Berita Dunia Islam Terdepan

Persiapan Ramadhan (2): Keutamaan shalat malam dalam as-sunnah

14

(Arrahmah.com) – Shalat malam memiliki banyak keutamaan. Shalat malam dikerjakan di waktu yang berat, yaitu di tengah keheningan malam, saat mayoritas manusia terlelap dalam tidur. Shalat malam dikerjakan di saat mayoritas manusia tidak melihat pelakunya, sehingga pelakunya lebih terdidik untuk berniat ikhlas dan terbebas dari kemungkinan riya’ dan sum’ah. Shalat malam dikerjakan dalam waktu yang sunyi dan tenang, sehingga pelakunya leluasa bermunajat kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Berikut ini beberapa hadits shahih dan hasan yang menjelaskan keutamaan shalat malam.

Hadits no. 1:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Shaum yang paling utama setelah shaum Ramadhan adalah shaum pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram, dan shalat sunnah yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, Abu Daud no. 2429, Tirmidzi no. 438, An-Nasai no. 1613, dan Ibnu Majah no. 1742)

Hadits no. 2:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ قَالَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ انْجَفَلَ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقِيلَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجِئْتُ فِي النَّاسِ لِأَنْظُرَ إِلَيْهِ فَلَمَّا اسْتَبَنْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu berkata: :Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam tiba di Madinah, penduduk berduyun-duyun untuk menyambut beliau, maka saya termasuk salah seorang yang ikut kerumunan untuk melihat beliau. Saat saya melihat dengan jelas wajah beliau, maka saya mengetahui bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Maka kalimat pertama yang beliau sabdakan adalah: “Wahai masyarakat, sebarkanlah salam, berikanlah makan dan shalatlah di waktu malam di saat orang-orang terlelap tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.“(HR. Tirmidzi no. 1855, Ibnu Majah no. 1334, dan Ahmad no. 23784. Hadits shahih)

Hadits no. 3:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍوأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفَةً يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا فَقَالَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَلَانَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَبَاتَ لِلَّهِ قَائِمًا وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah ruangan yang bagian luarnya bisa dilihat dari bagian dalamnya dan bagian dalamnya bisa dilihar dari bagian luarnya.” Abu Musa Al-Asy’ari bertanya: “Bagi siapakah ruangan tersebut wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bagi orang yang berbicara dengan lemah lembut [tidak bersuara kasar], memberika makanan [kepada orang yang membutuhkan] dan shalat di waktu malam karena Allah di saat manusia terlelap tidur.” (HR. Ahmad no. 6615 dan Al-Hakim no. 270, dinyatakan hasan oleh imam Al-Mundziri dan syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

Hadits no. 4:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ يَقُولُ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ أَنَّهُسَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنْ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata: Amru bin Abasah telah menceritakan kepadaku bahwa ia telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Saat dimana seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah pada setengah malam yang terakhir. Maka jika engkau mampu untuk berdzikir [mengingat Allah] pada saat tersebut, niscaya kerjakanlah!” (HR. Tirmidzi no. 3579 dan An-Nasai no. 572)

Hadits no. 5:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Semoga Allah menyayangi seorang suami yang bangun di waktu malam dan mengerjakan shalat, lalu ia membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan bangun, maka ia memercikkan air ke wajah istrinya. Semoga Allah menyayangi seorang istri yang bangun di waktu malam dan mengerjakan shalat, lalu ia membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan bangun, maka ia memercikkan air ke wajah suaminya.” (HR. Abu Daud no. 1308, An-Nasai no. 1610, Ibnu Majah no. 1336, dan Ahmad no. 7410)

Syaikh Ahmad Syakir menjelaskan bahwa maksudnya adalah mengusap wajahnya dengan air untuk menghilangkan kantuk dan kemalasan, bukan mengguyurnya, sebab mengguyur wajah akan mengagetkan orang yang tidur dan mengganggunya.

Hadits no. 6:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ قَالَاقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اسْتَيْقَظَ مِنْ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنْ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

Dari Abu Said Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa bangun pada malam hari dan membangunkan istrinya, lalu keduanya melaksanakan shalat malam sebanyak dua raka’at, niscaya keduanya dicatat dalam golongan kaum laki-laki dan kaum wanita yang banyak berdzikir [mengingat Allah].” (HR. Abu Daud no. 1309, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 1310, dan Ibnu Majah no. 1335)

Hadits no. 7:

عَنْ أَبِي ذَرٍّعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ ثَلاثَةً … رَجُلٌ سَافَرَ مَعَ قَوْمٍ ، فَارْتَحَلُوا ، حَتَّى إِذَا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْكَرَى ، أَوِ النُّعَاسُ ، فَنَزَلُوا ، فَضَرَبُوا بِرُءُوسِهمْ ، ثُمَّ قَامَ ، فَتَطَهَّرَ ، وَصَلَّى رَغْبَةً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَرَغْبَةً فِيمَا عِنْدَهُ

Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai tiga golongan dan membenci tiga golongan. Adapun tiga golongan yang dicintai oleh Allah adalah….seseorang yang melakukan perjalanan jauh bersama sebuah kaum. Mereka berjalan sampai ketika tiba waktu akhir malam, mereka diserang oleh rasa kantuk yang berat, maka mereka pun berhenti, membuat tenda dan tidur. Maka orang tersebut bangun, bersuci dan melaksanakan shalat malam karena cintanya kepada Allah dan harapannya kepada balasan di sisi Allah…

Ini adalah lafal Ath-Thabarani. Dalam lafal Ahmad:

وَرَجُلٌ يَكُونُ مَعَ قَوْمٍ فَيَسِيرُونَ حَتَّى يَشُقَّ عَلَيْهِمْ الْكَرَى أَوْ النُّعَاسُ فَيَنْزِلُونَ فِي آخِرِ اللَّيْلِ فَيَقُومُ إِلَى وُضُوئِهِ وَصَلَاتِهِ

“Seorang laki-laki yang bersama sebuah kaum, mereka menempuh perjalanan jauh sampai akhirnya mereka mengalami rasa kantuk yang berat. Mereka pun berhenti dan beristirahat di akhir malam. Maka laki-laki itu bangun, mengambil wudhu dan melaksanakan shalat malam…” (HR. Ahmad 21530, Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsarr 2784, Ath-Thayalisi 468, Al-Bazzar 3907, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 1637 dan Al-Hakim, 2/88-89. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth: Hadits ini shahih menurut syarat imam Muslim)

Hadits no. 8:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلْإِثْمِ

Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bahwasanya beliau bersabda: “Hendaklah kalian menjaga shalat malam karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, jalan mendekatkan diri kepada Rabb kalian, penghapus amal-amal keburukan dan pencegah dari perbuatan dosa.” (HR. Tirmidzi no. 3549, Al-Hakim no. 1156, Ibnu Khuzaimah no. 1135 dan Al-Baihaqi no. 4710. Adz-Dzahabi berkata: Hadits ini shahih menurut syarat imam Bukhari)

Hadits ini memiliki penguat dari riwayat Bilal bin Rabbah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Al-Hakim dan Al-Baihaqi, juga dari riwayat Abu Dar’da’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, juga dari riwayat Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Suni, dan dari riwayat Salman Al-Farisi yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani. (Lihat Irwaul Ghalil Takhrij Ahadits Manar As-Sabil no. 542 dan Shahih Jami’ Shaghir no. 3958)

Hadits no. 9:

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَكَانَ بَعْدُ لَا يَنَامُ مِنْ اللَّيْلِ إِلَّا قَلِيلًا

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dari Ummul Mukminin Hafshah binti Umar radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah, seandainya ia rajin mengerjakan shalat malam.” Salim bin Abdullah bin Umar berkata: Sejak mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam tersebut, Abdullah bin Umar rajin shalat malam dan hanya sedikit tidur di waktu malam. (HR. Bukhari no. 1122 dan Muslim no. 2479)

Hadits no. 10:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْاسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَزِعًا يَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ الْخَزَائِنِ وَمَاذَا أُنْزِلَ مِنْ الْفِتَنِ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ يُرِيدُ أَزْوَاجَهُ لِكَيْ يُصَلِّينَ رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ

Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam terbangun pada suatu malam dalam keadaan kaget, maka beliau bersabda: “Maha Suci Allah, apa perbendaharaan-perbendaharaan nikmat yang Allah turunkan pada malam ini dan fitnah-fitnah apa yang diturunkan pada malam ini? Siapakah yang akan membangunkan istri-istriku yang masih tertidur di kamar-kamar mereka agar mereka mengerjakan shalat malam? Betapa banyak wanita yang mengenakan pakaian di dunia namun kelak di akhirat ia telanjang?” (HR. Bukhari no. 1126 dan Tirmidzi no. 2196)

Hadits no. 11:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Rabb kita Azza wa Jalla turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Allah berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan doanya. Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku berikan permintaannya. Siapa meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku mengampuninya.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Hadits no. 12:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepadanya: “Shalat sunnah yang paling dicintai Allah adalah shalat nabi Daud ‘alaihis salam dan shaum sunnah yang paling dicintai Allah adalah shaum nabi Daud. Nabi Daud biasa tidur setengah malam, lalu bangun dan mengerjakan shalat sepertiga malam, lalu tidur kembali seperenam malam. Nabi Daud biasa mengerjakan shaum bergilir; sehari shaum dan sehari tidak shaum.” (HR. Bukhari no. 1131 dan Muslim no. 1159)

Hadits no. 13:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُأَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Setan mengikat tengkuk kepala setiap orang diantara kalian saat ia tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan, setan membisikkan ‘Kau memiliki waktu malam yang panjangn, tidurlah!’ Jika ia bangun malam dan berdzikir, maka satu ikatan akan terlepas. Jika setelah itu ia berwudhu, maka satu ikatan lainnya akan terlepas. Dan jika setelah itu ia melakukan shalat malam, maka ikatan terakhir akan terlepas. Keesokan harinya ia akan rajin dan baij jiwanya. Namun jika ia tidak melakukan ketiga hal itu, niscaya pada keesokan paginya ia akan buruk jiwanya dan malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)

Hadits no. 14:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ نَامَ لَيْلَهُ حَتَّى أَصْبَحَ قَالَ ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنَيْهِأَوْ قَالَ فِي أُذُنِهِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya diceritakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tentang seorang laki-laki yang tidur sepanjang malam sampai waktu pagi (tanpa mengerjakan shalat malam). Maka beliau bersabda: “Ia adalah laki-laki yang kedua telinganya, atau salah satu telinganya, dikencingi oleh setan.” (HR. Bukhari no. 1144 dan Muslim no. 774)

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

(muhib al majdi/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...