Berita Dunia Islam Terdepan

Menyibak tabir aqidah, manhaj, dan akhlaq jihad global Al-Qaeda

Syaikh Usamah bin Laden (rahimahullah) bersama Syaikh Dr. Ayman Azh-Zawahiri, Pendiri Al Qaeda International
50

JAKARTA (Arrahmah.com) – Jihad merupakan akhlaq para hizbullah (pengikut agama Allah). Ia merupakan wujud kemuliaan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dalam bentuk jihad politik, harta/ekonomi, militer, tarbiyah, maupun media.

Sebagai harakah hizbullah, Al-Qaeda hadir mewujudkan jihad global, demi menegakkan Kedaulatan Islam. Melalui risalah berikut yang diterjemahkan dan dipublikasikan Muqawamah Media pada Rabu (22/7/2015), Arrahmah mencoba menyibak tabir aqidah, manhaj, dan akhlaq jihad global Al-Qaeda.

Semoga dengan risalah ini, kita dapat memastikan kesesuaian Al-Qaeda dalam mengintegralkan nilai dan kondisi kebudayaan wilayah jihad, serta proses tarbiyah di dalam tubuhnya. Terlebih operasi jihad tidak akan berhasil tanpa adanya pemupukan karakter Qur’ani dalam diri setiap Mujahidnya. Peningkatan pemahaman Tauhid dan akhlaq individu Mujahid yang meneladai Rasulullah ﷺ tentu akan menghasilkan kerja jihad sejati.

Kita juga dapat menilai Al-Qaeda melalui nizham “sistem” dan tanzhimnya melalui risalah ini. Apakah seluruh anggotanya telah memiliki ketundukan yang seragam terhadap kaidah-kaidah yang telah disepakati bersama? Sebab tanpa langkah-langkah gradual, anggota tanzhim Al-Qaeda tentu tidak akan melangkah dalam manhaj tarbawi yang lurus jalannya.

Pun strategi Al-Qaeda sangat menentukan keberhasilannya beroperasi di medan realitas jihad. Gerakan politiknya bisa saja hancur jika dilakukan tanpa perhitungan dan penyiapan propaganda massa, serta evaluasi yang matang. Dengan demikian, mari kita simak risalah berikut sehingga tak ada lagi syak dalam diri kita tentang langkah jihad Al-Qaeda. Bismillah.

Menyibak tabir aqidah, manhaj, dan akhlaq jihad global Al-Qaeda
Menyibak tabir aqidah, manhaj, dan akhlaq jihad global Al-Qaeda
STRATEGI & OPERASI JIHAD GLOBAL AL-QAEDA
(Menyingkap Rahasia Aqidah, Manhaj dan Akhlaq Jihad Modern)

Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam senantiasa Allah Ta’ala limpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, sahabatnya dan umatnya yang setia meniti syariatnya sampai hari pembalasan. Amma ba’du.

Perhatian milyaran umat manusia pada 2 Mei 2011 M tertuju pada berita besar yang sangat menggemparkan. Hari itu media massa internasional memblow up berita terbunuhnya Syaikh Usamah bin Ladin oleh serangan pasukan khusus AS di Abottabad, Pakistan. Berita itu kemudian dibenarkan oleh pernyataan resmi Al-Qaeda Pusat melalui Yayasan Media As-Sahab.

Selama lebih dari sepekan setelah peristiwa itu, Barack Obama, AS dan sekutu-sekutunya di seluruh dunia masih merayakan kesuksesan mereka dalam memburu orang nomor satu dalam jaringan “organisasi teroris Islam” Al-Qaeda. Pemerintahan Barrack Obama mengklaim telah mengangkut banyak dokumen penting dari rumah Syaikh Usamah bin Ladin di Abbottabad. Dari sekian banyak dokumen rahasia Al-Qaeda tersebut, sebanyak 17 dokumen secara resmi dipublikasikan oleh The Combating Terrorism Center (CTC) pada 3 Mei 2012 dengan judul “Letters from Abbottabad: Bin Ladin Sidelined?”. CTC adalah lembaga resmi yang didirikan oleh The United States Military Academy, Akademi Militer AS, di West Point pada 2003.

letters
Letters From Abbotabad (CTC)

Letters from Abbottabad merupakan kumpulan dari 17 surat dan draft surat, dengan total 175 halaman dalam bahasa Arab. Surat-surat tersebut ditulis oleh Syaikh Usamah bin Ladin atau tokoh penting Al-Qaeda Pusat lainnya, dan ditujukan kepada sejumlah tokoh penting Al-Qaeda di wilayah-wilayah, di antaranya kepada Syaikh Athiyatullah al-Libi (Amir Al-Qaeda Wilayah Khurasan), Abu Bashir Nashir Al-Wuhaisyi (Amir Al-Qaeda Wilayah Semenanjung Arabia), Mukhtar Abu Zubari (Amir Al-Qaeda Wilayah Somalia = Mujahidin Ash-Shabaab Somalia) dan lainnya.

Surat-surat tersebut menggambarkan komunikasi internal di antara para pucuk pimpinan Al-Qaeda dan cara Al-Qaeda memanage jihad global melawan aliansi salibis-zionis internasional. Surat pertama ditulis sekitar bulan September 2006 dan surat terakhir ditulis sekitar bulan April 2011.

Validitas Letters from Abbottabad

Hal pertama yang mengundang tanda tanya dari pubiklasi Letters from Abbottabad tidak lain adalah validitas dokumen-dokumen tersebut. Benarkah itu adalah surat-surat Syaikh Usamah bin Ladin dan para petinggi Al-Qaeda lainnya? Ataukah itu hanya dokumen palsu dan rekayasa intelijen salibis Amerika belaka?

Jawaban yang tegas dan terang datang dari Tanzhim Al-Qaeda sendiri. Para ulama dan tokoh penting Al-Qaeda membenarkan Letters from Abbottabad sebagai surat-surat Syaikh Usamah dan para petinggi Al-Qaeda lainnya. Di antara bukti-bukti yang menegaskan hal itu adalah:

  1. Surat-surat tersebut dibenarkan oleh ulama, komandan senior dan tokoh penting Al-Qaeda wilayah Khurasan Syaikh Abu Yahya Al-Libi rahimahullah. Beliau termasuk jajaran pucuk pimpinan Al-Qaeda yang selalu mendampingi Amir Al-Qaeda wilayah Khurasan, Syaikh Athiyatullah Al-Libi, sehingga beliau sangat mengetahui surat-menyurat antara Syaikh Athiyatullah Al-Libi dan Syaikh Usamah bin Ladin. Lebih dari itu, Syaikh Abu Yahya Al-Libi termasuk jajaran petinggi Al-Qaeda yang gugur paling belakangan dibandingkan para petinggi Al-Qaeda lainnya yang disebutkan dalam surat-surat tersebut. Berdasar urutan, para petinggi Al-Qaeda yang gugur di Afghanistan, Waziristan dan Pakistan pada periode 2010-2013 adalah Syaikh Musthafa Abul Yazid (gugur bulan Mei 2010), lalu Syaikh Usamah bin Ladin (gugur pada 2 Mei 2011), dan Syaikh Athiyatullah Al-Libi (gugur pada Ramadhan 1432 H), baru kemudian Syaikh Abu Yahya (gugur pada Ramadhan 1433 H/Juni 2012 M).
Syaikh Abu Yahya al-Libi, rahimahullah
Syaikh Abu Yahya al-Libi, rahimahullah

Syaikh Abu Yahya Al-Libi gugur sekitar satu bulan setelah CTC mempublikasikan Letters from Abottabad. Salah seorang ulama, mujahid Al-Qaeda dan dewan redaksi majalah resmi Al-Qaeda wilayah KhurasanThalai’ Khurasan, Syaikh Abu Maryam Al-Uzdi Ahmad bin Abdullah bin Shalih Az-Zahrani telah menanyakan validitas surat-surat yang dipublikasikan pasca gugurnya Syaikh Usamah tersebut kepada Syaikh Abu Yahya Al-Libi. Maka Syaikh Abu Yahya Al-Libi menyatakan surat-surat tersebut valid dan memiliki banyak faedah dan pelajaran. (Abu Maryam Al-Uzdi, Al-I’dad Asy-Syar’i wa Ats-Tsaqafi, hal. 23, dipublikasikan oleh Majmu’ah Al-Ansar Al-Baridiyah)

  1. Salah satu surat tersebut merupakan tulisan bersama Syaikh Athiyatullah Al-Libi dan Abu Yahya Al-Libi kepada Amir Taliban Pakistan, Hakimullah Mahsud rahimahumullah. Surat tersebut bertanggal 27 Dzulhijah 1431 H/3 Desember 2010 M. Seperti diungkapkan oleh Syaikh Abu Maryam Al-Uzdi dalam kitabnya Al-I’dad Asy-Syar’i wa Ats-Tsaqafi, Syaikh Abu Yahya Al-Libi sendiri membenarkan validitas surat-surat tersebut. Seandainya surat-surat tersebut tidak valid, tentulah Syaikh Abu Yahya Al-Libi akan menyangkal surat kepada Amir Taliban Pakistan yang mencantumkan nama beliau dan Syaikh Athiyatullah Al-Libi tersebut.
  2. Salah satu surat tersebut berjudul Risalatu Al-Amal wa Al-Bisyr li-Ahlina fi Mishr, di dalamnya disebutkan sebagai seri keempat dari serial Risalatu Al-Amal wa Al-Bisyr li-Ahlina fi Mishr dan merupakan draft dari teks ceramah yang akan disampaikan Syaikh Aiman Az-Zhawahiri. Draft surat tersebut pada kenyataannya benar-benar dirilis dalam video ceramah Syaikh Aiman Az-Zhawahiri yang berjudul Risalatu Al-Amal wa Al-Bisyr li-Ahlina fi Mishr seri keempat, dipublikasikan oleh Yayasan Media As-Sahab, media Al-Qaeda Pusat, pada 29 Rabi’ul Awwal 1432 H/4 Maret 2011 M.Isi draft ceramah tersebut dengan video ceramah yang dipublikasikan secara resmi ternyata seratus persen sama. Seperti diketahui bersama, Yayasan Media As-Sahab secara berkala merilis serial video Syaikh Aiman Az-Zhawahiri yang berjudul Risalatu Al-Amal wa Al-Bisyr li-Ahlina fi Mishrdan sampai saat ini telah merilis video seri kesebelas pada Syawwal 1433 H/ September 2012 M.
  3. Perintah-perintah dan arahan-arahan (Syaikh Usamah bin Ladin) dalam surat-surat tersebut dilaksanakan oleh mujahidin Al-Qaeda di seluruh wilayah yang menjadi tujuan surat tersebut. Berikut ini sebagian contohnya. Surat yang memuat perintah atau arahan untuk menjalin gencatan senjata dengan rezim sekuler Yaman, misalnya, terbukti dilaksanakan oleh Al-Qaeda Semenanjung Arab (AQAP). Yayasan Media Al-Malahim, bidang media AQAP, pada bulan Jumadil Akhir 1434 H/April 2013 M merilis video Afahukmal Jahiliyyati Yabghun. Dalam video tersebut Syaikh Ibrahim bin Sulaiman Ar-Rubaisy, tokoh penting AQAP menjelaskan kronologi dan syarat-syarat gencatan senjata yang diajukan oleh AQAP serta pengkhianatan rezim Yaman terhadapnya.

Surat yang memuat perintah atau arahan untuk tidak tergesa-gesa mendirikan Daulah Islam atau Imarah Islam di Yaman Selatan juga dilaksanakan oleh AQAP. Pada Selasa, 22 Rajab 1433 H/Juni 2012 M AQAP menarik mundur semua pasukannya dari provinsi Abyan dan Syabwah, padahal di kedua provinsi tersebut AQAP telah menjalankan Imarah Islam selama kurang lebih satu tahun. AQAP kembali membangun kekuatannya dan melancarkan taktik perang gerilya. Surat yang memuat perintah atau arahan kepada Syaikh Athiyatullah Al-Libi untuk merilis penjelasan resmi tentang kewajiban mujahidin untuk berhati-hati dalam masalah tatarrus terbukti juga dilaksanakan oleh Al-Qaeda wilayah Khurasan. Yayasan Media As-Sahab, bidang media Al-Qaeda wilayah Khurasan dan Pusat, pada bulan Rabi’u Tsani 1432 H/Maret 2011 M merilis video ceramah Syaikh Athiyatullah Al-Libi yang berjudul “Penegasan Atas Haramnya Darah Kaum Muslimin”. Demikian pula surat yang memuat perintah atau arahan agar bidang media melakukan perbaikan peningkatan kualitas rilisan-rilisannya, telah dilaksanakan oleh semua yayasan media Al-Qaeda di tingkat pusat (Yayasan Media As-Sahab) maupun di wilayah-wilayah (Yayasan Media Al-Malahim, Yayasan Media Al-Andalus, Yayasan Media Al-Kataib dan yang terbaru Yayasan Media Al-Manarah Al-Baidha’).

  1. Strategi umum, program, saran dan gagasan yang dilontarkan dalam surat-surat tersebut dilaksanakan dan diteruskan oleh pengganti beliau, Syaikh Aiman Az-Zhawahiri. Syaikh Aiman Az-Zhawahiri selaku Amir Tanzhim Al-Qaeda terbukti meniti dan melanjutkan strategi umum, program, saran dan gagasan yang dilontarkan oleh Syaikh Usamah bin Ladin. Di antara sedikit buktinya adalah rilisan-rilisan terbaru video ceramah Syaikh Aiman Az-Zhawahiri: Sittatun wa Arba’una ‘Aaman ‘Ala ‘Aam An-Naksah (46 Tahun Atas Tahun Tragedi) yang dirilis oleh Yayasan Media As-Sahab pada Ramadhan 1434 H/Juli 2013 M dan Al-Iman Yashra’u Al-Istikbar (Iman Mengalahkan Arogansi) yang dirilis oleh Yayasan Media As-Sahab pada Syawwal 1434 H/September 2013 M.

Juga dua rilisan tertulis beliau yang paling akhir: Mitsaq Nushrat Al-Islam (Piagam Pembelaan Islam) yang dirilis oleh Yayasan Media As-Sahab pada Muharram 1434 H/November 2012 M dan At-Tawjihat Al-‘Aamah lil-Amal Al-Jihadi (Arahan-arahan Umum Untuk Gerakan Jihad) yang dirilis oleh Yayasan Media As-Sahab pada Dzulqa’dah 1434 H/September 2013 M. Semua bukti di atas dan rilisan-rilisan Al-Qaeda lainnya menegaskan bahwa surat-surat yang dipublikasikan oleh CTC benar-benar merupakan surat-surat Syaikh Usamah bin Ladin dan para pimpinan Al-Qaeda lainnya.

Al-Qaeda Memasuki Fase Evaluasi dan Pengembangan

Seorang muslim yang baik akan senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi dan evaluasi atas amal-amal yang ia lakukan; muhasabah sebelum beramal, muhasabah saat beramal dan muhasabah setelah beramal. Jihad fi sabilillah merupakan amal shalih, bahkan puncak amal shalih, yang tidak terlepas dari kewajiban muhasabah. Hal itu disadari dan dilaksanakan dengan baik oleh Syaikh Usamah bin Ladin dan jajaran pucuk pimpinan Tanzhim Al-Qaeda. Perjalanan jihad selama sepuluh tahun, pasca serangan 11 September 2001 sampai sebelum gugurnya Syaikh Usamah pada 2 Mei 2011, penuh dengan berbagai peristiwa. Jihad global yang diusung oleh Al-Qaeda mengalami pasang-surut, kalah dan menang, suka dan duka, sisi kemajuan dan kemunduran, sisi ketepatan dan kekeliruan. Surat-surat yang ditulis oleh Syaikh Usamah bin Ladin dan jajaran pucuk pimpinan Tanzhim Al-Qaeda merupakan cerminan dari prosesmuhasabah tersebut. Muhasabah itulah yang kemudian mengantarkan pada sedikitnya dua kesimpulan penting.Pertama, mengakui beberapa kekeliruan yang terjadi dalam operasi-operasi jihad tersebut dan mengambil langkah-langkah nyata untuk memperbaikinya. Kedua, mempertahankan beberapa prestasi, kemajuan dan ketepatan yang telah diraih dalam operasi-operasi jihad tersebut, kemudian meningkatkan dan mengembangkannya secara kwantitas dan kualitas.

9/11 WTC
9/11 WTC

Letters from Abbottabad memuat banyak pemikiran cemerlang, program penting dan proyek besar jihad fi sabilillah.Ia mengambarkan bagaimana keseriusan dan keahlian Syaikh Usamah bin Ladin dan jajaran petinggi Al-Qaeda dalam memanage jihad global melawan aliansi salibis-zionis internasional. Ia juga mengajarkan kepada mujahidin secara khusus dan kaum muslimin secara umum perpaduan antara fiqih syar’iat dan fiqih waqi’, sunnah syar’iyah dan sunnah kauniyah, hukum-hukum syariat dan siyasah syar’iyah. Ia, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abu Yahya Al-Libi, mengandung banyak faedah dan pelajaran. Dan ia, sebagaimana direkomendasikan oleh Syaikh Abu Maryam Al-Uzdi dalam Al-I’dad Asy-Syar’i wa Ats-Tsaqafi, sudah seharusnya menjadi literature kajian kaum muslimin dalam bidang jihad kontemporer.

Strategi dan Program Al-Qaeda di Bidang Militer

Syaikh Usaman bin Ladin rahimahullah melalui surat-suratnya menjelaskan Al-Qaeda sedang berada dalam tahap baru evaluasi dan pengembangan operasi militernya, untuk meraih hasil yang lebih baik dari fase sebelumnya. Berdasar evaluasi atas operasi-operasi jihad selama sepuluh tahun terakhir (2001-2011), Al-Qaeda mencanangkan beberapa rumusan sebagai berikut.

  1. Menegaskan kembali strategi pokok Al-Qaeda yaitu fokus memerangi aliansi pasukan salibis-zionis internasional pimpinan Amerika yang melakukan invasi militer di Palestina, Afghanistan, Irak dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya. Hal itu dilakukan dengan melakukan operasi jihad di front-front yang telah terbuka [Afghanistan dan Irak] dan operasi jihad dalam negeri Amerika.
  2. Menunda operasi jihad melawan rezim sekuler lokal sampai tahap lemah dan runtuhnya hegemoni pemimpin kekafiran internasional, Amerika.
  3. Menargetkan kepentingan-kepentingan Amerika di negara-negara Barat dan selain negara-negara kaum muslimin, serta menghindari pelaksanaan operasi jihad di negari-negara kaum muslimin.
  4. Sebelum melakukan sebuah operasi jihad, mujahidin harus melakukan kajian yang sangat cermat terhadap beberapa aspek pokok: (a) aspek sesuai atau tidaknya operasi tersebut dengan syariat Islam, (b) aspek maslahat (keuntungan) dan mafsadah (kerugian, kerusakan) yang ditimbulkan oleh operasi tersebut, (c) prosedur operasi yang menyebabkan kesuksesan operasi, kendala yang menghalangi kesuksesan operasi, dan dampaknya terhadap musuh, dan (d) dampak operasi terhadap opini dan simpati public kepada mujahidin.

Rumusan-rumusan yang telah digariskan oleh Syaikh Usamah bin Ladin ini terbukti ditegaskan kembali dan dilanjutkan oleh Amir Tanzhim Al-Qaeda saat ini, Syaikh Aiman Az-Zhawahiri, terutama melalui dua rilisan tertulis beliau; Watsiqatu Nushrat Al-Islam dan At-Tawjihat Al-‘Aammah lil-‘Amal Al-Jihadi.

Strategi dan Program Al-Qaeda di Bidang Media

Syaikh Usamah bin Ladin menegaskan bahwa kesalahan media mujahidin dalam merilis video, audio dan pernyataan mujahidin memiliki dampak sangat buruk. Hal itu mengakibatkan sedikitnya tiga kerugian bagi mujahidin dan simpatisan mujahidin; (a) menjatuhkan dan memperburuk citra mujahidin, (b) menurunkan atau bahkan menghilangkan dukungan mayoritas kaum muslimin terhadap mujahidin dan (c) memperburuk pemikiran dan akhlak sebagian generasi muda pendukung jihad. Berdasar evaluasi atas rilisan-rilisan media mujahidin selama sepuluh tahun terakhir (2001-2011), Al-Qaeda mencanangkan beberapa rumusan sebagai berikut:

  1. Membuat buku panduan yang memuat pedoman umum sebagai pijakan rilisan-rilisan mujahidin. Pedoman umum tersebut menekankan kaidah-kaidah syariat dan adab-adab syariat yang harus dipenuhi oleh semua rilisan media mujahidin.
  2. Membentuk panitia khusus yang berwenang mengkaji semua draft video, audio dan pernyataan yang akan dirilis oleh media mujahidin. Draft video, audio dan pernyataan yang telah sesuai dengan syariat dan strategi umum Al-Qaeda akan dinyatakan layak dipublikasikan. Adapun draft yang menyelisihi syariat atau strategi umum Al-Qaeda akan diurungkan, dibatalkan atau diperbaiki untuk dikaji kembali.
  3. Setiap Amir Al-Qaeda di wilayah-wilayah mengangkat seorang penanggung jawab rilisan media Al-Qaeda wilayah. Penanggung jawab tersebut memiliki tugas pokok:
  • Mengkaji semua draft video, audio dan pernyataan yang akan dirilis oleh Al-Qaeda di wilayahnya. Setiap draft baru boleh dirilis setelah isinya sesuai dengan kajian syariat, selaras dengan strategi umum Al-Qaeda dan pemilihan momentumnya tepat.
  • Meningkatkan keahlian dan kemampuannya di bidang publikasi media, termasuk mempelajari ilmu-ilmu yang beriaktan dengan komunikasi, publikasi, psikologi dan sosiologi masyarakat.
  • Meningkatkan kemampuan para ikhwah bawahannya yang bekerja di bidang media mujahidin dan memberikan bimbingan kepada mereka.
  • Meningkatkan kualitas rilisan media mujahidin sehingga semua rilisan mujahidin bersifat obyektif, kompetitif, berkwalitas baik dan bisa diterima oleh publik.
  1. Menjalin kerja sama dengan ulama dan pakar yang amanah di luar Tanzhim Al-Qaeda, untuk mengkaji secara kritis rilisan-rilisan media Al-Qaeda dan memberikan saran-saran konstruktif guna meningkatkan kualitas dan efektifitas rilisan media Al-Qaeda.
Media Pusat al-Qaeda, As sahab
Media Pusat al-Qaeda, As sahab

Syaikh Usamah bin Ladin dan jajaran pimpinan Al-Qaeda menegaskan bahwa prosentase terbesar peperangan di selain wilayah yang mendapatkan agresi militer langsung oleh aliansi salibis-zionis internasional [Palestina, Afghanistan dan Irak] adalah peperangan media. Oleh karena itu, evaluasi dan pengembangan Al-Qaeda bertumpu pada bidang operasi militer dan rilisan medianya.

Letters from Abbottabad terdiri dari 17 surat. Tidak semuanya merupakan surat Syaikh Usamah bin Ladin. Sebagiannya adalah surat jajaran pimpinan Al-Qaeda lainnya; Syaikh Aiman Az-Zhawahiri, Athiyatullah Al-Libi, Abu Yahya Al-Libi, dan Yahya Adam Gadahn. Sebagian lainnya adalah surat seorang ulama atau mahasiswa simpatisan Al-Qaeda di Arab Saudi kepada Syaikh Usamah.

Dari keseluruhan surat dalam Letters from Abbottabad, Muqawamah Media memilih untuk menerbitkan terjemahan surat istimewa yang ditulis oleh Syaikh Usamah bin Ladin kepada Amir Al-Qaeda Wilayah Semenanjung Arab, Syaikh Abu Bashir Nashir Al-Wuhaisyi (CTC memberi nama file surat tersebut SOCOM-2012-0000016).

Surat tersebut dipilih mengingat kandungannya yang memaparkan cara berpikir dan strategi seorang Amir Al-Qaeda, Syaikh Usamah bin Ladin, dalam memanage jihad global melawan aliansi salibis-zionis internasional. Banyak pelajaran berharga termuat dalam surat istimewa tersebut, tidak saja soal fiqih jihad, namun juga managemen organisasi, managemen pemerintahan wilayah, media massa, perkembangan politik regional- internasional, dan psikologi serta sosiologi umat Islam.

 

Surat Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah
Kepada
Amir Al-Qaeda Semenanjung Arab (AQAP)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du…

Kepada al-akh al-karim Abu Bashir (Syaikh Nashir Al-Wuhaisy rahimahullah ,-red) hafizhahullah.

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Saya berharap suratku ini sampai kepada Anda sementara Anda dan semua ikhwah serta anak-anak Anda dalam keadaan baik dan sejahtera.Hanya kepada Allah sajalah saya bertakwa dan mendekatkan diri.Wa ba’du…

sya
Syaikh Nashir Al Wushaisyi (rahimahullh)

Telah sampai kepada kami surat Anda dan surat al-akh Abu Hurairah Ash- Shan’ani (Syaikh Qasim Ar-Raymi, Amir AQAP sekarang,- red) melalui para ikhwah. Kami sangat senang atas sampainya surat tersebut karena memuat jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para ikhwah kepada Anda. Dari surat tersebut kami dapat mengetahui situasi dan kondisi kalian semua. Kami pun sebelumnya telah mengikuti berita-berita tentang kalian secara ketat melalui media massa.

[Kenapa Belum Saatnya Menegakkan Daulah Islam di Yaman?]

