Pompeo tegur Iran tak rugikan kepentingan AS di Irak

US Secretary of State Mike Pompeo reminded ‘Iran must respect the sovereignty of its neighbors’ and stop supporting paramilitary groups in Iraq and throughout the region. (AFP)
206

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Menteri Luar Negeri Mike Pompeo pada Jumat (13/12/2019) memperingatkan Iran soal tanggapan “tegas” jika kepentingan AS dirugikan di Irak, setelah serangkaian serangan roket di pangkalan militernya.

“Kita harus … menggunakan kesempatan ini untuk mengingatkan para pemimpin Iran bahwa setiap serangan mereka, atau proksi mereka, yang membahayakan Amerika, sekutu kita atau kepentingan kita akan dijawab dengan respon AS yang tegas,” kata Pompeo dalam sebuah pernyataan.

“Iran harus menghormati kedaulatan tetangganya dan segera menghentikan pemberian bantuan mematikan dan dukungannya kepada pihak ketiga di Irak dan di seluruh wilayah itu,” katanya.

Amerika Serikat telah menyatakan keprihatinan yang meningkat tentang kesibukan serangan terhadap pangkalan-pangkalan Irak yang digunakan oleh pasukan AS, beberapa di antaranya telah menyalahkan kelompok paramiliter Syiah yang didukung Iran.

Dua serangan roket pekan ini menargetkan kompleks militer di dekat Bandara Internasional Baghdad, yang menampung pasukan AS, dimana insiden terbaru Senin lalu melukai tentara Irak.

“Kami berharap dan berdoa orang-orang Irak pemberani ini akan dengan cepat dan sepenuhnya pulih dari cedera mereka,” kata Pompeo.

Pompeo, yang telah berulang kali memperingatkan Teheran, menyalahkan serangan terbaru tepat pada “proksi Iran”.

Iran telah mendapatkan pengaruh luar biasa di Irak, tetangganya yang menjadi mayoritas Syiah, sejak invasi AS 2003 menjatuhkan Saddam Hussein.

Pemerintahan Presiden Donald Trump, yang dekat dengan musuh-musuh Iran, Arab Saudi, dan “Israel”, telah berusaha untuk melawan pengaruh Teheran di sekitar kawasan itu, termasuk melalui sanksi yang ditujukan untuk memblokir semua ekspor minyaknya.

Amerika Serikat pekan lalu memberlakukan sanksi terhadap tiga pemimpin pasukan paramiliter Syiah Hashed Al-Shaabi, menuduh mereka mengambil bagian dalam penumpasan mematikan terhadap protes nasional.

Perdana Menteri Irak Adel Abdel Mahdi, sekutu dekat Iran yang juga menikmati hubungan baik dengan Amerika Serikat, mengundurkan diri setelah dua bulan demonstrasi di mana sekitar 460 orang tewas. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.