Berita Dunia Islam Terdepan

Mutiara Ramadhan # 24: Seni tadabbur Al-Qur’an (bagian 5)

28

(Arrahmah.com) – Dalam bukunya Fannu Tadabburi fi al-Qur’an al-Karim Syaikh Isham bin Shalih al-Uwayyid menjelaskan bahwa langkah kedua untuk tadabbur Al-Qur’an adalah memahami sepenuhnya bahwa wahyu Al-Qur’an pada dasarnya ditujukan kepada hati kita. Perintah-perintah, larangan-larangan, dan kisah-kisah di dalam Al-Qur’an pertama dan terutama sekali ditujukan kepada hati kita. Hati kita adalah sasaran pertama dan utama dari firman Allah dalam Al-Qur’an.

Ada banyak dalil syar’i yang membuktikan bahwa wahyu Al-Qur’an pada pokoknya ditujukan kepada hati kita. Pertama, Al-Qur’an pertama kali diturunkan ke dalam hati.

Kedua, Allah Ta’ala mengulang-ulang penyebutan lafal “hati” di dalam Al-Qur’an, dan Allah melabeli hati dengan sifat-sifat yang demikian banyak, yang tidak pernah dilabelkan kepada anggota-anggota tubuh lainnya.

Sifat-sifat yang Allah lekatkan kepada “hati” jauh lebih banyak dari sifat-sifat yang Allah lekatkan terhadap anggota tubuh yang lain. Di antara sifat-sifat yang dilekatkan kepada “hati” tersebut terdapat sifat-sifat kebajikan dan terdapat pula sifat-sifat keburukan. Hal itu mengisyaratkan bahwa hati kita memiliki kecenderungan dan potensi untuk melakukan kebaikan maupun keburukan.

Di antara sifat-sifat keburukan yang Allah Ta’ala lekatkan kepada “hati” manusia adalah:

1. Kasb (usaha, perbuatan)

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Allah tidak menghukum kalian atas sumpah kalian yang tidak sengaja, akan tetapi Allah menghukum kalian atas perbuatan yang dilakukan (dengan niat sengaja) oleh hati kalian. (QS. Al-Baqarah [2]: 225)

2. Raan (kotoran yang bertumpuk-tumpuk)

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak, justru dosa-dosa yang mereka kerjakan telah bertumpuk-tumpuk menutupi hati mereka. (QS. Al-Muthaffifin [83]: 14)

3. Ghaflah (kelalaian)

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا

Dan janganlah engkau menaati orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat-ingat Kami. (QS. Al-Kahfi [18]: 28)

4. Maradh (penyakit)

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

Di dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit tersebut. (QS. Al-Baqarah [2]: 10)

Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ikrimah, Mujahid, Hasan al-Bashri, Abul ‘Aliyah, Rabi’ bin Anas dan Qatadah berkata: “Di dalam hati orang-orang munafik ada keragu-raguan, maka Allah menambah keragu-raguan dalam hati mereka.” Ikrimah dan Thawus berkata: “Di dalam hati mereka ada penyakit riya’.” Ibnu Abbas juga berkata: “Di dalam hati mereka ada penyakit kemunafikan.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 1/178-179)

5. Khatam (penguncian mati, penutupan)

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ

Allah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup. (QS. Al-Baqarah [2]: 7)

6. Ru’b (ketakutan)

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا

Kami akan menimpakan dalam hati orang-orang kafir itu rasa ketakutan diakibatkan mereka menyekutukan Allah padahal Allah tidak menurunkan izin atas hal itu. (QS. Ali Imran [3]: 151)

7. Zaigh (menyimpang, penyimpangan)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menyelewengkan (menyesatkan) hati kami setelah Engkau memberi kami petunjuk. (QS. Ali Imran [3]: 8)

8. ‘Ama (kebutaan)

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Maka sesungguhnya bukan mata fisik mereka yang buta, melainkan hati yang berada di dalam dada yang buta. (QS. Al-Hajj [22]: 46)

9. Taqallub (berbolak-balik, terbalik)

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Dan Kami membolak-balikkan hati dan pandangan mereka [di akhirat] sebagaimana pertama kali [dalam kehidupan di dunia] mereka tidak beriman kepada Al-Qur’an dan Kami membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (QS. Al-An’am [6]: 110)

Ibnu Abbas berkata: Karena orang-orang musyrik mendustakan kebenaran yang diturunkan Allah, maka hati mereka tidak teguh di atas [landasan iman] apapun dan hati mereka berbolak-balik, terombang-ambing.

Ibnu Abbas juga berkata: Maknanya adalah seandainya mereka dikembalikan ke dunia, niscaya mereka akan dihalangi dari mendapatkan petunjuk, sebagaimana dahulu Kami menghalangi mereka dari menerima petunjuk dalam kehidupan pertama mereka di dunia.

Mujahid, Ikrimah dan Abdurrahman bin Zaid berkata: Maknanya adalah Kami menghalangi hati mereka dari keimanan, sehingga meskipun tiap ayat didatangkan kepada mereka, mereka tidak mau beriman, sebagaimana pertama kali [di dunia] menghalangi mereka dari keimanan. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 3/317)

10. Isymi’zaz (kesal, bermuka masam)

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ

Dan jika nama Allah semata yang disebutkan, hati orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhir merasa kesal. (QS. Az-Zumar [39]: 45)

Tentang makna lafal isyma-azzat, Mujahid berkata: cemberut dan bermuka masam. As-Sudi berkata: Menolak. Qatadah berkata: Mengkufuri dan menyombongkan diri. Zaid bin Aslam berkata: Menyombongkan diri. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 7/102)

11. Qufl (gembok, tergembok, terkunci)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? [Mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an karena] justru hati mereka telah terpasangi gembok-gembok [yang menghalangi masuknya petunjuk] (QS. Muhammad [47]: 24)

12. Dha’ful iman (kelemahan iman)

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Orang-orang Arab badui berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kalian belum beriman, namun katakanlah oleh kalian ‘Kami telah masuk Islam”, adapun keimanan [yang sejati] belum-lah masuk ke dalam hati kalian.” (QS. Hujurat [49]: 14)

13. Thab’u (penutupan, penguncian)

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa dasar ilmu yang Allah karuniakan, amat besar kemurkaan Allah dan orang-orang yang beriman terhadap mereka. Demikianlah Allah mengunci mati setiap hati orang yang menyombongkan diri dan berlaku sewenang-wenang. (QS. Ghafir [40]: 35)

14. Raib (keraguan)

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ

Sesungguhnya yang meminta izin kepadamu untuk tidak berjihad hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dan hati mereka ragu-ragu sehingga mereka terombang-ambing di dalam keragu-raguan mereka. (QS. At-Taubah [9]: 45)

15. Qaswah (keras)

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka kenapa mereka tidak memohon kepada Allah dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang kepada mereka? Akan tetapi hati mereka keras dan setan menghiasi perbuatan [kekafiran dan kemungkaran] yang mereka lakukan.” (QS. Al-An’am [6]: 43)

16. Ghaizh (kemarahan, dendam)

وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ

Dan Allah menghilangkan kemarahan di dalam hati mereka. (QS. At-Taubah [9]: 15)

17. Lahw (lalai)

لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ

Hati mereka lalai (QS. Al-Anbiya’ [21]: 3)

18. Kufur (kekafiran)

وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk menerima kekafiran [secara sukarela] maka bagi mereka murka dari Allah dan bagi mereka azab yang besar. (QS. An-Nahl [16]: 106)

19. Nifak (kemunafikan)

فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Maka Allah menimpakan kemunafikan di dalam hati mereka sampai hari mereka menghadap-Nya disebabkan mereka mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada Allah [janji untuk berinfak jika dikaruniai kekayaan] dan disebabkan mereka berdusta. (QS. At-Taubah [9]: 77)

20. Ghil (kedengkian)

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

Dan Kami hilangkan dari dalam dada mereka rasa dengki, sehingga mereka menjadi bersudara, duduk di atas dipan-dipan [dalam surga] sambil berhadap-hadapan. (QS. Al-Hijr [15]: 47)

21. Kibr (kesombongan)

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ

Sesungguhnya orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa ada landasan kebenaran yang sampai kepada mereka, yang ada di dalam dada mereka hanyalah keinginan untuk meraih kebesaran, yang tidak akan mereka capai. (QS. Ghafir [40]: 56)

22. Waswasah (bisikan jahat)

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

[Setan] yang membisik-bisiki dalam dada manusia. (QS. An-Nas [114]: 5)

23. Hasrah (kerugian, penyesalan)

لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ

Agar Allah menjadikan hal itu sebagai penyesalan dalam hati mereka. (QS. Ali Imran [3]: 156)

24. ‘Adamul fiqh (tidak memahami)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا

Dan sesungguhnya Kami telah menyiapkan untuk neraka Jahannam banyak jin dan manusia, [karena] mereka memiliki hati namun mereka tidak memikirkan [tanda-tanda kebesaran dan keesaan Allah] dengannya. (QS. Al-A’raf [7]: 179)

Saudaraku seislam dan seiman…

Allah Ta’ala telah berulang kali menyebutkan hati dan dada [dengan pengertian hati] di dalam Al-Qur’an. Allah telah mensifati hati dan dada dengan banyak sifat kebajikan dan sifat keburukan.

Hal itu lebih dari cukup untuk mengingatkan kita betapa hati memiliki peranan yang sangat vital dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Manakala hati kita mau mendengarkan, mempelajari, menerima dan mengamalkan Al-Qur’an; niscaya pintu hati kita akan terbuka lebar-lebar untuk menerima petunjuk Al-Qur’an.

Adapun jika hati kita enggan mendengarkan, mempelajari, menerima dan mengamalkan Al-Qur’an; niscaya pintu hati kita akan terkunci mati, sehingga petunjuk Al-Qur’an tidak akan masuk ke dalam hati kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(muhibalmajdi/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...