Berita Dunia Islam Terdepan

Akibat perang, Mozambik dihantui kelaparan

184

Support Us

MOZAMBIK (Arrahmah.com) – Kekhawatiran akan adanya kelaparan massal karena peperangan di Mozambik semakin meningkat.

Perang antara rezim melawan militan Islam ini, sebagaimana dikutip dari AFP (7/9/2020) telah memutus bantuan untuk puluhan ribu orang di Mozambik utara.

Badan program pangan dunia PBB mengatakan bahwa puluhan ribu orang kehilangan bantuan kemanusiaan di Mozambik utara ketika meningkatnya pertempuran di sana.

Pihak militan Islam telah melancarkan perlawanan diprovinsi Cabo Delgado yang kaya gas sejak 2017.

Tidak kurang lebih dari 1.500 nyawa telah melayang dan membuat sedikitnya 250.000 orang mengungsi, sepersepuluh dari total penduduk provinsi.

Lola Castro, direktur regional Program Pangan Dunia untuk Afrika Selatan, mengatakan bahwa dari 250.000 pengungsi internal, “kami mengakses 180.000”, meninggalkan 70.000 orang tanpa bantuan.

Berbicara kepada wartawan di Johannesburg, Castro menggambarkan Mozambik utara sebagai “daerah yang sangat mengkhawatirkan”.

Pemberontakan Cabo Delgado semakin menghambat bantuan kemanusiaan di daerah itu dalam beberapa bulan terakhir, memaksa komite Internasional untuk palang merah dan dokter tanpa batas untuk menghentikan operasi di kota Macomia pada bulan Juni lalu.

Gerilyawan menguasai kota pelabuhan utama Mocimboa da Praia hampir empat minggu lalu dan pasukan pemerintah masih berjuang untuk memulihkannya.

Program pangan dunia dan organisasi kemanusiaan lainnya yang beroperasi di daerah itu perihatin dengan prospek konflik yang menyebar ke utara ke negara tetangga Tanzania.

Castro juga memperingatkan bahwa kerawanan pangan dapat memengaruhi 44,8 juta orang diseluruh wilayah Afrika selatan , naik dari 41,2 juta tahun lalu , dalam beberapa bulan mendatang hingga 2021.

Kekurangan pangan terutama muncul dari efek gabungan dari kekeringan dan kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi virus corona.

Tiga belas dari 16 negara diblok Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC) terancam rawan pangan “yang tidak terlihat selama bertahun-tahun,” tambah Castro. (hanoum/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan