Berita Dunia Islam Terdepan

Puasa dan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar, Bagian 1

100

Support Us

Oleh:

Abdullah Mahmud

(Arrahmah.com) – Misi utama puasa Ramadhan adalah menjadikan orang beriman itu menjadi muttaqiin, artinya siap menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Perintah Allah itu masuk dalam kategori ma’ruf yang harus dijalankan dan larangan Allah masuk dalam kategori mungkar yang harus ditinggalkan. Ma’ruf itu artinya segala yang baik menurut agama Islam dan akal yang sehat, sedangkan mungkar itu segala yang buruk menurut agama Islam dan akal yang sehat.

Dalam realitas masyarakat itu pasti ada orang yang benar dan baik tapi ada juga orang yang tidak benar dan suka kepada hal yang buruk. Seandainya masyarakat itu terjaga secara konsekuen dalam keimanan dan ketakwaan niscaya Allah jaga mereka,

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’raf, 7: 96)

Karena itu ummat Islam ditugasi oleh Allah untuk mengajak masyarakat agar cenderung berbuat yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar, itulah kelebihan ummat Nabi Muhammad ﷺ.

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali ‘Imran, 3: 104)

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Kamu (ummat Islam) adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (QS. Ali ‘Imran, 3: 110)

Berbeda dengan bani Israil, justru mereka cenderung membiarkan kemungkaran akibatnya mereka dilaknat oleh Allah,

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوٗدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۗذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ (78) كَانُوْا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوْهُۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ (79)

Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat. (QS. Al-Maidah, 5: 78-79)

Karena itu, ummat Islam diperintahkan menjaga kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan dan dilarang kerja sama dalam dosa dan kezaliman

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Maidah, 5: 2)

Mengapa manusia ada yang cenderung melanggar aturan Allah?

Karena mereka terjebak oleh godaan setan,

ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ (17)

Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raaf, 7: 17)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. (QS. An-Nur, 24: 21)

Bagaimana kalau ummat Islam abai dalam tugas utama amar ma’ruf dan nahi mungkar yang oleh para ulama disepakati hukumnya wajib? bisa wajib ‘aini dan bisa juga wajib kifai, artinya harus ada sekelompok orang yang bertugas melaksanakannya. Disebut dalam istilah para ulama adalah hisbah.

Suatu malam istri Rasulullah ﷺ yang bernama Zainab binti Jahsy bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

يا رَسولَ اللهِ، أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قالَ: «نَعَمْ، إذَا كَثُرَ الخَبَثُ».

Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami celaka sedangkan di antara kami masih banyak orang-orang shaleh? beliau menjawab: “Ya, bilamana maksiat marajalela.” (HR. Muslim)

Begitu pula dalam hadits Hudzaifah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«والَّذي نَفسي بيدِهِ لتأمُرُنَّ بالمعروفِ، ولتَنهوُنَّ عنِ المنكرِ، أو ليوشِكَنَّ اللَّهُ أن يبعثَ عليكُم عقابًا منهُ، ثمَّ تَدعونَهُ فلا يَستجيبُ لَكُم».

“Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, kalian benar-benar memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar atau Allah benar-benar akan menimpakan kepada kalian siksa kemudian kalian berdoa dan tidak dikabulkan.” (HR. At-Turmudzi dan Ahmad. Shahih)

bersambung …

Iklan

Iklan

Iklan