Berita Dunia Islam Terdepan

Mutiara Ramadhan # 25: Seni tadabbur Al-Qur’an (bagian 6)

21

(Arrahmah.com) – Dalam bukunya Fannu Tadabburi fi al-Qur’an al-Karim Syaikh Isham bin Shalih al-Uwayyid menjelaskan bahwa langkah kedua untuk tadabbur Al-Qur’an adalah memahami sepenuhnya bahwa wahyu Al-Qur’an pada dasarnya ditujukan kepada hati kita. Perintah-perintah, larangan-larangan, dan kisah-kisah di dalam Al-Qur’an pertama dan terutama sekali ditujukan kepada hati kita. Hati kita adalah sasaran pertama dan utama dari firman Allah dalam Al-Qur’an.

Ada banyak dalil syar’i yang membuktikan bahwa wahyu Al-Qur’an pada pokoknya ditujukan kepada hati kita. Pertama, Al-Qur’an pertama kali diturunkan ke dalam hati.

Kedua, Allah Ta’ala mengulang-ulang penyebutan lafal “hati” di dalam Al-Qur’an, dan Allah melabeli hati dengan sifat-sifat yang demikian banyak, yang tidak pernah dilabelkan kepada anggota-anggota tubuh lainnya.

Ketiga, pengaruh terbesar Al-Qur’an adalah terhadap hati.

Sesungguhnya anggota tubuh manusia yang paling merasakan besarnya pengaruh Al-Qur’an adalah hati. Membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an akan menjadikan hati hidup, sehat dan subur untuk menerima siraman keimanan. Adapun enggan membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an akan menjadikan hati mati, sakit, dan gersang sehingga benih keimanan tidak akan mampu hidup di dalamnya.

Oleh karena itu Allah Ta’ala menegaskan bahwa orang yang bisa mengambil pelajaran dari Al-Qur’an hanyalah orang-orang yang hatinya hadir atau orang-orang yang berusaha menghadirkan hatinya saat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada hal yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang yang “memiliki” hati atau mempergunakan pendengarannya, sedangkan ia menyaksikan. (QS. Qaf [50]: 37)

Allah Ta’ala telah memperingatkan besarnya dampak negatif dari sikap berpaling dari Al-Qur’an. Keengganan dari membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an hanya akan membuat hati sakit, mati dan terkunci oleh berlapis-lapis “gembok”. Akibatnya cahaya keimanan dan petunjuk tidak akan mampu masuk ke dalam hati tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? [Mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an karena] justru hati mereka telah terpasangi gembok-gembok [yang menghalangi masuknya petunjuk] (QS. Muhammad [47]: 24)

Saudaraku seislam dan seiman…

Allah Ta’ala menjelaskan sifat orang-orang yang beriman dan berilmu sepanjang zaman, sejak zaman para nabi terdahulu sampai zaman nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam, bahwa manakala dibacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, maka mereka merasakan pengaruhnya yang sangat besar dalam hati mereka. Mereka khusyu’ mendengarkannya, membenarkan kandungan maknanya, bahkan bersujud sambil menangis dan bertambah khusyu’.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109)

Katakanlah [wahai Muhammad]: Berimanlah kalian kepada Al-Qur’an ataupun kalian tidak mau beriman kepada Al-Qur’an [niscaya Al-Qur’an tetap merupakan kebenaran dari Allah]. Sesungguhnya orang-orang yang dikaruniai ilmu sebelumnya [ulama Ahlu kitab yang memegang teguh kitab Allah yang murni] apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, niscaya mereka menyungkur bersujud.

Mereka mengatakan: ‘Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami, sungguh janji Rabb kami adalah benar-benar akan terlaksana.’ Mereka menyungkur bersujud dengan menangis dan bacaan ayat Allah menambah kekhusyukan mereka. (QS. Al-Isra’ [17]: 107-109)

Imam Abdullah bin Mubarak, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari imam Abdul A’la at-Tamimi rahimahullah yang berkata: “Orang yang dikaruniai ilmu namun tidak membuatnya menangis [karena takut kepada Allah Ta’ala] niscaya ia telah dikaruniai ilmu yang tidak membawa manfaat bagi dirinya. Sebab Allah telah mensifati orang yang berilmu dengan firman-Nya:

يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا… وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

“…apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, niscaya mereka menyungkur bersujud. … Mereka menyungkur bersujud dengan menangis dan bacaan ayat Allah menambah kekhusyukan mereka.” – QS. Al-Isra’ [17]: 107-109– (Jalaluddin as-Suyuthi, Ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bil-Ma’tsur, 5/347)

Generasi sahabat, tabi’in dan tabi’it adalah generasi yang paling memahami hal ini. Mereka menilai ilmu seseorang dari dampak yang ditimbulkan oleh pengaruh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam terhadap hati seseorang.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ilmu itu bukanlah dengan [menghafal dan meriwayatkan] banyak hadits [semata], akan tetapi [hakekat ilmu] adalah rasa takut [kepada Allah].”

Hudzaifah bin Yaman dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Cukuplah seseorang itu dikatakan berilmu apabila ia memiliki rasa takut kepada Allah.”

Yahya bin Abi Katsir berkata: “Orang yang berilmu adalah orang yang memiliki rasa takut kepada Allah.”

Shalih Abu Khalil berkata: “Orang yang paling berilmu [mengetahui] tentang Allah adalah orang yang paling memiliki rasa takut kepada-Nya.”

Hasan al-Bashri berkata: “Ilmu itu ada dua. Pertama, ilmu yang berada di dalam hati [rasa takut kepada Allah], itulah ilmu yang bermanfaat. Kedua, ilmu yang berada di lisan, itulah hujjah Allah terhadap hamba-Nya.” (Riwayat-riwayat ini disebutkan oleh imam Jalaluddin as-Suyuthi di dalam Ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bil-Ma’tsur, 7/20-21)

Saudaraku seislam dan seiman…

Demikianlah generasi salaf shalih memandang ilmu. Mereka memahami bahwa ilmu dan iman itu tidak diraih dengan banyaknya membaca ayat-ayat Al-Qur’an semata, namun lebih dari itu adalah hadirnya kekhusyukan dan rasa takut kepada Allah Ta’ala di dalam hati. Itulah dampak dari tadabbur Al-Qur’an terhadap hati.

Kini marilah kita melihat bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mencontohkan kepada umatnya dampak tadabbur Al-Qur’an terhadap hati, yang membuahkan rasa khusyu’, pengagungan dan rasa takut kepada Allah Ta’ala.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ مِنَ الْبُكَاءِ.

Dari Abdullah bin Syikhir radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam melaksanakan shalat sedangkan dada beliau bergemuruh seperti suara air mendidih dalam panci karena tangisan beliau.” (HR. Abu Daud no. 904, An-Nasai no. 1214, Ahmad no. 16132, Ibnu Khuzaimah no. 900, Ibnu Hibban no. 665, dan Al-Hakim no. 971, hadits shahih)

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَرَأَ بِآيَةٍ حَتَّى أَصْبَحَ، يُرَدِّدُهَا{إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ}

Dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam melaksanakan shalat malam [tahajud] dengan membaca satu ayat saja, beliau mengulang-ulang ayat tersebut sampai datang waktu Shubuh. Ayat tersebut adalah firman Allah:

{إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ}

“Jika Engkau mengazab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” – QS. Al-Maidah [5]: 118 – (HR. An-Nasai no. 1010, Ibnu Majah no. 1350, Ahmad no. 21538, Al-Hakim no. 879 dan Al-Baihaqi no. 4718, hadits shahih)

Wallahu a’lam bish-shawab.

(muhibalmajdi/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...