Berita Dunia Islam Terdepan

Sebagai kota tujuan wisata, termasuk dari Cina, Rumah Sakit di Yogyakarta siaga hadapi virus Corona

253

Support Us

YOGYAKARTA (Arrahmah.com) – Yogyakarta menjadi salah satu tujuan wisata utama di Indonesia. Menyebarnya virus corona di berbagai kawasan, meningkatkan kesiapsiagaan tenaga kesehatan di wilayah ini, khususnya di RSUP Dr Sardjito.

Berbagai persiapan mulai dari simulasi penanganan, ruangan khusus hingga 200 petugas kesehatan menjadi perhatian khusus RSUO dr. Sardjito.

Sebagai rumah sakit yang berada di kota wisata, RSUP dr. Sardjito  sudah bersiap ketika ada pasien rujukan yang terkena virus corona.

Banu Hermawan, Kabag Hukum dan Humas RSUP dr. Sardjito menjelaskan, setidaknya ada lebih 200 petugas yang siap siaga dalam menangani virus yang masuk dalam kelompok Airborne.

“Ada 87 ruangan yang disiapkan jikalau ada pasien yang terdapat diagnosa terkena virus ini. Teknologi yang kita miliki juga sudah siap menampung. Sebelum kasus ini muncul Sardjito sudah antisipasi. Kita secara rutin lakukan simulasi 6 bulan sekali,” katanya pada wartawan, Rabu (22/1/2020), lansir IDN Times.

Sesuai dengan imbauan Kemenkes, saat ini sudah ada langkah peningkatan kewaspadaan. Lini pertama yang disasar ialah bandara dan dermaga. Saat ini, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan bandara dan fasilitas kesehatan lainnya.

“Menkes sudah memberikan saran, kalau ada sakit flu pada prinsipnya harus waspada. Kalau dari KKP warning kode kuning, berarti ada bahaya virus seperti ini, kita sudah siap. Alur masuk ke IGD dan penanganan khusus,” terangnya.

Sementara itu, Andreas Dewanto, Wakil Kepala Medis IGD RSUP dr. Sardjito mengimbau agar masyarakat yang tidak memiliki kepentingan mendesak tidak pergi ke wilayah endemik virus corona.

“Jika tidak terlalu urgent sekali kajangan pergi. Kalau hanya sekedar sekedar piknik atau bisa ditunda. Kalau memang itu urusan penting tugas kenegaraan dan lain-lain dilaksanakan,” katanya.

Direktur Utama RSUP Dr Sardjito, Dr. dr. Darwito, SH., Sp.B(K) Onk juga memastikan rumah sakit yang dipimpinnya memahami prosedur yang ditetapkan. Apalagi, posisi Yogya sebagai kota tujuan wisata populer, termasuk dari Cina.

“Sejak mulai transportasi, bahkan dari bandara kita siap. Kita tahu bahwa Yogya adalah kota wisata, kalau terjadi sesuatu di bandara kita siapkan, ambulansnya juga khusus. Sampai ke UGD juga khusus, dengan peralatan maupun SDM-nya. Di ICU juga khusus,” terang Darwito.

Darwito lebih banyak meminta masyarakat bersiap dengan menjaga kesehatan. Menjaga kebersihan, sering mencuci tangan, hidup sehat adalah beberapa kuncinya. Untuk mengurangi potensi penularan, masyarakat juga sebaiknya menghindari daerah-daerah yang sudah dinyatakan memiliki kasus virus corona.

Kementerian Kesehatan menurut Darwito sejauh ini telah mengambil langkah-langkah yang cukup. Tidak perlu panik menghadapi virus corona. Jangan sampai, sedikit-sedikit kasus flu dan sejenisnya lalu dikhawatirkan sebagai suspek virus corona.

Diketahui, virus baru yang mirip dengan SARS telah menewaskan 17 orang di Cina, menulari ratusan orang dan sudah mencapai Amerika Serikat, dengan kekhawatiran semakin meluas, sewaktu ratusan juta orang pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru Imlek, yang dimulai hari Jumat (24/1).

Banyak negara telah meningkatkan pemindaian penumpang dari Wuhan, kota di Cina yang diketahui sebagai pusat wabah itu, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengadakan pertemuan darurat.

Penyakit itu tampaknya merupakan jenis virus corona yang belum pernah dihadapi sebelumnya – sebuah rumpun besar virus yang menyebabkan berbagai penyakit mulai dari flu biasa hingga Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), yang menewaskan 349 orang di daratan Cina dan 299 lainnya di Hong Kong antara tahun 2002 hingga 2003.

Kepala Departemen epidemiologi di Pasteur Institute di Paris, Arnaud Fontanet mengatakan kepada kantor berita AFP, virus jenis itu secara genetik 80 persen mirip dengan SARS.

Cina telah berbagi studi atas rangkaian genetik virus corona ini dengan komunitas ilmiah internasional. Virus itu dinamai “2019-nCoV”.

(ameera/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan