Pesantren Al Muttaqin Jepara bukan pesantren radikal dan teroris (bantahan atas laporan Majalah Gatra)

106

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, segala pujian hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wasallam.

Melalui tulisan ini, kami hendak menyampaikan beberapa hal sebagai konfirmasi kepada publik supaya tidak salah memahami tulisan menyesatkan yang dimuat dalam artikel majalah gatra edisi 27 Juli 2011 halaman 79 yang berjudul “Pertautan di Jepara”.

Artikel yang ditulis oleh Saudara Mujib Rahman, Wakil Kepala Pusat Liputan Gatra, itu menyebut-nyebut pesantren kami, Al-Muttaqien Jepara, dalam konteks yang menyesatkan dan insinuatif. Berikut beberapa poin yang insinuatif dan menggiring pencitraan buruk bagi Al-Muttaqien tersebut: 

  1. Namun keterkaitan Pesantren Umar bin Khattab dengan kelompok Islam radikal bisa pula dilihat dari kenyataan bahwa Abrori Muhammad Aly, pendiri pesantren ini adalah alumnus pesantren Al-Muttaqien, Jepara, Jawa Tengah, yang punya kaitan dengan nama-nama pelaku teror di Indonesia (paragraf pertama).

  2. Sebelumnya, Abrori lulus dari SMAN 3 Mataram. Dilihat dari periodenya, ada kemungkinan ia bertautan dengan bagus Budi Pranoto alias Urwah, anggota JAT yang tewas ditembak polisi bersama Noordin Mohd. Top di Mojosongo, Solo, pada September 2009. Urwah nyantri di Al-Muttaqien pada 1990 hingga 1996 (paragraf kedua).

  3. Menurut laporan yang pernah dirilis International Crisis Group (ICG), Pesantren Al-Muttaqien adalah sekolah jaringan Noor Din Mohd. Top (paragraf ketiga).

  4. Banyak nama alumni Al-Muttaqien yang disebut-sebut seiring dengan gencarnya perburuan terhadap teroris (paragraf keempat).

  5. Putra Mas Selamet Kastari, anggota Jamaah Islamiyah Singapura yang pernah meloloskan diri dari penjara negara itu, dikabarkan pernah dikirim ke sini (paragraf kelima).

  6. Menurut sumber Gatra di kepolisian, pesantren ini adalah tempat Imam Samudra menikah siri dengan Zakiah Darajat, (paragraf keenam)

  7. Sartono, pendiri pesantren Al Muttaqin adalah lulusan pendidikan guru agama di Jepara, yang menurut masyarakat setempat tidak begitu mendalam ilmu agamanya (paragraph ketujuh)

  8. Model Pesantren Al-Muttaqien mirip dengan Pesantren Umar bin Khattab. Keduanya bukan stereotype pesantren tradisional Indonesia yang beraliran salafy dan doyan sarungan. Bila polisi kini menempatkan Pesantren Umar bin Khattab di antara daftar pesantren radikal, ini adalah item baru yang sebelumnya tidak pernah terungkap (paragraf kedelapan).

Kami sangat menyayangkan laporan Gatra itu. Berikut tanggapan dan nasehat kami terhadap Saudara Mujib Rahman dan Majalah Gatra terkait artikel tersebut:

  1. Meski menyebut nama pesantren kami dalam delapan paragraf tulisan, yang terkesan menggiring pembaca agar menganggap kami sebagai pesantren radikal bahkan teroris, pihak Gatra tidak pernah menghubungi kami untuk konfirmasi dan check and recheck kebenaran data yang didapatkannya. Ini melanggar asas cover both side yang seharusnya dijunjung tinggi sebuah media massa yang profesional. Apalagi penulisnya adalah Wakil Kepala Pusat Liputan Gatra yang seharusnya merupakan seorang wartawan senior dan berpengalaman.

  2. Gatra hanya mengutip satu sumber utama yang definitif, yaitu ICG. Seolah Gatra pasrah bongkokan dan “beriman” sepenuhnya pada laporan ICG yang selama ini tendensius terhadap gerakan Islam dan pesantren. Dua sumber lainnya adalah “sumber Gatra di kepolisian,” dan “masyarakat setempat” yang anonim dan tak dapat dipertanggungjawabkan. Pihak yang dituduh dengan semena-mena, dalam hal ini Pesantren Al-Muttaqien, justru tak dimintai konfirmasi. Sungguh suatu aib bagi sebuah media nasional terkemuka seperti Gatra.

  3. Upaya Mujib Rahman sebagai penulis mengaitkan antara Pesantren Al-Muttaqien dengan Pesantren Umar bin Khattab serta jaringan teroris terkesan tendensius. Pesantren Al-Muttaqien tidak dapat dipersalahkan dan dimintakan pertanggungjawaban karena ada alumninya yang kebetulan melanggar hukum. Apakah karena Gayus Tambunan alumni STAN maka STAN dapat digelari “sekolah koruptor?” Apakah karena UI, UGM dan kampus terkemuka lainnya meluluskan beberapa alumni yang terlibat korupsi maka mereka dapat disebut “universitas koruptor?” Kami hanya dapat menasehati Anda, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada ketaqwaan.” (Al-Quran Surat Al-Maidah:8)

  4. Sadarkah Saudara Mujib Rahman dan Gatra bahwa laporannya itu menzhalimi ribuan santri, alumni, walisantri, dan wali alumni Pesantren Al-Muttaqien. Laporan itu bisa membuat mereka mendapat cap “radikal dan teroris” yang menyakiti hati dan mungkin membuat mereka dikucilkan oleh masyarakat? Ingatlah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Takutilah oleh kalian doa orang-orang yang terzhalimi, karena tidak ada tabir penutup antara dia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

  5. Dari kutipan di paragraf kedelapan, agaknya pesantren bagi Saudara Mujib Rahman dan Gatra hanyalah yang salafiyah (bukan salafy, Ustadz Ja’far Umar Thalib bisa marah kalau istilah ini keliru dipakai). Yaitu yang “tradisional” dan “doyan sarungan.” Jika tidak memenuhi dua kriteria tersebut maka berarti “radikal.” Sungguh ini sangat memprihatinkan. Ada ratusan pesantren modern, biasanya tak berafiliasi kepada organisasi tertentu seperti NU maupun Muhammadiyah, dan jutaan santri yang menjadi tertuduh dalam hal ini. Semoga hal ini disadari oleh Saudara Mujib dan Gatra.

Tanggapan dan nasehat kami ini adalah bentuk kasih sayang kami bagi Saudara Mujib Rahman dan Gatra. Ini adalah kewajiban agama karena kata Rasulullah, “Agama adalah nasehat.” Semoga dapat dimuat serta menjadi perhatian dan pelajaran dalam laporan Gatra yang akan datang.

Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pengasuh Pesantren Al-Muttaqien Jepara

Tertanda,

Ust. Sartono Munadi

(Arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.