Menguak Konsep STIFIn dan Kaitannya dengan Carl Jung

10,753

JAKARTA (Arrahmah.com) – Konsep STIFIn diciptakan oleh Farid Poniman bermula ketika ia mengikuti tes MBTI (Myer Briggs Type Indicator) pada tahun 1989. Saat itu, Farid masih bekerja di PT. Procter & Gambler (P&G) Indonesia.

Dari hasil tes, diketahui bahwa ia bertipe INTJ. Kemudian tahun 1995, Farid mengikuti tes yang kedua kali dengan hasil tes yang berubah, ENTP.

Menurutnya, dengan menggunakan tes MBTI selain harus mengingat-ingat tentang tipe yang cukup banyak (16 tipe), juga peluang untuk hasilnya berubah-ubah sangatlah besar.

Demikian juga dengan tes-tes berbasis Fenotip lainnya.

Dari situ terpikirkanlah olehnya untuk membangun alat tes yang lebih sederhana namun jitu. Apalagi jika kemudian hasilnya stabil dan tidak berubah-ubah.

Tes Sidik Jari STIFIn.

Tahun 1999, beliau bersama dua orang kawannya yang kini menjadi tokoh terkemuka di Indonesia, Indrawan Nugroho dan Jamil Azzaini, mendirikan perusahaan bernama Kubik Leadership yang kini menjadi Top 10 Training & Consultancy Provider terbaik di Indonesia.

Sebelumnya, Kubik adalah agensi periklanan. Mereka memulai dengan menulis buku dan menyusun modul pelatihan yang berbasiskan kepada karakter personaliti pesertanya.

Konsep inilah yang lalu diberi nama STIFIn.

Di Kubik inilah awal mula dari proses risetnya untuk membuktikan konsep dan pemikirannya tentang STIFIn.

Setiap sebelum sesi pertama training Kubik dimulai, peserta training diminta mengisi kuesioner untuk disimpulkan jenis personalitinya.

Sesi-sesi berikutnya sudah merupakan proses koreksi dan afirmasi terhadap Konsep STIFIn yang dibenturkan dengan apa yang dirasakan oleh peserta.

Pada buku best seller karya pertamanya yang berjudul Kubik Leadership konsep kepribadiannya masih bernama STIF, tanpa In (tipe Insting).

Kesadaran menemukan keberadaan kepribadian Insting itu datang dari hasil observasinya khususnya terhadap istrinya yang memiliki kepribadian ternyata bukan termasuk di antara S-T-I-F.

Sejak itulah kemudian konsep pemikirannya dianggap sudah utuh menjadi STIFIn tanpa memerlukan penyempurnaan lagi.

Memang kemudian masih banyak yang skeptis, jangan-jangan nanti masih ada tambahan lagi sehingga tidak layak lagi bernama STIFIn.

Maka hingga buku tersebut diterbitkan, Farid menegaskan bahwa konsep Lima Mesin Kecerdasan dan Sembilan Personaliti STIFIn dianggap telah final.

Di balik proses risetnya itu, Farid disebut telah melakukan riset juga di Malaysia.

Ia mengumpulkan teori-teori yang membangun teori STIFIn yang merupakan gabungan dari tiga teori, yaitu:

Teori Fungsi Dasar S-T-I-F dari C.G. Jung (1875-1959), teori belahan otak atau The Whole Brain Concept dari Ned Hermann, teori Triune Brain dari Paul MacLean (1976).

Farid Poniman (2009) telah menyimpulkan bahwa fungsi dasar S-T-I-F jika dikaitkan dengan teori Ned Hermann tentang kuadran otak, maka keempat fungsi dasar tersebut adalah merupakan ciri-ciri kepribadian yang tetap yang bersumber dari belahan otak (jenis kecerdasan) dan paling kerap digunakan.

Terdapat juga beberapa teori yang turut dijadikan rujukan dalam pembentukan personaliti STIFIn, yaitu The 4MAT Sistem Belajar yang dikembangkan oleh Bernice McCarthy merujuk kepada empat jenis siklus Kolb:

Divergens (mengapa?), Assimilators (apa?), Convergens (bagaimana?) dan Accommodators (Bagaimana?).

Model lain yang turut mempunyai kaitan secara tidak langsung ialah VARK (visual, auditory, reading, kinaesthetic) dan perluasan teori Myers-Briggs (MBTI).

Jika dilihat pada teori C.G. Jung dan Myers-Briggs tanpa memasukkan orientasi introvert dan ekstrovert, hasilnya akan sama dengan Model HBDI.

Lalu bagaimana dengan teori untuk kecerdasan kelima pada STIFIn yaitu tipe Insting (In)?

Farid merujuk pada teori Triune Brain Paul MacLean di mana ada reptilian brain.

Lebih lanjut menjelaskan, kecerdasan kelima ini terletak pada fungsi Hindbrain atau Otak Tengah (cerebellum, medulla, midbrain, pons, dan brain stem [kompilasi dari pemikiran Luria A.R. 1970. The Functional Organization of the Brain]).

Dari perjalanan panjang mengkompilasi teori-teori tersebut, sudahlah final teori STIFIn.

Ada lima belahan otak dengan paket fungsi otak masing-masing yang kelak akan mempengaruhi tindak-tanduk manusia sesuai fungsi-fungsi otak yang paling mempengaruhinya dan kesemuanya setara.

Menurut Farid, masing-masing tunduk pada konsep “Sunnatullah”, di mana ada kelebihan sekaligus kelemahan masing-masing.

Bagaimana dengan Personaliti Genetik (adanya introvert dan ekstrovert, red)?

Farid mengobservasi kedua anaknya yang bernama Nabila dan Himma.

Keduanya sama-sama Sensing, namun Nabila memiliki personaliti genetik Sensing ekstrovert (Se) dan Himma Sensing introvert (Si).

Dalam hal menjalankan peran mereka misalnya, Nabila yang Se masih mau tetap berdagang dan cenderung tidak fokus ke satu peran.

Ia selalu menangkap peluang.

Sedangkan Himma yang Si cenderung lebih fokus ke satu peran.

Dari kejadian tersebut Farid menemukan bahwa di setiap belahan otak, memiliki orientasi atau cara kemudi (drive) yang berbeda.

Yang satu berorientasi dari dalam ke luar, terstimuli dari dalam ke luar, yang ini lebih bisa fokus, introvert.

Yang satu berorientasi dari luar ke dalam, menerima stimuli dari luar yang kemudian mengemudikan dirinya untuk lebih mudah terpengaruh dan terbuka pada respon luar, yang ini lebih mudah tergoda fokusnya, ekstrovert.

Farid berteori, jika dilihat secara genetik, orientasi introvert-ekstrovert ini ternyata berasal dari cara kerja lapisan putih dan lapisan kelabu pada otak.

Jika lapisan putihnya lebih aktif, maka introvert.

Jika lapisan kelabunya lebih aktif, maka ekstrovert.

Kedua lapisan ini ditemukan pada otak limbik dan neokortek, sedangkan pada otak tengah tidak.

Maka, masing-masing S-T-I-F menjadi dua kepribadian genetik (Si, Se, Ti, Te, Ii, Ie, Fi, Fe) sedangkan tipe In berlaku sebagai Mesin Kecerdasan sekaligus Personaliti Genetik.

Itulah mengapa jumlah Personaliti Genetik adalah sembilan.

Belakangan dalam sebuah video, Farid juga menyebut bahwa alasan Nabi Muhammad SAW menikahi 9 istri juga karena berdasarkan personality genetic ini.

Basis Teori STIFIN

Terdapat tiga terori yang menjadi dasar pijakan konsep STIFIn, masing-masing:

  1. Teori Fungsi Dasar dari perintis psikologi analitik berkebangsaan Swiss bernama Carl Gustav Jung yang mengatakan bahwa terdapat empat fungsi dasar manusia yakni fungsi pengindraan (sensing), fungsi berpikir (thinking), fungsi merasa (feeling), dan fungsi intuisi (intuition). Dari empat fungsi dasar itu, hanya salah satu di antaranya ada yang dominan.
  2. Teori Belahan Otak dari seorang neurosaintis Ned Hermann yang membagi otak menjadi empat kuadran yakni limbik kiri dan kanan, serta cerebral kiri dan kanan.
  3. Teori Strata Otak Triune (tiga kepala menyatu) dari neurosaintis lain yang berkebangsaan Amerika, Paul MacLean yang membagi otak manusia berdasarkan hasil evolusinya: otak insani, mamalia, dan reptilia.
Gambar 1. Basis teori STIFIN

Dari tiga teori di atas, Farid Poniman kemudian membagi tipe kepribadian berdasarkan konsep StifiN menjadi 9 macam yaitu:

  1. Sensing introvert
  2. Sensing extrovert
  3. Thinking introvert
  4. Thinking extrovert
  5. Intuiting introvert
  6. Intuiting extrovert
  7. Feeling introvert
  8. Feeling extrovert
  9. Instinct

Meski terlihat gabungan dari tiga teori, namun jika diamati secara seksama, pembagian kepribadian model STIFIN sangat terpengaruh oleh tipe psikologis Carl Jung yang mengkategorikan orang ke dalam fungsi psikologis mereka.

Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa ada berbagai sikap dan fungsi kesadaran.

Sikap dan fungsi beroperasi sebagai pasangan yang berlawanan (pairs of opposite).

Jung mengatur empat fungsi ini menjadi dua pasang yang bertolak belakang.

  1. Dimensi memahami informasi dari luar : Sensing (S) Intuition (N)
  2. Dimensi menarik kesimpulan & keputusan : Thinking (T) Feeling (F)

Jung meyakini bahwa fungsi mana yang mendominasi kesadaran (misalnya, Thinking), kebalikannya (misalnya, Feeling) akan ditekan, dan oleh karena itu akan cenderung menjadi ciri fungsi bawah sadar.

Gambar. Fungsi Kesadaran dalam Tipe Psikologi Jung. Disajikan secara berlawanan (pairs of opposites)

Menurut Jung, kepribadian manusia tidak hanya dipengaruhi masa 5 tahun pertamanya, namun juga pengalaman para leluhurnya yang diwariskan.

Pengalaman leluhur yang diwariskan ini kemudian dikenal dengan istilah ketidaksadaran kolektif.

Teori Empat Elemen dan Carl Jung

Teori empat elemen, yang pada awalnya dicetuskan oleh Empedocles dan dikembangkan oleh Aristoteles, mempunyai pengaruh yang sangat signifikan dalam banyak tradisi pada abad ke-20.

Sekolah spiritual berbasis alchemy, astrologi, psikologi Jung, teori personalitas Meyers-Briggs, hingga profil personalitas berbasis empat warna Luscher mengembangkan teorinya dari basis teori empat elemen tersebut, yaitu api, air, udara, tanah.

Menurut Empedocles, seorang filsuf Yunani yang tinggal di Sisilia pada abad ke-5 SM, semua materi terdiri dari empat elemen: bumi, udara, api, dan air.

Api dan udara secara lahiriah menjangkau ke atas dan ke luar, sedangkan bumi dan air menjangkau ke dalam dan ke bawah.

Dalam tulisannya, “Tetrasomia” atau “Doctrine of the Four Elements” Empedocles menggambarkan elemen-elemen ini tidak hanya sebagai manifestasi fisik atau substansi material, tetapi juga sebagai esensi spiritual.

Dia menghubungkan unsur-unsur ini dengan empat dewa dan dewi Yunani: Udara dengan Zeus, Bumi dengan Hera, Api dengan Hades, dan Air dengan Nestis.[i]

“Now hear the fourfold roots of everything: enlivening Hera, Hades, shining Zeus. And Nestis, moistening mortal springs with tears”[ii]

Filsuf Yunani berikutnya, Hippocrates, mengembangkannya dalam istilah: blood, phlegm, yellow bile, dan black bile.

Keempat cairan tubuh tersebut berhubungan dengan organ dan penyakit tertentu, juga merepresentasikan personalitas “Empat Temperamen” atau “Empat Humours”.

Filusuf dan tokoh pagan Yunani lainnya, Galen kemudian memperkenalkan empat dasar temperamen berbasis humors (cairan tubuh): Choleric (Api), Melancholic (Bumi), Sanguine (Udara), and Phlegmatic (Air).

Galen juga menulis: “Harus secara meyakinkan didemonstrasikan bahwa api, tanah, udara, dan air adalah elemen utama yang umum untuk semua hal … dan dalam bukunya On the Nature of Man, Hippocrates yang pertama menjelaskan bahwa elemen tersebut bukan hanya elemen dari semua kosmos, tetapi dia juga yang pertama menentukan kualitas dari elemen—kualitas yang dengannya satu hal bertindak terhadap yang lain dan terpengaruh.”[iii]

Galen kemudian menciptakan panduan sistematis dalam memilih obat-obatan, yang meskipun secara ilmiah tidak benar, menjadi batu fondasi untuk mengobati penyakit psikologis dan psikiatri.

Carl Jung, salah satu pendiri psikologi modern, banyak mempelajari literatur mistik dan alkemi. Konseptualisasinya tentang sensing, thinking, intuition, dan feeling sebagai empat komponen personalitas adalah turunan dari teori kuno Empedocles tentang empat elemen: Api, Air, Udara, Tanah.[iv]

Carl Jung adalah satu di antara banyak ahli teori kepribadian yang mendapat inspirasi dan bimbingan dari teori kuno seperti astrologi dan teori Empat Temperamen.

Selama ratusan tahun, ada semacam ‘tipologi’ untuk mencoba dan mengkategorikan sikap dan perilaku individu dengan perbintangan.

Astrolog Oriental menciptakan bentuk tipologi tertua; percaya bahwa ada sifat kepribadian yang relevan dengan setiap tanda dan bahwa karakter / kepribadian seseorang dapat diklasifikasikan berdasarkan elemen: udara, api, air, dan bumi.[v]

Jung pada awalnya berfokus pada polaritas antara intovert dan ekstrovert, dan mengombinasikannya dengan sensing, thinking, intuition, dan feeling untuk mengembangkan delapan tipe personalitas dasar (Sensing Introvert, Sensing Extrovert, Thinking Introver, Thinking Extrovert, Intuition Introvert, Intuition Extrovert, Feeling Introvert, Feeling Extrovert).

Empat variabel personalitas yang ada pada alat tes Meyers-Briggs (MBTI) dan turunannya (Keirsey dan DDLI) juga adalah pengembangan dari filosofi psikologi tersebut.

Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) mengembangkannya menjadi 16 tipe personalitas, yaitu:

  1. ESTJ : Extrovert, Sensing, Thinking, Judging
  2. ENTJ : Extrovert, Intuition, Thinking, Judging
  3. ESFJ : Extrovert, Sensing, Feeling, Judging
  4. ENFJ : Extrovert, Intuition, Feeling, Judging
  5. ESTP : Extrovert, Sensing, Thinking, Perceiving
  6. ENTP : Extrovert, Intuition, Thinking, Perceiving
  7. ESFP : Extrovert, Sensing, Feeling, Perceiving
  8. ENFP : Extrovert, Intuition, Feeling, Perceiving
  9. INFP : Introvert, Intuition, Feeling, Perceiving
  10. ISFP : Introvert, Sensing, Feeling, Perceiving
  11. INTP : Introvert, Intuition, Thinking, Perceiving
  12. ISTP : Introvert, Sensing, Thinking, Perceiving
  13. INFJ : Introvert, Intuition, Feeling, Judging
  14. ISFJ : Introvert, Sensing, Feeling, Judging
  15. INTJ : Introvert, Intuition, Thinking, Judging
  16. ISTJ : Introvert, Sensing, Thinking, Judging

Kebanyakan filusuf dan alkemis meyakini bahwa keempat elemen tersebut ada di dalam diri manusia dalam derajat yang bervariasi, yang mana satu elemen akan lebih dominan dibanding ketiga elemen yang lain.

Carl Jung sendiri mengaitkan 4 temperamen klasik (dan, khususnya, unsur-unsur astrologi) dengan konsep 4 tipe.[vi]

Perbandingan antara teori-teori Yunani klasik dengan Carl Jung

Empedocles Jung Galen Plato Paracelsus[vii]
Api Intuitive Choleric Imagination Salamander
Bumi Sensation Melancholic Demonstration Gnome
Udara Thinking Sanguine Intelligence Sylph
Air Feeling Phlegmatic Opinion Nymph

Kesamaan antara Teori Jung dengan teori Empat Elemen dan Zodiac

Jung Empedocles Galen Zodiac
Feeling Air Phlegmatic Cancer, Scorpio and Pisces
Keterangan: Sensitif dan emosional, keluarga dan hubungan adalah yang paling penting.

Seseorang yang fungsi utamanya adalah perasaan (air) membuat keputusan yang tidak rasional, subyektif  berdasarkan pada nilai-nilai, apa yang benar dan apa yang salah. Bagaimana keputusan tersebut akan mempengaruhi mereka? Bagaimana keputusan tersebut akan mempengaruhi orang lain?

Jung: “Mereka hanya bertanya pada diri sendiri apakah suatu hal terasa menyenangkan atau tidak menyenangkan, dan menyesuaikan diri dengan kesan perasaan mereka.”

Jung Empedocles Galen Zodiac
Intuiting Api Choleric Aries, Leo, Sagittarius
Keterangan: Berpikir ke depan dan visioner. Guru yang baik, promotor, aktivis dan advokat. Kreatif, energi fisik tinggi.

Seseorang yang fungsi utamanya adalah api mempercayai informasi non-rasional yang dikumpulkan melalui imajinasi, wawasan, dan firasat.

Orang ini merasakan situasi dengan cara global. Mereka secara intuitif melihat ke masa depan, pada kemungkinan, dan pada “gambaran besar.”

Jung: “intuitif … menyerahkan diri sepenuhnya kepada iming-iming kemungkinan, dan meninggalkan setiap situasi di mana tidak ada kemungkinan lebih lanjut yang bisa dicium.” Dalam Tavistock Lecture-nya Jung, ia mengakui bahwa ini adalah jenis yang paling sulit untuk dipahami dan dijelaskan. Ini adalah tipe orang yang bisa “melihat setiap sudut.”

Jung Empedocles Galen Zodiac
Thinking Udara Sanguine Gemini, Libra, Aquarius
Keterangan: Berpikir abstrak, komunikasi dan bahasa. Sangat sosial dan membutuhkan banyak stimulasi intelektual, budaya dan sosial.

Seseorang yang fungsi utamanya berpikir (udara) membuat keputusan yang rasional dan obyektif berdasarkan pada logika yang keras, dingin, logis dan berdasarkan hubungan yang logis.

Jung: mereka “berorientasi pada apa yang mereka pikirkan, dan tidak bisa beradaptasi dengan situasi yang tidak bisa mereka mengerti secara intelektual.”

Jung Empedocles Galen Zodiac
Sensing Bumi Melancholic Taurus, Virgo and Capricorn
Keterangan: Orang dengan karakter Bumi dikenal karena kepraktisan dan akal sehat mereka. Kemampuan organisasional dan kemampuan untuk bermanifestasi di dunia material atau bekerja dengan dunia materi. Pemikir konkret dan urut. Sangat sensual.

Seseorang yang fungsi utamanya adalah sensasi (bumi) mempercayai informasi yang rasional dan obyektif yang praktis, dan dapat diamati dan dikumpulkan secara langsung melalui panca indera.

Jung: “orang yang membatasi diri pada persepsi sederhana tentang realitas konkret.”

Uniknya, kesamaan konsep ini bukanlah suatu kebetulan.

Teori empat elemen dasar juga dipakai dalam pembagian kepribadian oleh STIFIn dan diakui sebagai unsur alam semesta dalam mesin kecerdasan STIFIn.

Gambar 3. Unsur Alam Semesta dalam Mesin Kecerdasan STIFIN[viii]
Pada sebuah artikel berjudul “Unsur Alam Semesta Mesin Kecerdasan” digambarkan bahwa kelima jari tangan manusia sangat terkait dengan unsur alam semesta.

Kepribadian Sensing memiliki unsur Tanah, kepribadian Thinking memiliki unsur Besi, kepribadian Intuiting memiliki unsur Kayu, kepribadian Feeling memiliki unsur Api dan kepribadian Insting memiliki unsur Air.

STIFIn juga dengan tanpa ragu menyebut bahwa modelnya memiliki keselarasan dengan teori lama sebagaimana dijelaskan sebagai berikut:

Gambar 5. Keselarasan STIFIN dengan teori lama[ix]

Teori Sirkulasi STIFIN [x]

Dalam konsep STIFIn terdapat  pola hubungan antar kecerdasan yang tergambar dalam hubungan segilima sesuai dengan Teori Sirkulasi STIFIn. Konsep sirkulasi dalam STIFIN diterapkan dalam perjodohan, partner bisnis, tim kerja, keluarga, dan sosial.

Menurut STIFIn, lima mesin kecerdasan membentuk sebuah mata rantai segilima mengikuti jari-jari tangan kanan yang dimulai dari ibu jari hingga kelingking.

Bukan mengikuti urutan akronim STIFIn melainkan menggunakan urutan akronim STInIF (sesuai posisi jari tangan), sebagai sebuah aliran sirkulasi yang saling mendukung.

  • Tipe S yang rajin mendukung tipe T yang sistematis.
  • Tipe T yang terarah mendukung tipe In yang mengalir.
  • Tipe In yang cepat tanggap mendukung tipe I yang banyak ide.
  • Tipe I yang konseptor mendukung tipe F yang visioner.
  • Tipe F yang pandai memberi semangat mendukung tipe S yang tahan banting.
Gambar 7. Teori Sirkulasi STIFIN

Selain hubungan saling mendukung, lima MK juga dapat membentuk hubungan bintang lima sudut yang hubungannya saling menaklukkan.

Masih memakai pola jari tangan kanan dengan melompati satu mesin kecerdasan:

  • Tipe S yang berstamina mengalahkan tipe In yang nanggung.
  • Tipe In yang responsif mengalahkan tipe F yang banyak omong.
  • Tipe F yang empatik mengalahkan tipe T yang formal berjarak.
  • Tipe T yang memiliki kekuatan arah mengalahkan tipe I yang telalu banyak alternatif.
  • Tipe I yang kreatif mengalahkan tipe S yang peniru.

Dengan mengetahui hubungan saling mendukung dan hubungan saling mengalahkan, konsep STIFIn membuat peta hubungan sosial: ideal atau tidak.

Misalnya, suami tipe T memiliki istri S. Apakah ini hubungan rumah tangga yang ideal?

Berdasarkan hubungan segi lima tadi, S mendukung T, sehingga hubungan suami istri ini bisa dikatakan bagus.

Sebaliknya apa yang terjadi jika seorang pria T beristrikan wanita F?

Berdasarkan pola saling menaklukkan, sang istri yang F akan menaklukkan suaminya, jadi bisa dikatakan ini hubungan tidak ideal.

Bagaimanapun, suamilah yang seharusnya menaklukkan atau didukung, bukan sebaliknya.

Gambar 8. Memilih Jodoh dengan teori sirkulasi STIFIN

Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai pelatihan-pelatihan yang mereka adakan, konsep STIFIn mengklaim bahwa metode pelatihannya adalah karpet merah untuk menuju kesuksesan.

Dengan mengikuti tes sidik jari, atau kadang hanya dengan mengisi kuesioner, kepribadian kita ditentukan oleh para trainer dan mentor.

Kemudian, jalan hidup kita ke depan, baik itu berupa karir, perjodohan, memilih jurusan saat kuliah, metode belajar, cara menghafal Al-Quran, cara investasi dan berbisnis, apapun itu semuanya sudah “disediakan jalannya” oleh STIFIn.

Tak heran, jika para penggelut STIFIn menyebut bahwa konsep mereka adalah ‘way of life’. (Fajar Shadiq/arrahmah.com)

 

End Notes:

[i]Frag. B6 (Sextus Empiricus, Against the Mathematicians, x, 315)

[ii]Peter Kingsley, dalam Ancient Philosophy, Mystery, and Magic: Empedocles and Pythagorean Tradition (Oxford University Press, 1995).

[iii] https://thezodiac.com/soul/elements/cornerstones.htm

[iv] https://carljungdepthpsychologysite.blog/2018/03/15/carl-jung-on-the-synthesis-of-the-four-elements/#.W7cJMXszaUk

[v]‘Describe and Evaluate Carl Jung’s Theory Concerning Personality Types. (2016, Nov 01).

[vi]Carl Jung, Psychological Types, 1921, hal 510-511, 531-532

[vii] Astrolog dan ahli okultisme dari Swiss pada abad ke-16

[viii] https://konsepstifin.com/unsur-alam-semesta-mesin-kecerdasan/

[ix] File presentasi STIFIN untuk para promotor “WSLP day2.pdf”, h. 12

[x] Dalam file berjudul “2. PERSONALITI GENETIK HR” slide no. 13

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.