Khusus mengenai apa yang Anda katakan bahwa: “Jika Anda pernah berkeinginan untuk menegakkan Islam di Sana’a, maka sekaranglah saatnya.” Kami memang menginginkan Sana’a untuk ditegakkan syariat Allah di sana apabila menurut perkiraan kuat kita mampu mempertahankannya.

Karena musuh besar kita, meskipun telah terkuras energinya dan melemah kekuatan militer dan ekonominya baik sebelum maupun sesudah serangan 11/9, namun mereka masih tetap memiliki sarana-sarana yang dapat mereka gunakan untuk menjatuhkan di manapun negara yang akan kita dirikan, walaupun mereka sendiri sebenarnya juga tidak mampu menjaga stabilitas di negara-negara tersebut.

Sementara atas karunia Allah semata mujahidin masih dapat melakukan perlawanan terhadap musuh dan para sekutunya. Dalam hal ini kalian dapat mengambil pelajaran dari ditumbangkannya negara Taliban dan pemerintahan Saddam Husain. Kalian juga paham mengenai berbagai pengalaman di Suriah, Mesir dan Libiya.

Selain itu mobilisasi yang akan dilakukan musuh untuk mempertahankan Yaman akan sangat tidak sebanding dengan mobilisasi yang telah mereka lakukan untuk mempertahankan Afghanistan. Karena ancaman di Yaman bagi musuh ibarat ancaman di dalam rumah mereka sendiri. Sebab Yaman letaknya di jantung kawasan Teluk yang memiliki cadangan minyak dunia terbesar.

Oleh karena itu kami berpendapat bahwa untuk saat ini kita tidak usah menceburkan diri dan penduduk kita ke dalam perkara ini sebelum kondisinya siap. Karena hal ini akan menjadikan kita ibarat orang yang membangun rumah di aliran banjir; ketika banjir datang niscaya akan langsung merobohkan bangunan tersebut. Kemudian tatkala kita ingin membangun rumah kembali untuk yang kedua kalinya, masyarakat pun menjauh dan tidak mau membantu kita dalam membangun rumah tersebut.

Maka saya berpendapat supaya Yaman tetap dalam keadaan tenang dan tetap kita simpan sebagai pasukan cadangan umat Islam. Karena sudah diketahui bersama bahwa di antara unsur penting yang harus dimiliki oleh orang yang ingin terjun dalam kancah peperangan haruslah memiliki pasukan cadangan, selain terus melakukan operasi menguras kekuatan musuh di front-front yang telah terbuka, sampai musuh mengalami kondisi yang lemah sehingga memungkinkan bagi kita untuk menegakkan negara Islam.

Maka semakin banyak serangan yang dilancarkan kepada Amerika, akan semakin dekat pula waktu yang tepat untuk menyatukan berbagai usaha untuk menegakkan negara Islam dengan izin Allah.

[Perlunya Mengadakan Gencatan Senjata Dengan Rezim Sekuler Yaman]

Atas dasar itu menurut pendapat kami, hendaknya kalian menghubungi para ulama’ senior dan para pemuka kabilah agar mereka menjadi mediator dalam usaha membuat kesepakatan gencatan senjata secara adil, yang akan dapat membantu menjaga kestabilan Yaman.

Mantan diktator Yaman, Ali Abdullah Saleh, yang berkuasa selama 33 tahun.  (Foto : Reuters)
Mantan diktator Yaman, Ali Abdullah Saleh, yang berkuasa selama 33 tahun. (Foto : Reuters)

Meskipun kita tahu bahwa Ali Abdullah Shalih (Mantan Presiden Yaman ,-red) mungkin tidak akan sanggup melakukan kesepakatan gencatan senjata tersebut, namun penolakan pemerintah terhadap tawaran gencatan senjata tersebut akan menjadi bukti bahwa pihak merekalah yang memang bersikukuh untuk meningkatkan ketegangan yang akan berdampak pada peperangan, dan bahwa ternyata mereka tidak lagi memegang kendali.

Dengan begitu simpati masyarakat akan terus berpihak kepada mujahidin dan bahkan akan lebih besar lagi. Sementara musuh-lah yang akan memikul tanggung jawab atas semua dampak peperangan, bukan kita. Masyarakat pun akan menjadi paham bahwa kita memiliki keinginan kuat terhadap persatuan umat Islam dan keselamatan kaum muslimin di atas prinsip-prinsip yang benar.

______________________________

Catatan :

Wartawan lapangan harian Al-Quds Al-Arabi, Abdur Razzaq Al-Jamal, menurunkan laporan lapangan dan analisanya yang berkaitan dengan masalah gencatan senjata ini dengan judul “Berakhirnya gencatan senjata antara Amir Al-Qaeda dan presiden Manshur Hadi”. Tulisannya dimuat oleh koran Al-Yaman Al-Yaum edisi Senin (21/1/2013) dan dirilis ulang oleh koran-koran utama Yaman lainnya, seperti Al-Balad News, Aden Gulf News dan Sahafah News. Berikut ini petikan dari tulisan wartawan Abdur Razzaq Al-Jamal tersebut.

Abdur Razzaq Al-Jamal ketika melakukan wawancara dengan Abu Hamzah Az-Zinjabari, Amir Al-Qaeda wilayah Zinjabar yang dipublikasikan oleh Al-Madad, kantor berita resmi Al-Qaeda Semenanjung Arabia.
Abdur Razzaq Al-Jamal ketika melakukan wawancara dengan Abu Hamzah Az-Zinjabari, Amir Al-Qaeda wilayah Zinjabar yang dipublikasikan oleh Al-Madad, kantor berita resmi Al-Qaeda Semenanjung Arabia.

“Gencatan senjata antara Al-Qaeda Semenanjung Arab dan rezim Yaman sudah berakhir”

Menuruti keinginan banyak ulama Yaman, di antaranya Syaikh Abdul Majid Ar-Raimi, Syaikh Muhammad Al-Wadhi’i, Syaikh Shalih Al-Wadi’i dan Syaikh Aiman bin Ja’far, maka Amir Al-Qaeda Semenanjung Arab (AQAP) Nashir bin Abdul Karim Al-Wuhaisyi menyetujui gencatan senjata antara tanzhimnya dengan presiden Abdu Rabbih Manshur Hadi.

Inti gencatan senjata tersebut adalah rezim Yaman menghentikan serangan udara (terhadap Anshar Shariah/AQAP dan rakyat Yaman Selatan) dan Al-Qaeda menghentikan pembunuhan (terhadap para pejabat rezim sekuler Yaman).

Sementara itu para ulama lainnya enggan memfasilitasi gencatan senjata dengan alasan Al-Qaeda Semenanjung Arab dan rezim Abdu Rabbih Manshur Hadi tidak menaruh kepercayaan kepada mereka, menurut ungkapan ulama salafi Syaikh Muhammad Al-Hasyidi.

Sejumlah ulama itu mengupayakan gencatan senjata dengan sepengetahuan presiden Yaman sendiri, yang tak pernah membayangkan Al-Qaeda Semenanjung Arab akan menyetujui gencatan senjata tersebut. Bahkan presiden Yaman mengharapkan Al-Qaeda Semenanjung Arab menolak gencatan senjata tersebut. Dengan begitu presiden Yaman akan bisa meyakinkan para ulama bahwa serangan pesawat tempur Amerika adalah solusi satu-satunya dan solusi terakhir.

Oleh alasan inilah presiden Yaman Abdu Rabbih Manshur Hadi tidak mau menanda tangani surat gencatan senjata yang tidak pernah ia bayangkan tersebut, meskipun Amir Al-Qaeda Semenanjung Arab Nashir Al-Wuhaisyi telah lebih dahulu menanda tanganinya. Meski begitu, hal itu sempat menghentikan serangan-serangan pesawat tempur Amerika dan pembunuhan-pembunuhan terhadap pejabat rezim sekuler Yaman selama lebih dari 20 hari.

Dengan menandatangani gencatan senjata tersebut, Amir Al-Qaeda Semenanjung Arab Nashir Al-Wuhaisyi telah menghilangkan peluang presiden Yaman Manshur Hadi untuk menjustifikasi serangan-serangan pesawat tempur Amerika dengan alasan pihak lain ~yaitu Al-Qaeda Semenanjung Arab~ tidak menghendaki perdamaian.

Demikian analisa seorang mantan jihadis Al-Qaeda, Rashad Muhammad Sa’id Abul Fida’, sebelum kembalinya presiden Manshur Hadi pada Sabtu lalu dan kemudian mengizinkan serangan-serangan pesawat tempur Amerika tanpa alasan. Bukannya Al-Qaeda Semenanjung Arab yang menolak penanda tanganan gencatan senjata sehingga menjadi alasan bagi presiden Manshur Hadi (untuk mengizinkan serangan-serangan pesawat tempur Amerika), justru presiden Manshur Hadi sendiri yang menolak penanda tanganan gencatan senjata sehingga menjadi alasan bagi Nashir Al-Wuhaisyi, yang melempar bola ke tengah lapangan para penengah gencatan senjata, menurut analisa Abul Fida’.

Gencatan senjata yang belum ditanda tangani oleh presiden Manshur Hadi itu telah dicederai kemarin lusa dengan jatuhnya sembilan warga sipil di provinsi Ma’rib yang gugur oleh serangan drone Amerika. Maka bisa diperkirakan pihak lainnya ~Al-Qaeda Semenanjung Arab~ akan mencederainya pula dengan caranya sendiri. Seperti yang telah terjadi pada gencatan senjata sebelumnya, dengan membunuh enam perwira tinggi militer Yaman, setelah serangan pesawat tempur Amerika membunuh enam anggota Al-Qaeda di provinsi Hadramaut dan Baidha’.

Karena peristiwanya saat ini terjadi dalam kondisi seperti ini, maka bisa jadi operasi pembalasan yang dilakukan oleh Al-Qaeda Semenanjung Arab tidak akan mendapatkan kemarahan rakyat Yaman, berbeda halnya dengan operasi pembunuhan terhadap perwira militer Yaman sebelumnya. Bahkan, sekalipun operasi-operasi pembalasan Al-Qaeda Semenanjung Arab akan meluas, khususnya karena kemarahan rakyat Yaman meningkat terhadap serangan-serangan drone Amerika di Yaman Selatan. Sebelumnya rakyat Yaman diam saja sehingga Amerika meningkatkan secara tajam kwantitas serangan-serangan dronenya di Yaman Selatan.

Memuncaknya kemarahan rakyat Yaman itu diekspresikan dengan pemblokiran jalan raya oleh penduduk kota Radda’, di mana mereka juga mengangkat panji-panji hitam yang biasa dibawa oleh Al-Qaeda Semenanjung Arab, sebagai bentuk protes atas serangan-serangan drone AS. Tindakan serupa dilakukan oleh penduduk propinsi Ma’rib, setelah serangan drone AS terakhir pada lusa kemarin. (Sumber:arrahmah.com, edisi Selasa, 10 Rabiul Awwal 1434 H / 22 Januari 2013M)

____________________________

Oleh karena kami berpendapat untuk tidak meningkatkan ketegangan lantaran kita masih dalam tahap persiapan, maka tidaklah baik bagi kita untuk tergesa-gesa berusaha menggulingkan pemerintah.

Karena meskipun pemerintah Yaman [saat ini] telah murtad dan penyelenggaraan pemerintahannya buruk, namun ia tetap lebih kecil bahayanya daripada orang yang diinginkan oleh Amerika untuk menggantikannya.

Karena Ali Abdullah Shalih tidak mampu memberantas gerakan Islam. Adapun statusnya yang bukan aktifis Islam dan loyal kepada Barat, adalah ibarat sebuah payung yang selama beberapa tahun lalu telah menaungi berbagai gerakan Islam, sehingga ia dapat dimanfaatkan oleh gerakan Ikhwanul Muslimin, Salafi dan Salafi-Jihadi.

Oleh karena itu proyek menguras kekuatan Amerika hendaknya tetap dilakukan dari luar Yaman. Seperti dengan cara memberangkatkan beberapa anggota ke Somalia atau ke tempat kami (Afghanistan-Pakistan). Lalu para ikhwah tersebut bergerak menuju operasi-operasi di luar, yang dilancarkan pada saat pemerintah tidak mau bersepakat untuk melakukan gencatan senjata dan berdamai.

Hendaknya yang diberangkatkan tersebut kalian fokuskan pada para ikhwah Yaman yang tinggal di [negara-negara] Barat, yang datang berlibur dan memiliki visa atau kewarganegaraan Amerika, untuk melakukan berbagai operasi di dalam negara Amerika, dengan syarat mereka tidak pernah membuat perjanjian dengan Amerika untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan di Amerika.

Selain itu hendaknya wilayah operasi diperluas, juga perencanaan dan pengembangannya ditingkatkan, sehingga bukan hanya terbatas dengan operasi peledakan pesawat di sana saja.

  • Khusus mengenai pengiriman seorang ikhwah dari jajaran qiyadah untuk membantu pekerjaan kalian, ini adalah perkara yang sulit saat ini. Kita harus menggunakan prosedur keamanan dan menghindari pergerakan kecuali untuk kepentingan yang sangat mendesak, khususnya paraqiyadah yang telah dipublikasikan di media massa [sebagai DPO].

Hendaknya para qiyadah tersebut menghindari pertemuan dengan orang. Namun ketika mereka dituntut harus bergerak, maka hendaknya dihindari berhenti di restoran-restoran dan tempat-tempat pengisian bahan bakar. Sopirlah yang harus menyiapkan semua keperluan bahan bakar dan makanan yang diperlukan selama di perjalanan dari kota sebelum melakukan perjalanan.

Karena di antara cara-cara yang digunakan oleh intelijen adalah menempatkan orang-orang mereka untuk bekerja di tampat-tempat pengisian bahan bakar, tempat-tempat peristirahatan, restoran-restoran, kafe- kafe dan tempat-tempat serupa.

  • Terlibat dalam perkara [pertumpahan] darah dengan kabilah-kabilah adalah tindakan yang sangat berbahaya.
  • Hendaknya diusahakan dengan serius agar salah satu yang menjadi unsur qiyadah berasal dari Yaman Selatan.
  • Tidak boleh melakukan serangan terhadap tentara dan polisi di markas-markas mereka, sambil selalu memberikan peringatan melalui rilisan-rilisan dan penjelasan-penjelasan kita bahwa yang menjadi target serangan kita adalah orang-orang Amerika yang telah membunuhi penduduk kita di jalur Gaza dan negeri-negeri Islam lainnya.

Harus ditegaskan kepada para tentara agar mereka tidak menjadi tameng yang melindungi orang-orang Salibis, karena kita pasti akan membela diri kita apabila mereka menyerang kita pada saat kita memerangi kaum salibis.

Ini masalah penting yang dapat menambah simpati masyarakat kepada mujahidin dan melemahkan mental tentara.

___________________________

Catatan :

Strategi yang disampaikan kepada Amir Al-Qaeda Semenanjung Arabia yang saat ini mencakup Arab Saudi dan Yaman ini, masih merupakan strategi lama ketika Al-Qaeda Semenanjung Arabia masih terbatas untuk wilayah Arab Saudi saja. Hal ini sebagaimana Syaikh Usamah bin Ladin sampaikan dalam sebuah ceramahnya tentang Perseteruan Antara Penguasa Saudi dengan Kaum Muslimin dan Jalan Penyelesaiannya.

Di antara pesan yang disampaikan kepada orang-orang yang berkapasitas sebagai Ahlul Halli Wal ‘Aqdi [ulama, cendekiawan dan tokoh-tokoh Islam] di Arab Saudi dalam ceramah yang dipublikasikan pada tanggal 4 Dzulqa’dah 1425 H / 16 Desember 2004 M itu, beliau mengatakan: “Hendaknya diketahui bahwa mujahidin di negeri dua tanah suci (Arab Saudi) ini belum memulai perang melawan pemerintah. Dan seandainya mereka memulainya tentu pertama kali yang akan menjadi target adalah para gembong kekafiran lokal, penguasa Riyadh. Akan tetapi perang yang sedang berlangsung di sana sekarang ini hanyalah merupakan perpanjangan dari perang melawan aliansi Salibis Amerika yang telah memerangi kita di setiap tempat dan yang juga kita perangi di setiap tempat, termasuk di negeri dua tanah suci. Dan kami berusaha untuk mengusir mereka dari negeri tersebut.”

Adapun perang melawan pemerintah lokal, keputusan untuk itu haruslah melibatkan para ulama’ dan tokoh umat Islam lokal untuk mengkajinya secara lebih matang tentang kesiapannya. Hal ini diterangkan oleh Syaikh Usamah bin Ladin dalam suratnya yang ditujukan kepada raja Arab Saudi, Fahd bin Abdul Aziz. Surat itu berjudul “Surat kepada Abu Righal Fahd bin Abdul Aziz Alu Salul”, ditulis oleh Syaikh Usamah bin Ladin pada tanggal 5 Rabi’ul Awwal 1416 H/3 Agustus 1995 M dan dimuat oleh situs mimbar at-tauhid wal jihad.

Dalam surat tersebut Syaikh Usamah bin Ladin mengatakan: “Sesungguhnya apa yang dilakukan umat Islam yang dipelopori oleh para ulama’, reformis, pengusaha dan para pemuka suku melawan pemerintahan kalian (Raja Fahd bin Abdul Aziz) itu secara yakin tidaklah masuk dalam kategori pemberontakan terhadap penguasa yang hukumnya dilarang agama. Karena pemerintahan kalian ini telah kehilangan legalitas syar’i sebagaimana yang telah kami jelaskan.Sementara sesuatu yang tidak memiliki legalitas syar’i itu statusnya sama dengan tidak ada, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ulama’. Dan penguasa itu apabila telah murtad maka hukumya wajib untuk diberontak berdasarkan ijma’ umat Islam!!

Akan tetapi hal ini juga bukan berarti setiap tindakan yang bernuansa pemberontakan itu pasti benar. Karena pada setiap tahapan reformasi itu memiliki penopang, sarana dan target dari pekerjaannya.

Sementara untuk menentukan semua itu tidak mungkin dilakukan berdasarkan ijtihad individu yang tergesa-gesa maupun keputusan pribadi yang reaksioner. Hal itu harus dilakukan oleh jajaran pimpinan umat Islam dari kalangan ulama’ yang tulus dan para da’i reformis yang mana kelayakan dan kecakapan mereka untuk memikul perkara besar ini telah dibuktikan dalam menghadapi berbagai ujian.”

Bahkan strategi ini masih dilanjutkan di era “Arabic Spring” [revolusi Arab yang menumbangkan rezim-rezim Arab, dimulai dari Tunisia, lalu Mesir, lalu Libya, Yaman dan berlanjut dengan revolusi Suriah] oleh Syaikh Aiman Az-Zhawahiri sepeninggal Syaikh Usamah. Hal itu bisa kita lihat misalnya dalam pesan audio yang disampaikan oleh tokoh Al-Qaeda in Islamic Maghrib (Al-Qaeda Wilayah Islam Maghrib), yaitu Syaikh Ahmad Abu Abdil Ilah hafizhahullah, yang dirilis pada hari Selasa, 11 Rajab 1434 H / 21 Mei 2013 M. Di dalam pesan audio yang berjudul Risalatu Nush-hin Wa Bayanin Li Harakatin Nahdhah Bi Tunisil Qairwan itu, Syaikh Ahmad Abu Abdil Ilah hafizhahullah menyampaikan 15 poin untuk kaum muslimin, di antaranya adalah:

Poin pertama:

“Kami menegaskan kembali bahwa kami masih mematuhi arahan-arahan Syaikh dan Amir kami, Syaikh Dr. Aiman Az-Zhawahiri hafidhahullah untuk tidak menyerang pemerintah-pemerintah yang berkuasa setelah terjadinya revolusi, dan untuk menjulurkan tangan kerjasama dengan pemerintah tersebut dalam rangka mewujudkan pelaksanaan syari’at Islam dan membebaskan negeri-negeri kaum muslimin, terutama adalah Palestina, serta menegakkan keadilan di tengah-tengah kaum muslimin.”

Poin keempatbelas:

“Kami perbaharui lagi komitemen kami terhadap nasehat-nasehat Amir kami Syaikh Dr. Aiman Az- Zhawahiri, dan arahan-arahan Amir untuk wilayah kami Syaikh Abu Mush’ab ‘Abdul Wadud, untuk tidak menyerang tentara dan aparat keamanan Tunisia, kecuali dalam rangka membela diri. Dan saya berharap pemerintah Tunisia membaca pesan ini secara benar.”

_____________________________

  • Usahakan untuk mengambil janji dan bai’at dari orang-orang yang simpati kepada Al-Qaeda tanpa menjadikan bai’at tersebut sebagai dinding penyekat antara kalian dengan orang yang tidak berbai’at. Hendaknya kalian berusaha untuk lapang dada dan mau menerima mereka [yang tidak berbai’at] bekerja bersama kalian. Seiring berjalannya waktu yang lama, mereka akan merasakan sikap santun kalian dan mereka akan menyadari bahwa kalian tidak bekerja karena dendam pribadi. Hal itu akan semakin mendekatkan hubungan kalian dan menjadikan mereka akhirnya bergabung dengan kalian.
  • Hendaknya yang menjadi anggota qiyadah ring pertama adalah orang-orang yang telah diseleksi dengan baik.
  • Adapun masalah meninggalkan senjata, ini adalah masalah yang tidak mungkin. Karena Islam hanya akan dapat dimenangkan dengan kitab suci dan besi. Ia juga merupakan bagian dari eksistensi, sejarah dan pelindung hidup kita. Orang tanpa senjata tidak diragukan lagi akan disepelekan. Apalah yang didapat oleh orang-orang yang meninggalkan senjata selain mereka menjadi orang yang tidak berbobot?
Syiakh Usmah bin Laden (rahimahullah) saat bersama prajuritnya di Afghanistan
Syiakh Usmah bin Laden (rahimahullah) saat bersama prajuritnya di Afghanistan

[Strategi Umum Al-Qaeda di Bidang Militer]

Saya ingin mengingatkan kalian dengan strategi umum Al-Qaeda dalam bidang militer dan media. Al-Qaeda memiliki ciri khas berkonsentrasi terhadap musuh terbesar yang berasal dari luar (yakni Amerika) sebelum musuh yang berasal dari dalam (yakni penguasa murtad). Meskipun musuh yang kedua kekafirannya lebih berat, namun musuh yang pertama kekafirannya lebih jelas, selain pada periode ini bahayanya lebih besar.

Karena Amerika adalah gembong kekafiran, sehingga apabila Allah memotongnya niscaya kedua sayapnya tidak akan dapat mengepak. Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu kepada Hurmuzan ketika Umar bin Khathab meminta pendapatnya.

Ketika itu Umar mengatakan: “Berilah saya masukan, karena engkau lebih paham tentang bangsa Persia.”

Hurmuzan menjawab: “Baiklah. Pada hari ini Persia memiliki satu kepala dan dua sayap.”

Umar pun bertanya: “Mana kepalanya?”

Hurmuzan menjawab: “Nahawand.”

Kemudian Hurmuzan menyebutkan posisi dua sayapnya, lalu mengatakan: “Menurut pendapat saya, wahai Amirul Mukminin, engkau tebas saja kedua sayapnya niscaya kepalanya akan lemah.”

Maka Umar pun mengatakan:

كَذَبْتَ يَا عَدُوَّ اللَّهِ! بَلْ أَعْمَدُ إِلَى الرَّأْسِ فَأَقْطَعُهُ، فَإِذَا قَطَعَهُ اللَّهُ لَمْ يَعْصِ عَلَيْهِ الْجَنَاحَانِ

“Engkau dusta, wahai musuh Allah. Pendapat yang benar adalah aku harus penggal kepalanya. Karena ketika Allah telah memutuskan kepalanya, niscaya kedua sayapnya tidak akan dapat mengepak.”

Meskipun strategi ini telah jelas di benak para ikhwah senior, namun hal ini harus diingatkan secara tertulis kepada semua ikhwah, sambil diperhatikan bahwa ada para ikhwah baru dari kalangan muda yang bergabung dengan jalan jihad ini sementara mereka belum diberikan pemahaman secamam ini yang mengakibatkan terjadinya berbagai serangan terhadap sasaran sampingan yang seharusnya diarahkan kepada sasaran pokoknya, sebagaimana yang kami dengar melalui berita tentang beberapa serangan terhadap pasukan pemerintah di Ma’rib dan ‘Itq, semoga saja di sana ada keperluan mendesak yang mendorong terjadinya serangan tersebut, misalnya membela diri.

Sebelumnya saya telah memberikan perumpamaan khusus untuk menerangkan strategi umum Al-Qaeda ini, yakni berkonsentrasi kepada Amerika. Yaitu, bahwasanya musuh umat Islam pada hari ini adalah ibarat pohon yang jahat. Batangnya adalah Amerika yang berdiameter 50 cm. Sementara dahan-dahannya banyak dan ukurannya berbeda-beda yang di antaranya adalah negara-negara yang tergabung dalam NATO dan juga banyak dari kalangan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Kita hendak menumbangkan pohon ini dengan cara menggergajinya. Pada saat kekuatan kita terbatas, maka cara yang benar dan efektif untuk menumbangkan pohon ini adalah dengan memusatkan gergaji kita pada pangkal pohon yang bernama Amerika ini.

