Berita Dunia Islam Terdepan

Manhaj Qoth’i Ini (Qital) dan Usaha Musuh Memandulkannya

0 7

Jakarta (Arrahmah.Com) – Berikut ini adalah pesan terakhir dari salah seorang ikhwan mujahidin sebelum beliau tertangkap. Pesan yang padat tentang Pemahaman Ilmiyah Tabi’at Dien ini dan Tentang Bagaimana Seharusnya Kita Memposisikan Diri. Sungguh Allah akan memberi petunjuk  kepada orang-orang yang berjihad di jalanNya, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”  (Q.S. Al-Ankabut : 69).

Setiap makhluk memiliki Alam kehidupannya, Air adalah kehidupan bagi ikan, udara adalah kehidupan bagi burung. Begitu juga Iman mempunyai alamnya sendiri yang bernama perjuangan Islam, ikan tak akan sanggup bertahan lama di daratan, begitulah jika jiwa ini hidup di alam yang jauh dari perjuangan, maka ketahuilah dia sedang dalam proses menuju kematian imannya. Karena Iman tak sanggup bertahan lama di alam yang “santai” gersang dari perjuangan dan dari unsur-unsur yang ada di dalam perjuangan itu.

Karena itu, jiwa yang sehat dengan iman, tidak akan duduk diam melihat Dien dan keyakinannya tertindas, dia akan bangkit dengan segala daya kemampuan. Itulah ummat Islam yang mulia, memiliki Ghiroh yang mudah bangkit, memiliki kehidupan yang bergerak. Memiliki Izzah yang bersumber Iman. Ummat yang tak diam melihat Diennya dihina dan syari’atnya dicampakkan. Ummat yang bangkit melawan segala penindasan terhadap Dien dan saudara seimannya.

Banyak komentar terhadap kondisi kaum muslimin, banyak yang menafsirkan kata “bagai buih yang terombang-ambing dilautan”, banyak pengajian kecil hingga seminar tentang “membangun kemuliaan Islam” atau “kepemimpinan Islam” itu artinya ada sebuah keinginan dari kaum muslimin untuk memperjuangkan kedaulatan Islam diatas bumi sebagaimana dulu pernah wujud.

Tak bisa dipungkiri bahwa keinginan itu tidaklah tanpa halangan, perjuangan ini tentu mempunyai musuh yang tak akan pernah diam, musuh ini, baik dari yahudi, penyembah salib sampai penyembah hawa nafsu tak akan pernah membiarkan cita-cita ini terwujud, maka langkah apapun akan mereka tempuh untuk menekan perjuangan ini, dengan segenap kesanggupan yang mereka miliki.


“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.”
(QS al-Baqarah [2]: 217)

Sejarah mencatat setelah runtuhnya kekuasaan Islam (Khilafah) berbagai usaha dilakukan, dan setiap usaha selalu mendapat berbagai tekanan dan penindasan, dari yang kasar sampai yang halus. Pernah terjadi beberapa konfrontasi bersenjata melawan kolonial di berbagai tempat, kita juga mendengar Ikhwanul Muslimin yang dipimpin Hasan Al-Banna diberangus oleh rezim (Thaghut) mesir pada saat itu. Di Indonesia misalnya di aceh ada Hikayat Perang sabil, ada DI/TII yang dipimpin oleh Kartoswiryo yang berhasil menerapkan hukum Islam dan mendirikan Daulah Islam pertama di muka bumi sejak runtuhnya Khilafah, itupun diberangus oleh Thaghut setempat yang bekerjasama dengan Belanda, ada juga kelompok yang dipimpin Kahar Muzakkar di Sulawesi, di Sumatra ada Daud Beureuh, dan banyak lagi kelompok-kelompok perlawanan lain.

Ummat Islam terus melakukan usaha-usaha tersebut, dan itu akan terus berlanjut, dan akan silih berganti dari generasi ke generasi sampai hari kiamat, karena ini adalah janji Rasulullah “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

Ummat Islam memiliki Manhaj perjuanagan yang jelas, mereka punya dasar yang pasti, Al-Qur’an dan Sunnah. Ummat Islam hari ini sudah memiliki ribuan referensi penafsiran Al-Qur’an dan Hadits dari kitab-kitab Salaf (Ulama’ terdahulu). Sebenarnya Ummat hari ini sudah memiliki manhaj perjuangan yang Qoth’i dan disepakati dari itu semua. Namun sebagian besar ummat ini malas untuk membuka kembali kepastian itu, mereka lebih suka membuat yang baru. Entah apa sebabnya, mungkin karena mereka anggap itu tidak kreatif dan inovatif, mereka menganggap itu hanya dilakukan oleh orang-orang kolot.

Untuk menegakkan Dien Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hadid : 25)

Kata “Al-Hadid” (besi) di dalam ayat tersebut jika kita rujuk ke kitab-kitab tafsir maka itu bermakna “As-Silah” (Senjata). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkomentar tentang ayat ini: “Dien yang haq harus ada di dalamnya kitab yang memberikan petunjuk dan pedang yang menolong. Sebagaimana Firman Allah : “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti – bukti yang nyata dan Kami telah menurunkan bersama mereka al Kitab dan Neraca ( keadilan ) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan bermanfaat bagi manusia dan supaya allah mengetahui siapa yang menolong (agama)NYA and Rasul – rasul-NYA padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. Al-Kitab menerangkan perintah dan larangan Allah, sedangkan pedang menolong al Kitab dan mendukungnya. Telah tegas berdasar alKitab dan As Sunnah perintah untuk membai’at Abu Bakar. Orang – orang yang membai’at Abu Bakar adalah para ahli pedang (mujahidin) yang ta’at kepada Allah. Maka khilafah nubuwwah di sematkan kepada Abu Bakar dengan Al Kitab dan Besi” (Minhaju Sunnah An Nabawiyah Fi Naqdhi Kalami Syi’ah Al Qodariyah 1/531-532, tahqiq, Dr. Muhammad Rasyad Salim).

Maka jelas disini bahwa Allah memberi kita jalan atau Manhaj yang bisa kita gunakan untuk menegakkan Dien ini, Yaitu dengan Al-Qur’an yang memberi petunjuk dan Pedang yang menolong. Sungguh hakikat ini tak kan pernah lapuk dimakan waktu, hakikat yang tak pernah berubah, hanya aksesorisnya saja yang berubah.

Perang sebuah kewajiban…

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. al-Baqarah (2) : 216)


Sebuah kewajiban, sekalipun engkau sendiri..!

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya).” (QS. Al-Nisa’: 84)

Ini adalah nash yang menunjukkan bahwasanya jihad akan tetap berlanjut meskipun oleh seorang secara sendirian. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, “maknanya janganlah kamu meninggalkan jihad melawan musuh dan melawan mereka demi menolong kaum mukmin yang tertindas, sekalipun kamu hanya sendirian karena Allah telah memberi janji beliau dengan kemenangan.”

Imam Al-Zujaj berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk berjihad sekalipun ia berperang sendirian karena Allah telah menjamin beliau akan meraih kemenangan.”

Imam Ibnu ‘Athiyah berkata, “Inilah makna dzahir lafal ayat, hanya saja tidak ada satu haditspun yang menunjukkan bahwa jihad wajib atas beliau saja dan tidak wajib atas umatnya untuk suatu masa tertentu. Makna ayat ini, wallahu a’lam, bahwasanya khithab ayat ini secara lafal ditujukan kepada beliau. Ini seperti perkataan yang ditujukan kepada perorangan. Artinya, kamu wahai Muhammad dan setiap orang dari umatmu, katakan kepadanya, “berperanglah di jalan Allah, engkau tidak dibebani kecuali atas dirimu sendiri.”

Karena itu sudah sewajarnya bagi setiap mukmin untuk berperang walaupun sendirian. Ini ditunjukkan juga antara lain oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Demi Allah, aku akan tetap memerangi mereka meski tinggal leherku saja (bahasa kiasan untuk mati).” Juga perkataan Abu Bakar radliyallah ‘anhu saat terjadi peristiwa kemurtadan penduduk Arab, “Seandainya tangan kananku menyelisihiku, aku akan tetap berjihad melawan mereka dengan tangan kiriku.”

Memerangi mereka hingga mereka tunduk dubawah kekuasaan Islam…

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29).


Sampai lenyapnya kekuasaan kesyirikan dari muka bumi…

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” [QS. Al Anfal :39].

Mayoritas ulama tafsir menafsirkan “fitnah” dalam ayat-ayat di atas dengan kemusyrikan dan kekafiran. Maka, makna ayat-ayat di atas adalah “perangilah mereka sampai tidak ada kekafiran dan kesyirikan.” (Dan termasuk kesyirikan adalah kekuasaan pemerintahan yang mengganti Syari’at Allah dengan undang-undang buatan.)


Inilah Manhaj ummat Islam yang Muhkam (jelas maksudnya)…

Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat ” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.” (QS. Muhammad (47) : 20)

Jadi omong kosong jika menegakkan Dien ini hanya dengan Dakwah, Dzikr dan Tarbiyah, Syaikh Abdullah Azzam pernah berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang beranggapan bahwa agama Allah akan jaya tanpa jihad dan perang, tanpa tetesan darah dan luka-luka tubuh, mereka adalah para pemimpin yang tidak tahu tabiat agama ini. Jihad adalah tulang punggung dakwah kalian, benteng agama kalian dan perisai syari’at kalian…”

Ya, tulang punggung dakwah, benteng agama, prisai syari’at, inilah Jihad yang ma’na syar’inya adalah Qital (Perang). Namun seiring berjalannya waktu, musuh ummat ini mengerti bahwa Jihad dengan ma’na yang sebenarnya ini bisa mengancam eksistensi mereka, strategi-strategi musuh pun semakin canggih, kini mereka berusaha keras untuk menjauhkan ummat Islam dari Jihad dan ma’na yang sesungguhnya, mereka ingin perjuangan kita penuh “kompromi” dan “damai”, mereka tidak ingin ada benteng yang melindungi Islam dan syari’atnya, mereka ingin mengatur ummat ini tanpa ada perlawanan, Strategi ini terus digencarkan dengan berbagai cara hingga sedikit saja yang memahaminya, kebanyakan tertipu, sebagian menganggap peperangan itu luka masa lalu dan memilih berdamai dengan kebatilan dan memerangi mujahidin yang mereka anggap telah membuka luka masa lalu, merusak perdamaian dan ketentraman.

Ada lagi yang menganggap jihad kita hari ini adalah perbaikan pribadi dan akhlak ummat, mereka lebih memilih untuk diam tak ikut campur dalam perseteruan ini, yang lain merasa kondisi telah berubah perlu adanya manhaj yang lebih modern, yaitu “manhaj kompromi” sebagai tafsiran ma’na Jihad atau lebih tepatnya mereka telah mengganti ma’na Jihad, sebagian lagi menolak mengganti ma’na jihad namun mereka mengatakan perlu adanya strategi yang “lebih cantik” atau “lebih cerdas” dalam menghadapi musuh yang sangat kuat ini, bahkan ada yang mengatakan “kita (ummat islam hari ini) dalam kondisi kalah, dari dulu kita sibuk melawan sehingga energi kita habis dan tidak sempat membangun kekuatan diri, maka akui saja kekalahan kita dan sekarang saatnya membangun kekuatan ekonomi, teknologi dsb kita bersaing dengan mereka disegala bidang, jika kita yang unggul nanti mereka takut juga dan akhirnya ikut kita.” Dan banyak lagi komentar-komentar yang intinya mengatakan belum saatnya kita berperang, padahal syari’at telah lengkap dan kewajiban telah tertumpu di pundak setiap muslim!


“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.”
(QS. an-Nisa’ (4) : 77)

Jika kita ingin membagi ummat dalam persoalan ini maka musuh akan memandang kita sebagai berikut :

Sebagaimana Syetan yang menghalangi manusia dari kebenaran seperti yang disebutkan oleh Ibnu Qoyyim, beliau mengatakan –yang kurang lebih maknanya—:“Syetan tak pernah berhenti dan tak gampang putus asa mengintai orang mukmin dan menduduki jalan yang dilaluinya menuju Alloh, ia memasang beberapa perangkap dan tali jebakan untuknya, ia tidak akan menggunakan perangkap yang lebih mudah kecuali sudah tidak berhasil dengan perangkap yang lebih sulit. Mula-mula ia pasang jebakan kesyirikan dan kekufuran; kalau orang mukmin itu selamat dari perangkap ini, ia pasang jerat perbuatan bid‘ah; jika orang mukmin itu berhasil melewatinya, ia telah siapkan jaring dosa-dosa besar; jika orang mukmin itu masih juga berhasil melangkahinya, ia siapkan jerat dosa-dosa kecil; kalau masih juga selamat, ia akan sibukkan dia dengan perkara-perkara halal (mubah); jika sudah tidak mampu lagi menjeratnya, syetan mengintai dan menyamarkan penghalang itu menjadi berupa ibadah-ibadah mafdhuulah (non prioritas), lalu syetanpun menyibukkannya dengan ibadah tersebut, memperindah dalam pandangan matanya, menghiashias serta memperlihatkan keutamaan dan keuntungan yang terdapat dalam ibadah tersebut untuk memalingkannya dari ibadah yang lebih afdhol (utama), yang lebih besar hasil dan keuntungannya.

Karena, ketika syetan tidak berhasil merugikan seorang mukmin dari pokok pahala, ia akan berusaha keras untuk –paling tidak— mengurangi kesempurnaan, keutamaan dan tingkatan-tingkatan tinggi yang bisa dicapainya, maka syetanpun menyibuk-kannya dengan perbuatan yang diridhoi Alloh dengan memalingkannya dari perbuatan yang lebih diridhoi Alloh, seperti menyibukkannya dengan aktifitas menuntut ilmu yang hukumnya fardhu kifayah dengan memalingkannya dari jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, atau menghiasi amalan jihad berupa dakwah padahal pintu berjihad dengan pedang terbuka di hadapan para petempurnya.”

Begitulah cara musuh menghalangi Ummat ini dari kemuliaan. Mereka berusaha membuat kaum ini murtad, jika tidak sanggup maka mereka akan padamkan semangat juang yang ada di dalam diri ummat, jika tidak sanggup juga, maka mereka berusaha keras agar perjuangan ummat ini dapat mereka control, mereka akan berusaha menjauhkan ummat ini dari sikap keras terhadap mereka, mereka berusaha menghapus aqidah wala’ wal baro’, dan menjauhkan ummat ini dari Jihad dan senjata.

Setelah usaha-usaha mereka dalam pemurtadan dan menghapus semangat juang dari diri ummat ini, kini mereka berusaha menjauhkan ummat ini dari Jihad dan mujahidin, mereka berusaha keras agar sebagian besar ummat ini memusuhi atau minimal tidak ikut andil dalam membantu jihad dan mujahidin.

Kepada orang awwam akan disebarkan pemahaman bahwa para Mujahid itu adalah teroris, perusak ketentraman, dimunculkanlah “kiyai-kyai” yang berpengaruh untuk menyebarkan agama yang rusak, sebagian lagi ditakut-takuti oleh Thaghut dan media masa akan resiko-resiko yang akan menimpa mereka jika mereka membantu mujahidin. Media masa berperan aktif dalam mempengaruhi orang-orang awwam ini untuk memberikan loyalitas mereka pada Thaghut dalam pemberantasan “terorisme” yang artinya pemberantasan mujahidin yang artinya juga memberantas jihad yang merupakan benteng Islam dan Syari’atnya.

Kepada orang Sufi mereka hanya menghidupkan hadits-hadits palsu yang mengajak mereka meninggalkan jihad dan berkonsentrasi pada perbaikan pribadi, dzikir dsb. Sedangkan kepada salafi mereka akan menampilkan fatwa-fatwa ulama’ulama’ Suu’ kerajaan Sa’udi, atau masyayikh-masyayikh mereka, yang intinya para mujahidin itu adalah kelompok yang bermadzhab khowarij, mereka mengatakan mujahidin sebagai Bughat (pemberontak) terhadap pemerintah yang sah, sehingga para mujahidin tersebut wajib diperangi, dan barang siapa yang menemui mereka wajib melaporkannya kepada “yang berwajib” mereka mengatakan pemimpin-pemimpin Negara Kafir sebagai ulil amri, sebagian mengatakan bahwa mereka tidak boleh diperangi karena masih muslim dan mendirikan Shalat. Ulama’-ulama’ Mujahidin telah banyak menulis buku yang menyingkap syubhat-syubhat yang mereka dengungkan, ada buku-bukunya syaikh abu Muhammad al maqdisi, Syaikh abdul Qadir bin Abdul Aziz, Syaikh Aiman Azh-Zhowahiri, Syaikh abu mun’im mushthafa halimah (abu basyir), untuk Indonesia silahkan download e-book nya di: http://www.oocities.com/finafaan/buku_Tauhid/ download “indonesia_sayang.DOC” dan “indonesia_2.DOC” insya Allah itu bisa menjawab persoalan-persoalan syar’I nya.

Dan kepada orang-orang Haroki (pergerakan) yang beraliran “politik islam modern” yang kebanyakan dari mereka adalah “orang-orang terpelajar”, musuh “menjinakkan” mereka dengan “teori-teori konspirasi” dalam persoalan Waqi’nya, sedangkan dalam persoalan syar’inya mereka juga terkena syubhat dari fatwa ulama’-ulama’ kerajaan sa’udi. Kita bisa lihat berapa banyak aktivis mereka yang enggan berjihad hanya karena takut terperangkap konspirasi musuh, bahkan mereka tidak segan-segan menuduh para mujahidin sebagai antek Amerika, sebagian mengatakan para mujahid itu ditunggangi, dipancing dsb. Sebagian lagi mengatakan para mujahidin itu diperalat saja, mereka (mujahidin) itu dibiarkan melakukan Amaliyah-amaliyah jihadnya yang nantinya akan dijadikan alat justifikasi untuk kepentingan politik musuh.

Ya, begitulah… Konon anjing akan berhenti mengejar dan berpaling jika kita mengambil posisi duduk seperti hendak mengambil batu, entah kenapa, namun ini beberapakali terbukti, bahkan saya baca di http://hidayatnurwahid.blogdetik.com/ca … tang-saya/, mantan ketua MPR tersebut mengaku telah berhasil menggunakan teknik ini. “karena anjing berpikir kita hendak mengambil batu dan menghajarnya dengan batu, jadi jangan coba-coba gunakan trik itu pada anjing gila karena dia tidak berpikir” jawab salah seorang teman ketika saya tanya, sambil tersenyum saya menarik kesimpulan “jadi anjing yang berpikir bisa ditipu, sedangkan yang tak berpikir malah ga bisa ditipu”, ya, karena manusia mengerti apa yang dipikirkan anjing dan memanfaatkan pikiran untuk menghindari serangannya tanpa harus mengeluarkan tenaga, dan manusia pun menang tanpa luka, bahkan tanpa perlawanan.

Ya, musuh tau cara berpikir para aktivis ini, mereka paling benci tertipu karena mereka orang-orang terdidik, bahkan mereka lebih takut tertipu daripada menjadi orang yang absen dari Jihad atau menjadi orang yang bermudahanah dengan thaghut dan kekafiran. Di Indonesia, mereka pernah melihat pengalaman KOMJI sehingga mereka tak ingin masuk kedalam lobang yang sama, namun “trauma” ini dimanfaatkan oleh musuh sebagai alat untuk menjauhkan mereka dari Jihad dan mujahidin.

Seorang teman yang penah bertemu salah satu anggota intel Indonesia, dia menyarankan agar saya menjauh dari orang-orang dan gerakan-gerakan yang mendukung jihad, dia menceritakan kepada saya tentang pengalamannya bersama intel tersebut, si intel mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan terorisme dan gerakan-gerakan islam yang mendukung jihad semua itu dikendalikan oleh intelejen. Lalu saya tanya, kenapa dia cerita begitu, “ya, dia menasehati kita, supaya kita tidak ikut-ikutan kegiatan seperti itu”, saya tersenyum mendengar jawaban yang jujur tersebut “betul, mereka tidak ingin pemuda kita terjun berjihad!”

Di sebuah dauroh salah satu gerakan mahasiswa yang mengundang intelejen Indonesia sebagai salah satu pembicaranya, si intel bercerita tentang campur tangan intel pada peristiwa KOMJI, dan mengatakan “jadi hati-hati dengan orang-orang yang bersemangat membicarakan jihad, karena kemungkinan itu adalah jebakan dan permainan intelejen” kemudian dia juga mengatakan bahwa Usamah bin Laden itu agen CIA, dia berbicara seolah sedang membongkar rahasia instansinya sehingga membuat para pemuda seolah mendapat informasi yang valid yang tidak semua orang tahu. Karena memang biasanya para aktivis ini tidak mudah percaya dengan pernyataan-pernyataan polisi atau politisi di media, tapi begitu diberikan “bocoran” seperti ini mereka percaya, dan parahnya hal ini dipahami dan digunakan oleh musuh untuk memandulkan mereka.

Ironis memang, mereka tertipu karena takut tertipu, mereka dibodohi karena keinginan mereka bermain “cerdas” dan “cantik”, sehingga musuhpun tak perlu bersusah payah, mereka ditaklukkan tanpa perlawanan, musuh cukup menggunakan senjata “kecerdasan” lawan mereka.

Ada sebuah kisah (namun saya kurang ingat kisah lengkapnya), Pernah disebuah kekaisaran yang dipimpin oleh seorang ratu yang memiliki keahlian membaca bahasa tubuh lawan bicaranya, sehingga dia mampu mendeteksi kebohongan lawan bicaranya. Bagi masyarakat di sana gerhana adalah persoalan sangat penting (saya tidak tahu apa penyebabnya), Suatu hari ada kebingungan apakah hari itu gerhana akan terjadi atau tidak dan ratu berkewajiban mengumumkannya, maka ratu mengutus seorang utusan untuk bertanya kepada seorang yang dianggap mampu memprediksi terjadinya gerhana (setahu saya dia dianggap keturunan dewa) , setelah dia “meneliti” maka dia mengetahui bahwa gerhana akan terjadi, namun orang ini menginginkan kejatuhan ratu, dan dia telah mempelajari keahlian ratu dalam membaca bahasa tubuh, maka dia mengutus seorang pelayannya, sebelum diutus dia mengatakan pada pelayannya: “sebenarnya gerhana tidak akan terjadi, tapi katakanlah pada ratu, gerhana akan terjadi” maka pelayan tadi menghadap pada ratu dan mengatakan “gerhana akan terjadi” namun dengan kecerdasannya, ratu membaca bahwa orang ini berbohong, maka ratu mengumumkan bahwa “gerhana tidak akan terjadi”, pelayan tadi pulang dengan rasa bersalah atas kegagalannya, singkat cerita gerhana benar-benar terjadi dan runtuhlah kekuasaan sang ratu. Begitulah peramal tadi mampu menggunakan “kecerdasan” lawannya sebagai senjata ampuh.

Sebagian dari golongan “haroki” ini tak mendapatkan cara untuk “berjihad” akhirnya ikut berdemokrasi ria dan mengatakan “ini darurat, tak ada cara lain, jangan cuma bisa melarang, kasi solusi dong!” dan ketika disodorkan solusi Jihad (Qital) mereka sambut dengan berbagai perhitungan dan ketidakmungkinan. Sebagian yang lain menjadi kelompok yang berdemonstrasi di mana-mana untuk menyebarkan pemahaman kepemimpinan Islam, dengan harapan mendapat thalabun nushroh, mereka terhalang dari jihad karna banyak syubhat termasuk diantaranya perkataan mereka “tiada jihad tanpa khilafah” dan juga teori konspirasi, semoga Allah memberi hidayah kepada mereka semua sehingga mau bergabung dengan mujahidin dan menjadi pendukung mujahidin disetiap tempat.

Maka tinggallah golongan Jihadi, mereka yang benar-benar serius memperjuangkan kalimatullah, rela mengorbankan jiwanya untuk tegaknya Dien Allah, mereka memanggul senjata melawan musuh, tak peduli dengan apa yang dikatakan orang terhadap mereka, kematian dijalan Allah adalah cita-cita mereka, kelompok inilah yang terus melawan Thaghut tanpa henti, ketika mereka lemah, mereka tidak berputus asa, bahkan mereka segera berpikir bagaimana cara berperangnya orang-orang lemah, bagaimana cara menyerang kekuatan yang sedang berkuasa, mereka inilah yang menjaga eksistensi Jihad dimuka bumi, sedangkan kematian Jihad adalah kematian Dien, dan berhentinya Jihad samadengan berhentinya peradaban ummat ini.

Bagi musuh, kelompok ini adalah ancaman terbesar, karena mereka “bandel” dan tidak rela berdiam atau berkompromi dalam hal prinsip, sehingga susah dikontrol, mereka memegang teguh prinsip-prinsip dien ini, maka dengan segala cara mereka berusaha diasingkan dari masyarakat, dipenjarakan, dan dibunuh. Jika ada beberapa kasus Mujahid “terperangkap” dan “tertipu” seperti kasus KOMJI maka sungguh mereka yang berjihad dengan Ikhlas tetap tidak menjadi orang-orang yang merugi, bahkan mereka beruntung mendapatkan karunia yang besar disisi Rabbnya, berbeda dengan orang-orang yang tertipu syetan dan berpaling dari Jihad hanya karena takut tertipu.

Ada seorang Istri mengatakan pada suaminya yang enggan berjihad karena dia menganggap ada konspirasi dibalik jihad yang sedang berjalan di negrinya padahal itu hanya dugaan saja, sang istri berkata “apa salahnya, yang penting abi berjihad, kalau terbunuh juga syahid kan …” ya, tidak ada ruginya bagi orang-orang yang berjihad, tidak ada kata kalah diatas kebenaran. Ketika Imam Ahmad Rohima-hullôh mengalami ujian sewaktu terjadi fitnah menyebarnya keyakinan Al-Quran adalah makhluk, dan keyakinan ini sempat mendominasi kaum muslimin karena adanya dukungan kekuatan penguasa, seorang pemuka ajaran bid‘ah bernama Ahmad bin Abî Du’ad datang kepada Imam Ahmad, dengan puas ia berkata, “Tidakkah kamu melihat, bagaimana kebatilan bisa menang di atas kebenaran, hai Ahmad?”

Imam Ahmad Rahimahulloh menjawab, “Sesungguhnya kebatilan tidak menang di atas kebenaran; dominasi kebatilan atas kebenaran adalah berpindahnya hati manusia dari perkara yang benar menuju perkara yang batil, sementara hati kami tetap memegang yang benar.”

Mujahidin memang mengevaluasi diri mereka agar tidak tertipu, namun bukan berarti merubah manhaj, mereka meningkatkan Amniyah dan strategi, mujahidin tak segan-segan menerapkan hukum Islam bagi para penyusup dan pengkhianat, sehingga musuh akan banyak berpikir untuk menyusup ke barisan mujahidin karena resiko penyusup di barisan mujahidin adalah sembelih!, Dan Alhamdulillah mereka selalu mendapat cara dan strategi jitu untuk memukul musuh-musuhnya, Allah mencerdaskan mereka, memberi mereka petunjuk “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-‘Ankabut (29) : 69)

Jika ada kasus mujahidin dimanfaatkan oleh para musuh sebagai alat untuk kemenangan atau keselamatan politik dan konflik diantara mereka, maka sesungguhnya itu termasuk dari Makar Allah yang sedang berjalan, dan makar Allah adalah sebaik baik makar. Jihad Afghan adalah salah satu contoh, jihad Afghan hidup diantara perseteruan (perang dingin) antara blok timur dan barat, Allah menakdirkan Amerika (blok barat) pada saat itu berusaha memanfaatkan jihad afghan untuk menghancurkan kekuasaan rivalnya Unisoviet, namun jihad yang penuh berkah ini bukanlah suatu pergerakan kemerdekaan biasa, jihad Afghan yang berhasil mengumpulkan ummat dari seluruh pelosok negri, yang masing-masing membawa semangat yang sama, semangat yang selama ini redup, berkumpul di satu tempat menyatukan kekuatan yang besar dan menjadi satu momen berkumpul, tukar pikiran, keahlian, pengalaman dan perencanaan jangka panjang kedepan bagi kemuliaan islam, Afghan menjadi tempat “musyawarah” yang berbentuk amaliyah dengan semangat yang mengguncangkan seluruh thaghut yang ada. Suatu hal yang tak pernah terpikir sebelumnya oleh amerika, namun Yahudi mencium aroma kebangkitan ini, yahudi menasehati Amerika “Kalian sedang membiarkan kebangkitan singa yang akan menerkam kalian”. Itulah jihad Afghan pembentuk bibit-bibit fase Jihad global.

