Rekonstruksi AS di Afghanistan renggut ribuan nyawa

Tentara AS tampak melakukan patroli di desa Saidon Kalacheh, Kandahar. (Foto: Reuters)
570

KABUL (Arrahmah.com) – Rekonstruksi Afghanistan yang dicanangkan AS telah merenggut ribuan nyawa, ungkap sebuah laporan yang dirilis pada Selasa (11/2/2020) oleh pengawas pemerintah AS yang juga bertugas memantau miliaran dolar dana yang dihabiskan Washington di negara yang dilanda perang tersebut.

Dilansir Daily Sabah, sebuah laporan berjudul “The human cost of reconstruction” yang dikeluarkan oleh Inspektur Jenderal Khusus AS untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) menemukan bahwa sebanyak 2.214 orang, sebagian besar dari mereka warga Afghanistan, tewas dalam sebagian besar proyek yang dipimpin AS untuk membangun kembali negara itu. Sedangkang sebanyak 2.291 orang lainnya terluka dalam proyek-proyek tersebut.

Proyek yang diprakarsai oleh AS mulai dari pembangunan jalan hingga pembangunan sekolah dan klinik kesehatan di sekitar Afghanistan menyebabkan lebih dari 70% warga Afghanistan yang bekerja dalan proyek tersebut terbunuh atau terluka dan sekitar 86% dari mereka diculik. Sebagian besar dari mereka merupakan warga sipil, kata laporan itu. Survei ini juga mengidentifikasi sebanyak 1.182 orang yang diculik atau hilang.

Laporan tersebut adalah lapora pertama yang mengungkapkan manusia yang menjadi korban untuk membangun kembali Afghanistan setelah invasi pimpinan AS tahun 2001.

Temuan itu datang di tengah perundingan perdamaian baru yang dipimpin AS dengan Taliban yang bertujuan membuka jalan bagi penarikan pasukan Amerika.

AS telah menghabiskan hampir 1 triliun USD di Afghanistan, yang sebagian besar telah dihabiskan untuk biaya keamanan dan perang. Sekitar 136,97 miliar USD telah dihabiskan untuk bantuan dan rekonstruksi Afghanistan sejak tahun 2002.

Masih menurut laporan SIGAR, pada bulan lalu tingkat kemiskinan di Afghanistan meningkat. Pada tahun 2012, 37% warga Afghanistan terdaftar di bawah angka kemiskinan, bertahan hidup dengan kurang dari 1 USD sehari. Hari ini, angka itu telah meningkat menjadi 55% orang Afghanistan. (rafa/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.