Berita Dunia Islam Terdepan

Mengindonesiakan Islam?

1.344

Support Us

(Arrahmah.com) – Sekte Agama Nusantara semakin vulgar mendistorsi Islam dengan wacana menyesatkan. Namun sadar sekte baru ini tidak akan laku, pendukung Agama Nusantara menyebut sektenya dengan istilah “islam nusantara” yang anti Arab.

Dalam sebuah video yang viral, dedengkot Agama Nusantara mengatakan: “Islam Nusantara adalah Islam sejati, bukan seperti Islam Arab yang abal-abal”.

Ucapan ini senada dengan logika sesat syiah, “Karbala lebih baik dari Ka’bah di Mekah”.

Aqidah Agama Nusantara adalah sinkretisme syiah dan komunis. Sedang ibadahnya fluralisme, yang meyakini semua agama sama benarnya. Di antara ciri ajarannya, meneriakkan pancasila dan nyanyikan Ya Lal Wathan ketika sa’i antara bukit shafa dan marwa di Makah. Selain itu mereka menciptakan senam Agama Nusantara alias senam agama nusantara yang meniru gerakan ibadah shalat, dengan diiringi musik dangdut.

Para pengikut Agama Nusantara suka mengejek Alqur’an dan Nabi Saw. “Al-Qur’an bukan kitab suci dan nabi Muhammad bukan orang suci,” ucap mereka lancang.

Dengan keyakinan seperti itu maka mereka bersahabat dengan orang kafir dan bermusuhan dengan orang Islam yang berbeda dengan sekte Agama Nusantara. Contohnya, mereka berteman dengan zionis Yahudi tapi memusuhi bangsa Palestina.

Tokoh Agama Nusantara menuduh jenggot orang Islam sebagai pertanda goblok, dan lebih senang shalat bersama setan daripada merapatkan barisan dalam shaf shalat.

Misi utama sekte Agama Nusantara, sesungguhnya sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan NKRI. Yaitu, “mengindonesiakan Islam, bukan mengIslamkan Indonesia.”

Di zaman Nabi Shallallahu “Alaihi Wassalam tidak ada orang yang berfikir, “mengarabkan Islam, bukan mengIslamkan Arab”.

Sebab akal sehat berfungsi, bila hal ini terjadi, niscaya semangat perubahan untuk perbaikan yang dibawa Islam akan takluk dihadapan budaya Arab jahiliyah.

Begitulah, bila misi “mengindonesiakan Islam” dipropagandakan maknanya melestarikan korupsi yang sudah membudaya di Indonesia. Tanpa Islam sama artinya dengan melestarikan kemusyrikan, membangkitkan animisme, komunisme, penolakan syariat Islam, serta segala kemungkaran yang sudah membudaya dinegeri ini.

Inikah yang diinginkan SEKTE ANUS ?

Na’udzubillahi min dzalik!

Jogja 15/7/2018
Irfan S. Awwas

(ameera/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah