Madrasah Ramadhan

175

(Arrahmah.com) – Ramadhan itu madrasah untuk menjadikan kita lebih baik. Karenanya, di antara ciri orang yang sukses dan lulus dari madrasah Ramadhan adalah mereka yang tampak perubahan positif dan perbaikan dari sisi akidah, ibadah, dan akhlak.

Muslimah yang masih belum berhijab atau menutup aurat dengan sempurna sebelum Ramadhan, kemudian pada saat Ramadhan dan seterusnya ia menutup aurat dengan sempurna, maka itu salah satu keberhasilan madrasah Ramadhan pada dirinya.

Kaum muslimin yang sebelumnya hanya mampir ke masjid sepekan sekali, kemudian menjadi setiap hari, bahkan setiap waktu shalat, itupun salah satu keberhasilan madrasah Ramadhan.

Dan beragam contoh lain dalam kehidupan.

Maka, apabila ternyata kehadiran Ramadhan, atau bahkan setelah melalui 30 hari Ramadhan belum ada perubahan positif dalam diri kita, kita mesti merenung dalam-dalam, karena khawatirnya kita berada dalam kegagalan. Dan siapa yang gagal meraih maghfirah di bulan Ramadhan, maka ia tidak akan mendapat maghfirah di bulan-bulan selainnya.

Mulai sekarang, mumpung Ramadhan baru berjalan sepertiganya, mulailah mengevaluasi diri, akal, pikiran, dan perasaan. Apakah syariat sudah mendominasi diri kita atau justru kita masih dikendalikan oleh syahwat dan hawa nafsu, sehingga jiwa kita sulit untuk tergerak ke arah yang positif?

Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang setelah Ramadhan berakhir masih tetap bertahan dalam kegelapan. Ibadah tidak bertambah kualitas maupun kuantitasnya; Aurat masih dibiarkan terbuka bebas; Langkah kaki terasa berat ke masjid; Lisan masih terlalu kasar, bahkan kepada istri dan anak-anak sendiri; Pikiran dipenuhi prasangka buruk terhadap sesama muslim; Hati dipenuhi penyakit yang membuat kita selalu menolak kebenaran dan mencari-cari pembenaran; Hidup masih memilah-milah aturan dan syariat, sebagian kita terima sebagian kita tolak. Syariat yang enak bagmu, engkau terima, sedangkan syariat yang memberatkan, engkau tolak.

Riba dilarang, tapi karena dianggap menguntungkan, maka engkau tetap mengamalkannya. Poligami disyariatkan, tapi karena kau anggap itu menyakitkan, maka engkau tolak dan kau anggap bukan bagian dari Islam.

Maka, apabila di penghujung Ramadhan ternyata sifat-sifat buruk tersebut masih melekat pada diri kita, sungguh kekhawatiran terberatnya adalah kita termasuk ke dalam orang-orang yang gagal dalam madrasah Ramadhan dan tidak mendapatkan maghfirah di dalamnya. Wal iyadzubillaah.

Oiya, termasuk engkau yang tahun demi tahun rutin diminta menjadi imam shalat, baik itu imam shalat fardhu ataupun imam tarawih, tapi al-Fatihahmu masih terjatuh pada lahn (kesalahan) yang mengubah makna. Kalau sampai detik ini masih belum ada perubahan, saya mohon selamatkan jamaah dengan cara tidak lagi menerima saat ditunjuk menjadi imam. Datangilah guru tahsin untuk memperbaiki al-Fatihahmu. Jangan sampai Ramadhan demi Ramadhan berlalu, tapi al-Fatihah belum dikuasai dengan benar.

Engkau yang sudah benar, tingkatkan pada kesempurnaan tajwidnya, pemahaman fiqih shalatnya, dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Jangan biarkan hidupmu stagnan tanpa perubahan yang berarti.

Manfaatkan momen madrasah Ramadhan ini dengan segala bentuk kebaikan. Wallaahu a’lam.

Laili Al-Fadhli, Pembina Online Tajwid

(*/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.