Berita Dunia Islam Terdepan

Penusukan Syeikh Ali Jaber, Fahira Idris: Ungkap Motif Pelaku dan Seret Pengadilan

244

Support Us

Berita Terkait

JAKARTA (Arrahmah.com) – Keraguan banyak pihak bahwa tersangka penusuk Syekh Ali Jaber mengalami gangguan kejiwaan sangat beralasan. Oleh karena itu pengungkapan motif pelaku menjadi penting untuk menguak dan mengusut tuntas kasus ini dan berbagai dugaan yang saat ini masih menjadi pertanyaan besar di benak publik.

Anggota DPD RI Fahira Idris mengharapkan publik terutama umat Islam tetap tenang dan mempercayakan proses penyelidikan dan pengungkapan kasus ini kepada pihak kepolisian.

Dengan pengalaman dan sumber daya yang dipunyai kepolisian, Fahira berharap motif pelaku bisa segera terungkap sehingga kasus ini bisa segera dibawa ke pengadilan.

“Pertama, saya mengutuk keras kejahatan terhadap Syekh Ali Jaber. Kedua, saya berharap motif pelaku segera terungkap dan kasus ini segera disidangkan,” ujar Fahira Idris, di Jakarta (15/9).

Menurut Fahira, untuk unsur pidananya pasti sudah terpenuhi. Hanya untuk motif memang harus digali lebih mendalam lagi.

“Jika motif sudah terungkap pelaku akan segera diseret ke pengadilan. Kita serahkan dan dipercayakan kepada pihak kepolisian. Memang tantangan besar kasus ini adalah mengungkap motif pelaku dan berbagai dugaan kenapa pelaku menjadikan Syekh Ali Jaber yang merupakan seorang ulama sebagai sasarannya,” lanjutnya.

Fahira mengungkapkan, dugaan gangguan jiwa bagi pelaku tindakan pidana harus bisa dibuktikan secara menyakinkan di dalam pengadilan.

Sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) bahwa yang memiliki wewenang memutuskan apakah terdakwa mengalami gangguan jiwa (gila) atau tidak adalah hakim. Dalam memutuskan hal ini hakim bersandar pada pada bukti-bukti yang ada di pengadilan termasuk keterangan dari saksi ahli dan keterangan dari rumah sakit serta ahli psikologi forensik untuk didengar keterangannya mengenai status kejiwaan terdakwa.

“Tidak bisa kemudian, hanya berdasarkan keterangan satu pihak yang menyatakan pelaku mengalami gangguan jiwa kemudian sebuah tindak pidana atau kejahatan menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan,” terang Fahira.

Fahira mengatakan, pengadilan akan menjadi penguji yang sangat kredibel, bukan hanya untuk membuktikan kejiwaan pelaku tetapi juga untuk menguak kasus ini.

“Oleh karena itu, mari kita dukung dan kawal proses hukum kasus ini sampai pelaku mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya,” pungkasnya.

(ameera/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah