Berita Dunia Islam Terdepan

Informan di Irak dan Suriah bantu AS bunuh Soleimani

1.548

Support Us

Jenderal Iran Qassem Soleimani bernasib naas hari itu. Ia tiba di bandara Damaskus dengan kendaraan berkaca gelap. Empat tentara dari Garda Revolusi Iran (IRGC) hadir bersamanya. Kendaraan mereka diparkir di dekat tangga yang mengarah ke Cham Wings Airbus A320, yang akan menuju Baghdad.

Baik Soleimani maupun para prajurit tidak terdaftar pada daftar penumpang, menurut seorang karyawan maskapai Cham Wings yang menggambarkan tempat keberangkatan mereka dari ibukota Suriah kepada Reuters. Soleimani menghindari penggunaan pesawat pribadinya karena meningkatnya kekhawatiran tentang keamanannya sendiri, kata sumber keamanan Irak yang mengetahui pengaturan keamanan Soleimani.

Nasib sang jenderal naas. Penerbangan sipil itu menjadi yang terakhir bagi Soleimani. Roket yang ditembakkan dari pesawat tak berawak AS membunuhnya ketika ia meninggalkan bandara Baghdad dalam konvoi dua kendaraan lapis baja. Yang juga terbunuh adalah orang yang menemuinya di bandara: Abu Mahdi Muhandis, wakil kepala milisi Unit Mobilisasi Populer (PMU) Irak, kelompok payung pemerintah Irak untuk milisi negara itu.

Investigasi Irak terhadap serangan yang menewaskan kedua pria itu pada 3 Januari dimulai beberapa menit setelah serangan AS, kata dua pejabat keamanan Irak kepada Reuters. Agen Keamanan Nasional menutup bandara dan mencegah puluhan staf keamanan untuk meninggalkan lokasi, termasuk polisi, petugas paspor, dan agen intelijen.

Para penyelidik kemudian memfokuskan diri pada bagaimanakah sejumlah kemungkinan informan di dalam bandara Damaskus dan Baghdad berkolaborasi dengan militer AS untuk membantu melacak dan menentukan posisi Soleimani, menurut wawancara Reuters dengan dua pejabat keamanan yang memiliki pengetahuan langsung tentang penyelidikan Irak, dua pegawai bandara Baghdad, dua pejabat polisi, dan dua karyawan Cham Wings Airlines dari Suriah, sebuah maskapai penerbangan komersial swasta yang berkantor pusat di Damaskus.

Penyelidikan dipimpin oleh Falih al-Fayadh, yang bertindak sebagai Penasihat Keamanan Nasional Irak dan kepala PMF, badan yang berkoordinasi dengan milisi Syiah Irak yang banyak di antaranya didukung oleh Iran dan memiliki hubungan dekat dengan Soleimani.

Para penyelidik Badan Keamanan Nasional memiliki “indikasi kuat bahwa jaringan mata-mata di dalam Bandara Baghdad terlibat dalam membocorkan rincian keamanan sensitif” terkait kedatangan Soleimani kepada Amerika Serikat, salah satu pejabat keamanan Irak mengatakan kepada Reuters.

Para tersangka termasuk dua staf keamanan di bandara Baghdad dan dua karyawan Cham Wings – “seorang mata-mata di bandara Damaskus dan satu lagi bekerja di dalam pesawat”, kata sumber itu. Para penyelidik Badan Keamanan Nasional yakin keempat tersangka, yang belum ditangkap, bekerja sebagai bagian dari kelompok yang lebih luas yang memberi informasi kepada militer AS, tambah pejabat itu.

Dalam penyelidikan

Dua karyawan Cham Wings sedang diselidiki oleh intelijen Suriah, kata dua pejabat keamanan Irak. Direktorat Intelijen Umum Suriah tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar. Di Baghdad, agen Keamanan Nasional tengah menyelidiki dua pekerja keamanan bandara, yang merupakan bagian dari Layanan Perlindungan Fasilitas negara itu, salah satu pejabat keamanan Irak mengatakan.

“Temuan awal tim investigasi Baghdad menunjukkan bahwa informasi pertama soal Soleimani berasal dari bandara Damaskus,” kata pejabat itu. “Tugas dari informani di bandara Baghdad adalah mengkonfirmasi kedatangan target dan detail konvoinya.”

Kantor media agen Keamanan Nasional Irak tidak menanggapi permintaan komentar. Misi Irak untuk PBB di New York pun tidak menanggapi permintaan komentar.

Departemen Pertahanan AS menolak mengomentari terkait peran informan di Irak dan Suriah dalam serangan mereka. Para pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada Reuters bahwa Amerika Serikat telah dengan cermat melacak pergerakan Soleimani selama berhari-hari sebelum serangan itu dieksekusi tetapi menolak mengatakan bagaimana militer menunjukkan lokasinya pada dini hari tersebut.

Seorang manajer Cham Wings di Damaskus mengatakan karyawan perusahaan penerbangan dilarang mengomentari serangan atau penyelidikan itu. Seorang juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil Irak menolak mengomentari penyelidikan.

Pesawat Soleimani mendarat di bandara Baghdad sekitar pukul 00.30 larut malam pada 3 Januari, menurut dua pejabat bandara, mengutip rekaman dari kamera keamanannya. Sang jenderal dan pengawalnya keluar dari pesawat di tangga langsung ke landasan, melewati bea cukai. Muhandis menemuinya di luar pesawat, dan kedua pria itu masuk ke kendaraan lapis baja yang sudah menunggu. Para prajurit yang menjaga jenderal menumpuk ke dalam kendaraan lapis baja lain, kata pejabat bandara.

Menurut kesaksian petugas keamanan bandara, dua kendaraan menuju ke jalan utama yang mengarah keluar dari bandara, kata para pejabat. Dua roket AS pertama menabrak kendaraan yang membawa Soleimani dan Muhandis pada pukul 00.55. SUV yang membawa keamanannya dihantam beberapa detik kemudian.

Sebagai komandan pasukan Quds, elit Pengawal Revolusi, Soleimani menjalankan operasi klandestin di negara-negara asing dan merupakan tokoh kunci dalam kampanye lama Iran untuk mengusir pasukan AS keluar dari Irak.

Dia menghabiskan bertahun-tahun menjalankan operasi rahasia dan membina para pemimpin milisi di Irak untuk memperluas pengaruh Iran dan melawan kepentingan Amerika Serikat. Reuters melaporkan pada Sabtu pekan lalu bahwa, mulai bulan Oktober, Soleimani secara diam-diam telah meluncurkan serangan lanjutan terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Irak dan melengkapi milisi Irak dengan persenjataan canggih untuk melaksanakannya.

Serangan terhadap jenderal itu memicu kemarahan yang luas dan janji pembalasan di Iran, yang menanggapi pada Rabu (8/1) dengan serangan rudal terhadap dua pangkalan militer Irak yang menampung pasukan AS.

Tidak ada warga Amerika atau Irak yang terbunuh atau terluka dalam serangan itu.

Beberapa jam setelah serangan itu, para penyelidik meneliti semua panggilan masuk dan pesan teks oleh staf shift malam bandara untuk mencari siapa yang mungkin telah memberi tahu Amerika Serikat tentang gerakan Soleimani, kata pejabat keamanan Irak. Agen Keamanan Nasional melakukan interogasi selama berjam- jam dengan karyawan keamanan bandara dan Cham Wings, kata sumber tersebut. Seorang petugas keamanan mengatakan agen menanyai dia selama 24 jam sebelum membebaskannya.

Selama berjam-jam, mereka memberitahunya tentang siapa yang dia ajak bicara atau kirim pesan teks sebelum pesawat Soleimani mendarat – termasuk segala “permintaan aneh” terkait penerbangan Damaskus – dan menyita ponselnya.

“Mereka menanyakan sejuta pertanyaan,” katanya.

(Althaf/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah