AS mulai menarik pasukan dari Afghanistan

655

Support Us

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Pasukan AS telah mulai meninggalkan Afghanistan untuk penarikan pasukan awal yang diperlukan dalam perjanjian AS-Taliban, seorang juru bicara Pasukan AS di Afghanistan mengumumkan pada Senin (9/3/2020), di tengah kekacauan politik di Kabul yang mengancam kesepakatan itu.

AS akan memangkas jumlah pasukan di negara itu menjadi 8.600 personil, menurut pernyataan juru bicara Pasukan AS di Afghanistan, Kolonel Sonny Leggett.

“Sesuai dengan Deklarasi Bersama AS-Republik Islam Afghanistan dan Perjanjian AS-Taliban, Pasukan AS di Afghanistan (USFOR-A) telah memulai pengurangan pasukan menjadi 8.600 selama 135 hari,” kata Leggett dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Al Jazeera.

“USFOR-A mempertahankan semua sarana dan wewenang militer untuk mencapai tujuan kami -termasuk melakukan operasi ‘kontraterorisme’ terhadap Al-Qaeda dan ISIS dan memberikan dukungan kepada Pertahanan Nasional dan Pasukan Keamanan Afghanistan,” klaimnya.

“USFOR-A berada di jalurnya untuk memenuhi level kekuatan terarah, sambil mempertahankan kemampuan yang diperlukan.”

Penarikan itu terjadi ketika para pemimpin Afghanistan yang saling bersaing, masing-masing dilantik sebagai presiden pada upacara terpisah pada Senin (9/3), menciptakan kerumitan bagi AS ketika negara itu mencari cara untuk maju dalam perjanjian yang ditandatangani akhir bulan lalu, dan mengakhiri perang 18 tahun.

Berita Terkait

Pertikaian yang semakin tajam antara Presiden Ashraf Ghani, yang dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan September lalu, dan saingannya Abdullah Abdullah, yang menuduh kecurangan dalam pemungutan suara bersama dengan komisi pengaduan pemilihan, mengancam untuk menghancurkan langkah-langkah kunci berikutnya dan bahkan risiko kekerasan yang baru.

AS belum mengikat penarikannya untuk stabilitas politik di Afghanistan atau hasil spesifik dari pembicaraan damai seluruh Afghanistan. Sebaliknya, ia bergantung pada komitmen pertemuan Taliban untuk mencegah “kelompok atau individu mana pun, termasuk Al-Qaeda, dari menggunakan tanah Afghanistan untuk mengancam keamanan AS dan sekutunya.”

Di bawah perjanjian damai, penarikan pasukan AS harus dimulai dalam 10 hari setelah kesepakatan ditandatangani pada 29 Februari. Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan pada 2 Maret bahwa ia telah menyetujui dimulainya penarikan, yang kemudian akan dikoordinasikan oleh komandan militer di Afghanistan.

Pejabat AS tersebut mengatakan pasukan yang akan pergi telah dijadwalkan untuk berangkat, tetapi mereka tidak akan diganti. Esper mengatakan Jenderal Scott Miller, komandan AS di Kabul, akan menghentikan sementara penarikan dan menilai kondisi begitu tingkat pasukan turun ke 8.600.

Rencana jangka panjang adalah untuk menarik semua pasukan AS dalam waktu 14 bulan jika kondisi keamanan terpenuhi.

Perjanjian dengan Taliban mengikuti periode “pengurangan kekerasan” selama tujuh hari yang dari sudut pandang pemerintahan Trump, dimaksudkan untuk menguji keseriusan Taliban tentang pergerakan menuju perjanjian perdamaian akhir. (haninmazaya/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.

Berita Arrahmah Lainnya

UEA hentikan visa untuk 13 negara Muslim

DUBAI (Arrahmah.com) –Menurut dokumen yang dikeluarkan oleh negara, Uni Emirat Arab (UEA) telah berhenti mengeluarkan visa baru untuk warga dari 13 negara mayoritas Muslim, termasuk Iran, Suriah, dan Somalia. Dilansir di Daily Sabah,…

Kapal Turki tinggalkan Mediterania Timur

ANKARA (Arrahmah.com) -Sebuah kapal penelitian Turki di tengah pertengkaran dengan Yunani mengenai potensi kekayaan gas di Mediterania timur telah kembali ke pelabuhan, kata kementerian energi Turki, Senin (30/11/2020). Kapal survei…

Serangan udara "Israel" bunuh 8 militan pro-Iran

DAMASKUS (Arrahmah.com) - Serangan udara "Israel" di Suriah menewaskan sedikitnya delapan pejuang yang beroperasi di milisi pro-Iran, kelompok pemantau mengatakan pada Rabu (25/11/2020). Serangan itu menargetkan depot senjata dan situs…

Iran tuduh "Israel" sebagai dalang pembunuhan Fakhrizadeh

TEHERAN (Arrahmah.com) - "Israel" membunuh seorang ilmuwan nuklir Iran dengan menggunakan teknologi yang dikendalikan dari jarak jauh, seorang pejabat keamanan senior Iran menuduh pada Senin (30/11/2020). "Sayangnya, operasi itu sangat…

Pasukan keamanan Irak mulai ditempatkan di Sinjar

BAGHDAD (Arrahmah.com) - Pasukan keamanan Irak pada Selasa mulai melaksanakan rencana penempatannya di pusat distrik Sinjar di provinsi Niniwe utara. "Rencana untuk mengerahkan pasukan keamanan di pusat Sinjar telah dilaksanakan oleh…

Pengadilan Iran desak tindakan tegas terhadap 'penyusup' pasca pembunuhan Fakhrizadeh

TEHERAN (Arrahmah.com) - Kepala pengadilan Iran Ebrahim Raisi meminta layanan keamanan negara pada hari Senin (30/11/2020) untuk menindak "jaringan infiltrasi" setelah pembunuhan seorang ilmuwan nuklir militer Iran. "Badan intelijen dan…

Lakukan aksi mogok makan selama 103 hari demi bisa keluar dari penjara

JENIN (Arrahmah.com) - Mantan tahanan "Israel" asal Palestina, Maher Al-Akhras, berhasil bebas dari penjara. Otoritas "Israel" membebaskan Al-Akhras pada Kamis (26/11/2020), setelah ia melakukan mogok makan selama 103 hari. "Tekad saya…

Tangan kanan Netanyahu tak tahu-menahu soal Fakhrizadeh

TEL AVIV (Arrahmah.com) - Menteri kabinet "Israel" Tzachi Hanegbi mengatakan pada hari Sabtu (28/11/2020) dia "tidak tahu" siapa yang berada di balik pembunuhan seorang ilmuwan nuklir Iran di Teheran. “Saya tidak tahu siapa yang…

Serangan roket hantam kilang minyak di Irak utara

BAGHDAD (Arrahmah.com) - Sebuah roket menghantam kilang minyak kecil di Irak utara pada Ahad (29/11/2020), menyebabkan kebakaran di tangki penyimpanan bahan bakar dan memaksa operasi dihentikan total setelah api menyebar ke jaringan pipa…

Mesir: Qatar rusak pembicaraan damai melalui dukungan untuk pemerintah Libya

KAIRO (Arrahmah.com) - Qatar merusak pembicaraan damai melalui dukungannya untuk Pemerintah Nasional Libya (GNA) yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa, kata para pejabat Mesir, yang dilansir Al-Monitor. Oktober lalu, Qatar…

Demi keamanan nasional, pemerintah Selandia Baru akan sembunyikan bukti serangan terorisme di…

CHRISTCHURCH (Arrahmah.com) - Bukti-bukti yang diberikan oleh para menteri dan kepala eksekutif sektor publik dalam penyelidikan serangan terorisme di Christchurch tidak akan dipublikasikan hingga 30 tahun ke depan, ujar pihak berwenang…

Militer Turki bersiap untuk mundur dari daerah strategis di Aleppo

ALEPPO (Arrahmah.com) - Pada Selasa pagi (24/11/2020), sejumlah besar kendaraan memasuki area pos pengamatan Turki, yang dikepung oleh pasukan rezim Asad di area Rashideen 5 Aleppo. Menurut laporan dari provinsi Aleppo pada Selasa,…

Iklan