Berita Dunia Islam Terdepan

Mutiara Ramadhan # 15: Kesungguhan Umar bin Khahab mempelajari kandungan makna Al-Qur’an

4

(Arrahmah.com) – Generasi sahabat radhiyallahu ‘anhum memiliki interaksi yang sangat erat, dekat dan kuat dengan Al-Qur’an. Mereka mendengarkan pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dari lisan Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sendiri setelah wahyu diturunkan. Mereka mendengarkan penjelasan maknanya atau menanyakan maknanya langsung kepada Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Mereka lalu menghafalnya dan mengamalkannya setelah memahami maknanya.

Setelah Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa salam wafat, keseriusan generasi sahabat radhiyallahu dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an sama sekali tidak berhenti. Mereka tetap membaca lembaran-lembaran wahyu Al-Qur’an, menghafal lafalnya, mempelajari kandungan maknanya dan mengamalkan ilmu yang telah mereka pahami dari Al-Qur’an.

Tentang kesungguhan mereka dalam mempelajari kandungan makna Al-Qur’an dan mengamalkan ilmunya, imam Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya ia berkata:

تَعَلَّمَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْبَقَرَةَ فِي اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً، فَلَمَّا خَتَمَهَا نَحَرَ جَزُورًا

“Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu mempelajari surat Al-Qur’an dalam waktu 12 tahun dan ketika ia selesai mempelajarinya, ia menyembelih seekor unta [sebagai wujud syukur kepada Allah Ta’ala].” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 1805)

Subhanallah, seorang sahabat mulia dan khalifah yang agung ini begitu istiqamah dan serius mempelajari surat Al-Baqarah. Beliau menghafal ayat-ayatnya sedikit demi sedikit. Setiap kali beberapa ayat dihafalkan, maka beliau mempelajari kandungan maknanya dan kemudian mengamalkan isinya. Beliau tidak akan menambah hafalan baru, sampai beliau memahami makna ayat-ayat sebelumnya dan mengamalkan kandungannya.

Begitu gigih, ulet, sabar dan istiqamah beliau melakukan hal itu, sehingga untuk menyelesaikan kajian satu surat, yaitu surat Al-Baqarah, beliau menghabiskan waktu 12 tahun!

Sifat itu juga ditiru oleh putranya, Abdullah bin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma, seorang ulama sahabat yang dikenal luas sangat meneladani semua sisi kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Dalam kitab hadits Al-Muwatha’, imam Malik meriwayatkan:

«أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ مَكَثَ عَلَى سُورَةِ الْبَقَرَةِ، ثَمَانِيَ سِنِينَ يَتَعَلَّمُهَا»

“Sesungguhnya Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma tekun mempelajari surat Al-Baqarah sehingga memerlukan waktu delapan tahun.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’ no. 11)

Sedikit demi sedikit ayat, namun ulet, sabar, tekun dan istiqamah dalam mempelajari kandungan maknanya dan mengamalkan ilmunya. Itulah kebiasaan generasi sahabat dan tabi’in dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi dari Khalid bin Dinar, ia berkata:

قَالَ لَنَا أَبُو الْعَالِيَةِ: تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ خَمْسَ آيَاتٍ خَمْسَ آيَاتٍ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُهُ مِنْ جِبْرِيلَ خَمْسًا خَمْسًا

“Abul ‘Aliyah [Rufai’ bin Mihran ar-Riyahi] berkata kepada kami: “Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat demi lima ayat, karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam menerimanya [mempelajarinya] dari malaikat Jibril lima ayat demi lima ayat.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 1806)

Abul ‘Aliyah Rufai’ bin Mihran ar-Riyahi adalah seorang ulama tafsir dan hadits dari generasi ta’i’in senior. Beliau belajar dan menyelesaikan hafalan Al-Qur’an kepada ulama sahabat, Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga “menyetorkan” hafalan Al-Qur’annya kepada tiga ulama sahabat; Umar bin Khathab, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum. (Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam an-Nubala’, 4/207-208)

Mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an sedikit demi sedikit, dengan tekun dan istiqamah seperti diceritakan oleh imam Abul ‘Aliyah tersebut menunjukkan keseriusan, keakraban dan kedekatan seorang muslim dengan kitab Allah, Al-Qur’an. Itulah tradisi di zaman sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Semoga bulan suci Ramadhan yang merupakan bulan Al-Qur’an ini kita bisa menghidupkan kembalii tradisi salafush shalih tersebut. Wallahu a’lam bish-shawab. (muhibalmajdi/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...