Berita Dunia Islam Terdepan

Jenderal Haftar: Pasukan kami mengambil alih Sirte

666

Support Us

SIRTE (Arrahmah.com) – Pasukan Libya yang loyal kepada komandan Khalifa Haftar yang berbasis di Libya timur, pada Senin (6/1/2020) mengatakan mereka telah mengambil kendali atas kota strategis Sirte dalam sebuah kemajuan cepat yang diawali dengan serangan udara.

Mengendalikan Sirte akan menjadi keuntungan penting bagi Haftar, yang sejak April telah melancarkan serangan militer ke ibu kota, Tripoli, rumah bagi Pemerintahan Kesepakatan Nasional (GNA), pemerintahan yang diakui PBB, lansir MEMO (6/1)

Sirte terletak di pusat pantai Mediterania Libya dan telah dikendalikan oleh pasukan yang berpihak pada GNA sejak mereka mengeluarkan ISIS dari kota itu dengan bantuan serangan udara AS pada akhir 2016.

Tentara Nasional Libya (LNA) Haftar mengatakan telah mengambil daerah di sekitar Sirte, termasuk pangkalan udara Al-Qardabiya, sebelum bergerak menuju pusat kota.

“Panglima tertinggi memutuskan untuk melakukan serangan pre-emptive yang terencana dengan baik dan dalam waktu kurang dari tiga jam kami berada di jantung Sirte,” kata juru bicara LNA Ahmed Al-Mismari.

Berita Terkait

“Itu adalah operasi mendadak dan cepat,” katanya, seraya menambahkan bahwa kemajuan telah didahului oleh beberapa jam serangan udara.

Sumber militer LNA mengatakan pasukan dari kota Misrata ke barat laut, telah mundur. Misrata memimpin kampanye melawan ISIS dan merupakan sumber utama kekuatan militer untuk GNA.

Sebelumnya, seorang penduduk di pusat kota Sirte mengatakan kepada Reuters melalui telepon: “Kita dapat melihat konvoy LNA di dalam kota Sirte. Mereka mengendalikan sebagian besar kota sekarang. Kami juga mendengar suara tembakan.”

Tidak ada komentar dari pasukan GNA.

Kemajuan LNA datang ketika Turki bersiap untuk mengirim penasihat militer dan para ahli ke Libya untuk membantu menopang GNA, bagian dari meningkatnya keterlibatan internasional dalam konflik Libya.

LNA Haftar telah menerima dukungan materi dan militer dari negara-negara termasuk Uni Emirat Arab, Yordania dan Mesir, menurut para ahli dan diplomat PBB. (haninmazaya/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah