Berita Dunia Islam Terdepan

Dokter Malaysia berikan pengobatan gratis di Markaz Dewan Dakwah Aceh

Wakil Rektor Cyberjaya Universiry Prof Dr Abdul Latiff (dua dari kiri) didampingi Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA (berpeci) sedang melakukan sunnatan kepada seorang anak di Komplek Markaz Dewan Dakwah Aceh di Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Kab. Aceh Besar, Jum’at (29/7).
3

ACEH BESAR (Arrahmah.com) – Rombongan dokter dan mahasiswa kedokteran dari Cyberjaya University, College of Medical Sciences Malaysia yang berjumlah 42 orang menggelar pengobatan, sunnatan massal dan konsultasi kesehatan secara gratis di Komplek Markaz Dewan Dakwah Aceh di Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Kab. Aceh Besar, Jum’at (29/7).

Masyarakat yang berada di sekitar Markaz Dewan Dakwah Aceh ini pun sangat antusias dengan kegiatan tersebut. Meski demikian masyarakat dari luar Kec. Krueng Barona Jaya juga ikut serta di dalamnya, diantaranya dari Kec. Darussalam, Kec. Kuta Baro, Kec. Ulee Kareng. Tercatat ada 30 anak yang di sunnat, kepada mareka juga diberikan bingkisan dan 100 orang lebih yang memeriksa kesehatannya.

Wakil Rektor Cyberjaya Universiry Prof Dr Abdul Latiff mengatakan kegiatan pengobatan ini bertujuan untuk memberikan kesehatan kepada masyarakat. Kegiatan serupa juga pernah dilaksanakan di negara lain, selain Malaysia dan Indonesia, yaitu di Vietnam, Kamboja dan Philipina. Menurutnya pengobatan yang mareka lakukan ini merupakan penggabungan cara moderen dan cara islami. Dan semua peralatan dan obat-obatnya pun dibawa langsung dari Malaysia.

“Untuk sunnatan massal, memakai teknik laser dengan bantuan alat flashcutter. Alat tersebut made in Indonesia, yaitu di Bandung. Kami cuma pakai saja,” kata Prof Latiff dengan logat melayunya yang kental sambil tersenyum.

Dia menambahkan biasanya dengan cara tersebut anak yang baru di sunnat akan sembuh dalam kisaran 3 sampai dengan 5 hari. Ini juga sangat tergantung dari penjagaan orang tua mareka sendiri.

Prof Latiff juga mengungkapkan bila di Malaysia sunnat dengan cara tersebut harus membayar seharga 350 – 400 ringgit atau sekitar 1 juta lebih.

Sementara itu Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA mengatakan kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama Dewan Dakwah Aceh dengan Cyberjaya University Malaysia. Ia pun menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap kerjasama ini akan berlangsung sepanjang massa.

“Cyberjaya University, College of Medical Sciences Malaysia ini menggunakan cara-cara islami dalam melakukan pengobatan. Dan ini tentunya sangat selaras dengan program di beberapa Rumah Sakit yang ada di Aceh, yang juga sedang menuju ke arah tersebut, seperti di RSUZA Banda Aceh” ungkap Hasanuddin.

Menurut Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Pemerintah Aceh sangat perlu untuk melakukan kerjasama bidang kesehatan dengan Cyberjaya University, College of Medical Sciences Malaysia. Apalagi Gubernur Aceh sekarang juga seorang dokter. Oleh karena itu Dewan Dakwah Aceh akan menjembati dan memprakarsai pelaksanaan kerjasama tersebut.

“Dewan Dakwah Aceh akan memperkenalkan Cyberjaya University ini kepada Pemerintah Aceh. Insha Allah Jumat (29/7) malam ba’da Isha, Dewan Dakwah Aceh, Cyberjaya University dan Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah akan melakukan pertemuan sekaligus makan malam bersama di restoran pendopo, Anjong Mon Mata. Semoga kerjasama tersebut akan teralisasi,” ujar Hasanuddin.

(azmuttaqin/*/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...