Berita Dunia Islam Terdepan

Mufti Besar Oman Kecam Negara-Negara Arab yang Bermesraan Dengan Musuh

315

Support Us

MUSKAT (Arrahmah.com) – Mufti besar Oman telah mengecam fenomena baru-baru ini yang telah melihat negara-negara Arab bermesraan denagn musuh. Kecamannya itu merujuk kepada kesepakatan normalisasi baru-baru ini dengan Israel.

“Fenomena negatif yang baru telah muncul di negara [Muslim global], yang bermesraan dengan musuh yang diperintahkan Allah Yang Maha Esa untuk kita lawan, dan hal itu  diumumkan secara terbuka tanpa rasa malu,” kata Sheikh Ahmed Al-Khalili dalam sebuah pernyataan, sebagainana dilansir Alaraby, Senin (19/10/2020).

“Beberapa ikon umat Islam, yang sebelumnya kami anggap sebagai pilar-pilar dan istana-istana, telah tergesa-gesa melakukannya. Jika mereka meninggalkan masa lalu, mereka akan melangkah lebih dekat dengan tuan-tuan mereka,” katanya.

Sheikh Ahmed Al-Khalili juga menyoroti ulama yang memalsukan fatwa palsu yang bertujuan untuk menumbangkan komunitas Muslim global untuk kepentingan musuh.

“Pada momen krusial ini mengingatkan kita pada era kebangkitan pra-Islam ketika orang-orang tidak punya pilihan selain ikut-ikutan dengan orang lain,” lanjutnya.

Ulama paling senior di Oman itu tidak menyebutkan secara langsung kesepakatan normalisasi baru-baru ini dengan Israel, meskipun dia sebelumnya telah menjelaskan posisinya yang menentang normalisasi dengan Israel.

Berita Terkait

Pada 13 Agustus, Israel dan UEA mengumumkan bahwa mereka akan menormalisasi hubungan, dimana kemudian diikuti oleh Bahrain.

Perjanjian tersebut, yang dijuluki Abraham Accords, ditandatangani di Gedung Putih pada 15 September, dengan Presiden AS Donald Trump menyarankan langkah serupa diharapkan akan diambil oleh negara-negara Arab lainnya.

Sejak itu, spekulasi mengarah ke beberapa negara Arab lainnya, dimana Oman dan Sudan sebagai kandidat yang paling mungkin.

Oman telah menyatakan dukungan untuk normalisasi hubungan antara UEA dan Israel.

Pemerintahan Trump telah menjadikan normalisasi Israel-Arab sebagai fokus utama dari kebijakan luar negeri Timur Tengahnya, karena pemilihan AS pada 3 November semakin dekat.

(ameera/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.