Terlalu banyak berkah dan hikmah yang dapat kita ambil dari Jihad Afghan, namun ummat banyak melupakannya. Jihad Afghan mengajarkan pada kita tentang keteguhan melaksanakan Kewajiban ini sekalipun ada indikasi kita dimanfaatkan oleh musuh untuk kepentingan politik mereka, justru seharusnya kita berpikir bagaimana agar kita bisa memanfaatkan kelengahan mereka yang sedang berkonsentrasi pada masalah-masalah mereka, kita manfaatkan “kecerdasan” mereka ketika mereka membiarkan kita dalam amaliyah Jihadiyah yang mereka anggap tidak akan membahayakan mereka, atau justru mereka anggap bisa menguntungkan mereka, kita manfaatkan itu untuk memukul mereka hingga tersungkur, sebagaimana kondisi Amerika hari ini yang telah mengalami luka besar dan memalukan setelah kekalahan mereka diberbagai tempat, di Afgan, Iraq, Somalia, dan peristiwa bersejarah 11/9 yang meruntuhkan kesombongan dan membuka mata dunia akan kelemahan mereka dan kebohongan dongeng-dongeng ala “rambo” mereka, inilah Makar Allah yang tak mereka sadari. Sungguh benar Allah yang berfirman: “Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.” (QS. ar-Ra’d (13) : 42)

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali Imran (3) : 54)

Dan firmanNYa: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS. al-Anfal (8) : 29-30).

Ya, kuncinya Taqwa, Taat pada segala perintah dan larangan-Nya, termasuk perintah berperang dan memerangi Thaghut, maka Allah akan memberi kita “Furqon” sehingga kita sanggup membedakan mana yang baik dan buruk, mana jalan yang cerdas dan mana jalan yang bodoh dan tertipu, kemudian di ayat selanjutnya Allah menjelaskan bahwa bagaimanapun usaha makar musuh tidak akan sanggup mengalahkan makar Allah yang Dia perjalankan melalui apa dan siapa saja yang Dia kehendaki.

Saudaraku, “Perang adalah tipu daya” begitu kata Rasulullah, maka wajar jika peperangan sarat dengan intelejen, strategi, makar dsb. Karena itu tak perlu takut dan lari dari Jihad (Qital) hanya karena kita melihat ada permainan intelejen, sungguh para mujahidin hari ini di seluruh tempat termasuk di indonesia juga sedang beradu strategi dan intelejen dengan musuh-musuhnya.

Kepada kalian yang meremehkan kemampuan Mujahidin, dan silau dengan teknologi dan intelejen Amerika dan sekutunya, sadarlah bahwa mujahidin bersama Allah sedangkan Thagut Amerika dan sekutunya hanyalah makhluk kecil yang pengecut dan bodoh.

Ketahuilah, bahwa mujahidin hari ini sudah menjalankan strategi-strategi yang jitu dalam Amniyah dan amaliyah-amaliyahnya, mereka juga berpolitik Syar’I, karena kekuatan politik mereka adalah Jihad Fi Sabilillah yang tidak bergantung dibawah siapapun kecuali kepada Allah, tidak kepada PBB atau thaghut manapun. Hari ini mereka berhasil mendirikan Daulah Islam yang menerapkan hukum Islam secara sempurna juga bisa mengatur dan memenuhi segala keperluan masyarakatnya, di Iraq, di Afghanistan (Thaliban), di Somalia (Asy-Syabab) dan di Cechnya. Maka saya ingin bertanya pada kalian yang enggan menggunakan Manhaj Jihad (Qital) dalam menegakkan Syari’at dan kepemimpinan Islam, adakah kesuksesan seperti ini telah kalian capai dengan Manhaj “kompromi” kalian? Dan sungguh hal itu tidak akan kalian capai kecuali kalian kembali mengangkat pedang sebagaimana yang Rasulullah lakukan, menjadikan Jihad (Qital) sebagai jalan perjuangan dan kekuatan politik kalian.

Mantan Amir Daulah Asy-Syahid(kama nahsabuh) Abu Umar Al-Quraisyi Al-Husaini Al-Baghdadi (penggantinya sekarang: Syaikh Mujahid Abu Bakar Al Baghdadi Al Husainiy Al Qurasyiy) mengatakan:

“Sudah empat puluh tahun berlalu, namun tidak ada yang diingat pada diri mujahidin, selain keburukan, celaan dan cemoohan. Dan aku rubah semua dunia agar berharap sebuah kejutan, keterangan dan penjelasan para pemimpinnya. Semua ini tidak lain kecuali dengan kemuliaan jihad, bukan melalui solusi damai, dan juga bukan dengan bergabung kepada parlemen, juga bukan dengan pertemuan-pertemuan pembelot bersama para penguasa negara-negara Arab.”

Dan sungguh benar, tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad melainkan akan hina. Arti sebaliknya adalah tidaklah suatu kaum yang berpegang teguh dengan jihad kecuali akan mulia. Realitanya, Tidaklah para mujahidin berkata kecuali pasti didengar. Dan jika mereka mengancam maka manusia akan takut. Dan jika mereka melakukan ishlah (kebaikan) mereka ditaati.

INILAH POSISI POLITIK KITA PADA HARI INI!!!

Oleh karena itu dunia tidak akan menghormati kecuali orang-orang yang memiliki kaki-kaki yang tegap. Beliau juga mengatakan tentang eksisnya Daulah Islam Iraq:

Akan tetap eksis!

Karena dibangun diatas cercahan daging para syuhada’ dan disirami dengan darah mereka dan dengannya diikatkan ditiang surga.

Akan tetap eksis!

Karena adanya bimbingan Allah dalam Jihad ini, lebih jelas dari sinar matahari di atas langit

Akan tetap eksis!

Karena tidak tercampur dengan barang yang haram, atau manhaj yang rusak.

Akan tetap eksis!

Dengan kejujuran para pemimpinnya yang mengorbankan darah mereka dan dengan kejujuran para tentaranya yang ditegakkan dengan keberanian mereka.

Kami mengira demikian, sedanhkan perhitungannya di sisi Allah

Akan tetap eksis!

Karena menjadi kesatuan mujahidin dan tempat pertolongan bagi orang-orang yang lemah.

Akan tetap eksis!

Karena Islam mulai tinggi dan terus meninggi,mendung mulai tersingkap dan kekafiran mulai runtuh dan jatuh.

Akan tetap eksis!

Karena adanya do’a-do’a orang yang terzhalimi, tangisan wanita-wanita yang anaknya meninggal, teriakan para tawanan dan harapan anak yatim.

Akan tetap eksis!



Karena semua kekafiran dengan berbagai jenis dan tempat telah berkumpul melawan kami, semua penyeru bid’ah, khurafat dan pengecut mulai mencela dan menikam Daulah, sehingga Daulah yakin dengan kebenaran tujuan dan keselamatan jalannya.

Akan tetap eksis!

Karena kami yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan hati orang-orang bertauhid yang lemah dan tidak akan melegakan kaum zhalim dengan bencana yang ditimpakan kami.

Akan tetap eksis!



Karena Allah ta’ala menjanjikan di dalam ayat muhkamatnya yang berbunyi: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.” (An-Nur: 55), “Dan Allah memenangkan urusan-Nya,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. Yusuf:21)

Maka wahai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama! Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa mushibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama-sama mereka”.

Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: “Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)”.

Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang dijalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaithan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah.

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (QS. an-Nisa’ (4) :71- 77)

Dan saya ingin menutup tulisan ini dengan Perkataan Asy-Syahid ( kama nahsabuh) Abu Mush’ab Az-zarqowi:

“Adapun Anda semua, wahai ulama kami, kalian telah bermudahanah (kompromi) dengan thoghut, kalian telah serahkan negeri dan rakyat kepada bangsa yahudi dan salibis serta para anteknya dari kalangan penguasa kami yang murtad, di saat kalian mendiamkan kejahatan mereka, di saat kalian tidak berani terang-terangan mengatakan kebenaran di hadapan mereka, di saat kalian tidak mampu mengangkat panji jihad dan tauhid yang Alloh bebankan kepada kalian, di hari ketika kalian matikan ghiroh (kecemburuan) dan kemarahan karena agama Alloh yang berkobar di hati para pemuda, kalian larang mereka untuk berangkat ke medan-medan tempur sehingga medan-medan itu kosong dari singa-singa, kecuali mereka yang dirahmati Alloh. Hampir tidak Anda jumpai seorang ulamapun yang bisa kami mintai fatwa di tengah-tengah kami.”

Wahai hamba-hamba Alloh ! Benar, hampir tidak Anda jumpai seorang ulama pun yang bisa dimintai fatwa di tengah-tengah kami, tidak ada pula seorang penuntut ilmu yang bisa kita jadikan tauladan, tidak ada komandan yang berjiwa pendidik (robbani) yang membimbing kami mengarungi luasnya samudera. Sungguh, kalian telah sia-siakan kami di tengah kondisi yang sangat kritis, kalian telah serahkan kami kepada musuh kami, kalian biarkan kami berhadapan dengan musuh kami, kalian telah lalaikan hadits Nabi ‘Alaihis Sholatu was Salam riwayat Abu Dawud, beliau bersabda: “Tidaklah seseorang menyia-nyiakan (tidak membantu) orang muslim ketika dalam posisi harga dirinya dilecehkan dan kehormatannya dirampas, kecuali Allohpun tidak akan membantunya ketika ia dalam posisi berharap sekali Alloh menolongnya.”

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...