Berita Dunia Islam Terdepan

Imarah Islam Afghanistan: 4 poin penting menuju perdamaian

IIA Logo
5

KABUL (Arrahmah) – Pada pekan lalu, Imarah Islam Afghanistan (IIA) merilis analisa mingguannya. Kali ini, IIA membahas komitmennya dalam menciptakan perdamaian di Afghanistan.

Berikut 4 poin penting terkait upaya menuju perdamaian yang dikemukakan IIA, yang Arrahmah kutip pada Jum’at (24/7/2015). Bismillah.

Mujahidin IIA
Mujahidin IIA

Perdamaian merupakan kebutuhan alami setiap manusia, sebagai rahasia mencapai kesejahteraan dan pembangunan. Umat manusia dari sebuah bangsa hidup dalam kedamaian. Masyarakat membutuhkan rasa damai layaknya ikan membutuhkan air. Jauh sebelum apapun, kebutuhan utama dan pertama yang dibutuhkan negeri kita tercinta adalah kedamaian abadi. Tak diragukan lagi, bangsa kita yang cinta damai ini merindukan perdamaian.

Memperoleh kedamaian itu mudah. Setiap orang dapat menyuarakan damai tetapi kedamaian hanya dapat diraih dan dibangun dengan adanya keseragaman kenyataan di lapangan [dengan cita-cita] juga dengan pertimbangan dan pendapat dari masyarakat. Ianya tidak dapat diraih hanya melalui pernyataan. Melainkan harus dengan menghilangkan segala rintangan di jalan menuju perdamaian, [juga] dengan membangun atmosfir kepercayaan diri dan kepercayaan serta inisiasi proses [meraih damai] yang bijaksana.

Sayangnya, situasi saat ini di negeri yang kita cintai (pemerintah boneka Afghanistan) sedang menuju penggunaan kekuatan [militer] tinimbang meningkatkan kemajuan perdamaian. Selain mengulang-ulang janjinya, para penjajah (AS) tidak kunjung mundur dari kancah peperangan. Serangan malam dan pengeboman buta [tanpa tebang pilih] masih berlanjut. [Sementara] Para pejabat di Kabul menggunakan perdamaian sebagai objek politik dan propagandanya. Itu menunjukan bahwa mereka tak memiliki komitmen terhadap perdamaian karena alih-alih memendarkan dan menyuarakan perdamaian, mereka malah meluncurkan operasi militer di berbagai bagian negara ini dalam dinginnya musim di tahun lalu. Mereka telah menghancurkan pemukiman dan kebun-kebun dari orang-orang awam, dan operasi yang merusak itu masih berlanjut hingga kini. Perilaku penjajah dan pemerintah boneka Kabul telah membuka jalan dilanjutkannya peperangan.

Berikut beberapa poin yang harus dipertimbangkan demi perdamaian.

1. Komitmen dan ketulusan adalah elemen terpenting untuk proses perdamaian. Sebuah proses perdamaian yang juga merupakan kewajiban Islam tidak boleh digunakan sebagai alat untuk penipuan, [berbuat] licik dan [dijadikan] tuduhan kepada sisi yang berlawanan. Pertama-tama mereka yang menginginkan perdamaian dan bekerja dalam proses perdamaian harus takut kepada Allah, Yang Mahakuasa. Mereka harus merasa bertanggung jawab dan tidak harus bermain dengan masa depan bangsa yang tertindas.

2. Perdamaian membutuhkan pemikiran yang mendalam dan diskusi. Sebuah kesalahan kecil dalam proses perdamaian bisa membawa masalah besar bagi bangsa kita.

3. Perdamaian membutuhkan gerak yang serius berdasarkan realitas, selain itu akan memperburuk proses perdamaian dan membuka jalan bagi perpanjangan perang. Oleh karena itu, semua langkah harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

4. Poin penting dalam proses perdamaian adalah realisasi atas sentimen dari sisi yang berlawanan. Perdamaian tidak harus diartikan sebagai menyerah. Mereka yang menginginkan perdamaian seharusnya tidak menggunakannya sebagai alat propaganda.

Imarah Islam telah berulang kali menyatakan komitmennya untuk perdamaian yang berkelanjutan dan telah melakukan upaya dalam hal ini. Dengan demikian, telah diajukan strategi yang masuk akal mengenai proses perdamaian yang berbeda baik melalui pertemuan resmi maupun tidak resmi. Akhir pendudukan [musuh] dan pembentukan sistem Islam telah ditetapkan sebagai tujuan utama perjuangan yang sah dan Jihad suci ini. Seperti di masa lalu, Imarah Islam menginginkan perdamaian hari ini dan akan berusaha untuk itu di masa depan. Tapi proses perdamaian harus memiliki beberapa indikasi komitmen, ketulusan dan transparansi. Realita di lapangan harus diperhitungkan karena mengikuti fatamorgana di padang pasir yang kering [tentunya] tidak memiliki makna apa-apa. (adibahasan/arrahmah)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...