Berita Dunia Islam Terdepan

Support Us

Respon JAS terhadap Undang-undang HIP

1.104

JAKARTA (Arrahmah.com) – Pembahasan Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU-HIP) ramai diperbincangkan dan menimbulkan kegaduhan publik. Banyak pihak yang menyatakan ketidaksetujuan dan mengkritik RUU tersebut.

Juru bicara Jamaah Ansharu Syariah (JAS), Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir menegaskan, RUU HIP adalah upaya dari kalangan tertentu untuk menjadi pintu masuk ideologi komunisme di negeri ini.

Menurutnya, sejak pelarangan partai Komunis melalui TAP MPRS XXV/1996, gerakan komunis terus berusaha mencari celah untuk menghapus peraturan tersebut.

“Oleh karena itu sejak hari itu juga mereka orang-orang komunis tetap berusaha dan berjuang untuk kemudian mendapatkan legalitas mereka kembali di negeri ini, mereka masuk dari berbagai cara diantara cara yang mereka tempuh adalah melalui jalur lobi-lobi politik di DPR, dalam hal ini mereka ingin membangun pintu-pintu yang mereka bisa masuk melaluinya kemudian nantinya akan melegalkan kembali eksistensi komunisme dalam bentuk kendaraan ataupun dalam bentuk lembaga-lembaga atau aktivitas yang sifatnya perpolitikan sehingga mereka tentu ingin menguasai negara lalu kemudian mereka terapkan komunisme itu sebagai ideologi di negara ini,” paparnya dalam press rilis JAS yang beredar di media sosial (13/6/2020).

Ia melanjutkan, jika RUU tersebut disahkan tanpa memasukan TAP MPRS XXV/1996 di dalamnya, maka ummat Islam harus waspada.

Ustadz yang biasa dipanggil dengan sebutan Ustadz Iim, juga menilai RUU HIP sangat dipaksakan. Terlebih RUU itu juga diketuai oleh aktivis pro-PKI yang kini duduk di DPR, yaitu Ribka Tjiptaning. Ribka juga adalah penulis buku berjudul “Aku Bangga jadi Anak PKI”.

“Ini sebuah warning sekali lagi, para ulama, para tokoh tokoh ummat Islam di Indonesia sebenarnya sudah sejak beberapa tahun terakhir ini sudah sering mengingatkan bahwasanya ini PKI atau orang-orang komunis akan bangkit kembali lalu kemudian mereka akan membentuk kembali partai mereka yang selama ini sudah dilarang melalui TAP MPR nomor 25 tahun 1966 itu,” ujarnya.

Untuk itu, ia mengimbau ummat Islam untuk selalu waspada. Ia menjelaskan, gerakan komunis saat ini semakin kuat karena didukung oleh Tiongkok yang saat ini menjadi negara super power.

“Makanya kita harus waspada untuk kemudian menutup pintu-pintu dan celah-celah ini agar tidak melalaikan dari kebangkitan mereka sehingga mengakibatkan pada kerugian bagi Islam dan kaum muslimin,” pungkasnya.

Jika komunis berkuasa, kata dia, maka sudah barang tentu Islam akan dihabisi. “Kita yakin seyakin-yakinnya 100 persen dalam masalah ini, jadi pasti secara bertahap walaupun itu nanti, apakah itu bertahap atau langsung di patah ya tapi kami yakin mereka akan berusaha mengarah ke sana,” tegasnya.

Oleh karena itu, pihaknya tegas menolak segala bentuk upaya kebangkitan komunisme di Indonesia termasuk melalui RUU HIP ini. (haninmazaya/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah