Berita Dunia Islam Terdepan

Mengenal Perjuangan Srikandi-srikandi Islam Naggroe Aceh Darussalam yang gagah berani

820

Support Us

Oleh Herry Nurdi

(Arrahmah.com) – Sangat banyak perempuan-perempuan perkasa di Nusantara, tapi jika pada bagian ini saya menulis hanya sedikit dari perempuan perkasa Aceh, bukan berarti tidak memberi tempat pada yang lain. Alasannya hanyalah keterbatasan saya sebagai penulis yang tertatih-tatih mengumpulkan sumber dan dana untuk dikisahkan ulang.

Dari sekian banyak Srikandi Aceh yang mampu saya kisahkan pun hanya sebagian kecil saja. Satu nama yang akan mengawali kisah ini adalah Ratu Niharsiyah Rawangsa Khadiyu.

Setelah ayahanda beliau Sultan Zainul Abidin Malikud Dhahir yang memerintah Kerajaan Islam Samudera Pasai pada tahun 1350-1394 wafat, putri beliau diangkat sebagai seorang Sultanah, bergelar Malikah Niharsiyah Rawangsa Khadiyu yang memerintah Samudera Pasai mulai dari tahun 1400 sehingga 1428.

Waktu yang cukup singkat, tapi beliau berhasil membangun Samudera Pasai pada tahap yang mengagumkan sebagai Sultanah pertama di dalam sejarah kesultanan muslim di Nusantara.

Sejarah kepemimpinan Sultanah kelak disambung oleh empat Sultanah lain yang memimpin Aceh, mulai dari Sultanah Sofiatuddin yang memimpin Kerajaan Islam Aceh Darussalam pada tahun 1641 hingga 1675 dengan gelar Sri Ratu Tajul Alam Sofiatuddin. Di bawah kepemimpinannya, hukum tegak dengan setegak-tegaknya di Aceh Darussalam.

Kepemimpinan beliau kelak digantikan oleh Ratu Nurul Alam Naqiyatuddin, seorang putri yang sebenarnya tidak memiliki ikatan darah dengan Sultanah Sofiatuddin. Tapi sang ratu mengkader dan menyiapkan Nurul Alam Naqiyatuddin untuk menggantikannya sebagai Sultanah Aceh Darussalam mulai tahun 1675 sampai dengan 1678. Beliau meneruskan penegakan hukum yang dibangun oleh pendahulunya.

Setelah beliau wafat, sang putri yang bernama Zakiyatuddin menggantikannya sebagai Sultanah Aceh Darussalam yang memimpin Aceh sejak tahun 1678 sampai 1688. Beliau bergelar Ratu Zakiyatuddin Inayat Syah.

Pada masa kepemimpinan beliau, datang utusan dari Mekkah, syarif Mekkah sendiri sampai telapak kakinya ke Aceh Darussalam sebagai bentuk relasi dan koneksi hubungan dua wilayah Islam ini.

Syarif Hasyim Jamalullail bukan saja datang ke Aceh, tapi beliau juga akhirnya menetap dan menjadi guru besar Islam di Aceh Darussalam. Dari nama beliau lah, salah satu yang menyebarkan garis keturunan Jamalullail di Nusantara. Sebab setelah era para Sultanah selesai, Syarif Haysim Jamalullail diangkat menjadi Sultan Aceh Darussalam.

Ada catatan sejarah, jika Sultanah Zakiyatuddin bersembang dan berbicara dengan Syarif Hasyim Jamalullail, keduanya berbincang dalam bahasa Arab yang fasih, tukar pikiran, saling belajar. Dan ini menunjukkan penguasaan bahasa Arab yang sangat tinggi dari Sultanah Zakiyatuddin.

Sultanah Sofiatuddin tidak hanya mengasuh satu orang calon pemimpin. Beliau mengkader berlapis-lapis calon pemimpin. Selain mengasuh Sultanah Naqiyatuddin beliau juga membesarkan anak perempuan lain yang beliau beri nama Kamalat. Kelak beliau menjadi Sultanah keempat dengan gelar Sultanah Ratu Kamalat Syah.

Meski memerintah tak lama, beliau menjalankan amanah menegakkan hukum dan keadilan sebaik-baiknya. Kisah yang lebih mendalam akan disusun untuk menceritakan kebesaran dan usaha menegakkan Islam oleh para Sultanah Negeri Aceh Darusslam. Semoga Allah merahmati beliau seluruhnya.

Di antara nama Sultanah-sultanah hebat itu, ada juga nama lain yang beredar di saat dan waktu yang bersamaan. Kemuliaan yang mereka bangun membuat nama negeri Aceh masyhur, dikenal di seluruh penjuru dunia, mengundang orang-orang dan armada datang ziarah. Tapi dalam sejarah dan peradaban, setiap kali harum semerbak mereka yang datang tak hanya untuk menikmati aromanya, tapi ada juga yang hendak memetik bunganya, memotong tangkainya, mencabut akarnya, bahkan menguasai tanahnya.

Laksamana Malahayati

Dan itulah yang terjadi di masa Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyidil Mukammil yang memimpin Aceh pada kurun waktu 1589 sampai dengan 1604.

Pada masa itu, dua orang pedagang dari Belanda telah sampai ke Tanah Aceh, mereka adalah dua bersaudara Cornelis de Houtman dan Frederijk de Houtman yang mendirikan sebuah loji untuk berdagang di Banda Aceh. Kapal-kapal mereka berdatangan, tidak hanya untuk berdagang tapi juga terjadi peristiwa-peristiwa pembajakan.

Seorang Lakmana Laut dari Sultan Alauddin diturunkan untuk mengatasi masalah ini. Dan beliau adalah Laksamana Laut Malahayati. Beliau diturunkan untuk mengendalikan masalah keamanan laut, tapi rupanya kapal-kapal dagang Belanda melakukan perlawanan. Maka pertempuran di lepas pantai pun tak dapat dielakkan.

Laksamana Malahayati adalah seorang istri yang ditinggal wafat suaminya. Sang suami juga seorang panglima laut, laksamana gagah perkasa yang gugur saat mempertahankan laut Aceh dan serbuan armada Portugis di Selat Malaka.

Pertempuran dengan armada dagang yang bersenjata milik Belanda itu membuat kedua belah pihak jatuh korban. Peristiwa ini menyulut kemarahan para perempuan Aceh yang suaminya gugur dalam pertempuran itu.

Mereka meminta agar Laksamana Malahayati memimpin mereka, perempuan-perempuan perkasa ini. Bahkan mereka memberi nama pasukannya dengan sebutan Armada Inong Bale.

Mereka mengejar kapal-kapal Belanda, menyerbunya di tengah lautan, mengusirnya dari laut Aceh Darussalam. Bahkan setelah Armada Inong Bale ini sampai ke darat, mereka menyerbu loji milik de Houtman bersaudara dan mengakibatkan kematian keduanya, loji pun lantak rata dengan tanah.

Setelah peristiwa ini, Sultan Alauddin Riayat bahkan memberikan kewenangan penuh kepada Laksamana Malahayati. Beliau mengangkat Laksamana Malahayati menjadi Laksamana Tertinggi Laut Aceh, membawa seluruh armada laut Aceh, dan di tengah-tengah seluruh armada itu, ada armada pasukan elit yang seluruh anggotanya adalah para perempuan Aceh yang perkasa.

Mereka adalah Armada Inong Bale yang tak mengenal gentar dalam dadanya. Laksamana Malahayati dan Armada Inong Bale memimpin benteng di Kreung Raya, atau sungai besar di Aceh. Benteng mereka tinggi dan kokoh, temboknya lebar dan besar.

Tembok benteng inilah yang menjadi saksi bisu perjuangan dan kegigihan Armada Inong Bale yang berkali-kali mempertahankan Aceh dari serbuan armada Portugis yang besar di Selat Malaka. Dan kemenangan selalu diraih oleh Laksamana Malahayati bersama Armada Inong Bale.

Sampai kemudian, Sang Laksamana menuntaskan tugas dan baktinya kepada Agama dan Negerinya, Laksamana Malahayati wafat dan dimakamkan di Benteng Kreung Raya di atas tempatnya berjuang dan mempertahankan Aceh dari penjajah. Seolah-olah beliau masih ingin berjaga, bahkan dalam kematiannya untuk memastikan tanah negeri ini aman dari penjajah.

Cut Nyak Dhien

Tokoh perempuan pejuang yang paling melekat dalam ingatan kita tentang Aceh, tentu Cut Nyak Dhien. Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Muhammad Syah beliau mengangkat seorang panglima pilih tanding bernama Teuku Cut Muhammad yang diberi gelar Panglima Nanta Setia Raja. Sang kakek sesungguhnya bukan berdarah Aceh, beliau adalah orang Minangkabau yang mula-mula turut berjuang bersama di Aceh Darussalam.

Mereka tinggal dan tumbuh di wilayah yang disebut dengan Lampadang Enam Mukim, sebuah wilayah yang melahirkan para pahlawan dan pejuang, juga para sastrawan dan penyair yang menggubah dan mendendangkan syair-syair sabil. Salah seorang penyair yang harum namanya adalah Dokarim, sesungguhnya nama panjangnya adalah Abdulkarim, tapi masyarakat memanggilnya Dokarim.

Beliau keliling kampung, ke dayah-dayah, mendendangkan syairnya tentang perlawanan rakyat Aceh dalam jihad fii sabilillah menentang kafir Belanda. Buku syairnya Perang Kompeni menjadi sebuah buku yang membimbing pertumbuhan anak-anak Aceh, khususnya di Lampadang Enam Mukim. Syair dan pantun itu pula yang kelak mendidik Cut Nyak Dhien tumbuh dewasa.

Panglima Teuku Cut Muhammad memiliki dua orang putra yang juga gagah perkasa. Putra pertamanya bernama Teuku Cut Mahmud, ayah dari Teuku Umar Johan Pahlawan. Sementara putra keduanya adalah Teuku Muda Nanta Setia punya seorang putri yang kelak kita kenal dengan nama Cut Nyak Dhien.

Jadi secara silsilah, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien adalah cucu dari kakek yang satu, seorang panglima yang memiliki anak-anak seorang panglima juga. Maka tak heran, darah johan pahlawan mengalir juga dalam tubuh dua cucunya, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien yang kelak menjadi sepasang suami istri pejuang besar Nusantara.

Bahu membahu bersama sang suami, keluar masuk hutan, naik turun gunung, menyebarangi sungai dan ngarai untuk melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda. Bahkan setelah sang suami syahid, Cut Nyak Dhien melanjutkan perjalanan gerilyanya melawan Belanda.

Belanda menghadapi peperangan di Aceh tak tanggung-tanggung, 40 tahun lamanya Belanda berperang di Aceh. Turun temurun perjuangan diwariskan, dari kakek ke anak, dari anak ke cucu, dari suami ke istri, dari kiai ke santri dan seterusnya.

Teuku Umar sebenarnya bukan suami pertama Cut Nyak Dhien, sebelumnya beliau menikah dengan seorang pejuang juga, Ibrahim Lamnga yang syahid dalam pertempuran dengan Belanda di Gle Tarum pada 1878.

Cut Nyak Dhien kemudian meneruskan perjuangan suaminya, sampai beliau menikah kembali dengan Teuku Umar yang satu kakek dengan dirinya, dan semakin berkobarlah perlawanan keduanya kepada penjajah Belanda. Dan ketika itu, usianya masih belasan tahun. Bahkan dalam sejarah tutur dikisahkan, Cut Nyak Dhien menikah dengan Ibrahim Lamnga saat usia beliau 10 tahun lebih sedikit, tak lama setelah itu beliau menjalani kehidupan jihad fii sabilillah.

Saat masih bersama suami Ibrahim Lamnga, terjadi peristiwa besar, Belanda membakar Masjid Raya Baiturrahman, dan inilah yang membuat darah Cut Nyak Dhien mendidih.

Di tengah-tengah manusia beliau berkata dengan lantangnya, “Rumah Allah telah dibakarnya. Masjid kita telah dibakar Belanda. Camkan lah, jangan lupakan! Masih adalah orang Aceh yang sudi menjadi budak Belanda?”

Maka sejak saat itu, hidupnya hanya mengenal satu kata, perjuangan. Keluarganya dibaktikan, suaminya diserahkan pada perjuangan, bahkan dirinya sendiri diwakafkan pada jalan fii sabilillah. Sejak gadisnya, sampai hari tuanya, Cut Nyak Dhien menyerahkan dirinya di jalan Allah.

Bahkan saat ditangkap Belanda, tubuhnya sudah sangat ringkih dan rentah, rambutnya kusut masai dan kedua matanya muta. Umurnya uzur, kesehatannya tak terpelihara karena senantiasa dalam perjalanan gerilya dari hutan ke hutan melawan penjajah.

Meski dengan kondisi begitu, saat ditangkap oleh tangan musuh, Cut Nyak Dhien masih meronta sekuat tenaga. Mulutnya meludah. Lidahnya mencaci kaphe-kaphe yang biadab budinya. Tangannya memukul, kakinya menendang-nendang tanda tak rela. Seluruh tubuhnya, segenap jiwanya membenci kafir-kafir Belanda yang menangkapnya.

Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien ditahan di Kota Raja, Banda Aceh. Tapi setiap hari, ribuan rakyat mendatangi tempatnya ditahan. Memanggil-manggil namanya. Menunjukkan rasa cintanya. Meneriaki Belanda dengan seluruh kebencian dan marah. Karena Belanda tak ingin semakin hari semakin besar kumpulan rakyat yang mendatangi Cut Nyak Dhien, dengan kondisinya yang sangat uzur, dengan matanya yang buta dan sebatang kara, Cut Nyak Dhien diangkut ke Jawa, dibuang ke Sumedang.

Tapi di tanah buangan itu, Cut Nyak Dhien tidak hidup sebatang kara, hidupnya tidak hina, bahkan mulia. Cut Nyak Dhien setiap hari didatangi putra dan putri bangsawan Sumedang, begitu juga dengan rakyat di sana. Untuk apa? Dari Cut Nyak Dhien mereka belajar membaca al Quran. Cut Nyak Dhien adalah seorang hafidzah, perempuan pejuang penghafal al Quran.

Di tempatnya yang baru, di tanah pembuangan Sumedang, Cut Nyak Dhien tidak berhenti berdakwah dan berjuang. Saat perang beliau mengangkat senjata, melakukan perlawanan. Saat di wilayah damai, beliau mengajar dan berdakwah, membumikan al Quran. Akhirnya beliau pada 22 September 1906, pada usianya yang ke-58 tahun, beliau menghadap kepada Dzat yang Maha Mencintai. Melaporkan diri, bahwa tenaganya, umurnya, hidup dan matinya telah dikerahkan dan diserahkan di jalan Allah Taala. Di jalan Jihad fii Sabilillah. Al Fatihah….

Teungku Fakhinah

Nama lain yang perlu diulang dalam sejarah adalah nama besar Teungku Fakhinah, seorang perempuan ulama dan pejuang, alimah sekaligus panglima Aceh Darussalam.

Namanya tak banyak disebut dalam sejarah, karenanya tak banyak ingatan yang mengenang sosok beliau, Teungku Fakhinah.

Sebelum meletus Perang Aceh, Teungku Fakhinah dan suaminya, Teungku Ahmad adalah seorang imam dan pemimpin sebuah dayah, pesantren di Aceh. Ketika Belanda menyerbu Aceh pada tahun 1873, Teungku Ahmad turut mengangkat senjata. Bersama seluruh santri dan juga istrinya. Beliau syahid dalam peristiwa tersebut, di Pantai Cermin.

Banyak laki-laki yang gugur. Perempuan-perempuan istri mereka menolak untuk berduka. Mereka mengajukan diri, meminta agar Teungku Fakhinah memimpin mereka untuk turut berjihad fi sabilillah. Maka mereka mendirikan sebuah barisan pasukan yang diberi nama Sukey Fakhinah, terdiri dari empat balang atau batalyon, dan sebagiannya adalah perempuan-perempuan perkasa.

Mereka bertempur habis-habisan, sampai mengorbankan seluruhnya, seluruh hidupnya. Hutan adalah rumah baru mereka. Gunung-gununh adalah tempat bersembunyi setelah menyerang Belanda. Rimba belantara adalah ibu yang melindungi anak-anaknya dari kejaran Belanda.

Tapi tatkala perang reda, kondisi sedikit aman untuk menarik napas lega, lihat apa yang dilakukan oleh Panglima Fakhinah. Beliau kembali ke kampung, mendirikan dayah, menjaga pesantren, mengajak anak-anak dan orang kampung membaca dan belajar al Quran bersama.

Beliau mendirikan ulang Dayah Lam Diran di kampungnya Lamkrak. Ribuan orang santrinya, lelaki dan perempuan, hanya ingin menimba ilmu kepada panglima yang sekarang menjadi guru agama.

Pada tahun 1915, Teungku Fakhinah mendapatkan kesempatan untuk pergi berhaji ke Tanah Suci, sekaligus juga belajar mengaji. Empat tahun lamanya beliau bermukim di Makkah, tak hanya belajar yang dilakukannya, tapi juga menceritakan perjuangan heroik yang dilakukan oleh rakyat Aceh Darussalam.

Setelah menimba ilmu, mengabarkan perjuangan Aceh yang luar biasa, membentuk jaringan ulama, beliau kembali ke Dayah untuk mengajar ilmu baru yang didapatkannya. Pada tahun 1918 beliau kembali ke Aceh dan menjaga dayah.

Teung Fakhinah kembali lagi ke Tanah Suci pada tahun 1925 sampai 1926, di tahun yang dengan keberangkatan Haji Omar Said Tjokroaminoto ke Tanah Suci.

Setelah kembali ke negeri Aceh, Teungku Fakhinah menghabiskan umurnya membina anak-anak Aceh dalam asuhan al Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. Sampai akhirnya beliau menutup mata, wafat pada 3 Oktober 1933 di Dayah Lam Diran, tempat terakhirnya berjuang. Teungku Fakhinah, seorang panglima, seorang ulama perempuan, seorang guru, seorang yang telah menyerahkan hidupnya di jalan Allah Taala.

Cut Meutia

Sementara gadis Aceh yang akan kami kisahkan ini adalah seorang yang jelita. Namanya diambil dari Mutiara. Tumbuh besar dalam suasana perang. Negerinya dipenuhi orang-orang kaphe yang menindas bangsanya. Perang sedang membahana di negerinya. Teriakan semboyan jihad bergema di seluruh wilayah. Laki dan perempuan tak tinggal diam berpangku tangan, mereka turun berjihad mengangkat senjata. Tak terkecuali gadis jelita kita.

Mutiara tak dapat menahan diri melihat bangsanya ditindas dan dianiaya. Putri cantik itu berada di tengah-tengah medan jihad. Nama sesungguhnya adalah Cut Meutia.

Memakai silue Aceh, celana sutra hitam Meutia pergi ke medan perang. Di tanah jihad pula dia bersua sang suami, Teuku Tjik Tunong, pemuda gagah perwira. Suami-istri yang berjihad fi sabilillah. Keduanya memimpin pasukan dengan gagah. Silih berganti mereka kadang berpidato di depan pasukannya. Giliran Cut Meutia, dengan nyari beliau menyeru.

“Kaum perempuan Aceh lebih utama melawan kaphe penjajah Belanda. Apabila kaphe Belanda berkuasa di sini, kelak akan banyak perempuan-perempuan Aceh menjadi nyai tanpa dikawini. Seluruh Aceh akan dipenuhi anak haram. Siapakah di antara kita yang menginginkan demikian?” Seru Cut Meutia pada kaumnya.

Pidato Cut Meutia ini membuat darah perempuan Aceh mendidih, panas, tak sanggup membendung diri untuk segera turun berjihad membela negeri. Perang berkecamuk di seluruh Aceh. Pimpinan tertinggi berada di komando Panglima Polem dan Tjik di Tiro. Belanda menyerang dengan kekuatan yang sangat besar, laksana banjir bandang.

Kelak serangan ini membuat wilayah pertahanan Panglima Polem jatuh dikuasai. Ibu beliau tertawan oleh Belanda, begitu juga istri beliau Teuku Lana tersandera oleh Kapten Belanda, Kapten Colijn. Dan hal ini memaksa Panglima Polem bersama 150 orang pembantu dekatnya menyerahkan diri di Lhok Seumawe.

Cut Meutia dan sang suami, juga turun meletakkan senjata, meski tak menyerah. Hampir dua tahun lamanya peperangan terhenti, sampai pada tahun 1905, Cut Meutia dan sang suami, Teuku Tjik Tunong berhasil menyerang tangsi Belanda di wilayah Meuranda Paja. Seluruh penghuni tangsi tak ada yang hidup, semua dihabisi.

Selepas penyerang ini, Teuku Tjik Tunong tertangkap oleh Van Daalen yang dieksekusi oleh 12 penembak jitu. Tapi sebelum diekskusi, Tjik Tunong berpesan kepada Cut Meutia. “Meutia, sepeninggalku nanti kawinlah dengan panglima kita, Pang Naggroe. Dengan dia lanjutkan perjuangan melawan Belanda. Putra kita Teuku Radja Sabi, jangan kau biarkan pendidikan Barat menyentuhnya. Selamat berjuang untuk agama dan tanah air kita!”

Bersama dua suaminya, Cut Meutia telah memimpin berpuluh-puluh pertempuran dengan gagah berani. Tapi pernikahan keduanya juga tak lama, Pang Nanggroe syahid di medan jihad.

Pada tahun 1910, dalam peperangan Paja Blang, Belanda berhasil mengejarnya, menembak mati Pang Naggroe. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Pang Nanggroe berteriak kepada anak tirinya, “Peulueng ladju, djakseutot ma. Lon kamate! Larilah yang kencang. Ikut ibumu. Sebab aku akan mati!”

Pada saat itu, Cut Meutia telah berusia 40. Dua suaminya telah menemui syahid fii sabilillah. Kini beliau yang memimpin peperangan melawan penjajah Belanda. Sembilan tahun Cut Meutia memimpin sendiri pasukan perangnya. Menghadapi Belanda yang terus berdatangan ke negerinya bak air bah.

Akhirnya dalam pertempuran yang hebat, tak lama setelah suaminya wafat, tepat sebulan setelah sang suami syahid, Cut Meutia menyusul pula. Perempuan perkasa ini, mengembuskan napas terakhirnya pada 24 Oktober 1910, menemui Dzat yang Maha Adil untuk memetik hasil. Semoga Allah merahmati jiwa beliau.

Pocut Baren

Pada periode perang pasca kemerdekaan, di Aceh ada sekelompok pejuang yang memberi nama pasukannya dengan sebutan Resimen Pocut Baren. Pasukan ini seluruh anggotanya adalah gadis-gadis remaja perkasa yang menentang kedatangan Belanda pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sedini itu usia mereka, tapi sekuat itu mereka ingin tanahnya tetap merdeka.

Tapi sesungguhnya, nama resimen mereka adalah nama seorang perempuan yang lebih perkasa lagi. Nama resimen mereka diambil dari seorang pahlawan perempuan Aceh, Pocut Baren yang gagah berani.

Pocut Baren adalah seorang gadis berasal dari Aceh Barat. Putri dari seorang hulubalang Aceh, Teuku Cut Amat Uleebalang Nangroe Tungkob.

Gadis ini lahir pada tahun 1880. Kelak setelah tumbuh sebagai gadis yang jelita, Pocut Baren menikah dengan Keujreun Uleebalang Geume. Dan sejak menikah, keduanya menjadi sepasang harimau Aceh yang memeprtahankan setiap jengkal tanah airnya dari penjajah.

Ketika sang suami syahid, bukan kendur perjuangan Pocut Baren. Semakin besar tenaganya, karena semangat yang membara. Gunung Mancang Nanggroe Tungkop menjadi wilayah pertahanannya. Segala serbuan Belanda dihadangnya, sampai satu ketika pecah perang sangat besar.

Pocut Baren mengamuk sekuat tenaga. Belanda menyerbu luar biasa. Kaki Pocut Baren tertembak, dan membuatnya tertawan oleh Belanda. Kaki Pocut Baren dipotong dan dia ditawan oleh Belanda.

Ketika Pocut Baren ditawan, seluruh rakyat yang dipimpinnya, semua perempuan yang biasa didampinginya, seluruh anak gadis yang selalu dididiknyan semakin keras perlawanannya. Mereka mengamuk. Mereka murka. Mereka melawan dengan seluruh kekuatan yang mereka punya untuk membebaskan Pocut Baren, pemimpin tercinta.

Pocut Baren rencananya akan dibuang ke Tanah Jawa, seperti yang dilakukan Belanda pada Cut Nyak Dhien. Tapi melihat kemarahan seluruh rakyat Aceh yang dipimpin oleh Pocut Baren, akhirnya Belanda mengalah.

Pocut Baren dikembalikan kepada rakyatnya, kembali ke kampungnya. Pocut Baren menjadi Uleebalang Tungkop, memimpin wilayahnya. Setelah memimpin wilayahnya, Pocut Baren sedikit demi sedikit berusaha membangun Tungkop yang hancur karena peperangan. Mendidik warganya untuk mendekat pada agama. Membangun negerinya untuk taat pada Allah Taala.

Pocut Baren menghadap ke rahmatullah pada tahun 1933. Kembali kepada Sang Khalik yang menciptakannya. Begitulah pemimpin, saat perang berkecamuk tak segan dia mengangkat senjata mempertarukan nyawa. Tapi saat damai masa tiba, kembali dia berdakwah, membuka al Quran, membumikan ajaran ke dalam dada sanubari manusia. Semoga Allah merahmati beliau.

Pocut Meurah Intan

Saya kenalkan Anda semua pada pocut lain yang luar biasa perjuangannya. Karena beliau berjuang bersama suami, dan seluruh anak-anaknya.

Pocut Meurah Intan, bersuamikan Tuanku Abdul Majid, memiliki tiga orang putra Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin, turun ke medan jihad saat Perang Aceh berkecamuk.

Ketika tahun 1902 Perang Aceh pecah, Tuanku Abdul Majid syahid dalam pertempuran. Di tahun yang sama, pada bulan Agustus 1902 perang berterusan dan tidak menurun ekskalasinya. Pocut Meurah Intan memimpin peperangan bersama putranya, Tuanku Nurdin bin Abdul Majid.

Ibu dan anak ini memberikan perlawanan yang sangat keras. Mati-matian mereka mempertahankan diri dari serbuan Belanda. Keduanya terkepung. Keduanya diserbu dari berbagai arah. Keduanya terluka. Keduanya tertembus peluru di tubuhnya.

Pocut Meurah Intan tertembak, berat luka-luka disekujur tubuhnya. Begitu juga Tuanku Nurdin tertembus peluru dan luka parah. Keduanya tertawan oleh Belanda.

Tertawan, tapi bukan menyerah. Tertangkap tapi bukan tanpa perlawanan. Mereka ditahan dan dibawa ke kota. Tak lama, keduanya dibuang ke Tanah Jawa. Blora menjadi tempat pembuangannya, sampai pada akhirnya keduanya menemui Rabb yang Maha Kuasa. Jauh dari tanah air yang mereka perjuangkan. Jauh dari keluarga dan handai taulan. Tapi mereka sangat dekat dan tak pernah lepas dari cita-cita perjuangan. Insya Allah….

Cutpo Fatimah

Saya akan menutup bagian ini dengan kisah yang luar biasa, terukir oleh jiwa-jiwa yang menghendaki rasa merdeka. Jiwa-jiwa yang lebih memilih berkalang tanah, bersimbah darah daripada terjajah oleh kafir durjana.

Cutpo Fatimah, satu lagi perempuan perkasa ingin sedikit saya kisahkan perjalanan hidupnya. Putri seorang ulama besar dari Aceh Darussalam, Teuku Khatim yang lebih dikenal dengan sebutan Teuku Chik Mata Ie.

Dia dibesarkan dalam agama yang mengajarkan hanya takut pada Allah semata. Cutpo Fatimah dididik dewasa dengan cara Nabi Muhammad al Musthafa, kekasih sang ayah.

Suami Cutpo Fatimah pun seorang ulama besar, Teungku di Barat. Keduanya adalah kawan, sahabat dan saudara di medan jihad bersama Pang Nanggroe dan Cut Meutia yang telah syahid mendahuluinya.

Pada 22 Februari 1912, benteng terakhir Cutpo Fatimah dan suaminya Teungku di Barat, diserbu oleh Belanda. Pasukan yang dipimpin oleh H. Behren mengerahkan pasukan tiga kali lipat lebih banyak dari pasukan yang dipimpin oleh Cutpo Fatimah dan Teungku di Barat di Gunung Panjang Lhoksukon, wilayah Aceh Utara.

Pertempuran besar terjadi, pecah dengan dahsyatnya. Sepasang suami istri berjihad bersama. Hidup bersama di jalan Allah, berjuang bersama di jalan Allah. Peluru menyambar-nyambar dari seluruh penjuru. Di tengah keadaan seperti itulah, terkepung oleh seluruh serdadu yang memburu, Teungku di Barat tertembus peluru. Beliau dikepung serdadu Belanda.

Demi melindungi tubuh suaminya, Pocut Fatimah menjadikan tubuhnya sebagai perisai. Menahan semua peluru yang tertuju pada suaminya. Dan keduanya pun terluka parah. Tapi itulah akhir yang indah bagi keduanya. Hidup bersama. Berjuang berdua dan akhirnya syahid diujung peluru para serdadu Belanda.

Cutpo Fatimah ingin wafat bersama sang suami. Kulitnya menyentuh kulit suaminya. Tubuhnya berdekapan dengan tubuh suaminya. Dan darahnya, bertemu serta mengalir bersama darah suaminya. Sungguh kematian yang indah di jalan jihad fii sabilillah.

Inilah kisah, perempuan-perempuan sejati yang telah berjihad fii sabilillah.

Sebuah kisah yang semoga menjadi teladan, bahwa perempuan-perempuan Nusantara, Aceh khususnya adalah perempuan-perempuan mujahidah yang tak pernah sayang keringatnya, tenaganya, bahkan darah dan nyawanya mengalir untuk kemerdekaan bangsanya. Dan semua itu, lahir dari dan bersumber dari ajaran agama yang dicintainya.

Dengan segala kerendahan hati saya memohon kepada seluruh pembaca untuk bersama-sama membaca ummul kitab, semoga Allah merahmati beliau semua, dan juga merahmati kita yang hidup setelahnya. Al fatihah…*)

(ameera/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah