Kepentingan politis dalam perayaan tahun baru

Maksiat di malam pergantian tahun
48

(Arrahmah.com) – Belum lama ini masyarakat tenggelam dalam euforia tahun baru 2015 yang diekspresikan dengan ajang hura-hura dan maksiat. Dalam perayaan tahun baru banyak digelar acara konser musik, campur baur dengan lawan jenis tak terhindarkan hingga perilaku free sex. Hal ini terlihat dari meningkatnya penjualan kondom menjelang perayaan tahun baru. Salah satu kounter Apotek di Jalan Salemba Raya, April mengatakan bahwa penjualan kondom biasanya meningkat menjelang tahun baru. Bahkan, seharusnya stok kondom pria untuk 3-4 bulan bisa habis dalam 1 hingga 2 hari. (beritaheadline.com, 30/12/2014). Kemeriahan tahun baru diisi pula dengan pesta miras, seperti dilansir republika.co.id Dinas Ketertiban kota Yogyakarta menyita 96 botol minuman keras yang siap dijual saat perayaan tahun baru. Inilah fakta perayaan tahun baru yang sudah lumrah dilakukan mayoritas masyarakat sebagai bentuk rasa syukur atas pergantian tahun. Parahnya, hal ini seperti sudah menjadi budaya menurun yang dilakukan setiap tahun. Namun siapa sangka jika perilaku ini merupakan hasil dari upaya sistematis pembentukan budaya sekuler dan politisasi meraih keuntungan yang akhirnya menghancurkan tatanan sosial.

Penanaman budaya perayaan tahun baru merupakan bagian kecil dari hasil penerapan sistem kapitalis. Landasan negeri ini yang bersandar pada sekulerisme, inti dari kapitalisme yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup, melahirkan kebijakan yang membentuk masyarakat liberal. Bebas memilih agama ataupun tidak beragama, bebas dalam berekonomi demi meraup keuntungan besar, bebas mengutarakan pendapat yang baik ataupun buruk, dan bebas berekspresi sesuai hawa nafsu. Hingga akhirnya kita dapati hasil dari penerapan sistem kapitalisme yaitu masyarakat yang hedonis, individualis, dan apatis.

Kapitalisme yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup, senantiasa memanfaatkan berbagai hal untuk meraih keuntungan, dengan begitu roda ekonomi dapat berputar. Perayaan tahun baru telah dieksploitir guna meraup keuntungan besar bagi para kapitalis. Jauh hari sebelum perayaan tahun baru, berbagai perusahaan gencar memasarkan dagangannya dengan memasang diskon pada setiap produk. Tidak sedikit jasa penginapan seperti hotel dan travel wisata memberikan penawaran spesial dalam momen tahun baru. Masyarakat yang tergiur dengan permainan harga pasar seolah merasa diuntungkan, mereka menyerbu tempat-tempat perbelanjaan, dan saat itulah mereka masuk kedalam jebakan kapitalis. Jadilah mereka masyarakat dengan gaya hidup konsumtif dan hedonis.

Saat masyarakat terlena dengan euforia perayaan tahun baru, para kapitalis sedang menghitung keuntungan yang mereka raih. Dapat dibayangkan keuntungan besar yang didapat para kapitalis hanya dengan budaya perayaan tahun baru ini. Namun yang dihasilkan dari budaya perayaan tahun baru bagi masyarakat justru sangat mengerikan, seperti perilaku free sex, kehamilan di luar nikah, aborsi, kriminalitas, mabuk-mabukan, narkoba, dsb. Hal ini tidak dapat terhindarkan, karena pemerintah sebagai institusi yang seharusnya menjaga moral masyarakat justru turut memfasilitasi kemaksiatan dengan melegalkan miras, diskotik, kondom dijual bebas, dsb. Sehingga masyarakat, khususnya pemuda, bebas merayakan tahun baru dengan hura-hura di berbagai tempat hiburan malam, mengkonsumsi minuman keras, obat-obat terlarang hingga sex bebas.

Budaya perayaan tahun baru benar-benar telah merusak tatanan sosial dengan mengubah paradigma berpikir masyarakat menjadi materialis dan sekuler, menciptakan generasi yang rusak secara pemikiran, moral, bahkan tidak memiliki jati diri. Mereka menjadi generasi pembebek yang selalu mengikuti arus budaya asing tanpa mempertimbangkan baik dan buruk, karena telah teracuni oleh sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Bahkan mereka pun sibuk mementingkan kepuasan diri sendiri, mengejar materi dan apatis terhadap permasalahan di sekitar. Sungguh ironis, ketika mendapati generasi yang seharusnya menjadi tonggak perubahan bagi suatu negeri justru telah rusak secara moral dan pemikiran. Generasi seperti ini tentu tidak akan mampu membawa perubahan yang berarti. Masa depan negeri ini tidak akan menemui kesuksesan apapun, apalagi kemajuan.

Bagi seorang Muslim, perayaan tahun baru bertentangan dengan syariat Islam. Pasalnya, Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan budaya tersebut, ditambah lagi budaya ini diimpor dari Barat untuk merusak generasi muda muslim. Budaya perayaan tahun baru sesungguhnya berasal dari keyakinan bangsa Pagan. Setiap awal tahun, bangsa Pagan melakukan perayaan terhadap Dewa Janus. Oleh karena itu, jika seorang muslim turut serta dalam perayaan tahun baru, maka ia telah meyakini apa yang diyakini bangsa Pagan. Rasulullah SAW telah memperingkatkan kaum muslimin untuk tidak meniru (tasyabuh) perilaku ataupun budaya kaum lain:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Dawud)

Sudah saatnya bagi seluruh masyarakat mengubah paradigma berpikir sekuler dengan paradigma baru yaitu, paradigma Islam, serta meninggalkan segala aktifitas yang tidak disyariatkan Islam. Dengan begitu, seluruh aktifitas yang dilakukan akan mendapat ridha dari Allah SWT. Apabila seluruh aktifitas hidup disandarkan pada syariat Allah, niscaya tidak akan ada kemudharatan di dalamnya. Menjadikan Islam sebagai satu-satunya prinsip hidup merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan mengimplementasikan seluruh syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Penulis: Farah Arfiannisa, mahasiswi Universitas Indonesia

(*/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.