Oleh: Ustadz Fuad Al Hazimi
( Majelis Syariah Jama’ah Anshorut Tauhid )

(Arrahmah.com) – Ikhwah fillah rohimakumulloh, Tulisan ini hanya sebuah introspeksi sekaligus koreksi atas kondisi real (waqi’) harakah Islam di Indonesia. Mohon maaf saya tidak bisa menambahkan penjelasan panjang lebar karena aslinya tulisan ini adalah makalah presentasi untuk kajian. Semoga bermanfaat ..

***

Menguak Fakta Di Kalangan Aktifis Jihady Di Indonesia

  1. Sibuk mengkafirkan antar sesama harakah.

  2. Masing-masing pihak merasa paling jihady.

  3. Menganggap yang di luar kelompoknya adalah salah, ahlul bid’ah bahkan anshorut thoghut atau antek kuffar.

  4. Kita tidak sadar bahwa kita sedang diadu domba dan musuh-musuh Islam sedang bertepuk tangan menyaksikan programnya sukses.

Contoh Kasus Seputar Masalah Takfir Dan Demokrasi

  1. Terjadi diskusi yang tidak ada habisnya tentang status Anshorut Thoghut : Apakah Kafir secara umum (Aam) atau per individu ( Mu’ayyan).

  2. Masalah Demokrasi apakah masalah khofiyyah ataukah zhohiroh.

  3. Masalah jihad fardy apakah sudah saatnya atau belum.

Contoh Solusi Alternatif

  1. Takfir adalah bentuk perlawanan terhadap thoghut sehingga seharusnya kita mencukupkan dulu pada titik-titik persamaan setidaknya untuk menghemat energy dan potensi untuk kemudian merumuskan bentuk perlawanan apa yang mungkin dan paling maksimal yang dapat kita lakukan secara bersama berdasarkan persamaan yang ada tanpa menghilangkan prinsip-prinsip pokok tauhid.

  2.  Bukankah dengan takfir secara umum pun sebenarnya perlawanan itu sudah harus dimulai tanpa harus menunggu rincian status masing-masing individu?

  3. Lalu mengapa kita malah sibuk debat tanpa ujung pangkal padahal kita sudah sepakat tentang kekufuran Anshorut Thoghut dan wajibnya melakukan perlawanan?

  4. Mengapa tidak segera kita rumuskan saja apa bentuk perlawanan yang bisa kita lakukan bersama?

Sebab-Sebab Kemenangan Umat Islam

Allah Azza Wa Jalla Berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ 

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.  (QS Al Anfal 45 – 46)

Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah Rahimahulloh berkata :

“Di sini, Alloh memerintahkan lima hal kepada para mujahidin. Tidaklah kelima hal ini terkumpul dalam tubuh sebuah kelompok melainkan kelompok itu pasti menang, walau pun jumlahnya sedikit dan jumlah musuhnya banyak :

  1. Istiqomah dan tsabat.

  2. Banyak berdzikir (mengingat) menyebut nama Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala.

  3. Mentaati Alloh dan mentaati Rosul-Nya.

  4. Persatuan kalimat dan tidak saling berbantah-bantahan, karena itu akan menghantarkan kepada kegentaran dan kelemahan. Berbantah-bantahan ini adalah tentara yang bisa menguatkan musuh dari orang yang saling berbantah-bantahan untuk mengalahkan mereka. Karena dengan bersatu, suatu pasukan seperti seikat anak panah yang tidak seorang pun mampu mematahkannya. Jika anak panah itu dipisah-pisah, musuh akan bisa mematahkannya.

  5. Yang merupakan kunci, pilar dan penopang keempat hal di atas, yaitu: Sabar.

Inilah lima hal yang menjadi dasar terbangunnya kemenangan. Ketika kelima hal ini –atau sebagiannya— hilang, kemenangan pun akan hilang sebanding dengan berkurangnya sebagian darinya. Jika semuanya terkumpul, satu sama lain akan saling menguatkan, sehingga pasukan tersebut akan melahirkan pengaruh yang besar dalam meraih kemenangan. 

Ketika kelima hal ini terkumpul dalam diri para shahabat, tidak ada satu pun bangsa di dunia yang mampu menandingi mereka. Mereka taklukkan dunia dan seluruh rakyat serta negeri tunduk kepada mereka. Tatkala generasi sepeninggal mereka berpecah belah dan melemah, terjadilah apa yang terjadi, la haula wa la quwwata illa billaahil ‘Aliyyi ‘l ‘Adzim; tiada daya dan kekuatan melainkan (dengan) pertolongan Alloh yang Mahatinggi lagi Maha Agung.

(Al Furusiyyah hal 506)

Wallohu Azza Wa Jalla A’lam..

 (samirmusa/arrahmah.com)

Topik: , ,