Berita Dunia Islam Terdepan

Khutbah Idul Fitri 1438 H; Hidup mulia bersama Islam

7.5 massa Muslim dalam Aksi Bela Islam III di Monas. (Foto: Internet)
93

Oleh Irfan S. Awwas

(Arrahmah.com) –

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ, نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأُمَّتِهِ الْمُطِيْعِيْنَ.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَقُوْلُوا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيْمًا. أَمَّا بَعْدُهُ : أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ,لا إله إلا الله ,الله أكبر ولله الحمد

Setelah kaum Muslimin melewati bulan yang paling mulia dan istimewa di sisi Allah Swt yaitu bulan Ramadhan; kini kita berada di hari Idul Fithri, 1 Syawal 1438 H. Semoga Allah Swt menjadikan ibadah Ramadhan kita sebagai saksi yang meringankan kelak di yaumul akhir. Maka, kita patut bersyukur kepada Allah yang telah menunjukkan jalan hidayah, melimpahkan nikmat-Nya, dan memenuhi kebutuhan makhluk-Nya, sehingga kita dapat menjalankan shalat Idul Fithri di tempat ini.

Maha suci Allah yang telah menciptakan siang dan malam. Sesungguhnya, setiap makhluk hidup membutuhkan sinar mentari agar tetap menyinari bumi dan malam untuk beristirahat; maka Allah Swt tidak menghentikan peredaran matahari, dan tidak mencabut perputaran malam, sekalipun sepanjang malam dan siang hari banyak manusia bergelimang dalam dosa, mengingkari perintah Allah serta mengabaikan larangan-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita bertaqwa kepada Allah agar kita menjadi manusia yang paling ideal menurut Al-Qur’an, karena Allah menyatakan dalam firman-Nya:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Mahaluas ilmu-Nya.” (Qs. Al-Hujurat [49]: 13).

Kemudian, kita sampaikan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah diutus Allah sebagai uswah hasanah (tauladan hidup terbaik) bagi manusia. Sebagai utusan Allah, beliau telah membuktikan kesempurnaan Islam dan menyeru manusia supaya berpegang teguh pada syari’at Islam, agar tidak tersesat jalan.

Kita ridha Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah Swt. Maka marilah kita bertaqwa agar kita menjadi makhluk yang paling mulia di sisi Allah, diampuni dosa-dosa kita, dan diberi-Nya jalan keluar terhadap problem kehidupan yang kita hadapi. Allah Swt berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Siapa saja yang taat kepada Allah dan bertauhid, pasti Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari segala kesulitan.” (Qs. Ath-Thalaq [65]:2)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ,لا إله إلا الله ,الله أكبر ولله الحمد

Sesungguhnya hidayah terbesar yang kita terima dari Allah Swt adalah iman, keyakinan hati bahwa Allah Swt adalah Rabb yang Maha Kuasa, Maha Pencipta, memiliki nama dan sifat yang sempurna, dan tidak ada Ilah selain Allah Rabbul Alamin. Untuk menyempurnakan hidayah-Nya, Allah Swt mengutus Nabi Muhammad Saw, dengan membawa tuntunan hidup yang menjamin sukses dunia-akhirat dalam bentuk petunjuk tertulis (juklis) Al-Qur’anul Karim, dan petunjuk pelaksanaan (juklak) berupa Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, way of life, merupakan kewajiban setiap orang beriman. Hanya dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dalam segala segi kehidupan, menyangkut budaya, seni, pergaulan, hingga mengurus Negara, kita akan memperoleh rahmat dari Allah Swt, sebagaimana firman-Nya

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Al-Qur’an ini adalah sebuah kitab yang sangat besar barakahnya yang Kami turunkan kepada manusia. Wahai manusia, ikutilah Al-Qur’an ini dan taatilah supaya kalian mendapat rahmat.” (Qs. Al-An’am [6]:155)

Ayat ini menjelaskan bahwa kebaikan, keadilan, kesejahteraan di dunia ini, hanya dapat diraih apabila kita menyelesaikan persoalan hidup manusia menggunakan solusi Al-Qur’an. Bukan sebaliknya meninggalkan petunjuk Al-Qur’an kemudian mengikuti doktrin hawa nafsu seperti ideologi komunis, sekuler, ataupun liberal.

Umat Islam yang hidup di bawah naungan Syari’at Islam pernah melewati masa-masa gemilang dalam sejarah peradaban manusia. Kala itu, setiap orang dapat menikmati indahnya Islam dan merasakan bahagianya menjadi seorang Muslim.

Para shahabat yang hidup dalam bimbingan Nabi Saw, prilaku dan saldo sosialnya berupa keadilan, kejujuran, keberanian berterus terang dengan kebenaran, dan tanggungjawab, bagai mata air yang tak pernah kering. Interaksi sosial kemasyarakatannya paripurna. Bila mereka datang ke suatu wilayah, bukan untuk menjajah tapi berdakwah. Membebaskan masyarakat dari kesesatan, membela mereka dari penindasan, mengangkat martabatnya dari kezaliman.

Umat Islam di zaman Nabi Saw, meyakini Islam sebagai agama yang sempurna untuk mengatur kehidupan; dan menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai tauladan yang wajib diikuti dalam segala urusan. Karena itu, mereka tidak memisahkan Islam sebagai agama dan politik, tidak membedakan Islam dalam kehidupan sosial dan kehidupan bernegara; justru mereka berjuang membangun Negara untuk menegakkan keadilan berdasarkan Syari’at Islam.

Kemuliaan hidup di bawah naungan Islam digambarkan oleh Khalifah Umar bin Khathab dengan pernyataan beliau yang tegas, lugas dan bernas:

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللَّهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ

“Dahulu kami adalah bangsa yang hina, kemudian Allah memuliakan kami dengan agama Islam. Jika sekarang kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan hinakan kami kembali”. (HR. Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Ungkapan Umar bin Khathab ini menggambarkan situasi Arab pra Islam yang sangat parah, yang terkenal dengan zaman jahiliyah. Kurang parah apa orang-orang Arab di masa kafir Quraisy? Mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti minum khamr (arak) sampai mabuk, berzina, berjudi, merampok dan sebagainya. Kebiasaan yang juga terjadi di masa jahiliyah modern kini, bahkan kejahatannya lebih kreatif dan bervariasi.

Tradisi terburuk di masyarakat Arab jahiliyah adalah memperlakukan wanita semaunya. Anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup, karena merasa terhina dan malu memiliki anak perempuan. Selain itu, mereka menjadikan patung yang dibuatnya sendiri sebagai sembahan. Bangkai dijadikan santapan, judi dan minuman keras jadi budaya.

Keadilan jadi perkara langka, keserakahan merajalela, yang kuat memangsa yang lemah. Para pembesar negeri menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, siapapun yang tak disukai boleh dihukum tanpa pembuktian.

Namun demikian, lihatlah bagaimana Allah Swt menjadikan mereka contoh bagi dunia, bagaimana mereka menyelamatkan diri dari keterpurukan, bukan dengan kearifan lokal atau budaya primitif, melainkan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Saat Nabi Muhammad Saw diutus pada kalangan mereka, membawa risalah Islam penuh dengan cinta dan perdamaian, semua kejumudan, kesyirikan dan dekadensi moral berakhir sudah.

Tak perlu waktu lama menyelesaikan krisis moral, ekonomi, budaya, hukum, pergaulan dan krisis lainnya. Hanya dalam tempo 23 tahun saja pemerintahan Nabi Muhammad Saw mampu menyelesaikan segala problem suku, agama, etnis dan budaya.

Balasan atas kesetiaan mereka pada Islam, dan ketundukannya pada syariat Allah adalah kesejahteraan dan ketenteraman hidup sebagaimana firman Allah:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Siapa saja yang beriman dengan benar dan beramal shalih dengan penuh keimanan, baik laki-laki atau perempuan, Kami pasti akan memberikan kehidupan yang baik kepadanya. Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada amal shalih mereka.” (Qs. An-Nahl, [16]:97).

Lalu, bagaimana dengan situasi dan kondisi negeri kita yang terus menerus dirundung banyak masalah, mulai dari soal hukum, politik, keamanan negara, korupsi, narkoba, aliran sesat hingga persatuan dan kesatuan bangsa? NKRI, yang mayoritas terbesar penduduknya beragama Islam, sampai sekarang masih menjadi salah satu negara di dunia, yang berupaya menjauhkan Islam dari kekuasaan negara, dan mengabaikan petunjuk Al-Qur’an dalam menyelesaikan setiap persoalan; dengan cara memisahkan Islam dari aktifitas politik.

Kebijakan memisahkan agama dan politik, sudah berlangsung sejak Indonesia merdeka. Dan kini diperkuat lagi dengan seruan Presiden Jokowi baru-baru ini; tanpa mempertimbangkan implikasi-implikasi politiknya yang bisa membuka kotak Pandora, perdebatan ideologi dan landasan bernegara kita.

Presiden Jokowi menegaskan persoalan politik dan agama harus dipisah, tidak boleh disatukan. “Jangan sampai dicampuradukkan antara politik dan agama, dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik,” katanya.

Sampai sekarang masih ada orang yang bermimpi, Indonesia akan bisa menjadi negara yang adil, makmur, dan beradab tanpa Islam.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ,لا إله إلا الله ,الله أكبر ولله الحمد

Sudah 76 tahun Indonesia merdeka, misi pemisahan agama dan politik, menjauhkan agama dari kekuasaan, telah melahirkan manusia ambivalen. Di negara kita, “banyak orang yang percaya adanya Tuhan YME, seperti tertera pada sila pertama Pancasila, tapi tidak percaya pada hukum Tuhan, tidak mau terikat dengan ajaran kitab suci yang diturunkan Tuhan”. Banyak orang mengaku beragama, tapi praktiknya anti agama. Inilah di antara dampak buruk dari seruan pemisahan agama dan negara.

Sejalan dengan itu, sebagai akibatnya orang-orang yang taat beragama distigma sebagai musuh negara, intoleran, anti kebhinekaan. Para ulama dikriminalisasi dengan alasan persekusi, dan yang aneh para penyeru agama malah dituduh sebagai pendusta agama. Ada upaya menggiring opini bahwa ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) datang dari kelompok-kelompok Muslim yang aktif membela agamanya.

Menguatnya peran ulama dalam membela Islam melawan penista Al-Qur’an, yang terjadi kini justru kriminalisasi ulama secara masif. Ulama menjadi sasaran permusuhan, sehingga di beberapa daerah ulama dihalangi untuk berdakwah. Dan yang lebih memprihatinkan, ada ulama yang dikriminalisasi dengan kasus porno, sementara yang lainnya dipenjara dengan tuduhan makar.

Munculnya slogan, “Pancasila jiwa dan raga kita. Saya Indonesia, Saya Pancasila” menambah parah keadaan, karena slogan itu kemudian disertai ancaman bahwa Presiden akan menggebuk ormas terduga anti Pancasila, termasuk komunis.

Klaim “Saya Pancasila” pada gilirannya melahirkan intimidasi bahkan penangkapan terhadap aktivis Islam, termasuk hendak membubarkan ormas Islam. Kita bertanya, mengapa setiap rezim berganti, Pancasila selalu digunakan sebagai alat legitimasi untuk memberangus gerakan-gerakan Islam?

Islam dibutuhkan, tapi dimarginalkan. Seolah-olah Pancasila dilahirkan untuk menghadang eksistensi gerakan Islam dan aspirasi umat Islam. Sementara, ancaman misionaris, komunis, dan liberalis, terkesan dibiarkan, dan sekarang mendadak pancasilais, toleran dan penjaga kebhinekaan. Padahal spirit Pancasila justru hadir untuk mengakomodir hak konstitusional umat Islam pasca dihapusnya Piagam Jakarta.

Harmonisasi hubungan Pancasila dengan Islam, dirumuskan secara gambelang dalam Munas Alim Ulama NU, 13-16 Rabiul Awwal 1404/ 18-21 Desember 1983 M, di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Jatim, yang isinya antara lain bahwa:

“Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat rnenggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. Sila Kehutanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam. Menurut Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya. Sebagai konsekwensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua pihak”.

Dari pernyataan ini, kita menangkap bahwa orang Islam yang menjalankan syariat Islam dia lah Pancasilais sejati. Tapi tidak sebaliknya, seorang Pancasilais belum tentu Islamis. Oleh karena itu, menuduh umat Islam intoleran, anti Pancasila, anti kebhinekaan, karena bercita-cita menjalankan syariat Islam di negara Pancasila yang berdasarkan Ketuhanan YME, sesungguhnya pola berfikir komunis.

Berbagai fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, dimana pemerintah terkesan cenderung kurang bersahabat dengan Islam dan Umatnya, mulai dari kasus penistaan agama, kriminalisasi Ulama’ bahkan isu terror Bom, patut disesalkan. Situasi politik dalam negeri ibarat menggoyang tikus dalam karung.

Adalah kisah seorang insinyur pertanian, ketika ia bertugas di sebuah kampung, ia menaiki kereta api menuju Cairo. Di sebelahnya duduk seorang petani tua penduduk kampung itu.

Sang insinyur memperhatikan di bawah kaki petani tua itu ada sebuah karung goni. Di sela-sela perjalanannya, setiap seperempat jam ia membolak-balikkan karungnya. Dia aduk-aduk isi yang ada di dalamnya setiap beberapa saat. Setelah itu ia susun rapi lagi barang bawaannya itu. Begitulah yang ia lakukan sepanjang perjalanan.

Menyaksikan tingkah bapak petani, Pak insinyur merasa heran. Lalu ia bertanya. “Sejak keberangkatan saya lihat bapak menggoyang-goyangkan karung ini, apa yang terjadi?” tanya insinyur.

Petani tua itu menjawab: “Aku menangkap beberapa ekor tikus untuk aku jual ke pusat penelitian di Cairo, yang akan digunakan sebagai bahan percobaan ilmiah.”

“Lalu, mengapa bapak membolak balikkan karung ini dan menggoyang-goyangnya setiap beberapa saat,” tanya insinyur dengan penuh penasaran.

Bapak petani bilang: “Karung ini berisi tikus-tikus. Bila aku biarkan karung ini tanpa digoyang dan dibolak-balik, tikus yang ada di dalamnya akan merasa tenang. Dia akan berhenti dari rasa takut. Bila itu terjadi dalam waktu cukup lama setiap tikus akan berusaha menggigit dan melubangi karung ini. Karena itu aku selalu menggoyangnya setiap seperempat jam supaya mereka terganggu dan merasa ketakutan. Mereka akan sibuk selalu dengan berbenturan sesama mereka dan mereka tidak punya insting untuk melubangi karung ini sampai aku berhasil membawanya ke pusat penelitian.”

Mendengar penjelasan petani tua itu lidah Pak insinyur menjadi kelu. Dari cara berpikir si Pak Tani, tanpa sengaja ia sudah menjelaskan dengan gamblang, bagaimana politik dan falsafah Barat dalam mengaduk-aduk negara kaum muslimin.

Setiap kali umat Islam merasakan ketenangan dibikinkan masalah yang akan menggoncang ketentraman hidup mereka. Disebar fitnah di sana, ditebar kecemasan di sini, dibikin masalah di berbagai tempat, supaya mereka bisa meneruskan cengkramannya terhadap umat ini di bawah semboyan “memerangi teroris demi menciptakan keamanan negara”.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ,لا إله إلا الله ,الله أكبر ولله الحمد

Jika jumlah mayoritas adalah sebuah keberuntungan, maka kita patut bersyukur pada Allah Swt, beruntunglah bangsa Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Bayangkan apa yang akan terjadi sekiranya Indonesia yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa ini dihuni oleh mayoritas manusia yang tidak bertuhan. Maka akan dengan mudah sendi-sendi NKRI dirobohkan oleh kaum atheis, orang-orang yang tidak ber-Tuhan, seperti yang pernah mereka lakukan pada pemberontakan G30S/PKI.

Bagaimana dengan Islam? Dalam rentang sejarah Indonesia, Islam telah menyumbang amat banyak, bagi negeri ini. Inventarisasi jasa Islam dilakukan seorang pakar sejarah, Dr. Kuntowijoyo dalam bukunya “Identitas Politik Umat Islam”. Jasa Islam bagi keberkahan negeri ini, menurut Kuntowijoyo, antara lain :

  1. Islam membentuk civic culture (budaya bernegara). Kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri di seluruh Indonesia sejak abad ke-13 pasti dipengaruhi oleh tata negara Islam, bukan oleh Hinduisme. Buku tata negara, seperti Tajus Salatin mempunyai pengaruh yang luas ketika itu.
  2. Solidaritas nasional, terjadi karena proses pengislaman nusantara sehingga menjadikan seluruh Indonesia sebagai sebuah kesatuan. Jaringan itu terbentuk terutama sesudah ada diaspora Islam pasca Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511 M. Persamaan agama, budaya, dan suku Melayu menjadikan jaringan agama sebagai proto-nasonalisme.
  3. Syariat Jihad menjadi motivator satu-satunya untuk meraih kemerdekaan, bebas dari belenggu penjajahan kafir Belanda. Pada 1873-1903 terjadi Perang Aceh menentang penjajah Belanda. Pada tahun-tahun 1945-1949 ideologi jihadlah yang mendorong pembentukan laskar Hizbullah-Sabilillah sebagai tentara resmi melawan penjajah. Perlawanan pada Komunisme, 1965-1966 adalah berkat ideologi jihad.
  4. Kontrol sosial di NKRI, tidak hanya dijalankan oleh polisi, hukum, perundangan, dan peraturan, tapi terutama oleh agama Islam. Bayangkan jika tidak ada Islam yang melarang pembunuhan, pencurian, dan perampokan, pastilah orang-orang kaya perlu banyak satpam untuk menjaga kekayaannya.

Jauh sebelumnya, HOS Cokroaminoto dalam orasi politiknya menyambut Kongres Nasional pertama SI di Bandung, 17-24 Juni 1916, mengatakan pada kaum sekuler dan penjajah kolonial Belanda: “Tuan-tuan akan mengatur Negara ini dengan kapitalisme, sosialisme, komunisme, dan dengan demokrasi, itu urusan tuan-tuan. Kami umat Islam akan mengatur Negara ini dengan Rahmanisme”.

Dalam konsep kenegaraan, Rahmanisme merupakan paham yang hendak menumbuhkan kesejahteraan rakyat berbasis syari’at Islam. Dalam pandangan Profesor A. Kahar Muzakkir, rahmanisme merupakan konsep, “Baldatun Thoyyibah wa Rabbun Ghafur.”

Yaitu, negara yang aman sentosa dan diampuni Allah Swt. Negara yang berkebajikan diliputi keampunan Ilahy, dimana negara melakukan kekuasaannya atas dasar musyawarah dengan perantara wakil-wakil rakyat yang dipilih; dimana kaidah-kaidah kedaulatan rakyat, kemerdekaan, persamaan, tasamuh (lapang dada), keadilan sosial sebagai yang diajarkan oleh Islam, terlaksana sepenuhnya; dimana kaum muslimin mendapat kesempatan untuk mengatur perikehidupan pribadi dan masyarakat sesuai dengan ajaran dan hukum-hukum Islam sebagai yang tercantum dalam Qur’an dan Sunnah.

Terbayang dalam pikiran kita, betapa kebahagiaan dan kesejahteraan akan menaungi rakyat Indonesia apabila presiden, tentara, polisi, ahli hukum, pejabat pajak dan fungsionaris pemerintahan yang lain takut kepada Allah dan meyakini adanya hari pertanggung jawaban di akhirat. Pastilah pemerintah akan segera dapat mereformasi rakyat, mendobrak pintu melawan penindas­an, korupsi, narkoba, eksploitasi, kebobrokan moral dan perbuatan‑per­buatan buruk yang lain. Pemerintah akan mem­perbaiki pendidikan untuk membangun pikiran dan sikap yang benar. Betapa kita merindukan itu semua, agar penduduk negeri ini terhindar dari bencana dan malapetaka, seperti Firman Allah Swt:

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُوا۟ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ ٱلْخِزْىِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَمَتَّعْنَٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

“Sekiranya penduduk sebuah negeri beriman, pasti keimanannya itu bermanfaat bagi negeri itu sebagaimana keimanan kaum Yunus. Kaum Yunus telah Kami selamatkan dari adzab yang hina dalam kehidupan dunia ini. Kami berikan kesenangan kepada mereka untuk sementara waktu.” (Qs. Yunus [10]:98)

Munajat:

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ,لا إله إلا الله ,الله أكبر ولله الحمد

Mengakhiri khutbah ini, marilah kita bermunajat kepada Allah agar diberi keselamatan dari segala ancaman, diberi kebaikan yang paling sempurna, kehidupan yang sejahtera dan waktu yang paling bahagia. Marilah kita berdo’a dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan menjernihkan fikiran, semoga Allah menjauhkan kita dari paham sesat, mendindingi kita dari paham komunis, dan membebaskan kita dari belenggu thaghut, serta menerima ibadah puasa Ramadhan kita. Semoga Allah berkenan memperbaiki kehidupan rakyat Indonesia, sehingga negeri ini menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur, negeri dengan predikat sejahtera, aman sentosa dan mendapat ampunan Allah Swt.

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

Segala puji bagi Allah Rabbul alamin. Pujian yang menyamai nikmat-Nya dan menandingi keutamaan-Nya. Ya Rab kami, untuk-Mu pujian yang sebanding dengan kebesaran dan kemuliaan wajah-Mu dan kebesaran kekuasaan-Mu.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

Ya Allah, ampunilah dosa kaum Muslimin dan Muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

اَللّٰهُمَّ اِنَّانَسْئَلُكَ سَلَامَةًفِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةًفِى الْجَسَدِوَزِيَادَةًفِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةًفِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةَقَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةًعِنْدَالْمَوْتِ وَمَغْفِرَةًبَعْدَالْمَوْتِ،اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةًمِنَ النَّارِوَالْعَفْوَعِنْدَالْحِسَابِ

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada engkau akan keselamatan Agama dan sehat badan, dan tambahnya ilmu pengetahuan, dan keberkahan dalam rizki dan diampuni sebelum mati, dan mendapat rahmat waktu mati dan mendapat pengampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkan bagi kami waktu (sekarat) menghadapi mati, dan selamatkan dari siksa neraka, dan pengampunan waktu hisab.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, dan kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ . وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ . وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Semoga shalawat senantiasa tercurah kepada pemimpin kami Muhammad saw, keluarga dan sahabatnya semua. Maha suci Tuhanmu Pemilik kemuliaan dari apa yang mereka persekutukan. Semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada para rasul dan segala puji hanya bagi Tuhan semesta alam.

(*/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...