Kalau pekerjaan kita yang terkonsentrasi ini telah mencapai pertengahan batang yang bernama Amerika sedalam kira-kira 30 cm, kemudian terbuka peluang bagi kita untuk menggergaji dahan yang bernama Inggris, maka kita tidak boleh menggunakan peluang tersebut selama kita masih mampu meletakkan gergaji pada pangkal pohon yang bernama Amerika tersebut. Karena hal itu akan memecah pekerjaan dan kekuatan kita. Karena jika gergaji itu tetap kita konsentrasikan pada batang yang bernama Amerika sampai tumbang, niscaya bagian pohon yang lain akan ikut tumbang, dengan izin Allah.

Kalian dapat mengambil contoh dalam masalah ini pada dampak pemotongan batang pohon yang bernama Rusia [baca: Uni Soviet] yang dilakukan mujahidin, yang kemudian disusul dengan tumbangnya seluruh cabangnya [kelompok dan negara komunis] satu persatu, sejak dari Yaman Selatan sampai Eropa Timur, tanpa kita harus berpayah-payah mengerahkan tenaga untuk menumbangkan cabang-cabang tersebut pada masa itu.

Oleh karena itu, setiap anak panah dan setiap ranjau yang memungkinkan untuk diarahkan kepada Amerika dan kepada selain Amerika, maka hendaknya lebih dipilih untuk diarahkan kepada Amerika dan bukan kepada selain Amerika, baik itu NATO apalagi selain NATO.

nato fuel tankers
Tanker Minyak NATO yang dibakar Mujahidin Taliban Afghanistan

Misalnya saja kita tengah mengintai musuh di jalan antara Kandahar dan Helmand. Lalu lewat iring-iringan tank musuh; tentara Afghanistan di barisan pertama, lalu iring-iringan tentara NATO di barisan kedua, dan iring-iringan tentara Amerika di barisan ketiga. Maka hendaknya serangan kita lebih difokuskan kepada iring-iringan barisan ketiga, meskipun jumlah tentara musuh pada barisan tank yang lain lebih banyak.

Dikecualikan dalam perkara ini kondisi-kondisi yang memang harus dikecualikan, seperti ketika tentara pemerintah suatu negara yang di negara tersebut terdapat mujahidinnya dan tentara pemerintah tersebut tengah menuju markas para ikhwah, dan bukan pada patroli umum.

Dengan kata lain, setiap operasi pertahanan langsung yang bertujuan untuk melindungi jamaah Mujahidin di negara tersebut, melawan tentara pemerintah setempat dalam rangka melindungi eksistensi mujahidin supaya dapat melaksanakan fungsi dasarnya pada periode ini, yakni menyerang kepentingan Amerika, maka hal ini dikecualikan dari kaidah umum tersebut.

Bagi orang yang mengikuti perkembangan niscaya ia dapat melihat bahwa sebenarnya pihak yang mengalami kepayahan dan kelelahan akibat operasi-operasi yang kita lancarkan dan pesan-pesan yang kita sampaikan adalah Amerika, khususnya setelah peristiwa 11/9.

Maka hendaknya tekanan terhadap mereka terus ditingkatkan sehingga mencapai suatu kondisi yang seimbang antara perasaan takut yang dialami Amerika dengan perasaan takut yang dialami kaum muslimin; dan sampai tingkat kerugian [Amerika dan sekutunya] yang timbul akibat perang, penjajahan dan penguasaan yang mereka lakukan terhadap negeri-negeri kita lebih besar daripada keuntungan yang mereka peroleh; dan sampai kepada tingkat yang menjadikan mereka kelelahan sehingga mereka harus bertekuk-lutut dan meninggalkan negeri-negeri kita, serta menghentikan dukungan mereka kepada Yahudi.

 

[Pentingnya Memilih Momentum yang Tepat Bagi Operasi Jihad]

Maka hendaknya ditegaskan kembali pentingnya memilih momentum yang tepat, karena masalah ini adalah masalah yang sangat penting, yang telah dibuktikan oleh situasi dan kondisi di sepanjang sejarah modern.

_____________________________

Catatan :

Syaikh ‘Athiyatullah Al-Libi rahimahullah memberikan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan momentum yang tepat atau kesempatan:

“Adapun permasalahan masyarakat … solusinya adalah terletak pada beberapa hal, yaitu:

… menunggu jalan keluar dari Allah Ta’ala, yang terjemahan dalam praktek nyatanya adalah menunggu momentum yang tepat. Karena politik itu intinya adalah memanfaatkan momentum…!

Seorang politikus yang handal adalah orang yang dapat memanfaatkan dan tidak menyia-nyiakan momentum ketika momentum itu terbuka baginya. Momentum ini terkadang hanya datang sekali dalam seumur hidup seseorang! Sedangkan cara mendatangkan momentum ini tidaklah terbatas. Terkadang momentum itu datang bersamaan dengan munculnya sebuah peristiwa politik atau sosial atau ekonomi atau yang lainnya.

Contohnya adalah banyaknya kerusakan perilaku pemerintah sampai taraf yang dapat diketahui oleh masyarakat, khususnya di bidang ekonomi, bertumpuk-tumpuknya permasalahan, tingginya kebencian dan kemarahan masyarakat, banyaknya apa yang mereka sebutkan dalam istilah mereka sebagai kerusakan, khususnya adalah kerusakan masalah keuangan yang berupa suap-menyuap dalam skala yang sangat luas, korupsi besar-besaran, manipulasi, pengkhianatan, penipuan, nepotisme, terpusatnya harta di tangan kelompok eksekutif tertentu dari kalangan thaghut dan koloni-koloninya, banyaknya borok mereka yang terbongkar, semoga Allah menghinakan mereka … dan seterusnya.

Jika kondisi semacam ini bertepatan dengan situasi politik global atau regional yang sesuai misalnya.. dan apabila hal ini dibarengi dengan usaha dan jerih payah gerakan Islam, para da’inya, para ulama’nya, para penulisnya, para sastrawannya dan para penyairnya dalam membongkar dan menelanjangi kebobrokan pemerintah, dan menjelaskannya kepada masyarakat, serta meyakinkan masyarakat yang baik dan shalih tentang pentingnya berjihad dan melakukan revolusi terhadap pemerintah, serta mengambil sikap Islami yang benar terhadapnya … dan seterusnya .. jika semua ini terkumpul dan terwujud, maka inilah yang disebut dengan momentum.

Momentum terkadang juga datang dengan datangnya musuh dari luar yang melakukan agresi militer, sama persis sebagaimana yang terjadi di Irak.

Terkadang momentum itu datang di sela-sela pertikaian tertentu atau pembunuhan terhadap orang-orang tertentu dalam jumlah yang besar dan merata sehingga mengakibatkan hancurnya keamanan sosial dan terjadi chaos sehingga datanglah momentum!

Jadikanlah itu sebagai permisalan.

Intinya, momentum itu mayoritasnya terjadi di luar perencanaan. Akan tetapi dia ditunggu dan dicermati, lalu dimanfaatkan dengan sebaik mungkin apabila dia datang. Memang ada sebagian unsurnya yang direncanakan, sebagaimana yang dapat dipahami dari penjelasan sebelumnya.

Wallahu a’lam wa ahkam, wahuwa waliyyuttaufiq.” (Sumber:Al-Ajwibah Asy-Syamilah Li As-ilati A’dha’ Syabakah Al-Hisbah Al-Islamiyah lisy-Syaikh Al-Mujahid Athiyatullah Al-Libi, hal. 219-220)

______________________________

Oleh karenanya pada saat ini kita harus memfokuskan pandangan kita kepada penataan pekerjaan dalam menegakkan negara Islam. Hal itu diawali dengan melemahkan kekafiran internasional, karena mereka memiliki sensitifitas yang sangat tinggi terhadap berdirinya Imarah Islam (pemerintahan Islam) manapun.

Di antara hal yang menunjukan sangat pekanya Barat terhadap berdirinya Imarah Islam di manapun dan seberapa pun ukurannya adalah apa yang terjadi setelah Syaikh Al-Khathabi mendirikan Imarah Islam di Maghrib (Maroko) sebelum kekuatan salibis terkuras sampai pada kondisi mereka tidak mampu lagi mengontrol negeri-negeri kaum muslimin. Kekuatan salibis bersatu-padu dan mengepung beliau sampai mereka dapat menjatuhkannya kembali.

______________________________

Catatan :

Muhammad bin ‘Abdul Karim Al-Khathabi (1882-1963) seorang mujahid dan tokoh besar Islam dari wilayah Rif, di Maroko. Rif adalah wilayah utara Maroko yang mencakup Hoceima, Nador dan Berkane. Syaikh Al-Khatabi adalah pendiri dan presiden Rif antara tahun 1921-1926. Ia melawan penjajah Prancis dan Spanyol, sehingga digelari pahlawan Rif dan singa Rif. Dia dibaiat sebagai Amir Mujahidin dan menolak untuk dibaiat sebagai raja Rif. Dia juga menolak dibaiat sebagai Khalifatul Muslimin.

rif
Wilayah Rif yang menjadi jajahan Spanyol.

Wilayah Rif yang menjadi jajahan Spanyol.

Muhammad Abdul Karim Al-Khathabi mengumumkan diri sebagai pemimpin Rif.Pada tanggal 1 April 1923 resmi dibentuk sebuah negara republik. Pada awalnya Al-Khathabi menjabat sebagai presiden sekaligus perdana menteri. Setelah itu baru diangkat H. Al-Hatimi sebagai perdana menteri pada Juli 1923 sampai 27 Mei 1926. Negara ini berhasil dibubarkan pada 27 Mei 1926 oleh tentara gabungan penjajah Prancis-Spanyol yang jumlahnya mencapai 500.000 personal dan disokong dengan persenjataan kimia yang sangat banyak, sehingga dampaknya sampai sekarang masih terasa di kawasan tersebut. (Sumber:Wikipedia.com)

______________________________

Kekhawatiran mereka sangat besar terhadap berdirinya Imarah Islam di manapun. Penyebabnya adalah karena mereka mengetahui bahwa kaum muslimin memiliki hal-hal yang tidak dimiliki oleh penganut agama lainnya. Bagaimana dalam waktu yang sangat singkat pada masa Rasul dan Khulafa-ur Rasyidin dunia tunduk kepada kaum muslimin.

Gembong kekafiran internasional pada hari ini adalah pihak yang memegang pengaruh besar terhadap negara-negara di kawasan [Timur Tengah], sebagai aliran kehidupan dan penyokong utama bagi negara-negara tersebut. Gembong kekafiran internasional tersebut masih memiliki kekuatan yang menjadikannya sanggup menumbangkan Imarah Islam Afghanistan (Taliban) di Afghanistan dan pemerintahan Irak (Saddam Husain).

Meskipun kekuatan Amerika telah berhasil dikuras dalam skala yang cukup besar, akan tetapi Amerika masih memiliki kekuatan yang dapat menumbangkan pemerintahan apapun, maksudnya menumbangkan negara Islam yang murni yang berdiri di kawasan [Timur Tengah] pada saat ini.

Di antara pengalaman terpenting yang diperoleh oleh musuh lokal [rezim sekuler] maupun musuh internasional [Amerika dan sekutunya] dalam memberangus dan mengaborsi gerakan-gerakan Islam adalah dengan cara memancing dan menggiring gerakan-gerakan Islam masuk ke dalam pertarungan yang penopang-penopangnya belum terpenuhi.

Oleh karena itu, kita harus menggagalkan strategi musuh ini, dan kita harus melanjutkan program menguras kekuatan musuh dan melemahkannya di front-front yang telah terbuka di Afghanistan dan Irak, sampai menghantarkan mereka kepada kondisi lemah, yang menjadikannya tidak lagi mampu untuk menumbangkan negara [Islam] di manapun yang akan kita dirikan.

Pada saat itulah baru dilakukan secara ketat pengerahan semua usaha dan potensi umat Islam yang memungkinkan untuk disatukan, yang sebelumnya mereka absen dari jihad baik karena memiliki udzur maupun tidak memiliki udzur. Kemudian setelah itu dimulailah proyek penegakkan negara Islam dengan izin Allah. Dan tidaklah mengapa jika hal itu menuntut penundaan program sampai satu tahun atau lebih.

[Kegagalan Jihad Melawan Rezim Murtad]

Kalian sendiri tahu bahwa kebanyakan jama’ah jihad yang bersikukuh untuk memulai peperangan dengan musuh internal [yaitu penguasa murtad dalam negeri] telah tergelincir perjalanannya dan belum dapat mewujudkan target-targetnya, seperti Ikhwanul Muslimin di Suriah. Sementara bencana yang mengiringinya, khususnya apa yang terjadi di provinsi Hamah, menimbulkan trauma pada masyarakat yang dampaknya masih ada sampai sekarang meskipun telah berlalu tiga dekade.

___________________________

Catatan :

Maksudnya adalah jihad Ikhwanul Muslimin dan kaum muslimin Suriah pada periode 1970-1983 M untuk menumbangkan rezim Nushairiyah Suriah pada era diktator Hafizh Assad. Syaikh Marwan Hadid membentuk kelompok jihad bernama Ath-Thali’ah Al-Muqatilah li-Hizbillah di tiga wilayah utama Suriah; Hamah, Aleppo dan Damaskus. Kelompok ini berjihad melawan rezim Hafizh Asad pada periode 1970-1975. Syaikh Marwan Hadid tertangkap pada 1970, dipenjara dan dihukum mati pada 1975.

Kepemimpinan Ath-Thali’ah Al-Muqatilah dilanjutkan oleh Abdus Sattar Az-Zaim, sampai beliau gugur.

Pada musim panas 1979 M/Sya’ban 1390 H, Ath-Thali’ah Al-Muqatilah mengumumkan secara resmi jihad melawan rezim Hafizh Assad dan merubah namanya menjadi Ath-Thali’ah Al-Muqatilah li-Ikhwan Al-Muslimin. Perang gerilya di berbagai kota di seluruh Suriah pun terjadi.

Ikhwanul Muslimin menolak program jihad tersebut, namun dukungan rakyat muslim Suriah terhadap jihad tersebut membuahkan banyak kemenangan penting. Melihat situasi tersebut, pemimpin Ikhwanul Muslimin Isham Al-Athar akhirnya memutuskan Ikhwnaul Muslimin ikut terjun dalam jihad bersama rakyat. Sejak 1980 M kepemimpinan jihad di Suriah akhirnya dikendalikan oleh tokoh Ikhwnaul Muslimin Adnan Sa’iduddin.

Namun rezim Hafizh Asad berhasil mengalahkan gerakan jihad tersebut. Puncaknya adalah operasi pemusnahan masaal selama berbulan-bulan oleh rezim Nushairiyah di kota Hamah, pusat gerakan jihad, pada 1982 M. Rezim Nushairiyah membantai lebih dari 50.000 warga muslim di Hamah dalam peristiwa tersebut. Sebagian besar kader mujahidin ditangkap dan dipenjarakan. Sisanya melarikan diri ke luar negeri. Pengalaman jihad di Suriah tersebut didokumentasikan oleh Syaikh Abu Mush’ab AS-Suri dalam bukunya Ats-Tsaurah Al-Islamiyah Al-Jihadiyah fi Suriyah: Alam wa Amal.

____________________________

Demikian pula yang terjadi pada usaha yang dilakukan oleh Jama’ah Islamiyah Mesir dan Jama’ah Jihad Mesir, juga para ikhwah di Libya dan Aljazair.

Hal serupa juga terjadi di kawasan Semenanjung Arabia [negeri dua tanah suci], meskipun proyeknya waktu itu diarahkan kepada beberapa markas Amerika, dan bukan untuk menumbangkan negara. Bahkan meskipun proyek jihad tersebut telah berhasil mewujudkan beberapa keuntungan, di antara yang terpentingnya adalah berhasil mengusir kamp-kamp besar mereka dari wilayah dua tanah suci.

Proyek jihad tersebut juga berhasil menyadarkan masyarakat terhadap aqidah Al-Wala’ wal Bara’ (loyalitas kepada kaum muslimin dan permusuhan terhadak kaum kafir) dan tersebarnya semangat jihad di kalangan pemuda. Namun tidak lama kemudian program militer tersebut segera hancur lantaran beberapa sebab yang telah disebutkan tadi.

_____________________________

Catatan :

Syaikh ‘Athiyatullah Al-Libi pernah ditanya:

“Apakah engkau sepakat dengan pendapat saya bahwa peledakan-peledakan yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin, seperti Arab Saudi, Mesir dan lainnya, telah menjadikan banyak pendukung simpatisan Al- Qaeda menarik kembali dukungannya?”

Maka di antara jawaban beliau adalah:

“Berbagai peledakan dan konfrontasi yang terjadi di Arab Saudi khususnya, telah mendorong — banyak maupun sedikit — orang-orang yang simpati kepada Al-Qaeda untuk tidak lagi mendukungnya. Peledakan dan konfrontasi tersebut juga telah menimbulkan beberapa kerugian. Saya kira ini benar dan kami tidak mau bersikap sombong untuk mengakui kebenaran!

Dan saya yakin bahwa semua itu termasuk dari sekian ujian bagi manusia.

Saya juga yakin bahwa para ikhwah mujahidin memang tidak memiliki peluang lagi untuk melakukan hal yang lebih baik lagi dari apa yang telah terjadi. Saya telah terangkan bahwa mereka itu melakukan konfrontasi karena terpaksa, dan bahwa pemerintah telah memaksa mereka untuk melakukannya. Bukti yang paling baik dalam hal ini adalah kronologi terbunuhnya Syaikh [Yusuf bin Shalih] Al-‘Uyairi rahimahullah dan banyak lagi yang lainnya. Karena pemerintah telah mengambil keputusan tegas, menghendaki keburukan dan menyeringaikan taring permusuhan. Sementara ulama’ su’ tidak kurang-kurang dalam membela pemerintah serta menelantarkan dan menekan para pemuda.Hasbunallah wa ni’mal wakil. Maka terjadilah apa yang terjadi.

Akan tetapi bukan berarti juga semua itu tidak ada kebaikannya sama sekali.

Karena yang dijadikan patokan penilaian itu adalah dominannya kebaikan dan keuntungan yang tersembunyi dalam menaati dan melaksanakan perintah Allah Ta’ala, yang dalam hal ini adalah jihad.Hal yang dijadikan patokan penilaian adalah hasil akhirnya dan hasil globalnya, bukan kerugian yang diderita pada suatu periode tertentu, dan bukan pula pada suatu wilayah tertentu, tanpa melihat kepada tempat-tempat lainnya.Wallahu a’lam.” (Sumber:Al-Ajwibah Asy-Syamilah Li As-ilati A’dha’ Syabakah Al-Hisbah Al-Islamiyah lisy-Syaikh Al-Mujahid Athiyatullah Al-Libi, hal. 284-285)

Sebelumnya pada Al-Ajwibah Asy-Syamilah hal. 152-154, Syaikh ‘Athiyatullah Al-Libi telah menjelaskan tentang orientasi jihad Al-Qaeda Semenanjung Arabia:

“Jihad di Semenanjung Arabia ini memiliki dua orientasi:

Pertama adalah berjihad melawan pemerintah lokal yang murtad dan loyal kepada kaum Salibis.

Kedua adalah sebagai penyokong gerakan umum jihad Al-Qaeda.

Untuk orientasi pertama, saya sampai sekarang masih meyakini — sebagaimana yang saya sampaikan dalam beberapa kesempatan sebelumnya — bahwa para ikhwah mujahidin itu mengambil orientasi yang pertama ini karena sangat terpaksa. Dan ini bukanlah proyek dasar dan misi awalnya, namun ketika kita perhatikan ini hanyalah konsekuensi dari program utama mereka.

Yang saya pahami, dan saya kira semua orang yang mengenal Al-Qaeda dan Syaikh Usamah di Afghanistan sampai terakhir sebelum peristiwa 11/9 akan memahami bahwa Syaikh Usamah berpendapat untuk tidak melakukan konfrontasi dengan pemerintah Saudi maupun pemerintah-pemerintah Arab lainnya. Hal ini adalah perkara yang telah masyhur dan terkenal.

Dahulu — dan saya kira sampai sekarang masih, sebagaimana yang nampak dalam ceramah-ceramahnya — Syaikh Usamah berpendapat untuk semampunya berdamai dengan pemerintah-pemerintah lokal dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan konfrontasi dengannya. Sebab hal yang mesti kita lakukan adalah menyerang gembongnya yaitu Amerika. Kita harus arahkan semua kekuatan dan potensi kita kepadanya.Kita hanya boleh menyerang orang-orang lokal yanag menjadi ekornya ketika tidak bisa dihindari lagi.

Bahkan Syaikh Usamah dahulu selalu memberi nasehat kepada jamaah-jamaah lain yang berada di negara-negara Arab agar tidak memulai program melawan pemerintah lokal. Beliau selalu menjelaskan kepada mereka bahwa peperangan yang semacam ini memerlukan syarat-syarat dan penopang-penopang keberhasilan yang sangat sulit untuk diwujudkan. Dalam hal ini beliau selalu memberikan contoh dengan pengalaman Aljazair, Mesir dan yang lainnya.

Pemikiran semacam ini sangatlah dipahami secara jelas oleh para ikhwah di Semenanjung Arabia.

Oleh karena itu para ikhwah di sana pada awalnya tidak memiliki orientasi untuk membuka proyek di Saudi melawan pemerintah. Sehingga sangatlah jelas bahwa para ikhwah tersebut memasuki kancah pertempuran melawan pemerintah karena terpaksa, mirip dengan orang-orang yang membela diri.Penjelasan-penjelasan dan literatur-literatur yang mereka keluarkan pun menunjukkan hal ini.

Berbagai diskusi yang beredar di internet maupun di tempat lainnya menyusul kepulangan banyak ikhwah dari Afghanistan setelah peristiwa 11/9 menguatkan hal itu. Kita masih ingat bahwa mayoritas ikhwah dari kalangan penuntut ilmu dan ulama’ lebih memilih untuk tidak melakukan konfrontasi dengan pemerintah kecuali jika mereka diburu pemerintah dan mereka yakin akan dipenjara, disiksa, dihinakan dan disakiti. Sehingga apabila mereka akan ditangkap maka mereka akan melawan dan berperang…!

Namun demikian para ikhwah Al-Qaeda Semenanjung Arabia, dalam pandangan saya, atas karunia Allah semata, mereka telah bertindak secara benar dalam banyak hal. Memang ada terjadi kesalahan.Akan tetapi secara umum dan global mereka telah meraih nilai yang cukup tinggi dan mereka telah bertindak secara benar dan terarah. Mereka telah memberikan teladan yang baik, memberikan andil dan sampai sekarang Alhamdulillah mereka masih memberikan andilnya dalam meningkatkan, meluruskan dan memperkaya perjalanan jihad. Demi Allah mereka adalah orang-orang yang hebat dan semoga Allah memberikan berkah kepada mereka, menerima mereka serta menolong dan membantu mereka.

– Di bidang pemikiran, ilmu dan literatur, semua rilisan baik tulisan, audio, video dan semua literatur mereka benar dan baik. Di dalamnya nampak sikap yang seimbang dan jauh dari ghuluw (sikap ektrim). Tidak sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh. Buktinya mereka tidak mengkafirkan tentara Arab Saudi secara umum. Mereka juga jauh dari sikap mengkafirkan para syaikh dan ulama’ yang berseberangan, para ulama’ pemerintah, atau melakukan pembunuhan kepada salah seorang di antara mereka, atau tindakan-tindakan semacam itu, meskipun mereka selalu membangkitkan emosi dan kemarahan.

Para ikhwah tersebut membuktikan bahwa mereka telah mencapai kualitas yang tinggi dari sisi keseimbangan, keberanian dan kekuatan hati. Semua itu hanyalah berkat karunia Allah semata. Demikian pula dengan ucapan-ucapan mereka selalu jauh dari sikap yang terburu-buru dalam menghukumi dan dari sikap berlebihan…

Dari sisi akurasi dan kualitas rilisan-rilisan mereka juga bernilai sangat tinggi. Ditinjau dari sisi membangkitkan semangat para pemuda, rilisan-rilisan tersebut benar-benar sebuah lompatan.Ceramah-ceramah mereka benar dan jauh dari sikap membanggakan diri, klaim-klaim dan terlalu membesar-besarkan. Ia seimbang, sederhana dan fokus kepada alasan-alasan yang jelas dan logis ketika membahas disyariatkannya tindakan mereka yang menentang pemerintah yang telah melakukan kekafiran nyata yang mana kita memiliki bukti dari Allah tentang hal itu. Suatu ceramah yang menggunakan semua aspek dan sarana yang realistis, teruji dan nyata.

– Dalam bidang operasi militer di lapangan, secara umum amaliyat-amaliyat yang mereka lakukan adalah baik. Di antaranya ada yang perfect dan baik. Di antaranya ada yang gagal dan menderita kekalahan. Akan tetapi secara umum amaliyat-amaliyat mereka baik. Memang terkadang terjadi beberapa kesalahan, seperi ikut terbunuhnya masyarakat. Akan tetapi kesalahan semacam ini adalah kesalahan yang terjadi di setiap peperangan, dan tidak ada satu operasi militer pun yang bersih dari kesalahan tersebut.

Dari sisi andil mereka dalam membantu saudara-saudara mereka di Irak dan lainnya, mereka telah memerankan andil yang baik. Dan dari sisi proyek pelatihan dan i’dad, serta dalam memperkaya koleksi perpustakaan gerakan jihad, usaha-usaha yang telah mereka hasilkan patut untuk kita apresiasi.

Memang saya termasuk orang yang awalnya tidak setuju kalau para ikhwah berkonfrontasi dengan pemerintah Arab Saudi, dan sebisa mungkin bagaimana berdamai dengan pemerintah munafiq tersebut, mendiamkannya, bersabar terhadap kejahatannya, dan sebisa mungkin untuk menghindarinya, karena berbagai manfaat yang hendak dicapai dan berbagai sebab yang tidak samar lagi. Juga karena kondisi masyarakatnya belumlah siap. Namun sikap semacam ini memang sangatlah sulit untuk dilakukan. Sehingga kita tidak mungkin mau menyayangkan tindakan para ikhwah yang berkonfrontasi dengan pemerintah. Dan apa yang telah terjadi itu insya Allah adalah baik dan mengandung banyak hikmah yang mendalam. Al-hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Adapun orientasi keduanya adalah memberikan sokongan terhadap gerakan jihad dan bekerja sebagai salah satu unsur dan sayap dalam pasukan Al-Qaeda. Karena para ikhwah tersebut memiliki misi-misi tertentu yang harus mereka capai:

  1. Menyerang kepentingan Amerika di manapun berada, menyerang kepentingan sipil maupun militer mereka, dan menguras, melemahkan dan mencederai mereka serta berusaha mengusir mereka dan para loyalis mereka, bahkan seluruh Salibis dan orang-orang kafir dari Semenanjung Arabia.
  2. Menyerang sarana-sanara perminyakan yang merupakan penopang pokok berdirinya kerajaan Arab Saudi dari satu sisi, dan dari sisi lain musuh Salibis (Amerika) memanfaatkannya dalam porsentasi yang sangat besar sekali. Termasuk dalam misi ini terkadang — sebagaimana yang nampak wallahu a’lam — untuk menaikkan harga minyak. Karena naiknya harga minyak akan merugikan Amerika, meskipun hal ini secara temporal membantu kepentingan kerajaan Arab Saudi dan negara-negara penghasil minyak yang semisal dengannya.
Syekh-Atiyah-rhm
Syaikh Atiyatullah al liby (rahimahullah)

Kenyataannya orientasi ini — sebagaimana yang telah saya singgung — tidak dapat dihindari lagi menyeret kepada konfrontasi dengan pemerintah yang loyal dan patuh kepada Amerika Salibis, serta berada di bawah kendali, perintah dan kekuasaannya, dan bahkan eksistensinya itu tergantung dengan dukungan dan restu dari Amerika Salibis!

Dan otomasis inilah yang kemudian terjadi!” (Sumber:Al-Ajwibah Asy-Syamilah, hlm.152-154)

Sebagai catatan tambahan, pada saat itu Al-Qaeda di wilayah Semenjung Arabia terdiri dari dua bagian: Al-Qaeda Semenanjung Arabia [Al-Qaeda wilayah Arab Saudi] dan Al-Qaeda Semenanjung Selatan [Al-Qaeda wilayah Yaman]. Kedua sayap Al-Qaeda itu kemudian melebur menjadi satu dengan nama Anshar Asy-Syari’ah atau Al-Qaeda Semenanjung Arabia (AQAP).

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Athiyatullah Al-Libi, bahwa pada awalnya program militer di Arab Saudi hanya terfokus untuk melakukan serangan kepada kepentingan-kepentingan Amerika.Namun hal itu otomatis menyeret mujahidin untuk berkonfrontasi dengan pemerintah Arab Saudi. Seorang pemerhati gerakan-gerakan Islam dari Mesir, Ali Bakar, dalam artikelnya yang berjudul Al-Qa’idatu Fi Jaziratil ‘Arab, secara sekilas menuangkan rekaman peristiwanya sebagai berikut:

  1. Mei 2003 merupakan awal dimulainya proyek besar dari sisi konfrontasi dan operasi yang dilancarkan oleh Al-Qaeda. Dalam bulan Mei 2003 Al-Qaeda melancarkan tiga operasi dan konfrontasi dengan aparat keamanan. Adapun pada bulan-bulan selanjutnya sampai akhir tahun 2003 telah terekam sebanyak 14 konfrontasi dengan aparat keamanan dan 7 operasi yang dilancarkan Al-Qaeda. Pada bulan Desember akhir tahun ini diumumkan DPO sebanyak 26 orang.
  2. Tahun 2004 merupakan tahun yang paling mencekam, baik dari sisi konfrontasi dengan aparat keamanan maupun dari sisi operasi yang dilancarkan Al-Qaeda. Pada tahun ini terekam 26 konfrontasi antara aparat keamanan dengan para DPO, sebagaimana juga terekam 19 kali operasi yang dilancarkan oleh Al-Qaeda. Hampir tidak ada satu bulan pun pada tahun ini yang tanpa konfrontasi atau operasi yang dilancarkan Al-Qaeda. Bulan yang paling berdarah pada tahun 2004 ini adalah bulan April, di mana terekam berkali-kali konfrontasi dan empat kali serangan Al-Qaeda.
  3. Tahun 2005 angka konfrontasi dan serangan sedikit menurun meskipun tetap masih tinggi. Pada tahun ini Al-Qaeda melancarkan empat kali serangan yang tersebar pada bulan Mei, Juni, Juli dan Oktober. Sebaliknya Al-Qaeda mendapatkan serangan dari aparat keamanan sebanyak 15 kali. Selain itu pemerintah Arab Saudi pada pertengahan bulan Juni 2005 juga mengumumkan 36 nama daftar DPO.
  4. Adapun tahun berikutnya, 2006, tercatat penurunan yang signifikan dari sisi serangan yang dilancarkan Al-Qaeda maupun konfrontasi dengan aparat keamanan. Tercatat “hanya” 5 kali konfrontasi dengan aparat keamanan dan 3 kali serangan yang dilancarkan Al-Qaeda. Bulan Juli merupakan bulan yang paling berdarah tahun ini, di mana tercatat 3 kali konfrontasi dengan aparat keamanan dan satu kali operasi yang dilancarkan Al-Qaeda.
  5. Tahun 2007 merupakan tahun yang paling tenang karena tercatat hanya satu kali serangan yang dilancarkan kepada orang-orang Perancis di Hijaz pada bulan Februari, dan satu kali konfrontasi dengan aparat keamanan yang berdampak dengan tewasnya seorang yang masuk dalam 36 daftar DPO yang juga merupakan salah satu eksekutor serangan terhadap orang-orang Perancis tersebut.

Kemudian pada tanggal 23 Januari 2009, Al-Malahim media resmi Al-Qaeda Semenanjung Arabia merilis sebuah video yang berjudul Min Huna Nabda’ Wa Fil Aqsha Naltaqi, sebagai pertanda meleburnya Al-Qaeda Fi Jaziratil ‘Arab [Al-Qaeda Arab Saudi] dengan Al-Qa’idatu Janubal Jazirah [Al-Qaeda Yaman], sembari mengumumkan susunan terpenting kepemimpinan Al-Qaeda Semenanjung Arabia (AQAP). Dalam video tersebut ditampilkan empat orang tanpa penutup muka, lengkap dengan nama dan jabatannya masing-masing dalam Al-Qaeda. Mereka adalah Abu Bashir Nashir Al-Wuhaisyi selaku Amir, Abu Sufyan Al-Uzdi selaku wakil Amir, Abu Hurairah Qasim Ar-Raimi sebagai penanggung jawab militer, dan Abul Harits Al-‘Aufi Al-Harbi sebagai komandan lapangan.

______________________________

[Kesuksesan Jihad Global Melawan Aliansi Kekafiran Internasional]

Sementara berbagai gerakan perlawanan melawan musuh asing yang menjajah, telah berhasil mencapai berbagai kesuksesan yang besar selama satu abad terakhir di dunia Islam, di mana yang paling akhir adalah di Afghanistan.

Di antara sebab suksesnya adalah terpenuhinya salah satu faktor kesuksesan, yaitu faktor pemantik massa berupa penjajahan oleh Rusia [komunis Uni Soviet] yang merupakan bangsa asing dan kafir, hal ini berhasil mewujudkan simpati masyarakat yang sangat besar.

Ini adalah satu perkara yang sangat penting, karena masyarakat bagi suatu gerakan adalah ibarat air bagi ikan. Maka gerakan apapun yang tidak mendapat simpati masyarakat niscaya kekuatan bertahannya akan terus melemah sampai akhirnya hancur atau meredup dan bersembunyi.

Demikian juga halnya dengan di Jalur Gaza. Mayoritas masyarakat telah bergabung di bawah bendera perlawanan Islam melawan musuh dari luar [penjajah zionis Yahudi]. Namun mereka tidak memahami kesalahan para pengusung bendera tersebut.

____________________________

Catatan :

Maksudnya tidak semua gerakan perlawanan di Jalur Gaza secara khusus dan Palestina secara umum adalah gerakan Islami. Sebagiannya adalah gerakan nasionalis-sekuleris seperti PLO dan Al-Fatah. Sebagian lainnya adalah islamis bercampur baur dengan demokratis-sekuleris seperti Hammas. Sebagian lainnya adalah Syiah perpanjangan rezim Syiah Iran seperti kelompok Jihad Islam.

______________________________

[Pelajaran Dari Kesalahan Operasi Mujahidin di Irak]

Demikian pula halnya dengan di Irak. Musuh datang dari luar menyerang negeri mereka. Musuh pun melakukan kesalahan fatal lantaran mereka tidak memahami wilayah dan tabiat penduduknya. Maka bangkitlah seluruh kabilah dan bersatulah mereka sehingga menjadikan masyarakat memberikan dukungannya kepada mujahidin, dan menggelontorkan bantuan mereka dengan puluhan ribu putra kabilahnya kapada jihad melawan Amerika.

Sampai akhirnya terjadi kesalahan, dimana di antara yang paling parah adalah mujahidin melakukan serangan terhadap sebagian putra kabilah-kabilah Anbar untuk selain kepentingan mempertahankan diri secara langsung [yang sedang menuju para ikhwah untuk melakukan serangan]. Saat itu sebagian putra kabilah-kabilah Anbar tersebut tengah mendaftarkan diri untuk menjadi anggota pasukan keamanan. Hal ini akhirnya mengakibatkan para kabilah bersatu dan bangkit melawan mujahidin.

Kalian sendiri paham bagaimana pembunuhan terhadap satu orang anggota kabilah saja sudah cukup untuk membakar emosi mereka pada situasi seperti itu. Lalu bagaimana jika yang dibunuh itu ratusan orang?

Ada masalah penting lainnya yang wajib dipahami dengan baik. Menjadikan kalimatullah menjadi yang paling tinggi adalah merupakan misi yang ditetapkan dalam syariat. Maka kewajiban kita adalah mengusahakan pelaksanaan aksi-aksi yang dapat merealisasikan tujuan ini pada setiap dampak dari aksi-aksi tersebut, dengan tetap senantiasa memperhatikan kaidah-kaidah syar’i dalam menimbangmashlahat (keuntungan) dan mafsadat (kerugian).

Telah diketahui bahwasanya mereka mendaftarkan diri untuk menjadi anggota pasukan keamanan, yang apabila mereka diperintahkan untuk datang niscaya mereka akan siap melaksanakan perintah tersebut.

Akan tetapi harus diperhatikan juga bahwa mereka tidak memiliki semangat dan motivasi untuk berperang. Sebab, mereka mau mendaftarkan diri karena adanya iming-iming materi. Selanjutnya, mereka tidak akan memiliki kesiapan untuk mengorbankan diri mereka untuk kepentingan Amerika. Mereka tidak akan mungkin mau maju dengan gagah berani untuk membunuh putra-putra kabilah mereka.

Seandainya ada seorang putra mereka yang terbunuh tatkala mereka menyerang kita, tentu reaksi mereka akan lemah. Lain halnya ketika mereka dibunuh dalam jumlah besar ketika mendaftarkan diri untuk menjadi anggota pasukan keamanan, tentu hal ini akan menimbulkan pukulan terhadap masing-masing kabilah, dan akan membangkitkan mereka untuk melawan kita. Juga akan melahirkan perasaan dendam terhadap orang yang membunuh mereka.

Maka kita harus mengkaji setiap usaha dan tindakan yang dilakukan mujahidin, memahami sisi-sisi kesalahannya dan mengambil pelajaran darinya.

Selain itu tidak samar lagi betapa besarnya sifat fanatik dan dendam yang dimiliki bangsa Arab. Betapa banyak dampak yang ditimbulkan oleh urusan darah terhadap para tokoh, apalagi terhadap orang awam.

[Pelajaran Dari Yaman]

Dahulu [era jihad Afghanistan melawan Uni Soviet] pernah bersama kami beberapa ikhwah mujahidin yang komitmen agamanya baik, namun tatkala mereka pulang ke Yaman dan terjadi peperangan jahiliyah antara kabilah mereka dengan kabilah lain, ada sebagian mereka yang ikut-ikutan dalam perang tersebut dan mereka tidak dapat menghindarkan diri dari tradisi balas dendam dalam urusan darah.

Sesungguhnya tekanan Amerika terhadap pemerintah Yaman telah mendorong pemerintah melakukan kesalahan dalam menyikapi para kabilah. Pemerintah telah membombardir putra-putra kabilah di provinsi Mahfad dan Syabwah. Tekanan yang terus dilakukan Amerika tersebut menjadikan pemerintah Yaman siap untuk melakukan kesalahan-kesalahan lebih besar lagi, sehingga akan menyatukan sejumlah kabilah untuk melawan pemerintah.

Jika mujahidin dapat berinteraksi secara baik dengan para kabilah tersebut, maka hal ini akan mendorong mayoritas kabilah bergabung dengan mujahidin. Karena urusan darah itu memiliki dampak yang besar dalam masyarakat kesukuan.

Kalian ingat dengan perkataan Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu pada perang Badar. Ketika beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam melarang para sahabat membunuh Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, Abu Hudzaifah mengatakan: “Apakah kita membunuh bapak-bapak kita, anak-anak kita dan kerabat kita, sementara Abbas kita biarkan?! Demi Allah jika aku bertemu dengannya, pasti aku tebas dia dengan pedang.”

Demikian pula apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam: “Wahai Rasulullah, saya mendengar Anda ingin membunuh Abdullah bin Ubay lantaran ucapannya yang sampai kepada Anda. Jika Anda memang harus melakukannya maka perintahkanlah saya saja, saya akan bawakan kepalanya kepada Anda.”

“Demi Allah, suku Khazraj tahu betul bahwa tidak ada seorang anak suku Khazraj pun yang lebih berbakti kepada orang tuanya daripada diriku. Saya sungguh khawatir jika Anda menyuruh orang lain untuk membunuhnya, jiwaku tidak akan tahan melihat orang yang membunuh Abdullah bin Ubay berjalan di tengah-tengah manusia. Dengan begitu berarti saya membunuh seorang beriman untuk membalas nyawa orang kafir, sehingga saya akan masuk neraka.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam pun bersabda: “Justru kita akan tetap bersikap lembut dan berinteraksi secara baik dengannya selama dia bersama kita.”

Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam kepada Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu tatkala kaumnya Abdullah bin Ubay bin Salul siap untuk menghukum Abdullah bin Ubay bin Salul jika dia berulah lagi: “Bagaimana pendapatmu wahai Umar? Demi Allah, seandainya aku membunuhnya ketika engkau mengatakan kepadaku; bunuhlah dia, tentu orang yang fanatik akan bangkit membelanya. Namun seandainya aku perintahkan orang yang fanatik itu sekarang [untuk membunuhnya], tentu dia akan membunuhnya.” (As-Sirah An-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, III/305)

Dari sini tidaklah samar lagi bagi seorang pun bahwa orang-orang yang berperang di bawah bendera Amerika melawan kaum muslimin wajib untuk diperangi. Akan tetapi yang diperselisihkan adalah masalah penentuan waktunya. Dan perkara ini dapat dipahami dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, yang berbunyi: “Demi Allah seandainya aku membunuhnya ketika engkau mengatakan kepadaku, bunuhlah dia…

_____________________________

Catatan :

Di sini Syaikh Usamah menjelaskan betapa pentingnya simpati dan dukungan masyarakat dalam memenangkan jihad. Oleh karena itu beliau menjelaskan beberapa strategi yang perlu diperhatikan di bidang ini, yang meskipun ringkas tapi cukuplah jelas. Syaikh Abu Ubaidah Abdullah bin Khalid Al-‘Adam, seorang komandan senior Al-Qaeda lainnya menjabarkan strategi ini secara lebih rinci dalam sebuah artikel yang berjudul “Shahawat Ar-Riddah was Sabilu li-Man’iha”, yang dipublikasikan oleh Yayasan Media As-Sahab dan Markaz Al-Fajr lil-I’lam, pada 16 Jumadil Awwal 1433 H.

_____________________________

Saat untuk mendirikan negara Islam pun berjalan mendekat dengan cepat, dan dia mengarah kepada kebaikan kita lantaran tersebarnya pemikiran jihad di kalangan pemuda dan generasi yang tengah tumbuh khususnya, jika dibandingkan dengan jamaah-jamaah dan gerakan-gerakan Islam lainnya. Karena mereka semua tidak dapat mengisi kekosongan yang dialami putra-putra Islam, selain aliran pemikiran Salafi-Jihadi yang bersinergi dengan persoalan yang dihadapi umat Islam.

[Evaluasi Bidang Media Al-Qaeda]

Selain itu cara menyampaikan pesan Al-Qaeda juga harus ditingkatkan mutunya sehingga menjadi nampak tenang, teguh, memuaskan, mudah, jelas, menyentuh persoalan dan penderitaan masyarakat, serta tidak menjauhkan diri dari masyarakat dan opini publik.

Terkadang sebagian ikhwah berdalil dengan kata-kata tajam yang diucapkan oleh sebagian salaf radhiyallahu ‘anhum. Kata-kata tersebut diucapkan dalam kondisi Islam kuat dan memiliki negara yang berkuasa. Sementara kondisi kita ini saat ini berbeda. Oleh karena itu kita mesti memperhatikan perbedaan antara kondisi kuat dan kondisi lemah.

____________________________

Catatan :

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Orang beriman manapun yang berada di suatu daerah atau suatu masa yang dia di sana tertindas, maka hendaknya dia beramal dengan ayat yang memerintahkan untuk bersabar dan memaafkan orang yang mencela Allah dan Rasul-Nya dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Adapun orang beriman yang memiliki kekuatan maka mereka hendaknya ia beramal dengan ayat yang memerintahkan untuk memerangi gembong-gembong kekafiran yang mencela agama, dan dengan ayat yang memerintahkan untuk memerangi Ahli Kitab sampai mereka memberikan jizyah dalam keadaan hina.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, II/413)

___________________________

Hendaknya yang menjadi konsentrasi utama dalam pesan-pesan kita adalah menjelaskan makna laa ilaaha illa Allah dan memperingatkan masyarakat dari kesyirikan dengan cara-cara dan bentuk-bentuk yang bermacam-macam.

Selain itu secara bersamaan kita juga harus memperhatikan pesan yang ingin disampaikan dan pilihan kata yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut, sambil menghindari ungkapan-ungkapan yang mesti diganti dengan yang ungkapan lainnya berdasarkan kaidah-kaidah syar’i, tanpa mengubah sedikit pun prinsip-prinsip kita, dengan menggunakan kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang dapat menerangkan maksud yang diinginkan secara tenang. Seperti menggunakan kata wukala’ (agen-agen) sebagai ganti dari kata‘umala’ (antek-antek).

Hal yang diperlukan pada periode ini adalah hendaknya kita menyampaikan kebenaran kepada masyarakat dengan ungkapan yang paling mudah dan paling lembut. Karena sebagian masyarakat tidak nyaman dengan kata ‘amil (antek) dan mereka menganggap ini sebagai cacian. Lain halnya jika kata yang kita gunakan adalahwakil (agen) sebagai ganti dari kata ‘amil, atau kata berkhianat kepada agama dan umat atau berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya, atau berkhianat terhadap amanah yang dipercayakan kepada mereka, sebagai ganti dari kalimat para penguasa pengkhianat.

Hal ini akan dapat menjaring kalangan kaum muslimin yang lebih besar untuk mendengar kita, juga kita dapat menyadarkan mereka terhadap kesalahan pandang dan loyalitas mereka kepada penguasa zalim. Inilah misi kita.

Oleh karena itu kita harus menjauhi kata-kata yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap simpati umat Islam terhadap mujahidin. Mujahidin harus menyadari bahwa di antara program bangsa salibis internasional dalam serangannya yang sangat dahsyat ini adalah memperburuk citra mujahidin dan prinsip-prinsip mereka, serta menyebut mereka dengan sebutan-sebutan yang menjauhkan kaum muslimin dari mereka.

Oleh karena itu kita harus memperhatikan secara jeli kata-kata dan rilisan-rilisan kita supaya kita tidak terpatri dalam benak kaum muslimin sebagaimana apa yang dituduhkan kepada kita oleh musuh, bahwa kita adalah orang-orang yang beringas, memaksakan kehendak dan penikmat pertumpahan darah.

Hendaknya kita menyadari bahwa mayoritas umat Islam berada di luar kancah peperangan sehingga mereka memerlukan gaya penuturan yang sesuai dengan kondisi mereka. Tidak samar lagi bahwa umat Islam adalah penyokong dan pelindung mujahidin. Oleh karena itu kita harus santun, dengan cara bertutur dengan kata-kata yang menyenangkan sambil menjauhi kata-kata yang menyerang secara kasar, mengkritik dengan nada menghina dan meremehkan pihak yang berseberangan dengan kita.

Khusus tentang HAMAS, kita harus memperhatikan bahwa HAMAS itu memiliki banyak pendukung, yang menurut anggapan kita, mereka adalah orang-orang yang serius dalam membela kebenaran dan membela Islam. Sementara sejumlah pemahaman syar’i yang penting telah hilang dari benak mereka. Kita sendiri tidak mau menjadi pembantu syetan untuk menyesatkan mereka.

Seiring berjalannya waktu disertai penjelasan kesalahan-kesalahan yang dilakukan para pemimpin mereka dengan cara yang lembut, hal itu akan membantu mereka untuk memahami dan menjauhi kesalahan-kesalahan para pemimpin mereka tersebut.

Juga harus diperhatikan bahwa prosentase terbesar dalam peperangan adalah di bidang media dan stasiun-stasiun TV hari ini lebih berbahaya daripada serangan para ahli sya’ir pada masa jahiliyah.

Jika stasiun-stasiun TV fokus terhadap orang yang ingin mereka “jatuhkan”, maka stasiun-stasiun TV memberitakannya secara negatif. Jika stasiun-stasiun TV fokus terhadap orang yang ingin mereka “angkat”, maka stasiun-stasiun TV memberitakannya secara positif, meskipun sebenarnya orang yang mereka gambarkan itu bertolak belakang dari apa yang mereka beritakan.

Pada hari ini mayoritas stasiun TV memusuhi kita. Adapun TV Al-Jazeera, ia memiliki kepentingan yang bertemu dengan kepentingan kita. Maka akan lebih menguntungkan jika kita tidak memujinya dan tidak memusuhinya. Meskipun terkadang TV tersebut melakukan kesalahan yang merugikan kita, namun kesalahannya terbatas. Sementara jika kita bermusuhan dengannya, niscaya beban kita akan semakin bertambah dan kita akan semakin rugi, karena TV tersebutlah yang membuat pencitraan mujahidin dalam pandangan masyarakat. Oleh karena itu, sikap yang bijak adalah hendaknya kita tidak memusuhi para penya’ir modern ini selama tidak ada kebutuhan yang mendesak.

Kesimpulannya:

Meskipun pemerintah Yaman dalam keadaan lemah dan memungkinkan untuk tumbang, namun kesempatan untuk menumbangkannya dan mendirikan pemerintah sebagai penggantinya masih menjadi peluang orang lain, bukan peluang kita.

Alasannya sederhana, karena bagi kita mustahil untuk melepaskan sedikit pun dari prinsip agama kita dan melakukan tawar-menawar dengan Amerika agar Amerika tidak menumbangkan negara baru yang tengah kita dirikan.

Sementara banyak orang berani membuat takwilan-takwilan rusak dan melepaskan sebagian ajaran pokok agama mereka dengan dalih kepentingan dakwah (Maksudnya sebagian partai Islam di Yaman siap berkompromi dengan Amerika, asalkan mendapatkan kursi kekuasaan di Yaman ,-red).

Maka saya berharap kalian bermusyawarah mengenai perkara gencatan senjata dengan pemerintah. Jika menurut kalian memang itu lebih baik, maka umumkanlah di hadapan masyarakat luas sambil menyebutkan alasan-alasan dan syarat-syaratnya. Di antaranya adalah menutup kantor-kantor intelijen dan kepolisian Amerika, mengusir seluruh aparat keamanan dan militer mereka dari Yaman, dan mereka tidak lagi boleh melanggar perbatasan dan kedaulatan Yaman.

Gencatan senjata hendaknya dilakukan dengan perantaraan para ulama’ dan pemuka kabilah supaya masyarakat tahu posisi kalian dan posisi pemerintah.

Terakhir, saya ingatkan bahwa Amerika dalam kondisi terus melemah secara drastis dan mereka secara terpaksa harus menarik pasukannya beberapa tahun ke depan atas izin Allah, lantaran banyak alasan, dan di antara faktor utamanya adalah kondisi keuangannya yang sangat lemah.

[Penutup Surat]

Sebagai penutup, sampaikan salam saya kepada para ikhwah yang bersama kalian. Saya berharap Allah membimbing kita semua ke arah apa yang diridhai dan dicintai-Nya, meluruskan pandangan kalian, meneguhkan kaki kalian dan meneguhkan kita semua di atas jalan jihad, serta menganugerahkan kepada kita kemenangan melawan orang-orang kafir. Semoga kami dapat berkumpul dengan kalian dalam waktu dekat dengan izin Allah.

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau. Dan akhir dari seruan kami adalah segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

(adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...