Berita Dunia Islam Terdepan

Nasehat ulama mujahidin Syaikh Abdullah Al-Muhaisini untuk mendamaikan konflik intern mujahidin Suriah

7

(Arrahmah.com) – Markazu Du’atil Jihad, yayasan media mujahidin indipenden di Suriah pada (11/1/2014) merilis sebuah pesan audio ulama mujahidin Syaikh Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Muhaisini dengan judul “Kepada seluruh mujahidin: Panggilan segera dan peringatan untuk hati“.

Pesan audio berdurasi 19 menit 19 detik tersebut merupakan bagian dari usaha para ulama dan komandan mujahidin untuk mendamaikan konflik bersenjata antar kelompok jihad yang beberapa hari terakhir terjadi di Suriah. Mengingat penting dan berharganya pesan audio tersebut bagi mujahidin di Suriah dan kaum muslimin di seluruh dunia, arrahmah.com menerjemahkan pesan tersebut untuk para pembaca.

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Yang telah mewajibkan perang kepada kita. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita yang senantiasa tersenyum lagi ahli berperang, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya para singa di medan laga, serta setiap orang yang berjalan di atas jalannya dan mengambil petunjuknya dari sunnahnya sampai hari kiamat. Amma ba’du.

Tidak samar lagi bagi umat Islam pada hari ini ujian yang terjadi di kancah jihad Syam, berupa perselisihan dan kekacauan. Kita memohon kepada Allah semoga mengangkat ujian tersebut, menyatukan barisan dan mengumpulkan percerai-beraian.

Wahai umat Islam, sesungguhnya terjadinya peristiwa-peristiwa besar dan musibah-musibah berat ini bukanlah hal yang baru-baru ini terjadi pada diri umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam. Sesungguhnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sala telah meninggalkan kita di atas jalan yang terang-benderang, malamnya bagaikan siangnya (karena begitu jelasnya petunjuk beliau, edt), tiada orang yang menyimpang dari jalan beliau melainkan akan binasa.

Rabb kita Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada kita untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) (QS. An-Nisa’ [4]: 83)

Allah Ta’ala juga berfirman:      

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima keputusanmu dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’ [4]: 65)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

Tentang sesuatu apapun kalian berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS. Asy-Syura [42]: 10)

Dalam hadits disebutkan:

«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»

Telah aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara, yang kalian tidak akan pernah tersesat selama kalian berpegang teguh dengan kedua perkara tersebut, yaitu kitab Allah dan sunnah nabi-Nya. (HR. Malik dalam Al-Muwatha’ no. 1727)

Di antara karunia Allah Ta’ala kepadaku adalah Allah Ta’ala memilihku untuk menjadi salah seorang tentara (mujahid) dari tentara-tentara Syam, dan saya memohon kepada Allah Ta’ala semoga menyempurnakan nikmatnya kepadaku dan kepada umat Islam dengan kemenangan yang nyata.

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengambil dari para ulama sebuah perjanjian yang berat:

لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

(Agar) kalian benar-benar menjelaskannya kepada manusia dan kalian tidak menyembunyikannya. (QS. Ali Imran [3]: 187)

Maka menjadi kewajiban saya dalam suasana peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini untuk menjelaskan kepada manusia apa yang aku yakini dalam peristiwa-peristiwa ini, melepaskan dari pandangan dan pendapat manusia, dan mempertimbangkan pandangan Allah Sang Pencipta, dengan menghadirkan dalam benakku sabda Al-Mushtafa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam:

“مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ الله تعالى عَنْهُ وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس”

Barangsiapa mencari ridha Allah Ta’ala walaupun membuat manusia marah, niscaya Allah akan ridha kepadanya dan Allah akan membuat manusia ridha kepadanya. Dan barangsiapa mencari ridha manusia walaupun membuat Allah murka, niscaya Allah akan murka kepadanya dan Allah membuat manusia murka kepadanya. (HR. At-Tirmidzi no. 2414, Ibnu Hibban no. 276, Al-Qudhai dalam Musnad As-Syihab no. 499, Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd no. 199, dan Al-Baghawi no. 4213)

Allah Ta’ala mengetahui bahwa kita tidak meninggalkan negeri kita, istri kita dan anak-anak kita untuk berdebat dalam agama Allah atau berbasa-basi dalam agama Allah.

Wahai saudara-saudaraku di kancah jihad…

Wahai saudara-saudaraku di kancah jihad…

Sesungguhnya yang aku yakini dalam peristiwa-peristiwa yang saat ini terjadi di Syam adalah sebagai berikut:

Pertama

Saya katakan kepada saudara-saudaraku, mujahidin semuanya; “Takutlah kalian kepada Allah, takutlah kalian kepada Allah dalam perkara darah kaum muslimin. Demi Allah, kita tidak keluar meninggalkan negeri kita, keluarga kita dan harta benda kita kecuali untuk memberlakukan hukum dien ini dan menolong orang-orang yang tertindas, serta lari menjauh dari api neraka Jahim. Maka apakah kita akan membawa pergi nyawa kita menuju neraka Jahim? Maka apakah kita akan membawa pergi nyawa kita menuju neraka Jahim? Maka apakah kita akan membawa pergi nyawa kita menuju neraka Jahim?

Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah neraka Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, Allah mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. An-Nisa’ [4]: 93)

Wahai mujahidin…Demi Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya, sungguh terbunuhnya seorang mukmin (tanpa alasan yang dibenarkan syariat Islam, edt) di sisi Allah lebih berat daripada hancurnya dunia seisinya. Itu adalah sumpah agung yang disabdakan oleh nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam.

Bapak dan ibuku sebagai tebusan beliau, inilah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada orang kesayangan beliau putra dari orang kesayangan beliau, Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma ketika ia membunuh seorang (musyrik) yang telah mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah:

يَا أُسَامَةُ، «كَيْفَ تَصْنَعُ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ إِذَا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

Wahai Usamah, apa yang engkau perbuat dengan Laa Ilaaha Illa Allah jika kalimat itu mendatangimu kelak pada hari kiamat? (HR. Bukhari no. 6872 dan Muslim no. 97)

Saya katakan kepada orang-orang yang hari ini saling berperang…Apa yang kalian perbuat dengan Laa Ilaaha Illa Allah jika kalimat itu mendatangi kalian kelak pada hari kiamat?

Kedua

Kita meyakini bahwa peperangan yang terjadi di Syam pada hari ini di antara kelompok-kelompok jihad adalah perang fitnah di antara sesama kaum muslimin. Sikap kami dari fitnah ini, yang dengannya kami nasehatkan kepada setiap mujahid, adalah uzlah (menyingkir dan tidak melibatkan diri) dan tidak mengarahkan senjata kepada muslim manapun.

Tidak samar lagi bahwa orang-orang yang saling berperang pada hari ini merupakan bagian dari kaum muslimin, diantara mereka ada as-sabiqun ash-shalihun (para pelopo dalam Islam dan jihad  lagi orang shalih) dan diantara mereka ada pula muqashirun mufarrithun (para pelaku dosa dan kurang taat menjalankan ajaran agama), masing-masing mereka adalah bagian dari kaum muslimin, meskipun di antara mereka menyelusup orang yang dikenal berkomplot dengan musuh, atau orang murtad, atau penjahat, atau orang yang berkonspirasi. Namun mayoritas dan yang dikenal luas dari kalangan orang-orang yang saling berperang saat ini adalah bagian dari kaum muslimin.

Oleh karenanya, ini adalah fitnah yang seorang muslim harus mengasingkan diri darinya dan tidak mengangkat senjatanya dalam fitnah tersebut. Ketika Sa’ad bin Malik (yaitu Sa’ad bin Abi Waqash, edt) dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengasingkan diri dari fitnah, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, alangkah baiknya tempat yang ditinggali oleh Sa’ad bin Malik dan Abdullah bin Umar. Jika hal itu (sikap uzlah mereka, edt) adalah perbuatan dosa, maka ia adalah dosa kecil yang akan diampuni. Dan jika hal itu adalah perbuatan baik, maka ia adalah amal yang akan diberi pahala.”

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Hasan Al-Bashri:

خَرَجْتُ بِسِلاَحِي لَيَالِيَ الفِتْنَةِ، فَاسْتَقْبَلَنِي أَبُو بَكْرَةَ، فَقَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قُلْتُ: أُرِيدُ نُصْرَةَ ابْنِ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا تَوَاجَهَ المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ فِي النَّارِ»

“Saya keluar dengan pedangku pada malam-malam terjadinya fitnah, maka Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu menemuiku dan berkata: “Engkau mau pergi kemana?” Aku menjawab: “Aku ingin pergi untuk menolong sepupu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam.” Maka Abu Bakrah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda: “Jika dua orang muslim saling berhadapan (bertempur) dengan pedang mereka, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh sama-sama akan masuk neraka.” 

Dan dalam riwayat Muslim:

«إِذَا الْمُسْلِمَانِ، حَمَلَ أَحَدُهُمَا عَلَى أَخِيهِ السِّلَاحَ، فَهُمَا عَلَى جُرْفِ جَهَنَّمَ، فَإِذَا قَتَلَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، دَخَلَاهَا جَمِيعًا»

Jika dua orang muslim saling berhadapan (bertempur) dan salah satunya menyerangkan senjatanya kepada saudaranya, maka keduanya berada di tepi neraka Jahanam. Jika salahs atunya membunuh lawannya, maka keduanya sama-sama akan masuk neraka Jahannam.” (HR. Bukhari no. 31, 7083 dan Muslim no. 2888)

Wahai mujahidin, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa salam telah memperingatkan kita untuk mewaspadai fitnah-fitnah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ،

Sesungguhnya menjelan hari kiamat akan terjadi fitnah-fitnah bagaikan potonan-potongan malam yang gelap gulita (HR. Abu Daud no. 4259, Ibnu Majah no. 3691 dan Ahmad no. 19730, hadits shahih)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

«سَتَكُونُ فِتَنٌ القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ، وَالقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ المَاشِي، وَالمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ، وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ»

Akan terjadi fitnah-fitnah, dimana orang yang duduk saja pada masa terjadinya fitnah-fitnah tersebut lebih baik dari orang yang berdiri, orang yang berdiri pada masa terjadinya fitnah-fitnah tersebut lebih baik dari orang yang berjalan dengan pelan, orang yang berjalan dengan pelan pada masa terjadinya fitnah-fitnah tersebut lebih baik dari orang yang berjalan dengan cepat. Barangsiapa melibatkan diri dalam fitnah-fitnah tersebut niscaya fitnah-fitnah tersebut akan membinasakannya. Dan barangsiapa mendapatkan tempat bersandar atau tempat berlindung, maka hendaklah ia berlindung.” (HR. Bukhari no. 3601 dan Muslim no. 2886)

Beliau juga bersabda:

«سَتَكُونُ فِتْنَةٌ صَمَّاءُ، بَكْمَاءُ، عَمْيَاءُ، مَنْ أَشْرَفَ لَهَا اسْتَشْرَفَتْ لَهُ، وَإِشْرَافُ اللِّسَانِ فِيهَا كَوُقُوعِ السَّيْفِ»

Akan terjadi fitnah-fitnah yang tuli, bisu lagi buta. Barangsiapa melibatkan diri di dalamnya niscaya fitnah-fitnah itu akan membinasakan dirinya. Dan keterlibatan dengan lisan pada masa terjadinya fitnah-fitnah itu bagaikan tebasan pedang. (HR. Abu Daud no. 4264 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath no. 8717, hadits lemah)

Inilah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika fitnah terjadi, ia membalikkan punggungnya darinya dan mengasingkan diri semata-mata demi mencari ridha Allah dan mengharapkan barang dagangan Allah yang mahal (surga, edt).

Mengasingkan diri dari fitnah dan menjauhi pelakunya adalah salah satu ajaran agung dalam Islam bagi kepentingan hamba dan melindungi agamanya, agar tangan dan lisannya selamat dari mencederai darah dan kehormatan kaum muslimin; juga bagi kepentingan ummat Islam dengan memadamkan fitnah.

Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata:

” هَاجَتِ الْفِتْنَةُ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشَرَاتُ الألوف فَلَمْ يَحْضُرْهَا مِنْهُمْ مِائَةٌ، بَلْ لَمْ يَبْلُغُوا ثَلَاثِينَ “

Fitnah berkobar saat sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam yang masih hidup berjumlah puluhan ribu. Namun di antara mereka yang menghadiri fitnah tersebut tidak lebih dari seratus orang, bahkan tidak lebih dari tiga puluh orang.(Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Al-Bidayah wan Nihayah, 7/281

Imam Asy-Sya’bi rahimahullah berkata:

لَمْ يَشْهَدِ الْجَمَلَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ عَلِيٍّ وَعَمَّارٍ وَطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ، فَإِنْ جَاءُوا بِخَامِسٍ فَأَنَا كَذَّابٌ.

Tidak ada yang menghadiri peperangan Jamal dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, baik Muhajirin maupun Anshar, selain Ali, Ammar, Thalhah dan Zubair. Jika mereka mendatangkan sahabat yang kelima, maka berarti aku adalah seorang pendusta.” (Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, 6/237)

Ajakan kami untuk mengasingkan diri dari fitnah, wahai saudara-saudaraku, janganlah dipahami darinya bahwa seseorang tidak membela keselamatan dirinya. Fitnah adalah sebuah perkara, dan membela diri adalah perkara yang lain sebab hal itu bukanlah termasuk fitnah. Telah disebutkan dalam hadits dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu dalam Shahih Muslim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي؟ قَالَ: «فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي؟ قَالَ: «قَاتِلْهُ» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي؟ قَالَ: «فَأَنْتَ شَهِيدٌ» ، قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ؟ قَالَ: «هُوَ فِي النَّارِ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa pendapat Anda jika seseorang datang kepadaku untuk merampas hartaku?’ Beliau menjawab: ‘Janganlah engkau serahkan hartamu kepadanya.’ Laki-laki itu bertanya: ‘Bagaimana jika ia memerangiku?’ Beliau menjawab: “Lawanlah!’ Laki-laki itu bertanya: ‘Bagaimana jika ia berhasil membunuhku?’ Beliau menjawab: ‘Engkau mati syahid.’ Laki-laki itu bertanya: ‘Bagaimana jika aku yang berhasil membunuhnya?’ Beliau menjawab: ‘Dia berada di neraka.'” (HR. Muslim no. 140, An-Nasai no. 4082 dan Ahmad no. 8475)

Ini termasuk dalam bab daf’us shail (menolak orang yang melakukan serangan), dan di antara perkara yang diketahui dalam masalah ini adalah wajib menolak serangan orang yang menyerang dengan cara yang paling ringan, kemudian cara yang lebih ringan. Maka tidak boleh membunuh penyerang tersebut jika ia bisa dihentikan dengan cara yang lebih ringan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Al-Minhaj:

وَفَرْقٌ بَيْنَ مَنْ تُقَاتِلُهُ دَفْعًا وَبَيْنَ مَنْ تُقَاتِلُهُ ابْتِدَاءً.

Dan sungguh berbeda antara orang yang engkau berperang melawannya karena engkau menolak kejahatannya (daf’us shail) dengan orang yang sejak engkau berperang melawannya sejak awal (orang kafir atau murtad, edt).” (Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, 5/152)

Maka kita tidak mengatakan kepada saudara-saudara kita untuk menyerahkan leher dan nyawa mereka untuk dibunuh. Tidak, demi Allah. Justru mereka harus mengasingkan diri dan keluar dari fitnah ini, yang hanya akan menyeret umat Islam dan menyeret kancah jihad Syam kepada bencana-bencana dan tragedi-tragedi dimana hanya Allah semata yang mengetahui akhir kesudahannya. Adapun dalam hal membela diri, mereka harus membela diri mereka jika ada orang yang menyerang atau menganiaya mereka, seperti telah dijelaskan di muka.

Saya mengingatkan saudara-saudaraku mujahidin yang tulus di jalan Allah akan keagungan ibadah jihad. Saya katakana, janganlah kalian memasuki peperangan syubhat, sebab (jika kalian mengikuti perang syubhat) kalian akan menghadap Allah dalam keadaan rugi dunia dan akhirat.

Janganlah engkau lupa bahwa engkau keluar dan meninggalkan keluargamu dan negerimu semata-mata untuk menolong orang-orang yang tertindas dari kalangan laki-laki dan wanita, serta berusaha meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi. 

Apakah kita lupa, wahai saudara-saudara, pembantaian demi pembantaian dan serangan demi serangan biadab (oleh rezim Nushairiyah Suriah, edt) yang membangkitkan semangat pembelaan karena Allah dalam hati kita. Apakah kalian ingin kancah jihad Syam sekarang tetap menjadi bencana, siksaan dan tragedi bagi penduduk Syam melalui tangan mujahidin; setelah mereka merasakannya melalui tanga musuh-musuh Allah?

Ketiga

Saya mewasiatkan kepada saudara-saudaraku untuk menahan lisan mereka dalam masa fitnah ini. Karena ini adalah fitnah yang Allah menjaga pedang-pedang kita dari terlibat di dalamnya, maka hendaklah kita menjaga lisan kita agar tidak terseret ke dalamnya. Hendaklah manusia saling mewasiatkan untuk menjaga lisan mereka.

Saya mengatakan hal ini kepada orang-orang yang berada di kancah jihad, dan secara khusus saya mengatakan hal ini kepada orang-orang yang berada di luar kancah jihad dari kalangan orang-orang yang suka mentweet, para jurnalis dan lain-lain.

Saya katakan: “Wahai orang yang menulis di twitter, takutlah kepada Allah! Demi Allah, kami berada di kancah jihad, namun demikian kami saja mengalami ketidak jelasan (kesamaran) dalam memahami hakekat sebagian peristiwa. Maka bagaimana engkau  memenangkan putusan untuk satu pihak dengan mengalahkan pihak lain dan engkau mendukung satu pihak atas pihak lainnya; padahal engkau berada ribuan kilometer di luar kancah jihad?”

“Maka takutlah kepada Allah dan janganlah engkau memasuki fitnah ini seakan-akan engkau adalah salah satu dari pihak-pihak yang terlibat konflik. Ingatlah, terkadang dengan satu kali tweet, engkau turut serta dalam menumpahkan darah. Sesungguhnya tindakanmu membantu pembunuhan terhadap seorang muslim, walau dengan sepatah kata, adalah sebuah dosa besar. Ingatlah bahwa barangsiapa memantu pembunuhan terhadap seorang muslim, walau dengan sepatah kata, niscaya akan datang pada hari kiamat sementara di antara kedua matanya terdapat tulisan berbunyi ‘orang yang putus asa dari rahmat Allah’. Hal itu telah diriwayatkan dari Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa salam. Wahai orang yang menulis di twitter, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi nasehat bagimu dan aku mengkhawatirkan dirimu.”

Keempat

Saya mewasiatkan kepada setiap mujahid untuk berlindung kepada Allah, merendahkan dirinya di hadapan-Nya, dan memohon kepada-Nya keteguhan di atas kebenaran serta keselamatan dari fitnah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam saja difirmankan oleh Allah Ta’ala:

وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. (QS. Al-Isra’ [17]: 74)

Hendaknya kita memohon dan berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh:

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami rizki (kemampuan untuk) mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan berilah kami rizki (kemampuan untuk) menjauhinya, janganlah Engkau menjadikan kebatilan samar-samar bagi kami sehingga kami tersesat.

Kelima

Adapun berkaitan dengan masalah kembalinya ikhwan-ikhwan mujahidin (ke negeri mereka) dari bumi jihad ini, maka saya katakan: Demi Allah, kita tidak berangkat dari negeri-negeri kita untuk kembali kepadanya, sampai kita meraih kemenangan dengan izin Allah. Adapun kita kembali ke negeri kita sebelum rezim Nushairiyah merasakan bencana-bencana dari kita, (maka kita tidak akan melakukannya).

Bahkan saya katakan, sekaranglah saatnya berjihad. Sekaranglah saatnya kita menggoncangkan markas-markas Nushairiyah dengan roket-roket yang terlontar dan truk-truk penuh bom yang menggentarkan mereka. Sekaranglah saatnya wahai para singa peperangan untuk mengasingkan diri dari fitnah. Sekaranglah saatnya barisan-barisan bersatu dan kalimat-kalimat bersepakat serta mencampakkan perselisihan-perselisihan di belakang punggung kita, lalu kita berangkat menuju tsughur-tsughur (daerah perbatasan yang memungkinkan pasukan musuh menyerang) kaum muslimin sehingga kita menolong orang-orang yang tertindas dan meninggikan panji agama Islam, dimana kita melakukan hijrah untuk tujuan itu.

Sesungguhnya saya dan rekan-rekan pada Markazu Du’atil Jihad serta barangsiapa yang ingin berperan serta dengan izin Allah, sedang berusaha untuk mendamaikan (kelompok-kelompok jihad yang terlibat konflik, edt) tanpa menunda-nunda sampai Allah menyempurnakan urusan ini.

Adapun jika kami melihat pintu-pintu (perdamaian) telap tertutup (mengalami kebuntuan, edt), maka kami akan berangkat ke pesisir (Lattakia dan sekitarnya, edt) dan Homs serta tsughut-tsughur Syam lainnya untuk kami menyalakan kobaran api yang membakar Nushairiyah dan antek-anteknya dan kami menimpakan kepada mereka berlipat-lipat dari apa yang mereka timpakan kepada penduduk (muslim) kita.

Sebagai penutup

Saya katakan, bergembiralah kalian dan berharaplah kebaikan dengan Syam, karena Allah telah menjamin negeri Syam dan penduduknya. Para mushlihun (ulama-ulama, komandan-komandan dan tokoh-tokoh Syam) dalam usaha mereka untuk mendamaikan kelompok-kelompok jihad yang bertikai telah melakukan beberapa tahapan yang diberkahi. Tinggal tersisa beberapa syarat di sini dan sana. Kita berdoa kepada Allah semoga menundukkan hati saudara-saudara kita untuk mendekatkan di antara mereka. Sesungguhnya Allah Yang menguasai hal itu dan Yang Maha Kuasa atas hal itu.

Wahai Syam, bersabarlah….

karena harapan telah mencapai puncaknya

kafilah-kafilah syuhada’ tak kan berlalu sia-sia

esok hari bau wangi kemenanganmu kan semerbak

dari rintihan kesakitan para korban cedera

maka siaplah tuk menyambut hari esok ceria

 

Wahai penduduk Syam, pedihnya luka-luka mengepung kita

Kalian dalam lubuk hati kami, sudah sampaikah gaungnya?

Wahai umat Islam, adakah yang siapa menolong?

Kehormatan saudari-saudari kalian meleleh terus-menerus

Putra-putra mereka dibantai tanpa dosa

dalam rumah-rumah mereka

Tidakkah kalian hendak menyambut seruannya?

 

Ya Allah, tenangkanlah hati kami dengan persatuan mujahidin di Syam dan perbaikan hubungan di antara mereka.

Ya Allah, satukanlah hati mereka.

Ya Allah, Engkau telah menjamin bagi negeri Syam dan penduduknya, maka tunjukkanlah kepada kami jaminan-Mu wahai Dzat Yang memiliki kemuliaan dan keagungan

Turunkanlah berkah-berkah-Mu dan rahmat-Mu kepada Syam, wahai Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurusi seluruh makhluk   

 

Akhir dari seruan kami adalah segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.

 

Pelayan mujahidin

Abdullah bin Muhammad Al-Muhaisini

(muhib al majdi/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...