Berita Dunia Islam Terdepan

Kekejaman terhadap anak Suriah yang tak terungkap, part. 4: Amani

1.352

Support Us

AMANI, 13 TAHUN

Awalnya kekerasan tidak begitu menakutkan. Kami dapat mengatasinya. Namun sekarang mereka mulai membunuhi  anak-anak.

Ketika mereka membombardir desa kami, kami masih dapat bertahan selama sepuluh hari di ruang dalam basemen kita.

Aku  telah mendengar banyak sekali penyiksaan dan pembantaian. Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku tak pernah menyaksikan hal tersebut dengan mata kepalaku sendiri. Tapi aku pernah melihat apa yang terjadi setelah penyiksaan. Aku melihatnya dengan saudara laki-lakiku, Hamam. Tujuh bulan lalu mereka merusak rumah paman kami, dan mulai memukuli saudara laiki-lakiku dengan tongkat pemukul. Kemudian mereka beralih ke bagian punggungnya. Dia dipukuli dengan kejam hingga dia tak mampu berjalan.

Tidak ada rumah sakit yang bisa kami tuju, mereka menolak untuk mengobati orang-orang. Maka pamanku membawanya ke rumah kami. Apalagi yang  bisa dia lakukan? Aku ingat pertama kali aku melihat saudara laki-lakiku setelah ia dipukuli. Dia sangat pucat dan tidak dapat berjalan. Aku pikir ia hampir saja meninggal.

Kami meletakkannya di atas tempat tidur. Dia tetap berada di sana. Kami masih meninggalkannya di sana ketika kami pergi ke sini.

Ketika kami melarikan diri, kami tidak memiliki banyak waktu untuk mengemas barang-barang kami dengan baik, maka aku tidak membawa apapun. Dan aku tidak memiliki sesuatu apapun yang bisa mengingatkanku pada saudara laki-lakiku.

Salah seorang temanku pernah menyaksikan ibunya tewas di depan matanya. Sejak saat itu dia kehilangan akalnya.

Suatu hari, saat aku berada di tempat persembunyian, aku sangat takut bahwa aku akan diserang secara tiba-tiba. Maka saudara perempuanku mengatakan bahwa itu hanya sebuah efek yang timbul karena rasa khawatir.

Aku tidak memiliki nafsu makan lagi. Aku tidak lapar. Berat badanku menurun dengan drastis hanya dalam beberapa bulan.

Saat aku berpikir tentang apa yang terjadi, aku tak bisa menahan airmataku. Aku menangis sepanjang waktu.

Aku tak tahu berapa lama hal ini akan pulih, mungkin seumur hidup.

Diterjemahkan dari UNTOLD ATROCITIES (The story of Syria’s Children) written by Save the Children organization

(siraaj/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah