Berita Dunia Islam Terdepan

Blair, Kamu Benar…! Ini Perang Sejarah

0 5

Untuk terakhir kalinya si koboy sombong itu terperosok dalam tindakan terburuknya. Setelah rangkaian kesalahan dan ketololan tak henti-hentinya ia lakukan, kini Irak tengah mengarah kepada “ledakan” total, insya Allah.

Jenderal-jenderal Amerika yang sombong namun tolol itu menganggap bahwa situasi berada “di bawah kendali”. Si busuk dan licik bernama Toni Blair bahkan mengklaim ini perang sejarah. Dan menurut kami pernyataannya itu tepat, sekarang sudah tiba saatnya membuat perhitungan total dengan negara-negara Barat di Irak.

Tanpa adanya konsolidasi, pengarahan, atau sokongan kepemimpinan dan logistik sebelumnya, mujahidin telah berhasil melancarkan aksi-aksi yang belum tertandingi keindahan dan ke-elokannya, menghancurkan hasil-hasil yang dicapai Barat sejak kurun waktu lama.

Hari ini, seluruh masyarakat Barat tengah terhuyung-huyung di Irak. Berbagai peristiwa-peristiwa yang terjadi seolah sangat cepat memberi peringatan: bahwa di masa mendatang keadaan jauh lebih mengerikan dan semakin membuat mereka linglung. Dengan penuh keyakinan kami katakan: Peristiwa berikutnya yang jauh lebih buruk, saat ini belum lagi terjadi. Barat akan membayar mahal semua kejahatan yang mereka lakukan kepada kaum muslimin sejak pertengahan abad ini dan sebelumnya.

Blair, kamu benar. Ini perang sejarah, bukan pertempuran sefihak seperti diyakini sekutu-sekutumu dari kalangan rakyat Amerika yang dungu itu. Kalau kamu menghendaki bukti, lihat saja “senjata baru” yang berhasil “disusupkan” mujahidin ke bumi pertempuran Irak… senjata itu berupa penyergapan terhadap anggota dan para pengikutmu dari orang-orang Barat.

Kuberi kamu satu contoh saja yang terjadi hari ini, ketika mujahidin berhasil menculik empat warga Italia. Para mujahidin mengajukan tuntutan, di antaranya Berlusconi harus menyampaikan permintaan maaf atas pelanggaran yang ia lakukan terhadap Islam dan kaum muslimin. Ini adalah perhitungan lama yang Berlusconi belum pernah membayar harganya sama sekali. Kali ini rakyat Irak memutuskan untuk berbicara atas nama Islam dan kaum muslimin, untuk memaksa Berlusconi membayar kewajibannya melindungi darah rakyat Italia. Inilah contoh dari arti bahwa perang ini memang perang sejarah, dan bahwa rakyat Irak sedang menyodorkan banyak perhitungan, di mana yang paling sederhana adalah dengan masyarakat kumuh yang turut datang bersama Amerika ke Irak untuk mengais rezeki dengan mengatas namakan “Misi pembebasan Irak” (The Operation of Iraqi Freedom).

Adapun Amerika, perhitungan mereka dengan kaum muslimin Irak sulit dibatasi, baik di Fallujah maupun daerah-daerah lain.

Adapun Fallujah, adalah hikayat mukjizat dan pencetak para pahlawan. Sekelompok mujahidin telah mencegat 20.000 bule Bani Ashfar di Fallujah. Betapa dahsyat kerugian yang kau derita, Blair, ketika dirimu melakukan kesalahan sejarah terakhir, yang itu akan menjadi saat lenyapnya cengkeraman hegemoni kalian di negeri-negeri umat Islam, ketika kalian menginvasi Irak dan menganggapnya sekedar “rekreasi”, yang hari ini menunjukkan kepada kalian, baik di Fallujah, Baqubah, Ramadi dan daerah-daerah lain, bahwa itu bukan rekreasi tetapi pemberangusan, tikaman, musibah besar dan peristiwa dahsyat yang mengenai kepala kalian sehingga kepala itu pecah dan terhapuslah kebatilan yang ada di dalamnya.

Sekarang, tidak ada istilah takut lagi bagi kaum muslimin, sejak saat ini…

Apa yang terjadi di Fallujah bukan kejadian biasa, tetapi merupakan serangan balik sangat berbahaya dalam kaitannya perseteruan melawan Barat. Sebab kejadian memancing bangkitnya kaum muslimin untuk pertama kalinya dalam sejarah kontemporer.

Pertempuran di Fallujah bukan sekedar pertempuran antar kubu, atau kepentingan politik antar bangsa, seperti yang terjadi di Afghanistan tahun 80-an. Tetapi ini adalah jihad defensife yang para mujahidin meyakini kewajibannya dan meyakini kewajiban mengusir kaum kafir, dalam tampilan yang sangat jelas dan diakui sendiri oleh Barat bahwa serangan balik itu adalah inisiatif para mujahidin sendiri, bukan sekedar seperti yang kami singgung; pertarungan antara kubu, antar nilai, atau antar kepentingan. Indikasi paling kuat yang menunjukkan fakta ini adalah sikap Amerika yang telah meminta gencatan senjata dua kali.

Tahukah kalian, apa fakta yang sebenarnya terjadi?

Fakta sebenarnya, hai para tokoh, kaum perlawanan itu sebelumnya belum pernah menghadapi alat-alat tempur Amerika.

Mereka tidak menghadapi Amerika ketika mereka dengan terburu-buru langsung melancarkan serangan begitu mereka tiba dua hari di Laut Arab.

Mereka tidak menghadapi Amerika dalam kondisi tanpa senjata dan tanpa sokongan logistik dan moral, serta bantuan dari barisan kelima.

Mereka tidak menghadapi Amerika dalam kondisi memiliki benteng perlindungan untuk berlindung, menyusun kekuatan dan mengatur diri mereka…

Mereka menghadapi Amerika ketika Amerika sudah menetap dan kuat di Irak, telah mengatur semua pangkalan militernya, markaz-markaz pengawasannya dan didukung kekuatan logistik dan transportasi, telah mengetahui medan dan cara memperlakukannya, dan setelah berhasil menggalang semua bantuan dan kerjasama dari negara-negara pengkhianat di Kawasan, baik bantuan politik, moral (dukungan), maupun materi. Dan setelah berhasil menggalang barisan panjang para pengkhianat, baik dari dalam Irak dari kalangan kaum oportunis, sekte-sekte, dan orang-orang atheis, serta dari luar Irak.

Dan untuk kali pertamanya dalam neraca perang gerilya modern, kaum perlawanan itu bisa bergerak di saat musuh mereka telah menguasai medan, tanpa adanya sokongan dan penopang dari luar.

Artinya, Amerika telah memastikan bahwa mereka berhasil “mencekik” mujahidin dan memutus semua akses kepada mereka. Bukan saja akses masuknya senjata atau logistik, bahkan akses informasi dan pemberitaan, di mana biasanya dalam kondisi perang gerilya informasi itu bisa keluar melalui saluran informasi di luar negeri dari sayap politik yang aman. Jadi, yang terjadi benar-benar “pencekikan”, lebih parah daripada kondisi saudara-saudara kita di Palestina yang orang masih bisa menyimak pernyataan Rantisyi -misalnya-, tempatnya pun bisa diketahui dan dia bisa mengeluarkan seruan untuk membunuh orang-orang yahudi…

Melawan siapa?

Melawan negara terkuat di dunia, baik dari sisi kelengkapan alat, militer, finansial, serta pengaruh politik dan intelegent. Ia juga didukung negara yang paling berpengalaman dalam urusan melancarkan konspirasi busuk dan licik. Ia bekerja sama dengan dinas intelegent si tolol, Al-Hasyimi, dan Ibnu Salul. Sementara negara-negara lain seolah menyatakan: “Kita memang tidak diperintah melakukan apa yang dilakukan Amerika, tetapi kalau kita lakukan pun juga tidak menyusahkan kita.”

What next?

Maka aksi perlawanan pun berkobar, orang mengira itu hanya “nafas gerah” yang akan segera berhenti. Tetapi nyatanya aksi perlawanan semakin meningkat dan menjamur di sana-sini, setelah itu berubah menjadi sebuah konsep pemikiran. Ya, berubah menjadi konsep pemikiran jihad, pemikiran akan nilai prestise sebuah aksi perlawanan, dan kebanggaan ketika bisa memerangi orang-orang kafir. Kemudian secara bertahap mulai membentuk sebuah tantangan sejarah, sementara para pengamat hanya bisa tercengang!!

Semua analisa mereka menyatakan aksi perlawanan itu akan segera berakhir dengan adanya boikot, penumpasan, pembunuhan, penyerangan dan kerjasama dari semua element internasional. Di saat yang sama para pengamat itu melihat dengan sebegitu nyata bagaimana aksi perlawanan terus melonjak. Mereka tidak faham apa itu perlakuan setimpal, mereka tetap mengira bahwa itu hanya letupan sesaat yang datang satu demi satu.

Mereka perhatikan berbagai kasus yang terjadi, setelah itu mereka memprediksikan bahwa aksi perlawanan hanyalah letupan bermotiv balas dendam atau usaha frustasi, namun kemudian ternyata mereka menemukan kenyataannya bukan seperti itu. Akhirnya mereka dipaksa mengatakan: “Ya, ya… sekarang kami faham, mereka adalah sisa-sisa dari tentara terlatih dan organisasi-organisasi kuat.” Mereka tidak mengerti bahwa “berhala” rezim masa lalu bisanya hanya melakukan tekanan, penyerangan dan penyiksaan ketika mereka berkuasa. Tetapi “cambuk” terus berlanjut hingga sampailah pada fase pembentukan eksistensi, di pertempuran Fallujah saat itu…perang yang “mematahkan tulang”… para pengamat semakin pusing, mereka tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi, bahkan para petinggi tentara Amerika pun tidak mengerti.

Yang tahu dari mereka hanya satu orang, yang terbiasa bertindak kotor…

Dia adalah “lulusan” Institut Kebusukan dan Tipu daya Internasional: TONY BLAIR

Bule satu ini tidak salah ketika ia mengatakan: INI ADALAH PERANG SEJARAH

Sayang ia tidak memahami statemen yang ia keluarkan, yang mengakui bahwa penjajahan Irak membuat fase sejarah yang kita lewati menjadi ringkas. Ia mengabaikan begitu saja perseteruan yang terjadi berabad-abad lamanya antara kita dengan bangsa Romawi (baca: Barat)

Mari kita simak kejadian sesuai faktanya…

Penjajahan Irak dalam gambaran dan kondisi sekarang, dan pasca peristiwa 11 September serta semua propaganda tentangnya, serta keberhasilan Barat menjatuhkan Sadam Husein, semua ini telah memberi kita jaminan historis yang meringkas fase-fase sejarah yang semestinya kita lewati, ketika “ujung tombak” umat ini diletakkan tanpa selongsong di hadapan “alat” Barat, yaitu para penguasa Arab yang berkhianat. Wahai Robbi, bagi-Mu segala puji, Engkau telah mendatangkan mereka dengan balatentaranya, melalui tangan-tangan mereka Engkau lenyapkan sebuah rezim sentral yang tadinya menjadi penjaga mereka sendiri (yakni rezim Sadam, penerj.), seperti halnya dilakukan oleh rezim negara-negara Arab lainnya.

Benar, orang-orang salibis telah melakukan tindakan yang sesuai dengan perilaku, moral dan tabiat mereka sebenarnya, dengan membunuhi dan menumpahkan darah orang-orang kita di Fallujah dan daerah Irak lainnya. Benar, mereka melancarkan kemampuan maksimalnya dengan melakukan pembunuhan dan menjadi penyebab banyaknya penderita luka-luka, cacat dan terjadinya gelombang pengungsian. Mereka menjadi penyebab derita yang tak sanggup ditanggung oleh keluarga kita. Tapi sebagai gantinya, darah mereka di Fallujah juga tertumpah, mujahidin berhasil membuat mereka merasakan kepedihan yang mereka pernah lakukan kepada masyarakat sipil di kota Fallujah.

Kami beri mereka pelajaran setimpal dengan yang mereka timpakan kepada kami

Tetapi kami lebih sabar menghadapi kematian…

Namun yang lebih penting, ada cambuk dahsyat dari eksistensi masyarakat Islam yang sekarang mulai terbentuk. Ketika ia tengah tumbuh, terdengar “hantaman ombak besar” yang mengguncang seluruh sudut dunia Arab dan Islam, bahkan mengguncang tanah yang diinjak manusia, dengan datangnya ombak yang berasal dari Fallujah. Ombak itu seolah berkata: “Kamilah yang membangunkan kalian dari tidur.” Seolah ia berkata: “Jangan melihat luka-luka kami, kematian yang kami alami, dan para pengungsi dari penduduk kami… tetapi lihatlah bagaimana semua bangsa bersatu menyerang kami dan kami justeru bertambah kuat dan solid. Bagaimana pemboikotan di sekeliling kami semakin mencengkram, tetapi kami semakin teguh, merasa mulia dan memiliki harga diri…”

Mereka berkata: “Bagaimana para pengkhianat dan para mukhodzil itu mengira kami telah habis, padahal kami justeru dalam peningkatan dan bertambah kuat?”

Yang terjadi di Irak bukan semata perang gerilya atau perlawanan terhadap kaum penjajah.

Sesungguhnya yang terjadi adalah mengalirnya semangat yang menyebar bak “radiasi nuklir” ke hati orang-orang baik, lalu merubah mereka menjadi para “raksasa”.

Kekuatan peralatan militer semakin bertambah, bertambah pula tekanan politik dan intelejent, juga pengkhianatan dari para pengkhianat dunia Arab; tetapi di waktu yang sama meningkat pula kekuatan “radiasi” itu, dan semakin banyak manusia yang jadi “raksasa”.

Demi Allah, kejadian di Irak adalah “pabrik” yang melahirkan para lelaki sejati dengan cepat, memproduksi sejumlah “raksasa” sejarah yang akan menorehkan berbagai peristiwa.

Dan Amerika terpancing, dia kira ini pertempuran sesaat, yang kalau mereka berhasil memenangkannya mereka ingin memberi pelajaran kepada negara terjajah, tetapi mereka justeru terjerembab ke dalam kubangan lumpurnya yang mengerikan. Semakin mereka bergerak, semakin dalam mereka terperosok. Mereka tidak sadar telah mencetak para “raksasa”, akhirnya mereka tidak punya solusi -setelah menelan kekalahan memalukan- selain dengan meluluhlantakkan bangunan-bangunan yang masih dihuni penduduk.

Memang, kita merasakan kepedihan dengan dihancurkannya bangunan-bangunan yang di dalamnya masih dihuni oleh saudara-saudara kita di sana. Kita merasakan kepedihan menyaksikan korban kaum wanita dan anak-anak. Tetapi demi Allah, itu adalah pertanda yang menggembirakan, sebab kalau para lelaki di sana menyerah, atau jika perlawanan mereka mudah dipatahkan oleh satuan “Delta Force”, para penjajah itu tidak perlu membombardir bangunan-bangunan di kota kecil ini.

Demikianlah perlakuan seimbang yang berbalik. Setiap ada rumah dihancurkan, setiap ada anak kecil dibunuh, setiap ada keluarga yang dipaksa mengungsi, setiap kali itu pula bertambah jumlah “raksasa”.

Mustahil…mustahil…

Kami sudah melewati masa-masa di mana kita dibuat ngeri dengan raungan pesawat tempur, dentuman roket dan ledakan bom. Allah telah memunculkan sebuah generasi muslim yang terbiasa hidup di bawah suasana gempuran bom dari pesawat-pesawat Apache dan F-16.

Ah, kalau saja kalian mendengar cerita mereka yang baru saja pulang dari sana.

Kalau kalian mendengarnya, kalian akan melihat ternyata memerangi musuh lebih nikmat bagi mereka daripada semua kenikmatan manusiawi. Bagaimana semua masyarakat telah berubah menjadi pelindung para “raksasa” itu secara alami, mengapa ini bisa terjadi? Karena masyarakat di sana berada di zona “segitiga besar”, mereka berubah menjadi masyarakat raksasa.

Mungkin separo pemukiman di Fallujah roboh, atau bahkan mungkin seluruhnya.

Mungkin saja semua pemudanya terbunuh…

Mungkin saja semua penduduknya terpaksa mengungsi…

Tetapi, Fallujah telah menebar wabah, alhamdulillah…wabah berupa “virus” ‘izzah, harga diri, ketinggian dan tanggung jawab; virus itu muncul dari suasana yang dipaksakan.

Virus ini menyebar di dalam kalangan umat Islam seperti menyebarnya daun-daun kering. Saudara-saudara kita di “Zona Segitiga Raksasa” mayoritas “tertular” virus ini. Maka, silahkan Amerika mau berbuat apa terhadap Fallujah. Silahkan mereka mau berbuat apa terhadap daerah-daerah Irak lainnya, sungguh negeri-negeri kaum muslimin telah terjangkiti kepala-kepala virus yang berterbangan dan di sana mulai tumbuh tunas-tunas “raksasa”. Mustahil Amerika akan memetik kegembiraan dengan dihancurkannya Fallujah, sebenarnya mereka justeru mempercepat kehancuran diri mereka sendiri dengan menyebarnya virus ini.

Yang ingin saya katakan: Kerugian manusia, bahkan kerugian berupa hancurnya satu kota secara total sekalipun, tidak berarti sama sekali dalam perang sejarah ini. Sebab dengan menyebarnya virus tadi, masalahnya menjadi tidak terbatas pada satu kota tertentu atau penduduknya. Semangat yang merebak itu bukan semata semangat berperang dan menantang saja, lebih dari itu adalah semangat ketinggian, rasa yakin terhadap risalah Islam yang mendunia, dan yakin akan kepastian datangnya kemenangan dan kekuasaan.

Saya katakan, dan saya bersumpah demi Allah: Silahkan Amerika mau berbuat apa, demikian juga Inggris dan para pengkhianat yang menjadi sekutu mereka. Kami sudah berhasil melewati “tabir kaca”, mimpi buruk Samuel Hantington terbukti ketika ia mengingatkan agar mewaspadai terjalinnya hubungan antara Al-Qaeda dan masyarakat umum, setelah itu Amerika sendiri yang datang untuk merealisasikan mimpi buruk itu, gratis lagi; mereka sendirilah yang membuat masyarakat umum mempercayai orang-orang terbaik Al-Qaeda tanpa ada upaya berarti dari pihak Al-Qaeda.

Tetapi tunggu dulu, jangan terburu-buru menilai masalah. Ini bukan sekedar masalah perang, atau berlanjutnya peperangan, atau meraih keuntungan dari pertempuran lokal. Ini sungguh-sungguh masalah sejarah. Ini adalah masalah keunggulan, masalah yakinnya petempur muslim bahwa dirinya paling pantas untuk memegang kendali pengaruh dunia. Maka dari itu, mengalahkan tentara koalisi di Irak adalah kunci dari rangkaian untuk melakukan berbagai perubahan global, yang nantinya akan melempangkan jalan menuju kekuasaan Islam.

Ya…

Blair benar…

Ini memang perang sejarah…

Tapi kasihan dia…

Allah akan mengalahkannya…

Nilai positif lain dari pertempuran karomah di Fallujah dan seluruh penjuru Irak adalah: kita bisa melihat untuk pertama kalinya Amerika dan orang-orang Barat dalam kegelisahan yang tak habis-habisnya, dan kesulitan-kesulitan kondisi, kesulitan untuk menyampaikan statemen dan mengambil keputusan. Mungkin kita akan melihat kesulitan yang semakin runyam di masa mendatang. Indikasi terjelas akan adanya kegalauan dan kesulitan ini adalah ucapan Blair bahwa perang Irak adalah perang sejarah, ia berkata: “Kita sedang dalam perseteruan bersejarah di Irak…” “…jika ternyata kita gagal, dan itu tak akan terjadi, permasalahannya jauh lebih komplek dibanding masalah kekalahan tentara Amerika, lebih dari itu cita-cita membangun kebebasan dan toleransi antar agama di Irak akan lenyap,” imbuhnya.

Ia juga berkata: “Jika pasukan koalisi (penjajah) gagal di Irak, para diktator akan senang dan kaum teroris-radikal akan ‘mabuk kepayang.”

Ia juga berkata,”Jika terjadi penarikan mundur pasukan Inggris dari Irak, kaum radikalis akan menuntut semua kekuatan asing keluar dari Afghanistan, setelah itu dari seluruh kawasan Timur Tengah.”

Ia menambahkan,”Semakin kita bertambah lemah, mereka semakin menekan kita.”

Ia mengimbuhkan,”Di sana ada perang yang kita wajib terjun ke dalamnya, perang yang kita harus memenanginya… perang itulah yang sekarang terjadi di Irak.”

Inilah berbagai statemen yang mencerminkan betapa besar kegalauan dan kekhawatiran yang dirasakan Blair terhadap apa yang terjadi di Irak. Sebelum dia, si penjahat besar, Henry Kissinger, sudah mengatakan,”Kekalahan Amerika di Irak adalah kekalahan seluruh bangsa Barat.”

Tahukah kalian makna kekalahan mereka di Irak? Maknanya adalah kerugian mereka karena gagal merealisasikan rencana yang sudah mereka jalankan sejak lima abad silam.

Blair dan Kissinger betul…

Mereka tidak salah ketika mengatakan ini adalah perang sejarah.

Tapi ada yang salah dari mereka: kemenangan itu adalah milik kita, dengan daya dan kekuatan Allah!!

Terakhir, berikut ini pesan singkat kepada:

Salman Audah… tunggu saja, kamu telah menyerukan kepada para penguasa Arab untuk ikut melakukan intervensi. Semoga Allah menjadikan Zainal Abidin, Jabir Ash-Shobah, atau menteri Pertahanan paling pertama di dunia, atau ‘Abdulloh Mubadaroh untuk menurut kepadamu.

Safar Hawali… selamat dengan berdirinya Lembaga Masyarakat Sosialis Antar Bangsa terbesar.

Aidh Al-Qorni… seandainya ketika turun perintah Allah kepada Bani Israel untuk menyembelih sapi betina, tentu mereka tidak akan menyembelih selainmu.

Sa’id bin Zu’air… kecupan untuk kepala Anda, semoga Allah selalu memberimu taufik dan keteguhan, kami menunggu tambahan berikutnya.

Pesan untuk semua… sejarah menulis dan umat ini tidak akan melupakannya.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami, para mujahidin, di Fallujah dan semua penjuru Irak.

Ya Allah, teguhkanlah mereka, bantulah mereka dengan bantuan dari-Mu, satukan hati mereka dan turunkanlah ketenangan dan rahmat kepada mereka…

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...