Berita Dunia Islam Terdepan

Pandemi virus corona bisa membunuh jutaan orang di Iran

661

Support Us

TEHERAN (Arrahmah.com) – Iran telah mengeluarkan peringatan paling mengerikan tentang wabah viruscorona baru (Covid-19) yang melanda negara itu, mengatakan “jutaan” bisa mati jika orang terus bepergian dan mengabaikan nasihat kesehatan.

Seorang jurnalis televisi negara, yang juga seorang dokter, memberikan peringatan pada Selasa (17/3/2020) mengutip sebuah studi oleh Universitas Teknologi Sharif yang bergengsi di Teheran, yang menunjukkan tiga skenario mengenai wabah Covid-19 di Iran, salah satu yang paling mematikan di luar Cina, di mana penyakit berasal.

Pada Selasa (17/3), 135 kematian akibat virus corona menjadikan jumlah korban keseluruhan di negara itu menjadi 988.

Dr. Afruz Eslami mengatakan jika orang mulai bekerja sama sekarang, Iran akan melihat 120.000 infeksi dan 12.000 kematian sebelum wabah berakhir. Jika mereka setengah-setengah dalam bekerja sama, akan ada 300.000 kasus dan 110.000 kematian, tambahnya.

Tetapi jika orang gagal mengikuti petunjuk apa pun, itu bisa menghancurkan sistem medis Iran yang sudah tegang, kata Eslami. Jika “fasilitas medis tidak cukup, akan ada empat juta kasus, dan 3,5 juta orang akan mati,” katanya seperti dilansir Al Jazeera.

Eslami tidak merinci metrik apa yang digunakan studi tersebut, tetapi melaporkannya pada televisi pemerintah Iran yang dikontrol ketat, merupakan perubahan besar bagi negara yang para pejabatnya selama berhari-hari membantah krisis dengan sangat keras.

Setidaknya 12 politisi dan pejabat Iran, baik yang masih menjabat ataupun mantan, telah meninggal karena penyakit tersebut, dan 13 lainnya telah terinfeksi dan dikarantina atau dirawat.

Iran telah berjuang untuk membendung penyebaran cepatCovid-19 yang sejauh ini telah menginfeksi sekitar 16.000 orang, termasuk 1.178 kasus baru yang dikonfirmasi dalam 24 jam terakhir, menurut kementerian kesehatan.

Pada Selasa, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengeluarkan keputusan agama yang melarang perjalanan “tidak perlu” di negara itu.  (haninmazaya/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah