Berita Dunia Islam Terdepan

Foto: Ramadhan dalam reruntuhan di Idlib

517

Support Us

Ketika senja telah muncul di hutan bangunan-bangunan yang hancur di sekitar mereka, Tareq Abu Ziad dan keluarganya membatalkan puasa Ramadhan di puing-puing rumah mereka.

Kota Ariha di Suriah utara tampak seperti tempat terjadinya gempa bumi raksasa, sepi, berisi lautan abu yang berasal dari balok-balok batu dan batang-batang besi yang sudah hancur.

Abu Ziad harus membersihkan puing-puing di atap rumahnya untuk meletakkan tiga kasur busa untuk diduduki istri dan anak-anaknya ketika mereka makan bersama.

“Kini keluarga saya dan saya berada di atap yang telah hancur,” ujar ayah tiga anak yang baru berusia 29 tahun.

“Kami menghidupkan kembali ingatan yang sangat sulit dan menyakitkan. Saya berdoa agar Allah tidak membiarkan orang lain mengalami ini.”

Dia dan keluarganya melarikan diri dari Ariha akhir tahun lalu ketika pasukan rezim Suriah yang didukung oleh serangan udara Rusia melancarkan serangan terhadap kota itu, yang pada saat itu dikendalikan oleh pejuang Suriah.

Dalam beberapa minggu, sekitar satu juta warga sipil melarikan diri dari serangan di wilayah Idlib yang lebih luas, benteng terakhir oposisi.

Seluruh populasi Ariha menuju ke utara karena sebagian besar kota telah rata dengan tanah.

Tetapi ketika gencatan senjata disepakati, beberapa keluarga memilih untuk kembali dan mencari akomodasi murah di tengah reruntuhan.

Abu Ziad dan keluarganya saat membatalkan puasa di rumah mereka yang telah hancur. (Foto: AFP)

Abu Ziad kembali bulan lalu dan menemukan tempat tinggal.

Tapi dia ingin berbagi setidaknya satu iftar -makanan berbuka puasa- di rumahnya dulu.

“Setiap tahun kami biasa menghabiskan Ramadhan di sini dan kami ingin menghabiskan satu hari Ramadhan ini di sini,” katanya.

Di sekeliling mereka dan sejauh mata memandang, tidak ada satu pun manusia, hanya deretan rumah yang hancur dihiasi semburat jingga di waktu senjata.

Dapur rumah sudah lama hilang, tapi ibu Abu Ziad mengatakan mereka datang dengan membawa persiapan.

“Kami membawa makanan siap saji dari luar,” ia menjelaskan.

“Yang paling penting adalah kami menghidupkan kembali ingatan kami dan makan di rumah kami.”

(haninmazaya/arrahmah.com)

*sumber: AFP

Iklan

Iklan