Ramadhan & Sirah Nabawwiyah #1: Ramadhan, tonggak perubahan sejarah dunia

46

Segalanya Berawal dari Ramadhan

Arrahmah.com – Ramadhan adalah bulan suci yang diberkahi. Banyak peristiwa agung yang terjadi di bulan ini. Peristiwa-peristiwa tersebut menandai babak baru sejarah Islam dalam menyebarkan rahmatnya ke seluruh dunia. Di bulan ini, kaum muslimin perlu memutar ulang slide episode demi episode peristiwa agung tersebut. Dengan begitu, nuansa ibadah semakin khusyu’ karena menghayati latar belakang dan proses terjadinya peristiwa yang bersejarah tersebut.Peristiwa agung pertama yang mengawali rangkaian panjang dakwah Islam di muka bumi adalah peristiwa gua Hira’. Di bulan Ramadhan, saat Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi Al-Qurasyi sedang menyendiri dalam tafakur di gua Hira’, Allah SWT mengutus malaikat Jibril kepadanya. Itulah saat wahyu pertama turun, surat Al-‘Alaq 1-5.

Ummul Mukminin Aisyah binti Abi Bakar Ash-Shidiq RA menuturkan:

“أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لا يَرَى رُؤْيَا إِلا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ.. ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ؛ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ – وَهُوَ التَّعَبُّدُ – اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا ، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ : اقْرَأْ ! قَالَ  : “مَا أَنَا بِقَارِئٍ “،  قَالَ : ” فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي، حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي،  فَقَالَ: اقْرَأْ ! قُلْتُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ ! فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ، حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي ، فَقَالَ :  اقْرَأْ ! فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ :

“Awal mula wahyu yang diberikan kepada Rasulullah  SAW adalah mimpi yang benar. Setiap kali mengalami mimpi, mimpi itu datang dalam wujud seperti cahaya fajar yang merekah. Sejak itulah, beliau senang menyendiri. Beliau menyendiri di gua Hira’ selama beberapa malam untuk bertahanuts, yaitu beribadah, sebelum beliau kembali kepada keluarganya untuk mengambil bekal. Beliau lalu kembali kepada istrinya, Khadijah, dan mengambil bekal.

Beliau melakukan hal itu sampai datang kepadanya kebenaran di gua Hira’. Malaikat datang kepadanya dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”Beliau bercerita: “Ia menarikku, lalu merangkulku erat-erat, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata: “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Maka ia menarikku, lalu merangkulku erat-erat untuk kedua kalinya, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata: “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Maka ia kembali menarikku, lalu merangkulku erat-erat untuk ketiga kalinya, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata:

 ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ… )

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan,

Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah.

Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah,

Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.

Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq (96): 1-5)

(HR. Bukhari:Kitab bad-il wahyi, no. 3)

Demikianlah, semuanya berawal dari tafakkur..merenungkan keadaan masyarakat yang sesat…merenungkan hakekat manusia dan tujuan hidupnya…merenungkan petunjuk hidup yang akan mengantarkan mereka kepada kebahagian hidup dan menyelamatkan mereka dari kesesatan.

Lalu, pekerjaan pertama adalah ta’abbud…menyendiri di gua Hira’, melalui siang dan malam dalam perenungan, penyerahan diri, dan pengabdian kepada Rabb, Sang Pencipta alam semesta. Beliau meninggalkan hiruk-pikuk aktivitas duniawi untuk mendekatkan diri kepara Rabb SWT, memohon petunjuk, dan berlindung kepada-Nya dari kesesatan masyarakat sekitarnya.

Maka, kalimat wahyu yang pertama kali turun adalah Iqra’…bacalah! Bacalah ayat-ayat Allah SWT di alam semesta! Bacalah ayat-ayat Allah SWT yang berupa wahtu syariat-Nya! Bacalah dengan menyebut nama Rabb SWT…mintalah berkah dan pertolongan dengan menyebut nama-Nya semata! Dia-lah Yang telah menciptakan umat manusia dari segumpal darah yang menggantung di dinding rahim. Dia-lah Yang Maha Pemurah kepada seluruh hamba-Nya. Dengan kepemurahan-Nya, Dia memandaikan manusia lewat proses belajar; membaca dan menulis.

Dalam ‘dapur’ tafakkur, ta’abbud, dan qira’ah; Allah SWT ‘mengolah’ para mushlihun (orang-orang shalih yang membina umat manusia menuju jalan Allah SWT). Allah SWT menggembleng mereka untuk menjadi tauladan kehidupan. Allah SWT membina mereka untuk sanggup mengemban beban dakwah, irsyad, dan jihad. Allah SWT mencetak mereka menjadi pelita yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. 

Allah SWT menguatkan jiwa mereka dengan ta’abbud pada masjid…

Allah SWT menyucikan fikiran mereka dengan khulwah, menyendiri di keheningan sepertiga malam terakhir untuk tafakkur…

Allah SWT meningkatkan ilmu dan wawasan mereka lewat halaqah-halaqah qira’ah…

Setiap muslim membutuhkan tiga waktu khusus dalam kehidupan hariannya:

  • Satu waktu untuk menyendiri dengan Rabbnya dalam tafakkur, muhasabah, istighfar, dan taubat.
  • Satu waktu untuk beribadah kepada-Nya dengan shalat wajib, qiyamul lail, shiyam Ramadhan, dst…
  • Satu waktu untuk meningkatkan ilmu dan wawasannya dengan menghadiri majlis ilmu atau menelaah buku…membaca, menulis, meringkas, dst…

Tafakkur akan menjernihkan pikiran, ibadah akan mensucikan jiwa, dan belajar akan meningkatkan peran akal. Semua aktifitas tersebut merupakan unsur yang sangat urgen bagi kemajuan hidup manusia…bekal seorang muslim dalam mengemban tugas hidupnya…dan pemicu semangat seorang dai dalam menyebarkan rahmat Islam ke seluruh penjuru dunia.

Setiap kali bekal makanan habis, Rasulullah SAW pulang ke rumah Khadijah. Beliau lalu kembali dengan bekal yang cukup. Beliau berjalan sendirian ke gua Hira’, mendaki gunung yang terjal berbatu tajam, merasakan teriknya panas siang hari dan bekunya hawa dingin malam hari. Beliau bertahan beberapa hari dalam kesunyian gua yang mencekam.

Untuk apa beliau bersusah payah melakukan semua itu?

Untuk tafakkur…ta’abbud…dan qira’ah

Jadi, ketiga aktifitas ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan mengerahkan segala usaha dan kemampuan terbaik. Maha Benar Allah Yang berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَ إِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad (beramal bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut (29): 69)

Saudaraku seislam dan seiman…Pertanyaannya kini adalah, sudahkah kita mengkhususkan tiga waktu khusus untuk tiga aktifitas ini dalam bulan yang penuh berkah ini? Jika sudah, maka pujilah Allah SWT. Jika belum, segeralah memperbaiki diri dan mempergunakan kesempatan selagi ada.

Wallahu a’lam bish-shawab.     

Serial Risalah Ramadhan / Ramadhan & Sirah Nabawwiyah #1
Oleh: Muhib al-Majdi
http://www.arrahmah.com
filter your mind, get the truth 

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.