Berita Dunia Islam Terdepan

Tentara Membelot, Rezim Suriah Jatuh!

43

Arrahmah.com – Demonstrasi damai rakyat Suriah menuntut lengsernya rezim Nushairiyah Bashir Al-Asad telah berlangsung sejak pertengahan Maret 2011. Rezim Suriah dengan dukungan Iran telah menampilkan kebiadaban yang tiada tara terhadap rakyatnya yang mayoritas beragama Islam dari kalangan Ahlus sunnah. Ribuan rakyat muslim telah gugur, ratusan masjid, sekolah, dan sarana umum telah hancur. Kota-kota dan desa-desa yang mendukung revolusi damai rakyat mendapat gempuran hebat pihak militer, kepolisian, dan milisi pro rezim. Bahkan, ratusan tentara dan polisi yang pro revolusi juga tak luput dari pembantaian.

Beberapa negara Arab, Eropa, dan AS telah menyerukan kepada rezim Suriah untuk menghentikan kebrutalannya. Namun seruan tanpa aksi tersebut hanyalah retorika yang tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengubah keadaan. Bagaimana kondisi terbaru revolusi damai rakyat di Suriah? Mungkinkah konflik tersebut bisa diselesaikan melalui jalur dialog dan rekonsiliasi? Seberapa jauh kemungkinan pecahnya perang saudara di Suriah? Faktor apa saja yang mempengaruhi kemenangan dan kegagalan revolusi di Suriah? Mungkinkah skenario revolusi Libia terulang di Suriah? Bagaimana masa depan rezim Nushairiyah dan revolusi rakyat muslim di Suriah?

Pengamat politik Timur Tengah, Abu Fadhl Madhi, menurunkan analisanya dalam artikel yang dimuat oleh situs www.shamikh1.info dan situs www.arrahmah.com menerjemahkannya untuk para pembaca. Selamat menyimak!

Kini waktunya tentara Suriah mengambil peran

Oleh:
Abu Fadhl Madhi

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah SAW.

Sungguh keliru orang yang menyangka rezim Al-Asad dan sekutunya bisa dijatuhkan dengan cara yang ditempuh oleh Mahatma Gandi, yaitu perubahan damai melalui aksi mogok sipil secara massal, tidak merespon tindakan represif rezim diktator, dan cukup tersenyum di hadapan para algojo bengis, dengan harapan para penjahat itu merasa malu dan mau bertaubat. (1)

Para demonstran di Suriah hari ini tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan aksi demonstrasi damai dan beralih mengumumkan perlawanan militer terhadap kebiadaban rezim Suriah dan sekutunya. Pilihan perlawanan bersenjata sebagai solusi konflik antara kedua belah pihak tidak dipilih oleh para demonstran di Suriah, bukan hanya disebabkan oleh neraca kekuatan yang timpang di antara kedua belah pihak. Lebih dari itu, tidak ada kata sepakat di antara para demonstran atas alternativ ini, sehingga seluruh sumber daya mereka yang terbatas tidak diarahkan dalam jalur ini. Apalagi, tidak ada bantuan dari dunia luar yang cukup untuk menguatkan kekuatan mereka dalam waktu yang cepat. (2)

‘Angan-angan’ jauh pihak oposisi Suriah adalah menunggu-nunggu dukungan serangan udara NATO dan serangan darat Turki di sepanjang wilayah selatan Suriah, sehingga konflik di Suriah biasa diselesaikan dengan seminimal mungkin ‘biaya’ tanpa harus terlibat dalam ‘perang saudara’ yang lama. Nampaknya memerangi rezim represif  dan pihak yang pro kepadanya dengan memakai bantuan pihak luar seperti yang terjadi di Libia akan menjaga keutuhan ikatan sosial Suriah yang lebih rumit dari ancaman perang saudara.

Sikap menunggu-nunggu yang pasif ini member peluang bagi rezim represif Suriah untuk melanjutkan kejahatan-kejahatannya terhadap rakyat tanpa ada yang bisa mencegahnya lagi. Aliansi pihak luar yang berperang untuk menjatuhkan rezim Suriah juga tidak terbentuk, berlainan dengan kasus revolusi di Libia. Bahkan, mungkin untuk selamanya aliansi dari luar seperti itu tidak akan pernah terbentuk.

 

Dua factor ini lebih memberi harapan kepada rezim Suriah untuk meraih kemenangan atas demonstrasi rakyatnya. Akibatnya, rezim Suriah semakin gencar melancarkan tindakan represif dan pembantaian terhadap rakyat. Di sisi lain, kebiadaban demi kebiadaban rezim Suriah telah melemahkan pihak demonstran rakyat, dan membuat mereka ragu-ragu meneruskan perjuangannya. (3)

 Impian Revolusi

Jika dikaji ulang, nampak jelas bahwa revolusi di Tunisia dan Mesir diselesaikan lewat bentrokan kekuatan, bukan dengan demonstrasi damai belaka. Rakyat Tunisia dan Mesir menghadapi lembaga-lembaga keamanan (intelijen, kepolisian, dan tentara) sampai akhirnya tentara menyerah kepada realita. Tentara tak lagi memiliki kekuatan. Setidaknya, kekuatan tentara melemah dihadapkan kepada kemarahan seluruh rakyat. Tentara memilih untuk mundur, dengan memilih ‘peperangan poitik’ akibat gelombang revolusi yang tak terbendung lagi. Setiap kali rakyat menekan di lapangan, maka tentara semakin banyak berkompromi dengan tuntutan rakyat. Jika rakyat mengendur, maka terjadi pemecahan kekuatan dalam aspek politik dan administrasi selama masa transisi antara jatuhnya rezim diktator dengan terbentuknya pemeritahan yang baru. Inilah yang sehari-hari terjadi selama masa revolusi rakyat di Tunisia dan Mesir.

Dalam revolusi Libia, fase kejatuhan rezim dipersingkat lagi. Rakyat yang melakukan revolusi di Benghazi menerjuni peperangan melawan aparat keamanan dan militer Qadzafi yang mendapat dukungan tentara-tentara bayaran. Dalam hitungan hari, kekuatan militer Qadzafi berhasil dipukul mundur oleh perlawanan bersenjata rakyat. Setelah pertempuran itu, perpecahan politik dan militer mulai melanda kubu Qadzafi.

Keberhasilan revolusi bersenjata rakyat di Libia bagian Timur gagal diulang oleh revolusi rakyat di Libia bagian Barat selama beberapa bulan. Qadzafi dan anak-anaknya menyadari kondisi yang kritis, maka mereka melakukan tindakan-tindakan penting sehingga bisa memenangkan pertempuran di Libia bagian Barat dalam beberapa bulan pertama perlawanan rakyat. Rezim Qadzafi mengonsolidasikan kekuatannya, dan tentara Libia berhasil mengukuhkan kendalinya terutama di wilayah Bariqah dan sekitarnya. Secara umum, apapun slogan revolusi tersebut di awal maupun akhir pergerakannya, telah terjadi ‘perang saudara’ di Libia. NATO datang sebagai pihak yang membuat perlawanan rakyat lebih unggul atas rezim Qadzafi.

Adapun di Suriah, konsolidasi tentara Suriah di satu sisi telah membuat lembaga-lembaga keamanan dan pendukungnya lebih unggul sehingga mengokohkan rezim dictator. Di sisi lain, hal itu berakibat kegagalan revolusi rakyat untuk menghancurkan kekuatan kepolisian, militer, dan intelijen rezim Suriah sebagaimana yang terjadi pada revolusi Tunisia, Mesir, dan Libia Timur.

Selama aparat keamanan masih mengendalikan keadaan, maka tentara Suriah akan senantiasa membela rezim Suriah, baik kelompok tentara yang sangat loyal kepada rezim maupun tentara yang memihak karena kepentingan materi. Apalagi rezim Suriah didukung oleh milisi-milisi pro pemerintah yang menyerupai tentara bayaran di Libia. Milisi-milisi ini menjadi pagar betis yang melindungi rezim Suriah, sekaligus menambah kekuatan dan kepercayaan loyalitas pihak-pihak  yang pro rezim, karena loyalitas alat-alat keamanan negara masih diragukan. (4)

Jadi skenario revolusi di Tunisia, Mesir, dan Libia harus diulang di Suriah, agar revolusi rakyat dengan cepat bisa melemahkan lembaga-lembaga keamanan Negara. Dengan begitu, tentara akan melepaskan loyalitasnya kepada rezim diktator, sehingga rakyat bisa terbebas dari kejahatan rezim Al Asad.

Skenario revolusi di Yaman juga tidak mungkin ditempuh, yaitu strategi memecah kekuatan utama di pihak partai yang berkuasa, tentara, dan alat keamanan negara disertai terus berlangsungnya demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah, tanpa menerjuni kancah perang saudara sampai waktu yang tidak terbatas. Hal ini karena pemerintahan diktator Yaman tidak mungkin memiliki keberanian untuk melakukan pembantaian terhadap rakyat sebagaimana yang dilakukan oleh rezim Suriah. Rezim Libia pernah melakukannya, maka terjadilah perang saudara. (5)

Sulit dibayangkan runtuhnya keseluruhan rezim Suriah dalam waktu yang cepat, jika tidak terlebih dahulu terjadi fase transisi peperangan berdarah yang telah kita lihat episode pertamanya; menguras kekuatan rezim diktator melalui perang gerilya.

 Perang saudara

Apakah saya secara terang-terangan menyerukan perang saudara yang belum terjadi?

Saya tidak mengemukakan hal yang baru saat saya menyatakan bahwa perang saudara sesungguhnya telah berlangsung sejak beberapa waktu yang lalu. Meskipun tiada pernyataan resmi hal itu karena beberapa sebab politis. Rezim Suriah menginginkan peperangan antara negara melawan kelompok-kelompok bersenjata. Para revolusioner menginginkan konflik missal antara negara melawan rakyat. Realita justru menunjukkan hal lain, di mana revolusi telah berubah menjadi perang saudara sejak rezim Suriah menempuh jalur militer secara menyeluruh untuk menggempur kampung-kampung, kota-kota, dan propinsi-propinsi yang gencar melakukan demonstrasi menentang rezim penguasa. Para demonstran didukung oleh para aktivis dari kota-kota lain, bahkan terkadang penduduk lokal menjadi tumpuan para demonstran. Rakyat Suriah sendiri telah terbelah menjadi dua kubu, kubu yang pro rezim pemerintah dan kubu yang anti rezim pemerintah. Jelas, konflik kini berlangsung antara kedua kubu tersebut, bukan lagi konflik antara rakyat melawan rezim semata. (6)

Sebenarnya kekhawatiran akan terjadinya revolusi militer tidak memiliki alasan sama sekali. Selama ini banyak sekali kelompok-kelompok kecil dalam barisan tentara Suriah yang memilih disersi. Mereka melarikan diri ke kantong-kantong rakyat yang melakukan demonstrasi di wilayah-wilayah yang saling berjauhan, dan terpaksa harus membela diri mereka dengan senjata di manapun mereka berada, dari serangan tentara Suriah. Bertahan dengan senjata secara otomatis terjadi sebagai akibat dari sikap represif rezim yang berkuasa. Hal itu sudah terjadi sebelum para tentara yang desersi tersebut mengambil peran sebagai barisan pelindung revolusi rakyat. Mereka harus berhadapan dengan tentara Suriah, sebelum mereka membentuk grup-grup dan peleton-peleton yang melawan bekas kesatuan mereka sendiri.

Sungguh tidak masuk akal manakala sebagian pihak oposisi melakukan berbagai upaya untuk mencegah perpecahan intern di kalangan militer, dengan anggapan militer adalah tiang penyangga utama persatuan rakyat dan Negara. Jika militer terpecah-belah, niscaya akan timbul keretakan, perpecahan golongan, dan perang saudara. Semua yang dikhawatirkan oleh sebagian pihak opoisisi ini toh telah menjadi pemandangan harian. (7)

Skenario Libia adalah contoh yang paling mendekati realita revolusi di Suriah. Bedanya, revolusi Suriah tidak didukung oleh serangan militer dari luar. Maka langkah yang harus dilakukan adalah memecah-belah seluruh kekuatan militer Suriah, dan menyusunnya ulang militer sesuai komposisi yang baru, sebagaimana yang terjadi di Libia; militer pro Khadafi menghadapi militer yang pro revolusi rakyat.

Perpecahan kekuatan-kekuatan politik di Suriah cenderung lebih sedikit, sehingga tidak perlu menyamakan kekuatan politik apapun di pihak revolusioner dengan kekuatan politik apapun –di pihak rezim Suriah. Tentu saja upaya pengulangan contoh Lebanon di mana semua kekuatan politik dianggap sejajar, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, lebih tidak perlu lagi diterapkan di Suriah. Realitanya, sebagian besar proposal penyelesaian konflik Suriah yang diajukan oleh negara-negara tetangga dan negara-negara jauh menyerukan penyelesaian konflik secara damai antara pihak rezim dan revolusioner. Termasuk proposal perdamaian yang diajukan oleh sekjen Liga Arab, Nabil Arabi, dalam kunjungannya ke Damaskus beberapa waktu yang lalu. Metode yang mereka ajukan sama, yaitu dialog dan rekonsiliasi. Hal itu berarti komposisi rezim yang berkuasa tetap dipertahankan, meski sudah bobrok.

Skenario tentara

Jika kita mencermati seluruh faktor intern dan ekstern yang melingkupi revolusi di Suriah, kita menemukan bahwa jalan yang memungkinkan untuk melengserkan rezim Suriah adalah alat utama yang dipergunakan untuk menghancurkan revolusi itu sendiri, yaitu tentara Suriah. Jika tidak ada tentara Suriah, maka aparat keamanan tidak akan mampu melakukan kebiadaban yang telah melampaui batas terhadap rakyat yang berdemonstrasi. Jika aparat keamanan saja tidak mampu melakukan hal itu tanpa dukungan tentara, sudah tentu milisi-milisi pro rezim lebih tidak mampu lagi melakukannya sendirian. Dengan seluruh kemampuan persenjataan beratnya, tentara Suriah telah menyediakan cover yang sempurna bagi unsure-unsur aparat keamanan untuk membantai penduuk. Jika tentara melemah dan terpecah belah dalam beberapa kubu, niscaya kekuatan satuan-satuan aparat keamanan dan milisi-milisi pro rezim akan bisa ditembus dan mudah dikalahkan.

Sebagian pihak mungkin menganggap keliru logika ini. Menurutnya, aparat keamanan-lah yang harus dijatuhkan terlebih dahulu, sehingga tentara bisa dikuasai oleh revolusi rakyat untuk diarahkan menjadi kekuatan yang tunduk dan melindungi revolusi.

Argumen tersebut mungkin tepat untuk negara-negara lain, namun tidak tepat untuk Suriah. Perbandingan jumlah aparat keamanan dengan penduduk sipil di Suriah adalah yang paling tinggi di dunia. Jika di Mesir jumlah aparat keamanan dan tentara mencapai 1 juta dibanding 76 juta penduduk sipil, maka jumlah aparat keamanan dan tentara Suriah mencapai 1 juta berbanding 22 juta penduduk sipil. Jumlah aparat keamanan dan tentara Suriah lebih banyak tiga kali lipat dari aparat keamanan dan tentara Mesir. Hal itu masih ditambah dengan kelompok-kelompok yang dipersenjatai oleh rezim Suriah untuk membela rezim pemerintah Nushairiyah yang khawatir terhadap mayoritas penduduknya yang beragama Islam. Belum lagi milisi-milisi non-Suriah yang menjadi sekutu Suriah dan siap berperang sampai titik darah penghabisan.

Tentara Suriah menghadapi kemungkinan perpecahan mengingat mayoritas anggotanya berasal dari umat Islam yang mendukung kelompok revolusioner. Selama masa penataan ulang kekuatannya, tentara muslim tidak memiliki pilihan selain menguras kekuatan aparat keamanan rezim melalui pukulan-pukulan yang mematikan. Kelompok-kelompok tentara yang disersi bisa memanfaatkan kondisi tentara yang dari awal komposisinya membawa bibit-bibit perpecahan, untuk melancarkan serangan yang menimbulkan kerugian-kerugian besar bagi rezim, dalam proses mempercepat keruntuhan rezim dari dalam. Mereka bisa melakukan hal itu pada kawasan-kawasan perbatasan yang memisahkan berbagai kelompok tentara yang bertikai, di persimpangan jalan-jalan utama di berbagai kota dan desa.

Meski begitu, posisi unsur-unsur tentara Suriah yang mendukung revolusi berada dalam kondisi yang sulit. Mereka harus menata ulang barisan, menjelaskan tugas-tugas harian di antara berbagai regunya melalui sarana komunikasi yang sangat terbatas, mengamankan cadangan logistic, mengumpulkan data-data intelijen untuk melakukan operasi, dan melakukan tindakan-tindakan yang membuat musuh tidak mampu mengendus gerakan-gerakan mereka. Saat mereka harus melakukan beberapa pekerjaan vital ini, mereka hanya memiliki tempat-tempat perlindungan yang terbatas dan berjauhan di daerah-daerah yang memiliki karakteristik geografis, demografis, dan arsitektis tertentu. Seperti pegunungan Zawiyah, Die Zur, Himsha, dan Dir’a. Tempat-tempat perlindungan ini terus-meners menghadapi serbuan tentara yang masih loyal kepada rezim Suriah. Penduduk sipil daerah-daerah tersebut juga mengalami tekanan bertubi-tubi dari pihak rezim Suriah yang sudah di luar batas kemampuan mereka untuk menanggungnya. (8)

Semua kendala ini menyebabkan problem psikologis bagi para perwira dan tentara yang pro revolusi. Kendala-kendala ini menjaddi batu sandungan bagi upaya pembentukan dan penataan ulang barisan. Minimal, ia menyebabkan lambat dan berkurangnya efektifitas gerakan tentara pro revolusi.

Seandainya tentara yang membelot ini mendapat dukungan penuh dari pra revolusioner sehingga mereka mampu mengusir kekuatan rezim Suriah dari desa-desa dan kota-kota yang mereka tempati secara penuh. Timbul pertanyaan baru, apakah mereka mampu bertahan saat menghadapi peperangan militer yang terbuka, tanpa memiliki perlindungan dari serangan berat dari darat maupun udara?

Fase yang sulit saat ini menuntut mereka untuk menerjuni peperangan gerilya yang berpindah-pindah dan mempergunakan tempat-tempat perlindungan sementara yang tidak tetap, guna menguras kekuatan rezim Suriah.

Jangan menganggap mudah untuk berpindah ke fase mempertahankan daerah-daerah yang permanen, sebelum fase pertama di atas berhasil merealisasikan target-targetnya. Meskipun keberadaan tempat-tempat geografis yang permanen untuk menyambut bergabungnya tentara-tentara yang membelot merupakan permasalahan yang vital untuk mendorong percepatan pembelotan tentara.

Keterlambatan pembelotan para tentara pada dasarnya kembali kepada daerah-daerah penyekat yang telah dipelajari oleh rezim untuk menjauhkan penduduk kota-kota yang melakukan revolusi dari medan-medan revolusi. Pada beberapa waktu belakangan ini, hal itu terjadi ketika tentara mulai bergerak ke medan-medan revolusi tersebut sehingga peluang keberhasilan revolusi di tempat-tempat tersebut lebih besar dari daerah-daerah lainnya.

Problem terakhir adalah masalah persenjataan.

Para tentara yang membelot tidak membawa persenjataan dan amunisi dalam jumlah yang cukup. Biasanya mereka tidak membawa persenjataan berat. Seandainya mereka mampu membawa persejataan berat pun, mereka belum memiliki tempat-tempat yang aman dan memadai untuk menyimpannya. Fakta menunjukkan pertempuran terbuka secara langsung antara tentara yang pro rezim dan tentara yang membelot selalu dimenangkan oleh pihak tentara yang pro rezim, akibat besarnya jumlah personil dan lengkapnya persenjataan mereka. Sebagian besar kemenangan yang diraih oleh tentara pembelot sampai hari ini diraih melalui pertempuran tidak terbuka atau ranjau-ranjau dan serangan surprise terhadap satuan besar musuh.

Kelemahan pada aspek persenjataan dan amunisi bisa ditutupi dengan pembuatan ranjau-ranjau besar dari bahan-bahan lokal yang tersedia. Boleh jadi hal itu akan menjadi ciri khas fase perlawanan yang akan datang, untuk memotong-motong urat-urat kekuatan musuh, menghancurkan jalur transportasinya, menggentarkan mental mereka, dan menimbulkan kerugian sebesar mungkin di pihak mereka. Dengan demikian, harga yang harus dibayar oleh rezim Suriah untuk mempertahankan kekuasaannya jauh lebih mahal dibandingkan jika mereka rela mengundurkan diri dari tampuk kekuasaannya.

Pertanyaan yang mengemuka di sini adalah, apakah hal ini berarti rakyat harus mengentikan demonstrasi damai untuk member kesempatan bagi pengembangan operasi militer?

Ataukah operasi militer harus dibatasi sesuai kondisi pergerakan demonstrasi damai rakyat yang lemah agar nilai-nilai positipnya tidak hilang begitu saja?

Jawaban yang tepat, hendaknya opreasi militer para tentara pembelot berjalan seiring dengan pergerakan demonstrasi damai rakyat, tidak mendahuluinya dan tidak terlambat terlalu lama darinya.

Hal yang paling penting, hendaknya para tentara pembelot menjadi perisai pertahanan dan pengatur strategi perlawanan, karena keberadaan mereka di medan perlawanan telah diterima dengan baik oleh rakyat, menimbulkan kegoncangan di pihak rezim, dan mendorong tentara yang lain untuk ikut bergabung dalam barisan revolusi rakyat.

 Jum’at, 23 September 2011 M

Footnote:

(1). Metode ini pada kenyataannya tetap saja tidak mampu mencegah kekerasan kelompok di India. Jutaan umat Islam dan Hindu terbunuh selama masa pendirian dan pemisahan diri negara Pakistan dari India yang diikuti oleh perpindahan penduduk di kedua Negara tersebut. Padahal pemisahan diri India, Pakistan Timur, dan Pakistan Barat diumumkan secara resmi oleh kedua belah pihak.

(2). Maksud kami tidaklah membatasi bantuan luar tersebut berasal dari AS dan negara-negara Barat (NATO) semata bagi gerakan revolusi menentang rezim yang berkuasa. Maksud kami adalah bantuan apapun dari pihak manapun dalam waktu yang singkat.

(3). Alat yang paling sering dipergunakan oleh pemerintah manapun untuk menghadapi revolusi rakyat adalah menunjukkan keunggulan kekuatan militer dan lainnya, sehingga mayoritas rakyat tidak akan berani untuk bergabung dengan gerakan revolusi dan memberikan bantuan untuk memenangkan revolusi tesebut.

(4). Perkara ini luput dari Khadafi yang menghadapi pengkhianatan orang-orang dekatnya. Khadafi tidak mampu mencegah pembantu-pembantu seniornya untuk membelot dan bergabung dengan gerakan revolusi dan melakukan gerakan perlawanan terhadap pemerintahannya di dalam negeri, juga dalam konteks regional dan internasional.

(5). Rezim Suriah dan Libia secara refresif menumpahkan darah rakyatnya dalam skala luas, suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh rezim Yaman dan dalam masyarakat yang fanatisme kesukuannya telah mengakar kuat.

(6). Kekuatan luar yang menginginkan eksisnya rezim Basar Al-Asad, seperti Iran dan Rusia, menyerukan dialog antara pihak rezim dengan pihak revolusioner. Rezim Suriah sendiri menolak dengan keras ajakan ini, karena ia ingin mengesankan bahwa ia sedang menghadapi pemberontakan bersenjata, di mana mayoritas rakyat Suriah masih mendukung rezim yang berkuasa. Jika rezim Suriah menerima opsi dialog antara kedua belah pihak, maka hal itu secara tidak langsung berarti pengakuan rezim terhadap pihak oposisi tersebut dan rezim tidak lagi mencerminkan aspirasi mayoritas rakyat. Dengan kata lain, ia bukan lagi sebuah negara yang berdaulat, melainkan sebuah kekuatan politik yang menghadapi kekuatan lain.

(7). Penyebab banyaknya perselisihan dI pihak oposan Suriah yang menyebabkan nyaris hilangnya oposisi adalah infiltrasi rezim Suriah terhadap sebagian tokoh oposisi dan pemandulan partisipasinya. Para tokoh tersebut tidak mesti menjadi agen rezim Suriah. Rezim Suriah mempengaruhi sebagian tokoh oposisi yang memiliki ideologi yang bertolak belakang, lalu mendorong konferensi sebagian pihak oposisi tanpa melibatkan pihak oposisi yang lain. Maka satu sama lain di kalangan oposisi yang berbeda ideology tersebut sulit untuk disatukan.

(8). Rezim Suriah mempergunakan cara-cara lama untuk menindas para revolusioner, terutama tokoh-tokoh politik dan lapangannya, dengan menangkap anak, istri, dan kerabat-kerabatnya, sehingga orang-orang yang diburu oleh rezim menyerahkan diri kepada aparat keamanan. Hal ini pernah dilakukan oleh rezim Suriah terhadap tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dan Tanzhim Thali’ah Muqatilah pada tahun 80-an. Hal yang sama dilakukan oleh rezim Suriah terhadap mujahidin yang pulang dari Irak pada tahun 2004 dan setelahnya. Cara yang sama kini dilakukan terhadap para aktivis yang melaksanakan demonstrasi. Rezim kini menambahkan cara baru, yaitu mengirim jenazah para aktivis dalam kondisi dimutilasi kepada keluarganya, untuk menyebar luaskan rasa takut dan kedengkian. Keluarga pimpinan para perwira pembelot, Husain Harmusy, mengalami intimidasi yang sangat keji dan berlipat ganda mengingat peranan nya dalam barisan revolusi rakyat yang mengancam kekuasaan rezim Suriah.

Penerjemah: Muhib al-Majdi
http://www.arrahmah.com
filter your mind, get the truth

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...