Berita Dunia Islam Terdepan

Kisah Qaddafi, antara i’tibar dan ghibah

304

(Arrahmah.com) – Sebagian pihak mempertanyakan tujuan dan landasan situs Arrahmah.com memuat serial artikel yang ‘menguliti’ sosok kelam taghut Libya yang belum lama ini tewas mengenaskan, Moammar Qaddafi. Apa manfaatnya bagi kaum muslimin? Tidakkah itu termasuk perbuatan ghibah, yaitu menggunjing, mengungkit-ungkit, dan menyebar luaskan aib orang lain, terlebih orang yang telah mati?

Pertanyaan sejumlah pihak tersebut sangat baik. Sangat wajar jika sebagian pihak merasa keberatan dengan serial artikel tersebut. Oleh karena itu, sudah selayaknya apabila Arrahmah.com memberi penjelasan yang mereka inginkan tersebut. Semoga dengan adanya penjelasan tersebut, berbagai kebingungan, praduga tak berdasar, dan kesalah pahaman bisa dijernihkan.

Jika kita mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an, niscaya kita akan mendapati kisah para nabi dan umat terdahulu mendapatkan porsi yang sangat besar. Jumlah ayat-ayat Makkiyah (ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah) mencapai sekitar 19 juz, dengan tema utama iman kepada Allah, iman kepada Rasul, dan iman kepada hari akhir.

Ketiga tema tersebut seringkali dipaparkan dalam bentuk kisah sejarah. Dalam surat Madaniyah yang mencapai 11 juz dan bertemakan hukum kemasyarakatan, kisah sejarah juga mendapat porsi yang cukup besar.

Nama beberapa surat bahkan disarikan dari kisah yang termuat dalam ayat-ayatnya. Misalnya dalam surat Madaniyah; surat Al-Baqarah (kisah penyembelihan sapi oleh Bani Israil), Ali Imran (kisah Imran, istrinya, dan anaknya Maryam), Al-Maidah (kisah Hawariyyun meminta makanan yang diturunkan dari langit), At-Taubah (kisah taubat tiga orang sahabat yang tidak turut serta dalam perang Tabuk), Al-Ahzab (kisah perang Ahzab), Al-Fath (kisah perjanjian Hudaibiyah), Al-Mujadilah (kisah seorang wanita yang mengadukan zhihar suaminya), Al-Hasyr (kisah perang melawan Yahudi Bani Nadhir), Al-Mumtahanah (kisah sahabat yang membocorkan rahasia perang kepada kaum musyrik Quraisy), Ath-Thalaq (kisah Nabi SAW dan sebagian sahabat menalak istrinya), dan At-Tahrim (kisah Nabi SAW bersumpah tidak makan sebagian makanan untuk menyenangkan hati istrinya).

Dalam surat-surat Makkiyah, jumlah kisah sejarahnya lebih banyak lagi. Nama beberapa surat di antaranya diambil dari kisah sejarah, dan isi ayatnya didominasi oleh kisah sejarah. Misalnya surat Al-A’raf, Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, Al-Hijr, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Al-Anbiya’, Al-Mu’minun, Asy-Syu’ara’, Al-Qashash, Ar-Rum, Saba’, Ash-Shafat, Al-Qamar, Al-Jin, Nuh, Al-Buruj, Al-Fil, Al-Masad, dan banyak lagi yang lain.

Dari keseluruhan kisah sejarah dalam ayat-ayat Al-Qur’an, kita bisa menemukan klasifikasinya secara garis besar sebagai berikut:

  • Kisah sejarah Adam bermusuhan dengan Iblis
  • Kisah sejarah dakwah para nabi dan rasul menghadapi permusuhan kaumnya yang musyrik dan kafir
  • Kisah sejarah kaum mukmin selain nabi dan rasul menghadapi kaumnya yang kafir
  • Kisah keadaan orang-orang mukmin dan orang-orang kafir di akhirat

Dalam keseluruhan ayat yang memaparkan kisah sejarah tersebut, kita juga mendapati porsi yang sangat besar untuk kisah sejarah tokoh, bangsa, dan umat yang kafir. Nama Iblis dan Fir’aun sebagai gembong kekafiran, disebutkan dalam ratusan ayat.

Bandingkan dengan nama Muhammad SAW yang ‘hanya’ disebutkan empat kali dalam seluruh ayat Al-Qur’an (QS. Ali Imran (3): 144, Al-Ahzab (33): 40, Muhammad (47): 2, dan Al-Fath (48): 29) dan nama Ahmad yang hanya sekali disebutkan (QS. Ash-Shaf (61: 6).

Bangsa dan umat yang kafir disebutkan dalam ratusan ayat. Misalnya umat nabi Nuh, bangsa ‘Ad, bangsa Tsamud, bangsa Madyan, umat nabi Ibrahim, umat nabi Luth, bani Israil, dan banyak lainnya.

Semua kisah yang dimuat dalam ribuan ayat Al-Qur’an tersebut mengungkapkan dengan jelas ucapan dan perbuatan umat manusia yang telah berlalu. Mereka telah mati sejak ribuan tahun yang lalu.

Namun Allah tidak bosan mengulang-ulang kisahnya dalam banyak surat dan ayat Al-Qur’an, dengan beragam metode penyampaian dan gaya bahasa. Padahal ribuan ayat tersebut mengungkapkan aib-aib tokoh, umat, dan bangsa kafir yang telah mati. Ayat-ayat tersebut membongkar ucapan dan perbuatan kufur orang-orang yang telah tiada.

Gerangan keuntungan apakah di balik pembongkaran aib orang-orang yang telah mati tersebut? Landasan apa yang melatar belakangi pengorekan kembali borok-borok orang yang telah mati tersebut?

Kenapa orang yang telah mati sejak ribuan tahun masih saja dikorek-korek dan dibeberkan kejahatannya, sehingga tetap dibaca oleh miliaran kaum muslimin sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai menjelang hari kiamat kelak?

Allah SWT menjawab pertanyaan seperti ini dengan berfirman (yang artinya):

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf (12): 111)

Allah SWT berfirman (yang artinya):

Dan demikianlah Kami menerangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am (6): 55)

Dari dua ayat di atas bisa dipahami bahwa setidaknya terdapat dua tujuan yang agung dari pemaparan kisah tokoh, umat, dan bangsa yang telah lalu.

Pertama, agar orang-orang yang hidup sesudah mereka bisa mengambil pelajaran sehingga bisa mengikuti jejak tokoh, umat dan bangsa yang selamat; serta meninggalkan jejak tokoh, umat, dan bangsa yang binasa.

Kedua, agar menjadi jelas jalan orang-orang yang berada di atas kebenaran dari jalan orang-orang yang berada di atas kebatilan, jalan mushlihin dari jalan mujrimin, jalan wali Allah dari jalan wali setan, dan ash-shirath al-mustaqim dari shirath al-maghdubi ‘alaim serta shirath adh-dhalin.

Banyak kaum muslimin di negeri ini yang tidak mengerti jati diri Qaddafi. Mereka terpesona oleh ‘kesederhanaan’ gaya hidup Qaddafi, ‘kedermawanannya’ menyumbang pembangunan masjid raya, ‘kefasihannya’ mengimami shalat, atau keberaniannya ‘menentang’ AS dan Barat.

Mereka menganggap Qaddafi adalah pahlawan Islam yang membela nasib kaum muslimin. Tampilan ‘kulit’ yang memukau itulah dasar mereka dalam menilai dan bersikap kepada Qaddafi.

Mereka tidak mengetahui sosok Qaddafi yang sebenarnya. Mereka belum mengetahui kelancangan Qaddafi menyejajarkan dirinya dengan Allah…kelancangan Qaddafi lancang merubah-ubah ayat Al-Qur’an… kelancangan Qaddafi melecehkan Rasulullah SAW dan mengingkari seluruh haditsnya… kelancangan Qaddafi mengaku sebagai nabi…kelancangan Qaddafi menyingkirkan syariat Islam dan menggantinya dengan sistem kufur sekuleris-sosialis… kelancangan Qaddafi menghalalkan hal yang telah diharamkan oleh Al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’… kerjasama Qaddafi dengan musuh-musuh Islam dalam memerangi para ulama, santri, aktivis Islam, dan gerakan Islam.

Mereka belum mengetahui berbagai lembaga Islam internasional dan puluhan ulama dari berbagai Negara telah memvonis Qaddafi sebagai seorang kafir murtad sejak 30-an tahun yang lalu sebelum ada revolusi rakyat di Libya dan sebelum militer NATO campur tangan untuk menjatuhkan ‘sekutu’nya sendiri.

Jika segala kekafiran dan kemurtadan Qaddafi yang mughalazhah tersebut tidak dibeberkan dan diketahui oleh banyak kaum muslimin negeri ini, maka akan terjadi banyak pelanggaran serius terhadap ajaran Al-Qur’an dan as-sunnah. Misalnya:

Pertama: Menganggap Qaddafi adalah seorang muslim

Bahkan menganggap Qaddafi adalah pemimpin Islam dan pahlawan Islam yang akan membela hak-hak kaum muslimin. Padahal terhadap orang kafir, umat Islam tidak boleh memanggil mereka dengan panggilan ‘mukmin atau muslim’. Perintah Al-Qur’an jelas: “Katakanlah: Hai orang-orang kafir!’ (QS. Al-Kafirun (109): 1)

Kedua: Memberikan loyalitas kepada Qaddafi.

Dengan mencintainya, mengelu-elukannya, menganggapnya sebagai pemimpin dan pahlawan Islam, membantu dan mendukungnya. Padahal Islam mengharamkan seorang muslim memberikan loyalitas kepada orang kafir. Lihat misalnya QS. Ali Imran (3): 28 dan 118, An-Nisa’ (4): 138-140 dan 144, Al-Maidah (5): 51-57 dan 80-81, Al-Mujadilah (58): 22, Al-Mumtahanah (60): 1 dan 9.

Ketiga: Bersedih, menangisi, atau menyesali kematian Qaddafi

Lebih parahnya lagi menuntut mujahidin yang menangkap dan menembak mati Qaddafi untuk diadili dan dihukum. Padahal tidak selayaknya seorang muslim bersedih, menangisi, atau menyesali kematian gembong kekafiran dan kemurtadan.

Ketika pasukan imperium musyrik Majusi Persia dikalahkan oleh imperium Nasrani Romawi Timur, Allah menurunkan wahyu-Nya yang mengungkapkan kegembiraan Rasulullah SAW dan para sahabat:

Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Ar-Ruum (30):2-5)

Ketika bani Israil membangkang perintah nabi Musa untuk masuk ke negeri Palestina, Allah menghukum mereka dengan berputar-putar tersesat di padang pasir selama empat puluh tahun. Terhadap hukuman yang menimpa umatnya sendiri tersebut, Allah memberikan perintah-Nya kepada nabi Musa:

Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu!” (QS. Al-Maidah (5):26)

Ketika dakwah Nabi Syu’aib ditolak mentah-mentah oleh penduduk Madyan, maka Allah SWt menimpakan azabnya kepada mereka: “Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syuaib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syuaib mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf (7): 91-92)

Ketika mengetahui penduduk negerinya hancur lebur tidak tersisa seorang pun, apakah nabi Syu’aib bersedih dan menangisi kematian missal oleh bencana gempa bumi tersebut? Allah berfirman:

Maka Syuaib meninggalkan mereka seraya berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?” (QS. Al-A’raf (7): 93)

Keempat: Menshalatkan jenazah Qaddafi.

Padahal Allah melarang umat Islam menshalatkan jenazah orang munafik, apalagi jenazah gembong kekafiran. Allah SWT berfirman (yang artinya): “Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati jenazah seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah (9): 84)

Asbabun nuzul ayat ini sebagaimana diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA bahwasanya gembong munafik di kota Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal.

Maka anaknya, Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul (seorang sahabat yang mukmin dan membenci kemunafikan bapaknya sendiri) memohon kepada Rasulullah SAW agar berkenan mengkafani jenazah bapaknya dengan baju gamis beliau, lalu menshalatkan jenazahnya.

Rasulullah SAW pun mengkafani jenazahnya dengan baju gamis beliau sendiri dan berdiri untuk menshalatkan jenazahnya.

Maka Umar bin Khatab mencegah Nabi SAW dengan memegang baju beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Anda akan menshalatkan jenazahnya padahal Allah telah melarang Anda dari menshalatkan jenazah orang-orang munafik?”

Rasulullah SAW menjawab, “Rabbku SWT telah memberi aku hak untuk memilih dengan firman-Nya (yang artinya) : Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun kepada mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.” (QS. At-Taubah (9): 80). Aku akan memintakan ampunan lebih dari tujuh puluh kali.”

Umar berkata, “Tetapi ia adalah orang munafik.”

Rasulullah SAW tetap menshalatkan jenazahnya, maka Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya): “Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati jenazah seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah (9): 84)

Maka Rasulullah SAW tidak menshalatkan jenazah orang-orang munafik.

Imam Ibnu Majah, al-Bazzar, Ibnu Jarir ath-Thabari, dan Ibnu Marduwaih juga meriwayatkan riwayat serupa dari Jabir bin Abdullah RA mengenai asbabun nuzul ayat di atas.

Jika orang munafik yang sehari-hari shalat berjama’ah di belakang Nabi SAW, mendengarkan pengajian Nabi SAW, dan beberapa kali menyertai peperangan Nabi SAW ini tidak boleh dishalatkan oleh Rasulullah SAW dan kaum muslimin.

Padahal ia tidak sampai menyejajarkan dirinya dengan Allah…tidak merubah-ubah ayat Al-Qur’an…tidak mengklaim dirinya adalah nabi…tidak menyingkirkan syariat Allah dan menggantinya dengan undang-undang sekuleris-sosialis…tidak membantai ribuan ulama, santri, dan aktivis Islam.

Bagaimana pula dengan menshalatkan jenazah Qaddafi yang kejahatan dan kekafirannya berlipat ganda lebih berat dari gembong munafik Madinah ini?

Kelima: Memintakan ampunan Allah untuk Qaddafi.

Allah melarang Nabinya dan kaum beriman memintakan ampunan Allah untuk orang-orang kafir dan musyrik. Allah berfirman (yang artinya): “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam.”(QS. At-Taubah (9): 113)

Mengenai asbabun nuzul ayat ini, imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Musayyib bin Hazn Al-Makhzumi RA, ia berkata: “Ketika Abu Thalib akan meninggal, Rasulullah SAW menemuinya. Ternyata Abu Jahal dan Abdullah bin Umayah juga tengah menungguinya. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Rasulullah, katakanlah laa ilaaha illa Allah, agar aku bisa membela engkau kelak di hadapan Allah.”

Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Umayah berkata: “Wahai Abu Thalib, apa engkau membenci agama Abdul Muthalib?”

Rasulullah SAW terus-menerus mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat syahadat. Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Umayah terus-menerus menghalanginya dengan pertanyaan tersebut. Akhirnya Abu Thalib meninggal dengan tetap memegang teguh agama Abdul Muthalib (bapaknya yang musyrik, edt) dan engggan mengucapkan kalimat syahadat.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh aku akan memintakan ampunan Allah untukmu selama aku tidak dilarang.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya)…” (QS. At-Taubah (9): 113)

Dan tentang diri Abu Thalib, Allah menurunkan wahtu-Nya kepada Rasulullah SAW: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash(28): 56)

Riwayat asbabun nuzul di atas dikuatkan oleh banyak riwayat lain, seperti riwayat mursal Ibnu Abi Hatim dan Abu Syaikh al-Asbahani dari Muhammad bin Ka’ab; riwayat mursal Ibnu Jarir dari Amru bin Dinar; riwayat Ibnu Sa’ad, Abu Syaikh al-Asbahani, dan Ibnu Asakir dari Umar bin Khatab; dan riwayat mursal Ibnu Asakir dari Hasan al-Bashri.

Terdapat riwayat-riwayat lain yang menyebutkan bahwa asbabun nuzul surat At-Taubah ayat 113 di atas turun berkenaan dengan diri Rasulullah SAW yang memintakan ampunan Allah SWt untuk ibunya yang meninggal dalam keadaan musyrik saat beliau baru berusia enam tahun.

Di antaranya disebutkan dalam hadits ath-Thabarani dan Ibnu Marduwaih dari jalur Ibnu Abbas RA; hadits Ibnu Abi Hatim, al-Hakim, Ibnu Marduwaih, dan al-Baihaqi dari jalur Ibnu Mas’ud RA; dan hadits Ibnu Marduwaih dari jalur Buraidah bin Hashib RA.

Marilah kita renungkan. Abu Thalib adalah paman Nabi SAW yang merawat nabi sejak beliau berusia delapan tahun. Selama sepuluh tahun dakwah Islam di Makah, Abu Thalib menjadi pelindung utama beliau dari gangguan orang-orang musyrik Quraisy.

Ia bersama seluruh anggota Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib menjalani tiga tahun pemboikotan orang-orang musyrik Makah hanya karena mempertahankan Nabi SAW dari gangguan mereka. Ia tidak pernah sekalipun memusuhi Nabi SAW dan dakwah beliau. Ia tidak pernah sekalipun memusuhi dan menyiksa kaum muslimin.

Persoalannya satu, ia mati dengan tetap memegang teguh agama musyrik warisan nenek moyangnya.

Adapun Aminah binti Wahb, ibunda Nabi SAW, adalah wanita yang paling dekat dan paling menyayangi Nabi SAW. Ia telah wafat saat Nabi SAW baru berusia enam tahun. Ia mati dengan memegang teguh agama musyrik nenek moyangnya.

Ketika Rasulullah SAW berdoa kepada Allah agar Allah mengampuni dosa Abu Thalib dan Aminah, dua orang yang paling dekat dan paling berjasa mengasuh beliau SAW sedari kecil… Allah tidak memperkenankan doa Nabi SAW tersebut.

Allah SWT bahkan dengan tegas melarang Nabi SAW dan kaum muslimin memintakan ampunan Allah untuk orang-orang musyrik, sekalipun mereka adalah ayah, ibu, anak, saudara, dan orang yang paling dekat serta berjasa dalam hidup mereka.

Jika memintakan ampunan untuk seorang musyrik yang tidak berbuat jahat saja dilarang, bagaimana lagi dengan memintakan ampunan untuk gembong kafir dan murtad yang memusuhi Islam dan kaum muslimin, seperti Qaddafi? Tentulah larangannya lebih keras lagi.

Inilah sedikit pelanggaran yang bisa diungkapkan di sini. Tidak menutup kemungkinan ada pelanggaran lain yang dilakukan oleh sebagian muslim karena ketidak tahuannya akan realita sosok Qaddafi yang sebenarnya dan ketidaktahuannya akan tuntunan syariat Islam. Misalnya, sebagian muslim di Libya berperang di pihak Qaddafi melawan pasukan revolusioner rakyat yang mencita-citakan penegakan syariat.

Sebagaimana diketahui, pertempuran yang menghabisi kekuatan loyalis Qaddafi di Sirte dan Misrate diterjuni oleh dua kelompok mujahidin yang mencita-citakan penegakan syariat Islam dan membebaskan kaum muslimin Libya dari penindasan taghut Qaddafi yang telah berlangsung selama 42 tahun, yaitu brigade Syuhada’ dan brigade Zhafirah.

Jika sebagian muslim Libya karena faktor fanatisme kesukuan, keuntungan materi, ideologi sekuleris-sosialis, atau alasan duniawi lainnya berperang di pihak taghut Qaddafi melawan mujahidin Islam… maka berarti ia telah melakukan sebuah pelanggaran besar terhadap Al-Qur’an dan As-sunnah.

Allah SWT berfirman (yang artinya):

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa’ (4): 76)

Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (QS. Al-Qashash (28): 8)

Bagaimanapun keadaannya… Al-hamdulillah, pada tahap pertama ini, rezim taghut Qaddafi yang selama 42 tahun telah menyingkirkan syariat Islam dan membelenggu kaum muslimin Libya dengan hokum sekuleris-sosliasis telah tumbang.

Ibarat badan, kepalanya telah dipenggal. Insya Allah, badan dan anggota badan lainnya akan lebih mudah ‘dibereskan’. Semoga kaum muslimin di Libya bisa mengambil pelajaran dari jihad di Irak.

Sebelumnya, Shadam Husain adalah taghut represif sekuleris-sosialis yang dibesarkan oleh Amerika dan Barat. AS dan Barat mempergunakannya untuk menahan laju kekuatan Syi’ah Imamiyah Iran, lewat perang Iran-Irak 1980-1988.Ketika tugasnya sudah selesai dan Shadam dirasa mulai keluar dari ‘rel’ yang telah digariskan oleh tuannya, maka tuan Amerika dan Barat menjatuhkan Shadam lewat invasi militer 2003.

Shadam jatuh, mujahidin Islam muncul, dan jihad Islam melawan pasukan salibis AS dan Barat beserta pemerintahan bonekanya terus berlangsung sampai hari ini. Lebih dari 40.000 pasukan AS dan sekutu salibisnya telah tewas di Irak, puluhan ribu lainnya cacat seumur hidup, dan kini mulai berpikir untuk mundur dari ‘kuburan’ jihad Islam.

NATO memang berperan melumpuhkan kekuatan udara rezim Qaddafi di Libya, sebagaimana militer salibis AS dan sekutunya melumpuhkan kekuatan militer Shadam di awal invasi tahun 2003. Namun fakta bahwa mujahidin Islam adalah pejuang darat di garis terdepan menggempur tentara dan pengikut loyalis Qaddafi juga tidak bisa dibantah.

NATO punya tujuan, mujahidin punya tujuan, dan para nasionalis-sekuleris punya tujuan. NATO ingin menjatuhkan Qaddafi agar bisa membuat pemerintahan boneka baru yang lebih menguntungkan militer, politik, dan ekonomi AS dan Barat.

Para nasionalis-sekuleris ingin meraih kue kekuasaan, yang diakui dan direstui oleh AS dan Barat, sekalipun untuk itu harus memberikan kewenangan politik, ekonomi, dan militer yang lebih luas kepada AS dan Barat.

Biar saja dua kekuatan kafir, NATO dan Qaddafi, berperang sebagaimana sebelumnya NATO dan Shadam Husain berperang:

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.”(QS. Al-An’am (6): 129)

Seorang ulama tabi’in, imam Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, berkata, “Maksudnya adalah Kami menguasakan sebagian orang zalim atas orang zalim lainnya sehingga ia menghancurkan dan menginakannya.”

Imam Fudhail bin Iyadh berkata: “Jika engkau melihat seorang yang zalim membalas orang zalim lainnya, maka berdirilah dan lihatlah dengan keheranan.”

Imam Asy-Syaukani mengatakan, “Berdasar pendapat ini, makna ayat di atas adalah ancaman bagi orang-orang yang zalim. Jika ia tidak menghentikan kezaliman yang ia lakukan, niscaya Allah akan menguasakan atas dirinya orang zalim yang lain.” (Fathul Qadir, 2/206)

Adapun mujahidin telah memiliki tujuan yang jelas, menegakkan syariat Islam dan membela nasib kaum muslimin yang tertindas. Boleh jadi NTC akan merepresentasikan taghut baru yang menerapkan sistem hidup sekuler, anti syariah Islam, dan loyal lepada Barat.

Namun jelas meruntuhkannya akan lebih mudah, jika ‘kepala’ taghutnya telah dipenggal, mujahidin telah memegang senjata dan mampu membuka kamp-kamp latihan, serta pengumuman jihad fi sabilillah untuk menegakkan syariat Islam di bumi Libya menyedot ribuan mujahidin dari seluruh penjuru dunia.

Akankah Libya menjadi ladang jihad internasional baru di bumi Afrika?

Wallahu a’lam bish-shawab

(muhib al-majdi/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...