Berita Dunia Islam Terdepan

*Imam atau Tuhan*

0 2

Syiah meyakini adanya dua belas imam yang menjadi penerus kenabian. Bagi

syiah, masalah imamah sudah tidak bisa ditawar lagi, karena siapa saja yang

menolak beriman pada salah satu saja dari dua belas imam itu maka dia

divonis menjadi kafir. menolak beriman pada salah satu imam saja sudah kafir

–apalagi menolak beriman pada kedua belas imam tersebut-. Karena yang

menolak dianggap kafir, maka sudah tentu masalah imamah ini merupakan pokok

yang terpenting bagi mazhab syiah. Begitu juga para imam memiliki kedudukan

yang sangat penting bagi syiah. Sudah tentu penting, karena syiah meyakini

bahwa para imam adalah penerus kenabian. barangkali pembaca bertanya-tanya

apakah syiah meyakini bahwa misi kenabian Nabi Muhammad belum selesai

sehingga masih diperlukan penerus lagi? Tetapi inilah keyakinan syiah.

Syaikh Muhammad Ridha Muzhaffar dalam kitab Aqaidul Imamiyah –yang berisi

keyakinan mazhab syiah imamiyah- pada halaman 66 mengatakan bahwa imam

adalah penerus kenabian. karena para imam adalah penerus kenabian, sudah

tentu memiliki sifat-sifat “linuwih” kelebihan yang membuat para imam

berbeda dengan kita-kita. Boleh jadi pembaca yang kebetulan syiah akan merah

telinganya ketika imamnya dibandingkan dengan kita-kita. Ok lah, supaya para

imam berbeda dengan para sahabat Nabi yang merampas hak khilafah secara

tidak berhak –ini sesuai dengan pendapat syiah-. Jika imam sama dengan para

sahabat Nabi, maka bisa jadi sahabat yang menjadi imam, karena tidak ada

perbedaan antara mereka. maka akal mengharuskan adanya perbedaan antara imam

dan orang biasa.

Kembali kita simak syaikh muhammad ridha muzhaffar dalam kitabnya di atas

pada halaman 67: kami meyakini bahwa imam adalah sama seperti Nabi, harus

memiliki sifat yang sempurna dan menjadi yang terbaik dari seluruh manusia.

Lalu mana dalil dari Al Qur’an? Semestinya dalam Al Qur’an telah disebutkan

hal di atas, karena imam sama dengan Nabi. Tetapi sampai saat ini saya belum

menemukan satu ayat pun yang menerangkan adanya imam yang menjadi penerus

para Nabi. Jika dalam Al Qur’an termaktub bahwa Allah mengutus para Nabi,

dan memang Allah menjadikan imam sebagai penerus Nabi, mestinya hal itu

disebutkan dalam Al Qur’an. kita lihat Al Qur’an banyak sekali memuat ayat

yang memerintahkan kita beriman pada Nabi. Tetapi saya belum menemukan ayat

yang menyuruh kita beriman pada imam. Yang ada malah ayat yang menyuruh kita

berdoa pada Allah minta dijadikan imam bagi orang bertaqwa:

*Dan orang-orang yang berkata:”Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami

isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan

jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74)*

Apakah mungkin kita diminta untuk menjadi penerus para Nabi yang memiliki

sifat “linuwih”? jika demikian maka jumlah imam tidak bisa dibatasi dengan

dua belas.

Kita kembali ke pembahasan inti kita, yaitu para imam memiliki sifat

“linuwih” kelebihan. Lalu apa kelebihan para imam syiah yang dua belas?

Tidak ada kitab ahlussunnah yang menerangkan kelebihan dua belas imam syiah.

Karena tidak ada, terpaksa kita meng”explore” kitab syiah lagi.

Saya ucapkan selamat pada pembaca karena dengan membaca makalah ini anda

beruntung membaca riwayat-riwayat yang tidak bisa dibaca oleh banyak orang.

Bahkan penganut syiah sendiri belum tentu pernah membaca riwayat-riwayat di

bawah ini.

Salah satu sisi kelebihan para imam adalah dari sisi keilmuan. ilmu para

imam lebih dari ilmu manusia seluruhnya. Jika ilmu para imam sama dengan

ilmu para sahabat Nabi –misalnya- maka apa bedanya para imam dan sahabat

Nabi?

Riwayat dari kitab Al Kafi jilid 1 hal 192, dari Abu Ja’far mengatakan: kami

adalah wali perintah Allah, kami adalah pembawa ilmu Allah dan penyimpan

wahyu Allah.

Sepertinya Allah dianggap memerlukan para imam untuk menyimpan ilmuNya, jadi

harus “dititipkan” pada para imam syiah. Para imam menyimpan ilmu Allah

berarti para imam mengetahui segala sesuatu tanpa batas. Karena ilmu Allah

tidak ada batasannya. Bahkan dalam Al Qur’an ilmu Allah sebegitu luas

sehingga jika ditulis dengan tinta sebanyak tujuh lautan masih kurang.

Sebegitulah ilmu para imam. Ini jelas menyamakan antara imam dengan Allah,

karena ilmu Allah dianggap sama dengan ilmu para imam. Lalu bagaimana dengan

para Nabi? Jelas para Nabi tidak menyimpan segala ilmu Allah, para Nabi

adalah manusia biasa yang diutus oleh Allah utnuk menyampaikan risalahNya

kepada manusia. Segala tindakan Nabi dituntun oleh wahyu yang turun pada

mereka. maka sudah jelas para Nabi tidak memiliki ilmu Allah, tidak

mengetahui apa yang Allah ketahui. Berbeda dengan para imam yang menjadi

tempat simpanan ilmu Allah, artinya mereka mengetahui apa saja yang Allah

ketahui, ilmu mereka sama dengan ilmu Allah. Jika memang demikian mestinya

yang diutus oleh Allah bukannya Nabi tetapi imam. Para Nabi sendiri tidak

mengetahui apa yang terjadi pada ummat mereka setelah mereka wafat :

*(Ingatlah), hari diwaktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya

(kepada mereka):”Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu”. Para rasul

menjawab:”Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah

yang mengetahui perkara yang ghaib”. (QS. 5:109)*

tetapi imam Ja’far di atas menyatakan bahwa para imam juga mengetahui

perkara-perkara yang ghaib, sama seperti Allah. Nabi Isa pun tidak tahu apa

yang terjadi dengan ummatnya. Allah bertanya pada Nabi Isa apakah pernah

menyuruh ummatnya untuk menyembah diri dan ibunya. Beliau menjawab

pertanyaan Allah:

Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku

(mengatakannya). *Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah

mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak

mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha

Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib*”. (QS. 5:116)

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu:”Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku

menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku,

Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan atas

segala sesuatu. (QS. 5:117)

Ini dikuatkan lagi oleh riwayat berikutnya –pada kitab dan halaman yang

sama- dari Surah bin Kulaib, Abu Ja’far –Muhammad Al Baqir- mengatakan

padanya:

Demi Allah kami adalah penyimpan Allah di bumi dan langitnya, bukan

menyimpan emas dan perak tetapi menyimpan ilmuNya.

Sebagai bukti bahwa mereka memiliki ilmu Allah, terdapat riwayat yang

menjabarkan ilmu yang dimiliki para imam. Jelas para Nabi tidak memiliki

ilmu Allah. Mereka hanya memiliki pengetahuan hal ghaib ketika diberitahu

oleh Allah:

*Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (QS.

72:26)*

*Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan

penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:27)*

Saya katakan pembaca benar-benar beruntung, mendapat kesempatan membaca

nukilan dari kitab syiah yang terbesar, yaitu kitab Biharul Anwar yang

terdiri dari kurang lebih 110 jilid –besar sekali-. Kali ini kita menukil

dari jilid 26 halaman 132 :

Bab Allah membuatkan tiang bagi para imam untuk melihat perbuatan hamba.

Dari Abu Abdullah –imam Ja’far Ash Shadiq-: mengatakan mam mendengarkan suara ketika di perut Ibunya, ketika berusia empat bulan di kandungan dituliskan di lengan kanannya: dan telah sempurna kalimat Allah yang benar dan adil, jika imam tersebut telah lahir maka akan nampak cahay antara langit dan bumi, jika dia mulia berjalan maka dibuatkan baginya tiang dari cahaya untuk melihat apa yang ada antara timur dan barat.

Dalam judul bab jelas sekali bahwa imam mengawasi perbuatan manusia yang ada

di bumi. Di sini kita bertanya lalu apakah tugas imam sebenarnya? Apakah

imam bertugas meneruskan kenabian atau bertugas mengawasi hamba? Lalu

ngapain si imam melihat perbuatan hamba? Apa tujuan imam melakukan hal itu?

Para Nabi tidak pernah dibuatkan tiang oleh Allah untuk melihat perbuatan

hamba di seluruh bumi. Tugas para Nabi adalah menyampaikan risalah Allah,

agar seluruh manusia menyembah Allah dan menjauhi tuhan-tuhan palsu yang

dibuat sendiri oleh penyembahnya. Para Nabi tidak tahu apa yang terjadi esok

hari, kecuali dengan apa yang diberitahukan Allah pada mereka. Nabi tidak

tahu menahu terhadap perbuatan hamba –yang akan dibalas oleh Allah dengan

balasan setimpal-.

Tetapi tidak untuk para imam, mereka juga melaksanakan tugas malaikat untuk

mengawasi hamba-hambanya.

Dalam Al Kafi jilid 1 hal 261 Imam Abu Abdillah –Ja’far Ashadiq-

Masih banyak lagi riwayat tentang ke”linuwih”an para imam, semoga kita bisa

mengungkapnya.

Para sahabat Nabi bukanlah imam yang bisa mengetahui yang ghaib, mereka

adalah manusia biasa yang lahir dalam keadaan normal –tanpa tulisan ayat di

lengannya-, bahkan banyak dari mereka adalah para “mantan” preman, pemabok,

penjudi dan banyak lagi sifat-sifat lainnya. Anda tidak akan pernah

menemukan riwayat dalam kitab ahlussunnah yang menyatakan bahwa para sahabat

adalah penyimpan ilmu Allah dan mampu melihat amalan seluruh manusia di

penjuru planet bumi ini. Sahabat tidak memerlukan riwayat riwayat buatan

manusia seperti itu, tetapi cukup dengan ayat Al Qur’an yang abadi dan tidak

akan dapat berubah selamanya, yang hanya diyakini oleh orang Islam:

*Sesungguhnya Allah telah ridha** terhadap orang-orang mu’min ketika mereka

berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada

di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi

balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. 48:18)*

*Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil.Dan adalah Allah

Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 48:19)*

Ayat di atas membahas para sahabat yang bersama Nabi dalam peristiwa baiat

di hudaibiyah, jumlah mereka sekitar 1500 orang. Allah telah ridha pada

mereka padahal mereka masih hidup di dunia. Mereka para sahabat yang

dianggap “gembel” oleh rasa persia, dan akhirnya kerajaan persia dikubur

oleh para sahabat untuk selamanya, ternyata diridhai oleh Rabb mereka.

meskipun bangsa persia benci dan mendendam dalam hatinya. Tenang saja,

dendam itu tidak akan membangkitkan kerajaan persia raya dari kuburnya.

Dengan keridhaan Allah ini cukuplah kebanggaan bagi mereka, cukuplah alasan

bagi kita untuk mencintai mereka, sebagai konsekwensi kecintaan kita kepada

Allah. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk membenci mereka yang dicintai

Allah. Tidak ada alasan bagi anda untuk membenci mereka, jikalau anda masih

beriman pada ayat di atas. jika anda menganggap sahabat Nabi telah kafir,

-ingat, Abubakar dan Umar termasuk mereka yang berbaiat pada Nabi di

Hudibiyah-, silahkan anda keluar dari islam dan nyatakan dengan terus

terang, jangan malu atau takut menyuarakan keyakinan anda. Jika anda

menyembunyikan keyakinan jahat bahwa Abubakar dan Umar telah kafir dalam

hati, maka Allah tetap mengetahui apa yang ada dalam hati kita, Anda mesti

mengedepankan penilaian Allah daripada penilaian teman, guru, tetangga

maupun keluarga anda sendiri.ini jika anda masih ingin disebut muslim.

(www.arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...