Berita Dunia Islam Terdepan

Yunani: Tidak ada pembicaraan dengan Turki sampai Turki menarik kapalnya dari wilayah Yunani

778

Support Us

YUNANI (Arrahmah.com) – Yunani mengumumkan Kamis malam (3/9/2020) bahwa tidak ada pembicaraan terjadwal antara mereka dan Turki di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara di Mediterania timur.

Yunani membantah pengumuman yang dibuat oleh NATO tentang “pembicaraan teknis” antara Athena dan Ankara untuk menyelesaikan krisis yang sedang berlangsung di Mediterania timur, lansir AMN (4/9).

Penolakan Yunani datang beberapa jam setelah Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengumumkan dalam sebuah tweet bahwa Yunani dan Turki akan mengadakan pembicaraan di markas NATO dengan tujuan untuk menghindari konfrontasi di Mediterania timur, di mana keduanya bersengketa dalam hal perbatasan maritim dan hak eksplorasi gas.

Stoltenberg mengatakan bahwa “setelah pembicaraan yang saya lakukan dengan para pemimpin Yunani dan Turki, kedua sekutu di NATO setuju untuk mengadakan pembicaraan teknis di markas NATO untuk menyiapkan mekanisme guna mencegah konflik militer dan mengurangi kemungkinan insiden di Mediterania timur.”

Dia menambahkan bahwa “Turki dan Yunani adalah sekutu yang berharga, dan NATO adalah platform penting untuk konsultasi tentang semua masalah yang memengaruhi keamanan kita bersama.”

Kementerian Luar Negeri Yunani mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “informasi yang seharusnya diungkapkan tentang negosiasi teknis di NATO tidak sesuai dengan kenyataan.”

Dalam pernyataannya, kementerian menunjukkan bahwa mereka telah mencatat “niat Sekretaris Jenderal NATO untuk bekerja pada pembentukan mekanisme untuk menurunkan ketegangan, tetapi de-eskalasi hanya akan terjadi dengan penarikan segera semua kapal Turki dari wilayah Yunani.”

Ketegangan meningkat karena aktivitas eksplorasi gas Turki di wilayah tersebut, yang dianggap Yunani dan Siprus sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan mereka, dan kedua belah pihak telah mengerahkan kapal perang untuk unjuk kekuatan, yang memperkuat ketakutan akan kemungkinan konflik karena kesalahan. (haninmazaya/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan