Berita Dunia Islam Terdepan

Penjaga keamanan rumah sakit "Israel" bunuh warga Palestina penderita epilepsi di depan ibunya

242

Support Us

TEL AVIV (Arrahmah.com) – Petugas keamanan di rumah sakit Tel Aviv menewaskan seorang pria Palestina penderita epilepsi di depan ibunya. Dia terbunuh di pintu masuk rumah sakit tempat dia sering menerima perawatan karena epilepsi.

Mustafa Younis, dari kota Aara, dibunuh oleh penjaga setelah pertengkaran di pintu masuk rumah sakit. Sebuah video menunjukkan tiga penjaga keamanan menembak Younis, yang mengangkat tangan dan berdiri di dekat sisi pengemudi mobilnya.

Serangan itu terjadi di rumah sakit Sheba di Tel Aviv, di mana Younis pergi bersama ibunya untuk perawatan, lansir IMEMC (16/5/2020).

Ketiga penjaga keamanan itu semuanya melepaskan tembakan ke arahnya, dengan tujuh peluru menghantamnya dari jarak dekat, membunuhnya sementara ibunya mematung dihadapannya, ketakutan, dan tidak bisa menghentikan pembunuhan putranya.

Sumber-sumber “Israel” mengklaim bahwa Mustafa mencoba menikam para penjaga, tetapi klaim itu bertentangan dengan bukti video -dan tidak ada bukti yang disajikan untuk mendukung klaim yang absurd itu.

“Saudaraku terbunuh dengan darah dingin,” kata Mahmoud Younis, adik Mustafa. Dia pergi ke Rumah Sakit Sheba “Israel” di Tel Aviv pada siang hari ini, yang membantah laporan resmi “Israel” yang mengklaim bahwa martir menikam salah satu penjaga.

Paman korban, Dr. Issam Younis, mengatakan kepada wartawan, “Dia dulu datang ke rumah sakit untuk perawatan setiap enam bulan, dan dia sudah ada di sana beberapa bulan yang lalu. Dalam empat hari terakhir, dia bersiap untuk prosedur otak. Rupanya pertengkaran terjadi antara dia dan salah satu penjaga rumah sakit, yang menyuruhnya mengenakan masker. Mustafa menjawab bahwa penjaga itu sendiri tidak mengenakan masker.”

Adu argumen berubah menjadi pembunuhan hanya dalam hitungan detik, ketika para penjaga keamanan menembaknya.

Ibu Mustafa mengatakan kepada wartawan Palestine Post 24, “Polisi ‘Israel’ menghentikan mobil kami dan meminta putra saya untuk keluar. Dia menolak, tetapi mereka menariknya keluar. Ketika dia ditarik keluar, saya juga keluar, dan berbalik untuk melihat penjaga keamanan menembaknya langsung dari jarak yang sangat dekat.” (haninmazaya/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan