Berita Dunia Islam Terdepan

Daulah Slogan, jeratan bagi perindu Khilafah

Daulah Slogan, menjerat perindu khilafah.
36

SURIAH (Arrahmah.com) – Tidak ada yang lebih membahagiakan seorang perindu, kecuali berjumpa dengan yang dirindukannya. Sifat alamiah itulah juga kiranya yang dimanfaatkan Daulah Al-Baghdadi dalam menjerat para perindu khilafah.

Di tengah kerinduan berat itu, Ummat digiring untuk mempercayai keabsahan Khilafah Al-Baghdadi yang disulap sebagai pengisi posisi pemimpin Islam dunia yang didambakan. Al-hasil, tak sedikit janji setia kaum Muslimin yang ikhlas dijaring menjadi anggota dan simpatisan Jama’ah Daulah.

Daulah juga menguatkan jeratan itu melalui slogan-slogan pembaakar semangat, yang dimanfaatkan untuk menghancurkan agenda jihad kaum Muslimin sedunia. Sayang sekali!

Keterpedayaan itu akhirnya mendorong Syaikh Abu Mundzir Asy-Syinqithi, salah seorang ulama senior di Mimbar Tauhid wal Jihad yang dahulu aktif memberikan pembelaan kepada Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) sebelum deklarasi Khilafah oleh Al-Baghdadi, angkat bicara. Berikut risalah beliau yang telah diterjemahkan dan dipublikasikan Muqawamah Media pada Sabtu (11/7/2015).

Daulah Slogan

Oleh: Syaikh Abu Mundzir Asy-Syinqithi Hafidzahullahu

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan atas nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Saya menulis tema ini untuk orang-orang yang meyakini bahwa eksistensi Islam dan keberlangsungannya adalah tidak bergantung pada Jama’ah Daulah.

Saya menulis risalah ini untuk orang-orang yang meyakini bahwa menyelisihi Jama’ah Daulah bukanlah perbuatan kufur, dan bermusuhan dengan mereka bukanlah perbuatan zindiq. Sesungguhnya mengkritisi dan menjelaskan aib-aib Jama’ah ini adalah perkara yang diatur oleh hukum, berbeda dengan pihak yang mengharamkannya sama sekali.

Saya menulis risalah ini untuk orang-orang yang meyakini bahwa tercapainya kemenangan dan berkembangnya kekuasaan tidak selalu berarti manhaj dan jalan pengusungnya adalah benar dan lurus! Karena sungguh telah ada daulah yang berkembang kekuasaannya, sedangkan ia diusung oleh manusia paling fajir dan paling fasiq.

Saya menulis risalah ini untuk orang-orang yang mau membaca kajian terhadap kebenaran darimanapun sumbernya, bukan untuk orang-orang yang hanya membaca apa yang ia inginkan, dan bukan untuk orang-orang yang tidak bisa percaya kecuali pada pihak yang ia cintai.

Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu telah berkata: telah berkata Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” HR. Muslim

Hadits ini merupakan perkara ushul dalam menetapkan kebenaran hakiki atas segala sesuatu dan menyingkap tampilan dhahir yang menipu darinya. Karena sesungguhnya nama saja tidak bisa mengubah hakikat sesuatu, serta pemandangan dhahir dan segala bentuknya yang tampak tidaklah cukup, sehingga hakikatnya benar-benar menjadi jelas dan terang.

Sesungguhnya kebatilan telah berwujud dengan berbagai macam rupa, bahkan terkadang musuh datang dengan wujud sahabat dekat. Makar musuh telah dihiasi dan cukup terlatih, terkadang ia tampil dalam wujud tertentu di satu kesempatan, dan pada kesempatan yang lain ia tampil dengan wujud yang lain.

Imam Malik telah meriwayatkan dalam Kitab Al-Muwattha’:

“Seorang laki-laki dari penduduk Yaman telah dipotong tangannya, lalu ia datang mengadu kepada Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq Radhiyallahu anhu. Dia mengadu kepada Abu Bakar As-Shiddiq: ‘Gubernurmu di Yaman telah mendhalimiku’. Pada saat itu Abu Bakar sedang shalat malam, lantas beliau berkata: ‘Demi ayahmu, kamu adalah pencuri’. Lalu kemudian Asma’ binti Umais (istri Abu Bakar) kehilangan kalungnya, maka si lelaki yang tangannya terpotong ini ikut mencari kalung tersebut bersama yang lainnya (di dalam rumah Abu Bakar), lantas ia berkata: ‘Ya Allah atas Engkau-lah yang (menganggu) penghuni rumah yang shalih ini.’ Lalu mereka mendapatkan kalung tersebut pada seorang pedagang perhiasan, pedagang tersebut mengklaim bahwa lelaki yang terpotong tangan itulah yang menjual kalung itu untuknya. Maka si lelaki yang tangannya terpotong ditangkap dan ia mengakui perbuatannya. Maka Abu Bakar As-Siddiq memerintahkan untuk memotong tangannya yang sebelah kiri, dan beliau berkata: ‘Demi Allah do’a dia untuk dirinya sendiri adalah lebih dahsyat bagiku dari apa yang telah ia curi.'”

Imam Al-Baihaqi telah meriwayatkan dalam As-Sunan dengan sanad yang shahih, bahwasanya Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu telah berkata:

“Jangan kalian menilai seseorang dari puasa, atau shalatnya. Tetapi lihatlah kejujuran omongannya ketika ia berbicara, dan lihatlah sikap amanahnya ketika ia dipercaya, serta sikap wara’nya ketika ia diberi jabatan.”

Dalam lafadz yang lain, Umar bin Khattab juga berkata:

“Janganlah kalian terkesima dengan retorika seseorang. Adapun seseorang yang menjaga amanah dan menjaga kehormatan manusia, maka dialah lelaki sejati.”

Maka sungguh naif barangsiapa yang mengira bahwa siapa yang mengangkat slogan (syi’ar-syi’ar) Islam, maka ia adalah orang yang bersungguh-sungguh dan jujur dalam dakwahnya.

Adapun sekedar mengangkat slogan-slogan Islam, maka itu adalah perkara mudah dan gampang. Akan tetapi ketika menjalankannya, maka akan tampak hakikat-hakikat yang tersembunyi dan menjadi jelas pula perkara-perkara yang rahasia.

Oleh karena itulah mewujudkan penerapan slogan-slogan tersebut terlebih dahulu merupakan perkara yang paling penting, sebelum berjalan di belakang slogan-slogan itu secara membabi buta. Yang mana malah mencerminkan kenaifan dan kebodohan mereka, serta menjadikan mereka mainan di tangan musuh-musuh yang sedang membuat makar.

Sungguh fatal apa yang telah menimpa kaum muslimin akibat lalai dan lengahnya orang-orang yang shalih!

Imam Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan dari Matraf bin Abdullah bin As-Sukhair bahwasanya ia telah berkata:

احتَرِسُوا مِنَ النَّاسِ بِسُوءِ الظَّنِّ

“Berhati – hatilah dari (kejahatan) manusia dengan cara berperasangka tidak baik (atas mereka).”

Berkata At-Thabrani dalam kitab Al-Ausath: hadits ini marfu’ dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, tetapi sanadnya lemah. Berkata As-Sakhawi dalam kitab Al-Maqasid Al-Hasanah bahwa terdapat banyak sekali jalur periwayatan hadits ini yang menguatkan satu dengan yang lainnya.

Berkata Imam As-Suyuthi dalam menafsirkan hadits ini:

“Janganlah kalian mempecayai semua orang dengan mudah, karena itu lebih selamat bagi kalian.”

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (177/2) dengan sanad yang shahih tentang perkataan Imam Hasan Al-BasriRahimahullahu:

“Sikap bijaksana (berhati-hati) itu adalah engkau berburuk sangka pada manusia.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang-orang beriman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu,” QS. An-Nisaa: 71

Dan Allah juga telah berfirman:

وَلا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذينَ لا يُوقِنُونَ

“Dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu”. QS. Ar-Ruum: 60

Dan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu telah berkata: “Aku bukanlah seorang penipu dan tidak ada penipu yang bisa memperdayaiku.”

Imam Ibnul Qayyim telah berkata: “Umar radhiyallahu anhu adalah orang yang paling wara’ dan tidak menipu, dan ia adalah orang paling berakal yang tidak bisa ditipu.”

Sesungguhnya umat jika mereka meletakkan perkara mereka diatas panji slogan dan embel, maka mereka tidak akan menyadari jika arah perjalanannya telah melenceng dan perkara mereka telah diusik. Bukankah slogan dan embel-embel dusta menjadi sebab dari banyak musibah dan tragedi yang menimpa umat ini? Bukankah terbunuhnya Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiyallahu anhu juga disebabkan karena slogan-slogan palsu? Dan bukankah sistem dan tuhan-tuhan yang sesat menyebarkan kesesatan mereka dengan slogan-slogan palsu?

Bukankah berkembangnya paham ba’ats, sosialisme dan liberal di dunia Islam disebabkan oleh slogan-slogan palsu? Mungkinkah Barat mampu memperluas pengaruhnya dan menjalankan agendanya di dunia Islam jika bukan karena slogan-slogan palsu PBB dan HAM? Bukankah paham demokrasi disebarkan dengan slogan-slogan palsu?

Sesungguhnya memperjual belikan slogan-slogan agama telah sangat laris saat ini, digunakan oleh banyak mereka yang berniat buruk. Sungguh Rasulullah shalallhu alaihi wa sallam telah bersabda:

يخرج في آخر الزمان رجال يختلون الدنيا بالدين يلبسون للناس جلود الضأن من اللين ألسنتهم أحلى من العسل وقلوبهم قلوب الذئاب يقول الله: أبي يغترون أم علي يجترئون فبي حلفت لأبعثن على أولئك منهم فتنة تدع الحليم منهم حيران

“Akan muncul di akhir zaman lelaki yang memanipulasi agama untuk kepentingan dunia, mengenakan pakaian yang halus-halus, lidah mereka lebih manis daripada madu tetapi mereka berhati serigala. Allah berfirman, “Apakah kepada-Ku mereka sombong atau, kepada-Ku mereka berani. Atas nama-Ku mereka bersumpah. Maka akan ditimpakan kepada mereka fitnah, yang membuat orang-orang pandai jadi kebingungan.” HR. At-Turmudzi

Dan Rasulullah shalallhu alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadits qudsi:

إن الله تعالى قال: لقد خلقت خلقا ألسنتهم أحلى من العسل وقلوبهم أمر من الصبر

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menciptakan golongan manusia yang lidah mereka lebih manis dari madu dan hati mereka lebih pahit dari getah.” Diriwayatkan oleh Imam At-Turmudzi dan ia berkata: hadits ini hasan shahih.

Memperjual belikan slogan-slogan agama demi agenda politik dan kepentingan pribadi bukan barang baru. Betapa banyak para pembuat hukum dan thagut yang mencoba menggunakan agama dengan mencomot slogan-slogannya dalam rangka membenarkan hukumnya atau kekuasaannya.

Lihatlah para pemerintah yang berhukum dengan hukum positif, pada awalnya semua mereka mengklaim bahwa hukum itu mereka ambil dari syariat Islam, dan syariat Islam adalah landasan utama hukum buatan ini!

Sesungguhnya orang-orang yang tidak bisa memahami bahwa upaya menggunakan slogan-slogan jihad dan tahkim syariat dalam rangka untuk mencapai kepentingan lain adalah berlawanan dengan syariat, maka mereka perlu mengkaji kembali tarikh dan pengetahuan bagaimana keberhasilan Ibnu Saba’ menjalankan rencana dan agendanya, dan bagaimana kaum A’bidiyyun memperluas kekuasaan mereka di dunia Islam, dan bagaimana keberhasilan Ibnu Tumart menegakkan daulahnya, serta bagaimana cara Ibnu Sa’ud berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin.

Lihatlah hari ini kita sedang menyaksikan Iran memperluas kekuasaannya dan sedang berupaya mengembalikan dinasti syiah!

Sesungguhnya sejarah telah menjadi saksi bahwa begitu banyak Imarah dan Daulah yang ketika dirintis diklaim membawa asas untuk mengimplementasikan syariat, namun ketika mereka telah berdiri kenyataannya ia malah menjadi rezim tiran yang tidak ada hubungannya dengan syariat.

Dan hari ini gambaran ini juga telah terlihat pada Daulah Al-Baghdadi dengan bentuk yang amat jelas bahkan jauh hari sebelum ia berdiri. Melalui propaganda yang menggiurkan dan slogan-slogan yang menarik Daulah Al-Baghdadi telah mampu untuk menggiring kedalamnya para pemuda penuh semangat yang tertipu dengan slogan dan embel dan tidak mengerti realita di dalam.

Sungguh di dalam Jama’ah ini masih terdapat orang-orang polos yang masih menganggap benarnya keislaman seorang hakim (thagut) hanya karena ia menghadiri shalat ied, atau karena ia mencetak mushaf Alquran, atau karena seringnya ia hadir ke masjid. Beginilah keadaanya, sesungguhnya Daulah Al-Baghdadi pada umumnya dan kebanyakan mereka hanyalah kumpulan orang-orang polos! Maka menjadi besar orang yang kerdil di mata orang-orang kerdil pula, dan menjadi kecil orang yang besar di mata orang-orang yang besar!

Sesungguhnya Al-Baghdadi tidak pernah berhasil memperluas pengaruhnya melainkan dengan menggunakan kekuatan senjata, dan dengan kenaifan orang-orang yang tertipu yang mereka mengira bahwa setiap yang putih adalah tulang dan setiap yang merah adalah darah!

Sangat sulit bagi mereka untuk menerima bahwa Daulah yang telah mereka pertaruhkan nyawa mereka dengan hijrah kepadanya ternyata bukanlah Daulah Islamiyah sebagaimana yang mereka impikan. Ternyata kemenangan yang dahulu mereka kira akan raih (dengan Daulah) hanyalah ilusi belaka.

Tsa’lab telah ditanya tentang makna hawa, lantas ia berkata:

“Mata menjadi buta untuk bisa melihat dengan adil, dan telinga menjadi tuli untuk mendengar mana yang memiliki cela”

Anehnya, kebanyakan pasukan dan simpatisan Daulah Al-Baghdadi tidak berpegang pada Daulah mereka apalagi kepada Al-Baghdadi pribadi dan siyasahnya. Mereka hanya bercita-cita agar Daulah mereka menjadi benar-benar Daulah Islamiyah.

Beginilah yang lisan mereka katakan:

“Berharaplah (Daulah) menjadi hak, dan itulah sebaik-baik harapan. Jika (Daulah) tidak (menjadi sesuai harapan) maka setidaknya kita telah pernah hidup di dalamnya dalam waktu yang penuh kebahagiaan.”

Sebagaimana orang yang sedang tenggelam mengharapkan pelampung agar selamat, maka begitupula para pencari Daulah Islamiyah mereka bergantung pada Daulah Al-Baghdadi baik dengan berada dalam intinya atau pinggirannya, sehingga tidak melewatkan kesempatan sedikitpun untuk menciptakan Daulah mereka. Seakan-akan yang paling penting bagi mereka hanyalah adanya nama “Daulah Islam” dengan sedikit gambaran keadaan dan karakteristiknya.

Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang telah meninggalkan keluarga mereka dan tanah air mereka untuk berjuang di jalan Allah dan menjaga kehormatan kaum muslimin. Tetapi hari ini yang mereka lindungi dan jaga tidak lain hanyalah politiknya Al-Baghdadi. Bahkan mereka rela memerangi kaum muslimin demi mewujudkan kepentingan politik ini. Daulah ini telah menjelam menjadi gelanggang pembantaian bagi para pemuda ini.

Mujahidin Daulah Islam (Irak) telah melakukan kesalahan pada tahun 2007 tatkala mereka membuka pintu selebar-lebarnya kepada siapa saja yang ingin bergabung dan berafiliasi dengan Daulah, dan diantara yang bergabung saat itu adalah para perwira senior partai Ba’ats. Setelah berjalannya waktu, maka serangan atas mujahidin Daulah semakin dahsyat dan para pemimpin mereka berhasil ditargetkan oleh musuh. Lalu orang-orang yang baru terlibat ini berhasil mencapai pusat tandhim dan komando, walaupun visi yang mereka bawa sebenarnya jauh sekali dari jihad dan tujuannya.

Ingatlah kembali kisah seorang wanita yang mengasuh bayi serigala yang terlantar, lalu ia jadikan dombanya menyusui serigala tersebut. Tatkala ia tumbuh dewasa ia pun membunuh si domba dan memangsanya, lalu ia kabur. Si wanita tadi berkata: “Kau telah disapih di kandang si domba, dan kau hidup dengannya, siapa yang memberitahumu bahwa ayahmu seekor serigala!?”

Al-Baghdadi sedang merangsang semangat para pengikutnya dengan slogan-slogan yang menjadikan mereka nekat untuk terus berada di belakangnya. Al-Baghdadi menyadari bahwa semangatlah yang menjadi pendorong utama banyaknya pemuda bergabung ke Jama’ah Daulah. Metode Al-Baghdadi memperjual belikan embel-embel “Daulah Islam” tidak berbeda dengan Barat yang juga memperjual belikan embel-embel “Kebebasan”, “Hak Asasi” dan “Keadilan”. Slogan-slogan sebagai penghias semata untuk menipu manusia dan tidak nyata.

Sungguh Al-Baghdadi menyadari bahwa orang-orang polos dan lugu yang mendukungnya telah menelan nikmatnya slogan “Tamaddadad Daulatul Islamiyah”, lalu ia tambah kenikmatan itu dengan rasa yang lebih menipu yaitu pegumuman Khilafah. Kemudian ia tambahkan rasa lain lagi yaitu mewajibkan jizyah atas kaum Nasrani. Dan kemudian ia berikan rasa baru dengan penerapan Dinar emas. Beginilah Al-Baghdadi menyuguhkan rasa demi rasa untuk orang-orang yang ia tipu, agar mereka memberikan loyalitas mereka padanya dan senantiasa berjalan di belakangnya.

Al-Baghdadi telah bermain dalam urat saraf mereka, memanfaatkan momen yang mereka nantikan, yaitu dengan pengumuman khilafahnya. Alangkah bahagianya mereka tatkala mengetahui khilafah telah kembali, dan kesepatan Sykes-Picot telah diruntuhkan dengan berbagai gambaran dan ilusi semu yang telah disuguhkan. Untuk menjadikan sebuah khilafah benar adalah khilafah, bagi orang-orang lugu ini cukup dengan pengumuman saja, mewajibkan jizyah, memerangi orang-orang musyrik, dan mewajibkan menjadi muslim kepada siapa non muslim. Serta dengan potong tangan, bunuh orang, dan rajam, serta menghukum para pelanggar atas dasar menegakkan hudud!

Daulah Al-Baghdadi telah membunuh dua ekor burung dengan satu lemparan batu:

  1. Mengeksekusi para penentangnya.
  2. Menyuguhkan kepada pengikutnya yang lugu bahwa ia sedang melaksanakan hudud.

Beginilah cara para pemerintahan thagut dari masa ke masa, mereka mengeksekusi para penentang mereka di atas papan nama penegakan agama dan pemberantasan para perusak. Sebagaimana Fir’aun tatkala ia berkata:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena Sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”. QS. Ghafir : 26

Adapun penyerangan atas kaum Nasrani dan kaum Yazidi adalah sebuah langkah politik yang memang harus ditempuh oleh Al-Baghdadi -dengan segala resiko-, sehingga ia mampu menjadikan pasukannya merasakan hidup dalam angan khilafah. Dan ia ingin menegaskan pada pasukannya bahwasanya merekalah satu-satunya pihak pada hari ini yang benar-benar menjalankan Islam. Karena hanya mereka sajalah yang menerapkan jizyah atas kaum Nasrani dan mereka memerangi kaum musyrikin.

Para penyeru slogan penipuan telah membesar-besarkan pelaksanaan perkara-perkara ini untuk menipu manusia dan untuk menutupi kedok mereka yang sebenarnya. Namun orang yang jeli pasti mampu membedakan antara orang yang benar menangis dan hanya pura-pura menangis.

Politik pencitraan dan promosi imej seperti ini digunakan sebagai jubah sang khalifah! Seorang aktor kawakan tentu tidak akan lupa pentingnya kostum dengan segala asesorisnya untuk memberikan pertunjukan sempurna kepada para penonton. Oleh sebab itulah Al-Baghdadi menampilkan kostum yang khusus untuk mengembalikan kembali kenangan orang-orang lugu ini akan masa-masa para khalifah Islam terdahulu. Dan juga peran aktif media Jama’ah Daulah yang sangat masif mempropagandakan citra “khilafah” dibandingkan realita.

Merupakan hak kita untuk bertanya: Apa yang telah berubah dari keadaan kaum muslimin setelah Jama’ah Daulah melakukan lompatan-lompatan fenomenal yang membangkitkan semangat para pengikut dan simpatisannya?

Sesungguhnya Jama’ah Daulah sangat fokus terhadap slogan-slogan mereka dan berusaha merealisasikannya dengan cara menerapkan maksud slogan tersebut dan menjadikannya semakin jauh dari sebelumnya. Contoh dari hal ini adalah: Pengumuman “At-Tamaddadad” oleh Al-Baghdadi, yang mana ia menyeru pesatuan seluruh mujahidin di Syam dan Irak. Tapi walhasil, langkah ini malah menyulut perpecahan mujahidin dan menyebabkan terjadinya peperangan diantara mereka. Sungguh keadaan mujahidin sebelum pengumuman “At-Tamaddadad” oleh Al-Baghdadi jauh lebik baik dibandingkan setelah pengumuman.

Al-Baghdadi sama sekali tidak mengevaluasi kekeliruannya yang sudah terjadi, dia malah makin menjadi-jadi dengan mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang khalifah, kali ini dia bertujuan menyatukan kaum muslimin. Tetapi kenyataannya, pengumuman khilafah Al-Baghdadi malah menjadi sebab utama terpecahnya barisan mujahidin di timur dan barat, dan keadaan mujahidin sebelum pengumuman khilafah Al-Baghdadi adalah jauh lebih baik daripada setelah pengumuman ini.

Dan baiat yang diserukan Al-Baghdadi atas daulahnya adalah untuk mendapatkan loyalitas dan keta’atan. Tapi pada kenyataannya bai’at ini telah menyebabkan banyak mujahidin membatalkan sepihak baiat mereka terdahulu dan menjadikan mereka bermaksiat pada amir-amir mereka yang telah lebih dahulu mereka ba’iat.

Dalam khutbahnya yang terakhir, Al-Baghdadi tidak lupa memberikan ucapan selamat kepada para pengikutnya di Afghan, Yaman, dan Magrib Islami yang telah memisahkan diri mereka dari amir-amir mereka dan kini memba’iatnya, dan bahkan Al-Baghdadi meminta pada mereka lebih dari itu. Tapi sorotan Al-Baghdadi telah luput terhadap mujahidin Somalia yang sedang memerangi pasukan salib. Hal ini disebabkan keengganan mereka untuk berbaiat padanya.

Sesungguhnya Daulah Al-Baghdadi tidak membutuhkan ba’iat yang syar’i, yang mereka tuntut hanyalah ketundukan atas mereka dengan menggunakan tampilan ba’iat yang syar’i. Oleh karena itulah ia mengambil baiat dengan segala cara, baik dengan cara yang makruh hingga cara yang terlarang untuk mengambil baiat.

Fitnah Al-Baghdadi telah merajalela atas kita, fitnah itu telah memporak porandakan jama’ah-jama’ah jihad dan memecah belah barisan. Dan mengarahkan para pemuda yang mencintai jihad yang telah bergabung dalam daulahnya berada diambang dua gelora api:

Pertama: Para pemuda ini mengingkari para masyayikh jihad, pimpinan dan tokoh-tokoh jihad dengan memotong hubungan dengan mereka.

Kedua: Mereka berlepas diri dari program-program Daulah sehingga nyawa mereka berada dalam bahaya.

Saudaraku, barangsiapa yang mencintai kekuasaan maka dikhawatirkan akan terjebak dalam bid’ah dan kesesatan. Diriwayatkan bahwa Hilal bin Yasaf telah berkata:

“Nabi shalallahu alaihi wa sallam telah mengutus Al-Miqdad radhiyallahu ‘anhu sabagai mata-mata. Tatkala ia kembali, maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padanya: ‘Apa yang telah engkau perhatikan dari Imarah mereka?’ Berkata Al-Miqdad: ‘Wahai Rasulullah, Aku telah mendatangi suatu kaum yang mana aku merasa bahwa aku tidak lebih utama dari mereka. Dan tatkala aku keluar darisana mereka menghadiahkanku seorang budak.’ Maka Rasulullah berkata: ‘Seperti itulah seharusnya sebuah Imarah wahai Abu Ma’bad.'” Diriwayatkan dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan telah disepakati oleh Ad-Dzahabi.

Sungguh musuh-musuh proyek jihad global telah berusaha untuk merusak jihad dengan menggunakan mata-mata di berbagai kesempatan yang berbeda-beda. Tapi Al-Baghdadi, dialah orang pertama yang coba mencuri keseluruhan projek jihad global, lalu ia manfaatkan sesuka hatinya.

Daulah Islamiyah yang hak sebenarnya adalah amal jama’ah, yang dipingkul oleh para pemimpin jihad, para pasukan, para ulama, dan para anshar, sertar kaum muslimin umumnya. Sedangkan hari ini “Daulah” hanya menjadi milik Al-Baghdadi seorang. Tidak seorangpun dibenarkan mengambil peran di dalamnya melainkan dengan izin dan perintah Al-Baghdadi.

Adapun Al-Baghdadi, ia telah bermaksiat kepada para amir jihad dan para ulama yang berperan sebagai pemberi arahan. Ia mengambil langkah sendiri dan menyelisihi para umara’, dan ia juga menutup rapat kedua telinganya dari mendengar arahan para Ulama. Kemudian ia memutus jalan untuk siapa saja dari mereka untuk tetap memiliki peran dalam membantu Daulah, dan untuk mengarahkannya baik dengan masukan dan arahan, padahal mereka melakukan itu tulus bukan atas dasar haw nafsu dan kepentingan pribadi mereka.

Hari ini tidak mungkin lagi para pemimpin jihad dan para ulama jihad mengayomi daulah, tidak mungkin lagi mereka bisa berkata pada daulah: “mengapa kalian lakukan ini?” Apa lagi untuk berkata: “lakukanlah ini!” atau “jangan lakukan itu!”.

Jika yang menjadi inti majelis bukan seorang yang mulia

Maka tidak ada kebaikan dari apa yang dihasilkan majelis

Daulah kini telah terlepas dari rangkulan para pemimpin jihad dan ulama jihad, semua itu karena ulah Al-Baghdadi yang telah mencengkram dan merusak jama’ah ini, persis seperti bayi yang sedang merusak mainan. Dan tidaklah Al-Baghdadi dan orang-orang yang mempengaruhinya memutus baiat mereka secara sepihak dari Syaikh Ayman Az-Zhawahiri, melainkan agar mereka bisa mengendalikan Daulah semau mereka.

Inilah dia madrasahnya Ba’ats! Beginilah metode yang dahulu telah ditempuh Saddam Husein untuk meraih kekuasan! Saddam juga telah meninggalkan dan berlepas diri dari para pendampingnya dari Partai Ba’ats yang telah membantunya untuk melakukan kudeta, sehingga akhirnya ia menjadi penguasa tunggal, dan ia raih apa yang inginkan.

Al-Baghdadi telah menjadikan wadah jihad yang merupakan wadahnya umat sebagai alat pemenuh hasrat dan kepentingan pribadinya. Ia manfaatkan Daulah Islamiyah dengan slogan-slogannya, para tentaranya, medianya, dan simpatisannya untuk ia bangun daulah pribadinya dan sesuai kehendaknya. Dia bagaikan seorang kontraktor penipu yang mencuri besi dan semenmu untuk ia bangun rumah pelanggannya yang lain.

Akan tetapi Daulah Islamiyah akan tetap baqiyah, sedangkan Daulah Al-Baghdadi akan musnah. Slogan-slogan palsu ini akan menampakkan kebohongannya, para tentara yang lugu akan berpaling darinya setelah tidak sanggup bertahan lagi karena mereka telah mengetahui kebenaran-kebenaran yang ada. Mungkin Al-Baghdadi telah berhasil menipu dalam waktu tertentu, tetapi ia tidak mungkin bisa menipu selalu. Pada saat itu tidak mungkin ada yang bersikeras untuk tetap bersama berhala “Daulah” kecuali ia adalah orang yang bahkan tidak bisa mengenali wajahnya di cermin.

Kaum muslimin juga pernah tertipu oleh Hizb Hasan Nasrullah Ar-Rafidhi, selama bertahun-tahun mereka mengira bahwa benar ia adalah pelindung Islam dan kaum muslimin. Selang beberapa waktu, maka menjadi jelaslah kepada seluruh manusia bahwa hizb yang ia pimpin adalah hizb rafidhah.

Al-Baghdadi mengira semuanya akan berjalan baik-baik saja dengan politik “satu tangan mengapung diatas dan tangan lainnya menyembelih”. Ia berharap semua rahasia dan hakikatnya akan tetap tersembunyia sebagaimana dasar air yang tidak bisa dilihat dari permukaan. Adapun yang terjadi sekarang adalah Daulah Al-Baghdadi dengan segala slogan dan propaganda medianya berlawanan dan kontras dengan realita. Sebagaimana seorang yang sakit sedang menampakkan pada anda bahwa ia sehat-sehat saja, padahal dari dalam mungkin penyakitnya sudah sangat berbahaya.

Mungkin Al-Baghdadi berhasil secara finansial dan persenjataan untuk memperluas pengaruhnya di beberapa wilayah dalam beberapa waktu terakhir, dan dia juga berhasil menarik para pemuda yang penuh semangat demi memuluskan proyeknya, tetapi hal ini tidak lantas menjadikan daulahnya Al-Baghdadi menjadi Daulah Islamiyah yang masyru’.

Mungkin ada beberapa orang yang bertanya: “Apa yang menjadikan kami yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Jama’ah Daulah adalah hanya slogan dan embel-embel semata bukan selain itu?”

Maka jawaban kami untuk itu adalah: “Perkara ini sangat sederhana dan mudah dipahami. Setiap kali kita melihat siapapun mengangkat slogan-slogan Islam dan syariat atau khilafah, dan di waktu yang sama ia menyelisihi syariat, menumpahkan darah-darah yang suci, tidak mendengarkan ulama dan bahkan membunuhi siapapun yang menyelisihi mereka. Lalu ia menyingkirkan dari sisinya orang-orang berilmu dan berpengalaman, serta menjadikan hukum antara ia dan yang menyelisihinya hanya pedang dan bukan syariat, maka itu artinya jelas sekali bahwa slogan-slogan yang ia bawa hanyalah tipuan semata, dan tidak terbuktikan dalam realita.”

Jika engkau mendapati seseorang menyepelekan urusan darah, maka jangan Tanya bagaimana sikap wara’ dirinya akan harta dan jangan Tanya bagaimana cara ia bermuamalah dengan manusia!

Dalam Jama’ah Daulah terdapat orang-orang yang mudah mengkafirkan tanpa memperhatikan batasan-batasan syariat, mereka semakin terperosok dalam hal ini tanpa dasar-dasar ilmiah, sehingga mereka gunakan hukum takfir untuk orang murtad atas semua pihak yang menyelisihi mereka. Mereka tidak mengevaluasi keadaan mereka dengan mengkaji bagaimana jama’ah-jama’ah jihad terdahulu telah menyimpang, sebagaimana yang terjadi pada Jama’ah Islamiyah Musallahah di Aljazair. Dan ada sebuah tandhim yang bahkan sampai membunuh para syar’inya karena mereka menyelisihi dan mengkritik tandhim, sebagaimana yang menimpa Abu Walid Al-Maqdisi.

Sungguh telah sangat jelas terlihat bahwa arahan-arahan komando dari Tandhim Al-Qaeda pusat telah menyandera kepentingan politis Al-Baghdadi, itulah mengapa akhirnya ia mengumumkan telah keluar dari arahan-arahan Syaikh Ayman Az-Zhawahiri. Sehingga kini daulahnya telah terbiasa dengan penyimpangan dan menyelisihi syariat, dan imej ini menjadi identik dengan jama’ah ini baik dalam kebijakan politik, taktik dan strateginya. Tapi tentu daulah coba menutupinya dengan slogan-slogannya untuk tetap membuai orang-orang yang lugu.

Sebuah pepatah mengatakan: “Seorang pelacur setiap kali ia berzina maka ia semakin bertambah jelek”. Beginilah kita saksikan keadaan Al-Baghdadi hari ini, semakin ia berusaha menampakkan gambaran jihad yang lebih dominan dari Al-Qaeda, maka daulahnya malah semakin menyimpang dan semakin jauh dari manhaj jihad itu sendiri. Sehingga kondisi daulah sekarang sama dengan apa yang dikatakan oleh Syaqiq bin Salamah tentang para penguasa di zamannya:

“Sesungguhnya para penguasa kita tidak memiliki satu dari dua hal: mereka tidak memiliki sikap taqwa ahlu Islam, dan tidak pula impian-impian jahiliah.” Sya’bul Iman: 29/10.

Dahulu Jama’ah Daulah dipimpin dengan syariat, dan kini tidak ada lagi syariat melainkan perintah-perintah Al-Baghdadi. Setelah daulah menolak untuk tunduk atas tahkim syariat, dan mengabaikan para ulama, serta menolak untuk menjawab nasehat-nasehat mereka. Maka semenjak itu Al-Baghdadi memimpin jama’ah dan bala tentaranya dengan perintah pribadinya. Daulah tidak mengindahkan perkataan para ulama, karena para ulama adalah musuh khalifah.

Adapun orang-orang yang sedang tertipu dengan slogan-slogan ini, tatkala mereka mendapati kontradiksi ini, maka mereka mencoba menutupi luka yang telah bernanah. Maka mereka mencari solusi untuk jama’ahnya, atau mereka mencari-cari udzur dan pembenaran.

Maka kami katakan untuk mereka: “Jangan paksa dirimu untuk mencari-cari udzur dan pembenaran, bukanlah setiap malam itu adalah malammu!”

Wallahu a’lam.

Segala puji hanya milik Rabb penguasa semesta alam.

Ditulis oleh:
Abu Mundzir As-Syinqithi

Ramadhan 1436 H

 

Maka, berkaca dari nasihat di atas, tak akan ada Daulah Al-Baghdadi jika tidak ada masyarakat yang membuat sosok itu menjadi sang khalifah Al-Baghdadi. Semoga melalui tausyiah Abu Mundzir Asy-Syinqithi ini dapat menjadi arahan jelas bahwa, kini sudah saatnya para perindu khilafah berlepas diri dari mendukung slogan-slogan Jama’ah yang mengecoh.

Jadikanlah nasihat para Ulama haq dan kabar dari media -“sekeras” apapun ia dalam membongkar kebejatan Jama’ah Daulah- sebagai sarana menguak fakta. Yang dengannya kita mendapatkan ibroh berupa kesimpulan berbasis ilmu yang haq juga data, bukan pembenaran yang didominasi hawa nafsu.

Ikhwah fiillah, inilah saatnya kita kembali ke setapak perjuangan bermanhaj lurus, bebas dari jeratan manipulasi slogan yang justru memecah belah Ummat juga menggagalkan agenda jihad semesta. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...