fungsikan sebagai markas dan gudang amunisi bagi pasukan rezim Nushairiyah dan milisi Syiah. Segala puji bagi Allah semata.

Mobil bom syahid kedua kemudian melaju, disetir oleh Qaswarah Al-Jazrawi dan didampingi oleh Abu Dujanah Al-Jazrawi. Abu Dujanah melakukan penyerbuan berani mati ke posko militer Al-Miqsam, disusul oleh Qaswarah yang meledakkan bom mobilnya di tengah posko militer tersebut. Keduanya menyusul kedua rekan pertama mereka yang lebih dahulu syahid insya Allah.

Setelah itu mujahidin Jabhah Nushrah dan Ajnad asy-Syam menyerang sisa markas-markas pasukan Nushairiyah dengan tembakan roket Grad dan meriam, khususnya posko militer Shayadah dimana tembakan-tembakan itu tepat menghantam target. Segala puji bagi Allah.

Setelah itu regu-regu serbu mujahidin melakukan penyerangan dari tiga arah. Baku tembak sengit terjadi di pinggiran desa sampai pukul 02.00 dini hari, dimana Allah belum menakdirkan mujahidin untuk mampu membersihkan desa secara keseluruhan. Maka mujahidin pun ditarik mundur ke markas-markas mereka dengan selamat, setelah menimbulkan kerugian sangat besar dalam barisan thaghut Nushairiyah dan milisi Syiah. Segala puji bagi Allah semata Rabb seluruh alam.

(muhib al majdi/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...