Berita Dunia Islam Terdepan

Pakistan desak Taliban tuk memulai pembicaraan damai dengan pemerintah Afghanistan

168

Support Us

ISLAMABAD (Arrahmah.com) – Pakistan telah mendesak Taliban untuk segera memulai pembicaraan dengan pemerintah Afghanistan untuk mengakhiri konflik selama beberapa dekade, mengatakan kepada pejabat yang berkunjung dari kelompok tersebut, bahwa dialog intra-Afghanistan dapat membantu memastikan stabilitas regional.

Pertemuan antara Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi dan delegasi Taliban pada Selasa (25/8/2020) terjadi karena proses perdamaian Afghanistan tetap terhenti karena perselisihan tentang pertukaran tahanan.

“Pakistan sangat ingin melihat dialog intra-Afghanistan segera dimulai untuk memastikan perdamaian dan stabilitas regional,” kata Qureshi dalam sebuah pernyataan setelah bertemu dengan delegasi yang dipimpin oleh kepala kantor politik Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, lansir Al Jazeera.

Pembicaraan antara Taliban dan komite yang diamanatkan pemerintah Afghanistan akan diadakan di ibu kota Qatar, Doha, setelah selesainya pertukaran tahanan antara kedua belah pihak.

Tetapi penyelesaian pertukaran telah ditunda karena ketidaksepakatan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan.

Ada juga kekhawatiran atas kekerasan yang meningkat, yang menurut para diplomat telah melemahkan kepercayaan yang diperlukan untuk perundingan. Sejauh ini, Taliban menolak menerapkan gencatan senjata sebelum perundingan dimulai.

“Kami mempertimbangkan komplikasi, dan apa yang bisa menjadi solusinya,” kata Qureshi dalam jumpa pers singkat, di mana tidak ada pertanyaan yang diajukan.

Meskipun tidak segera jelas apakah pengurangan kekerasan telah dibahas, para diplomat mengatakan Pakistan -pemain regional terkemuka- telah mendorong pengurangan kekerasan dan memperlancar jalan bagi perundingan damai.

Pertemuan hari Selasa itu juga dihadiri oleh Letjen Faiz Hameed, kepala badan intelijen Pakistan (ISI).

Para pengamat mengatakan badan tersebut memiliki hubungan dekat dengan kelompok bersenjata di Afghanistan sejak invasi Uni Soviet ke negara itu pada akhir 1980-an. (haninmazaya/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan