Panglima kudeta Myanmar ternyata aktor di balik genosida Muslim Rohingya

0 991

NAYPYIDAW (Arrahmah.com) – Myanmar kini berada dalam situasi darurat hingga satu tahun ke depan setelah terjadinya kudeta militer yang dipimpin Panglima Militer Tertinggi Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, pada Senin (1/2/2021).

Dalam kudeta tersebut, militer Myanmar menahan pemimpin Myanmar Aung Suu Kyi dan beberapa elite politik yang menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Pihak militer juga memberhentikan sejumlah Menteri dan mengangkat Menteri-menteri baru untuk menggantikannya.

Iklan

Dilansir oleh Reuters, mantan teman sekelasnya menyatakan pada awalnya Min Aung Hlaing merupakan anggota militer biasa, meski jabatannya dalam militer Myanmar terus naik secara teratur.

Hingga pada 30 Maret 2011, Min Aung Hlaing kemudian diangkat menjadi Panglima Tertinggi militer Myanmar, yang disebut dengan Tatmadaw.

Meski tidak dikenal secara luas di dunia, namun ternyata Jendral Min Aung Hlaing menjadi salah satu aktor di balik peristiwa genosida terhadap Muslim Rohingya.

Pada 2018, Tim Pencari Fakta Internasional melaporkan bahwa tentara pimpinan Min Aung Hlaing telah dengan sengaja menargetkan warga sipil di negara bagian Rakhine, di Myanmar utara dan telah melakukan “diskriminasi sistemik” dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Secara khusus, dia dituduh melakukan pembersihan etnis terhadap Muslim Rohingya. Di mana hal tersebut merupakan pelanggaran hak asasi manusia berat, seperti genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang.

Pada tahun 2019, Pengadilan Kriminal Internasional menggelar sidang atas kekejaman yang dilakukan oleh militer Myanmar kepada minoritas Muslim Rohingya, termasuk genosida, pembunuhan dan pemerkosaan.

Dalam sidang tersebut pengadilan mendatangkan Aung Suu Kyi, yang secara de facto merupakan pemimpin Myanmar pada saat itu. Ratusan ribu pengungsi Rohingya, yang menjadi korban kebiadaban militer Myanmar, menaruh harapan yang tinggi kepada Aung Suu Kyi, namun peraih Nobel Perdamaian tersebut memilih untuk membela militer Myanmar.

Hal ini lah yang menyebabkan pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh menyambut gembira kabar penahanan Aung Suu Kyi.

Sebagaimana dilansir AFP, Mohammad Yusuf, seorang pemimpin di kamp Balukhali mengatakan, “Dia adalah harapan terakhir kami, tetapi dia mengabaikan penderitaan kami dan mendukung genosida terhadap Rohingya”. (rafa/arrahmah.com)

Iklan

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya