Ketika naik haji setelah KAA 1955, Sukarno mengunjungi Arab Saudi sekalian naik haji. Dalam kunjungan itu, Sukarno difasilitasi sebuah Chrysler Crown Imperial yang kemudian dihadiahkan ketika pulang.

Sejak 18 Juli hingga 4 Agustus 1955, dengan didampingi Wakil Perdana Menteri KH Zainul Arifin dan Menteri Agama KH Masykur, Sukarno berada di Mekkah untuk kunjungan kenegaraan. Kunjungan itu dilakukan setelah penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung rampung. Dalam ajang itu, delegasi Arab Saudi dipimpin Putra Mahkota Amir Faizal.

Menurut Ario Helmy dalam Biografi KH Zainul Arifin yang ditulisnya, Berdzikir Menyiasati Angin (2009), rombongan Sukarno diterima oleh Raja Saud bin Abdul Aziz. Saat itu, Saud baru dua tahun menjadi yang paling dipertuan di Kerajaan Arab Saudi. Pangeran sulung dari Raja Ibnu Saud ini dikenal royal. Selama berada di Arab Saudi, Sukarno diberi fasilitas mobil buatan Amerika, Chrysler Crown Imperial.

Sukarno datang bertepatan dengan musim haji, dan ia pun menunaikan ibadah haji. Menurut Ario Helmy, Raja Saud menemani Sukarno dan rombongannya. Ketika melakukan ibadah Sa’i, lari-lari kecil antara bukit Marwah dan Safa, kepada Raja Arab itu Sukarno memberi usul agar kawasan ibadah diperbaiki dan dibersihkan dari para pedagang.

Ketika itu, banyak pedagang yang berkeliaran di antara jamaah. Raja Arab menyambut baik usul itu. Ketika itu, diadakan pula upacara pencucian Kabah. Rombongan Sukarno pun bisa memasuki bangunan Kabah dan melakukan saalat sunnah dua rakaat di dalamnya.

Setelah upacara, Raja Saudi memotong-motong Kiswah atau kain penutup Kabah dibikin dari tenunan kain sutera berhiaskan kaligrafi, yang terbuat dari 120 kg emas murni dan puluhan kg perak. Potongan-potongan Kiswah itu lalu dibagikan pada anggota rombongan.

Di Arab Saudi, nama Sukarno dikenang sebagai nama pohon. Menurut buku (Jangan) Panggil Saya Haji: Catatan Haji Jurnalis di Tanah Suci (2014), “Saat berhaji di dekade 1960, Sukarno menyampaikan dua usulan kepada Raja Saudi, salah satunya penghijauan Padang arafah.” Sukarno tentu tak cuma memberi ide. Setiba di Indonesia, presiden mengatur pengiriman ribuan bibit pohon mimba ke Arab Saudi.

“Ternyata, pohon itu tunbuh subur merindangi banyak titik di Arafah.” Kerajaan Arab Saudi menyebut pohon itu Sajarah Sukarno atau Pohon Sukarno.

Sukarno membawa hadiah bibit pohon, Raja Saud pun memberi buah tangan untuk Sukarno.

“Ketika aku akan kembali ke tanah air, Raja Arab Saudi mengatakan, ‘Presiden Soekarno, mobil Chrysler Crown Imperial ini telah Anda pakai selama berada di sini. Dan sekarang saya menyerahkannya kepada Anda sebagai hadiah,” kata Sukarno dalam autobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat.

Menurut H. Mangil Martowidjojo, dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967 (1999), mobil Chrysler Crown Imperial itu lalu diberi plat nomor polisi Indonesia 1. Belakangan, mobil Chrysler Crown Imperial milik Sukarno pemberian Raja Arab itu tersimpan selama belasan tahun di Museum Mobil Sentul.

Sialnya mobil hadiah dari Raja Arab itu harus menjadi saksi atas percobaan pembunuhan Sukarno di Cikini, Jakarta pada 30 November 1957. Malam itu Sukarno hendak mengunjungi bazar sekolah di Perguruan Cikini. Tentu mengendarai hadiah Raja Arab itu.

Menurut Arifin Suryo Nugroho dalam Tragedi Cikini, Percobaan Pembunuhan Presiden Soekarno (2014), dalam peristiwa itu granat meledak di halaman sekolah yang penuh sesak pengunjung. Tujuh orang meninggal di tempat, dan puluhan orang terluka. Dua korban tewas adalah brigadir pengawal voorijders presiden, yakni Muhammad dan Ahmad bin Udi.

Mobil Chrysler dari Raja Arab pun rusak berat. Ban depan kanan-kiri pecah, spatbor berlubang, juga terdapat kerusakan pada kap dan mesin.

Padahal, mobil Amerika ini boleh dibilang cukup disukai Sukarno. “Aku sudah sudah tertarik pada Chrysler ini sejak pertama kali melihatnya,” katanya.

Soal peristiwa Cikini itu, dalam autobiografinya itu Sukarno berkeluh kesah.

“Apakah kejahatanku? Mengapa mereka mencoba membunuh Sukarno? Mereka menyatakan aku seorang Muslim yang buruk. Cukup aneh, mobil yang mereka hancurkan dalam peristiwa Cikini itu adalah milikku yang kuperoleh karena aku dinilai sebagai seorang Muslim yang baik.”

(tirto.id/arrahmah.com)

Topik: ,