Seluruh tahanan di Sednaya mengalami kekerasan fisik dan seksual

Gambar ilustrasi penjara. (Foto: Internet)
460

SURIAH (Arrahmah.com) – Asosiasi Tahanan Penjara Sednaya telah merilis kesaksian para penyintas yang selamat dari fasilitas penahanan yang terkenal kejam itu.

Menurut laporan tersebut, 100% tahanan telah disiksa secara fisik dan 97,8% telah disiksa secara psikologis.

Keamanan rezim mempraktikkan 24 metode penyiksaan psikologis dan 8 metode penyiksaan seksual di dalam penjara Sednaya, termasuk pemukulan organ seksual, lansir Zaman Alwasl (30/11/2019).

Mayoritas tahanan tidak mendapatkan makanan dan kebutuhan pokok, menurut pernyataan asosiasi tersebut.

Sebagian besar tahanan Sednaya dinyatakan bersalah karena berafiliasi dengan kelompok bersenjata oposisi, berpartisipasi dalam pertempuran melawan pasukan rezim, dan menghilangkan informan di dalam wilayah tersebut.

Beberapa laporan hak asasi manusia mengonfirmasi bahwa Asad telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di penjara Sednaya dengan laporan Amnesti Internasional yang menggambarkannya sebagai “rumah jagal manusia”.

Menurut Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR), setidaknya 183 kasus penangkapan sewenang-wenang didokumentasikan pada bulan Oktober, termasuk 109 kasus penghilangan paksa.

Sumber-sumber oposisi Suriah mengatakan bahwa lebih dari 500.000 tahanan tetap berada di dalam penjara rezim Suriah.

Menurut Gerakan Hati Nurani Internasional, sebuah LSM, lebih dari 13.500 wanita telah dipenjara sejak konflik Suriah dimulai, sementara lebih dari 7.000 wanita masih ditahan, di mana mereka menjadi sasaran penyiksaan, perkosaan dan kekerasan seksual.

Rezim Suriah telah mempraktekkan 72 metode penyiksaan yang membuat para tahanan di kamar keamanan dan rumah sakit militer menjadi korban, ujar SNHR Oktober.

Sekitar 1,2 juta warga Suriah telah ditangkap dan ditahan di beberapa titik di pusat-pusat penahanan rezim, termasuk 130.000 orang yang masih ditahan atau dihilangkan secara paksa oleh rezim Suriah, sejak revolusi meletus pada Maret 2011, masih menurut SNHR.  (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.