Pelaku serangan Nice telpon keluarga sebelum beraksi

408

Support Us

MALAPPURAM (Arrahmah.com) – Brahim Aouissaoui (21) asal Tunisia, yang melakukan penyerangan dan membunuh tiga orang di sebuah gereja di kota Nice, berbicara kepada keluarganya 12 jam sebelum serangan tersebut. Keluarga tidak menyangka Brahim akan melakukannya karena tidak ada sedikit pun indikasi dia akan melakukan hal demikian.

Brahim Aouissaoui tumbuh di antara delapan saudara perempuan dan dua saudara laki-laki di sebuah rumah sederhana di Thina, sebuah lingkungan buruh industri dekat Sfax, pelabuhan utama di pantai timur Tunisia.

Aouissaoui meninggalkan pendidikan sekolah menengahnya dan bekerja sebagai montir sepeda sebelum akhirnya berjualan bensin di pinggir jalan, kata anggota keluarga.

Selama dua tahun terakhir, kerabat mencatat perubahan dalam perilaku Aouissaoui. Dia mulai shalat secara teratur, tinggal di rumah dan menjauhi teman-teman lamanya. Sebelumnya dia dikenal sering menggunakan narkoba dan minum minuman beralkohol.

“Dia tidak pernah menunjukkan ekstremisme”, kata Yassin, seorang kakak laki-laki, seperti dikutp dari The Guardian, Jumat (30/10/2020), “Dia tipe menghormati semua orang dan menerima perbedaan.”

Berita Terkait

Aouissaoui pernah berusaha meninggalkan Sfax dan Tunisia tetapi gagal untuk menyeberang ke Italia. Dia tidak memberitahu keluarganya untuk usaha kedua kalinya. “Kami terkejut ketika dia memberi tahu kami bahwa dia telah mencapai Italia,” kata Yassin.

Menurut jaksa penuntut di Tunisia dan Sisilia, Aouissaoui menghilang pada 14 September dan tiba di pulau Lampedusa pada 20 September dengan kapal nelayan kecil bersama 20 pemuda Tunisia lainnya.

Pejabat Italia mengatakan kepada media lokal bahwa Aouissaoui tidak pernah ada dalam daftar pantauan polisi Tunisia dan tidak ada dalam radar organisasi intelijen. Pejabat Tunisia mengonfirmasi Aouissaoui tidak terdaftar oleh dinas keamanan mereka, dan penyelidik Prancis mengatakan dia tidak dikenal di sana.

Dia menelepon keluarganya sekitar jam 8 malam pada hari Rabu untuk memberi tahu mereka bahwa dia berada di Prancis. “Dia berkata dia telah memutuskan untuk pergi ke Prancis karena ada prospek kerja yang lebih baik dan ada terlalu banyak orang mencari pekerjaan di Italia,” kata saudaranya.

Adik Aouissaoui, Afef, mengatakan dia memang mencari gereja Notre-Dame di Nice untuk tidur dan mengatakan kepadanya bahwa dia berencana untuk beristirahat di gedung seberang. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia merencanakan serangan, katanya. (hanoum/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.

Berita Arrahmah Lainnya

Netanyahu janjikan kunjungan ke Bahrain

TEL AVIV (Arrahmah.com) - Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu mengatakan dia akan mengunjungi Bahrain "segera" atas undangan Putra Mahkota negara Teluk Salman al-Khalifa. Bahrain mengikuti Uni Emirat Arab (UEA) dalam…

Pasukan Turki menarik diri dari kota strategis di Suriah barat laut

ALEPPO (Arrahmah.com) - Dalam 72 jam terakhir, Angkatan Bersenjata Turki mulai menarik pasukan mereka dari dua wilayah penting di barat laut Suriah. Menurut laporan baru dari provinsi Aleppo, Angkatan Bersenjata Turki telah mulai menarik…

Saudi akan investasikan lebih dari $ 5 miliar untuk AI

RIYADH (Arrahmah.com) - Arab Saudi berencana untuk menginvestasikan lebih dari 20 miliar riyal ($ 5,3 miliar) untuk kecerdasan buatan (AI) pada tahun 2030, Ketua Otoritas Data dan Kecerdasan Buatan (SDAIA) Saudi Abdullah Bin Sharaf…

Ilmuwan yang terkait dengan program nuklir Iran terbunuh

TEHERAN (Arrahmah.com) - Seorang ilmuwan Iran yang dituduh "Israel" memimpin program nuklir militer Republik Islam sampai pembubarannya di awal tahun 2000-an "dibunuh" pada hari Jumat (27/11/2020), kata televisi pemerintah. "Israel"…

Turki tak berharap Biden beri sanksi pembelian S-400

ANKARA (Arrahmah.com) - Turki tak mengharapkan hubungan dengan Amerika Serikat terganggu di bawah kepemimpinan presiden terpilih Joe Biden dan tidak juga tidak mengharapkan sanksi atas pembelian sistem pertahanan S-400 Rusia, seorang…

Rezim Asad bunuh 98 orang di Daraa

DARAA (Arrahmah.com) - Rezim Suriah telah menyiksa 98 orang dalam dua tahun terakhir yang melanggar perjanjian Daraa 2018, menurut sumber lokal. Rezim menyiksa banyak orang yang tinggal di Daraa dan mengajukan amnesti berdasarkan…

Aparat Gabungan Dikerahkan Copot Spanduk HRS di Jateng

SEMARANG (Arrahmah.com) - Aparat gabungan dikerahkan untuk menyisir baliho bergambar Habib Rizieq di seluruh wilayah Jawa Tengah. "Pencopotanya tidak hanya di daerah Solo, tetapi di seluruh jajaran Polda Jateng. Spanduk yang dicopot…

Saudi yakin Biden hadirkan stabilitas di Timteng

RIYADH (Arrahmah.com) - Menlu Arab Saudi mengatakan pada Sabtu (21/11/2020) ia percaya diri bahwa Joe Biden dan Demokrat yang akan mendominasi pemerintah AS di masa mendatang akan mengeluarkan kebijakan yang menolong kawasan Timur Tengah…

Israel Lancarkan Serangan Artileri ke Gaza

GAZA (Arrahmah.com) - Pasukan pendudukan penjajah Zionis, pada Sabtu malam (21/11/2020), kembali melancarkan serangan artileri ke sebuah pos kendali lapangan di Jalur Gaza utara, tak lama setelah jatuhnya sebuah roket yang ditembakkan dari…

ISIS lancarkan serangan besar di Hama

HAMA (Arrahmah.com) - ISIS telah melanjutkan kampanye mereka di pedesaan timur Hama, ketika pejuang mereka menargetkan posisi pasukan rezim Asad di dekat perempatan Ithriya. Menurut laporan, ISIS menyerang unit Angkatan Darat rezim…

Sudan akan menggali kuburan massal untuk mengidentifikasi jenazah

KHARTUM (Arrahmah.com) - Komite yang dibentuk di Sudan untuk menyelidiki orang hilang telah memutuskan penggalian kuburan massal untuk mengidentifikasi mayat dan menentukan penyebab kematian. Otopsi baru juga akan dilakukan. Menurut Kantor…

"Democrazy Will Die" Ramalan atau Kenyataan?

Oleh : Asy Syifa Ummu Sidiq (Arrahmah.com) - "How Democracies Die" sebuah buku karya penulis Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt kini menjadi viral. Bukan karena penulisnya terkenal di negeri ini, tapi karena dibaca dan diposting oleh Pak…

Iklan