Berita Dunia Islam Terdepan

Bahrain: Di tengah ketegangan di Libya, pernyataan Turki tentang UEA menjadi provokasi

943

Support Us

MANAMA (Arrahmah.com) – Bahrain mengecam pernyataan menteri pertahanan Turki tentang UEA dan menggambarkannya sebagai pernyataan “bermusuhan” dan “provokasi yang tidak dapat diterima,” kata Kementerian Luar Negeri Bahrain pada hari Minggu (2/8/2020).

“Bahrain mengecam pernyataan bermusuhan dari Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar, mengenai Uni Emirat Arab, menganggapnya sebagai provokasi yang tidak dapat diterima yang bertentangan dengan norma-norma diplomatik, dan ancaman tercela terhadap negara persaudaraan Arab yang dikenal karena peran konstruktifnya di dunia internasional,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Menteri Luar Negeri UEA, Anwar Gargash, telah menyeru Turki untuk “menghentikan campur tangan dalam urusan Arab” pada hari Sabtu (1/8).

“Pernyataan provokatif dari Menteri Pertahanan Turki adalah hal baru untuk diplomasi negaranya. Sublime Porte dan ilusi kolonialis milik arsip sejarah. Hubungan tidak dijalani dengan ancaman dan intrusi, dan tidak ada tempat untuk ilusi kolonial saat ini. Lebih tepat bagi Turki untuk berhenti mencampuri urusan Arab,” kata Gargash dalam tweet-nya.

Pernyataan menteri UEA datang sehari setelah Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar mengklaim bahwa UEA melakukan “tindakan jahat” di Libya dan Suriah, dalam pernyataan yang dilakukan oleh media Turki dan Qatar.

UEA, bersama dengan sekutu Arab lainnya, telah mengutuk campur tangan Turki dalam konflik Libya.

Libya telah jatuh ke dalam kekacauan sejak penggulingan diktator Moammar Gaddafi tahun 2011.

Bentrokan antara dua pihak yang bertikai utama di negara itu, Tentara Nasional Libya (LNA), dipimpin oleh Khalifa Haftar dan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA), yang dipimpin oleh Fayez al-Serraj, telah meningkat baru-baru ini.

Banyak kekuatan asing telah mendukung berbagai sisi konflik dengan berbagai tingkat dukungan, dengan negara-negara yang paling menonjol adalah Turki mendukung GNA dan Mesir mendukung LNA. (Althaf/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan