Berita Dunia Islam Terdepan

Jumlah korban jiwa akibat COVID-19 di Spanyol lebih banyak dari Cina

703

Support Us

MADRID (Arrahmah.com) – Dengan 3.434 kematian, Spanyol menggeser Cina dan menjadi negara kedua dengan jumlah korban jiwa tertinggi akibat COVID-19, ungkap data resmi yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan negara itu pada Rabu (25/3/2020).

Dalam kurun waktu 24 jam, sebanyak 738 orang dilaporkan meninggal dan jumlah kasus baru yang dikonfirmasi melonjak lebih dari 5.000, sehingga total jumlah kasus di Spanyol mencapai 47.610.

Spenyol juga menjadi salah satu negara di mana jumlah petugas kesehatan yang terinfeksi virus corona sangat tinggi. Lebih dari 5.400 petugas kesehatan di Spanyol positif terinfeksi COVID-19, ungkap data resmi negara tersebut pada Selasa (24/3)

Seorang dokter di Salamanca pada Selasa (24/3) meninggal karena COVID-19, dan petugas kesehatan di seluruh negeri terus melaporkan kekurangan peralatan pelindung dan kurangnya alat tes.

Spanyol telah meminta bantuan NATO untuk memenuhi kekurangan alat pelindung diri. Ia meminta 1,5 juta masker bedah, 150.000 pakaian pelindung, dan 450.000 ventilator.

Pada Selasa (24/3), pemerintah juga mengumumkan akan melakukan tes cepat yang dapat mendeteksi antibodi.

Rumah sakit di Madrid melaporkan bahwa pasien di ruang gawat darurat membludak. Selasa (24/3) malam, di Rumah Sakit Severo Ochoa, sebanyak 313 pasien pergi ke ruang gawat darurat yang menyebabkan ruangan tersebut dipenuhi oleh pasien COVID-19 dan pasien yang menunggu untuk dirawat.

“Tiga orang tewas di ruang gawat darurat. Kami tidak punya kamar. Kita semua berdesakan bersama,” kata Jesus Medina, salah satu dokter yang bekerja di shift malam, kepada Telemadrid.

Dalam konferensi pers pada Selasa (24/3), menteri dalam negeri Spanyol mengatakan hampir 1.000 orang telah ditangkap dan 102.000 laporan pengaduan telah diajukan kepada polisi terhadap orang-orang yang melanggar aturan lockdown. Dia juga mencatat beberapa kasus pasien yang terinfeksi melarikan diri dari rumah sakit.

Di Spanyol, orang tidak diperbolehkan meninggalkan rumah mereka untuk apa pun kecuali melakukan tugas-tugas penting.

Meski begitu, partai-partai politik oposisi mendorong pemerintah untuk mengambil tindakan lebih keras seperti menutup semua kegiatan ekonomi yang tidak esensial, seperti konstruksi, dan menghentikan semua angkutan umum.

Setelah pertama kali muncul di Wuhan, Cina Desember lalu, coronavirus baru telah menyebar ke setidaknya 170 negara dan wilayah. Organisasi Kesehatan Dunia telah menyatakan wabah ini sebagai pandemi.

Jumlah kasus yang dikonfirmasi di seluruh dunia kini telah melampaui 428.400 sementara jumlah kematian lebih dari 19.000 dan hampir 110.000 telah pulih, menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University yang berbasis di A.S.

Meskipun jumlah kasus meningkat, sebagian besar yang tertular virus hanya menderita gejala ringan sebelum melakukan pemulihan. (rafa/arrahmah.com)

Iklan

Iklan